Sikap Anak Kepada Orang Tua Yang Masih Kafir

 

Birrul walidain adalah suatu amalan mulia yang tidak mengenal waktu dan tempat. Ia adalah hal yang paling utama setelah Tauhid kepada Allah karena sebagai bentuk rasa syukur kita kepada Allah atas kedua orang tua. Tidak luput juga walau pun keduanya itu masih kafir. Bagaimana kedudukannya dan cara kita birrul walidain kepada mereka ? Bagaimana seorang anak harus bersikap terhadap orang tuanya yang masih kafir ? Kisah Sahabat Sa’ad bin Abi Waqqas Radhiyallahu ‘anhu dan ibunya dapat dijadikan sebagai pelajaran.

 

Dalam hadits yg diriwayatkan Imam Muslim [1], Diceritakan bahwa Ummu Sa’ad (ibunya Sa’ad) bersumpah tidak akan berbicara kepada anaknya dan tidak mau makan dan minum karena menginginkan Sa’ad murtad dari ajaran Islam. Ummu Sa’ad mengetahui bahwa Allah Subhanahu wa Ta’ala menyuruh seorang anak berbuat baik kepada kedua orang tuanya. Ibunya berkata, “Aku tahu Allah menyuruhmu berbuat baik kepada ibumu dan aku menyuruhmu untuk keluar dari ajaran Islam ini”. Kemudian selama tiga hari Ummu Sa’ad tidak makan dan minum. Bahkan memerintahkan Sa’ad untuk kufur.

Sebagai seorang anak Sa’ad tidak tega dan merasa iba kepada ibunya. Berkaitan dengan kisah Sa’ad ini Allah Subhanahu wa Ta’ala menurunkan wahyu seperti yang terdapat pada surat Al-Ankabut ayat 8, “Dan Kami berwasiat kepada manusia agar berbakti kepada orang tuanya dengan baik, dan apabila keduanya memaksa untuk menyekutukan Aku yang kamu tidak ada ilmu, maka janganlah taat kepada keduanya”. Sedangkan wahyu yang kedua dalam surat Luqman ayat 15, “Dan apabila keduanya memaksamu untuk menyekutukan Aku dengan apa-apa yang tidak ada ilmu padanya, jangan taati keduanya dan bergaullah dalam kehidupan dunia dengan perbuatan yang ma’ruf (baik) dan ikutilah jalan orang-orang yang kembali kepada-Ku kemudian hanya kepada-Ku lah kembalimu, maka Ku-beritakan kepadamu apa-apa yg telah kamu kerjakan”.

 

Turunnya ayat ini membuat Sa’ad semakin bertambah mantap keyakinannya dan akhirnya Sa’ad membuka mulut ibunya dan memaksa ibunya untuk makan. Dengan demikian Sa’ad tidak berbuat kufur kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dan juga bisa berbuat baik kepada ibunya. Para Ulama mengambil dalil dari ayat ini tentang wajibnya berbakti & bersilaturahmi kepada kedua orang tua meskipun keduanya masih kafir. Kafir yang dimaksud pada permasalahan ini bukan kafir harbi (kafir yang menentang dan memerangi Islam). Jika orang tuanya tidak kafir harbi, tidak menyerang kaum muslimin, maka hendaklah bergaul dengan mereka dengan baik dan bersilatu rahmi kepada keduanya. Hal tersebut didasarkan kepada surat Luqman ayat 14, “Dan bergaullah kepada keduanya dalam kehidupan dunia dengan cara yang ma’ruf”

Kemudian dalam surat Al-Mumtahanah ayat 8, Allah Subhanahu wa Ta’ala memerintahkan kita untuk berbuat baik kepada orang-orang yg tidak menyerang kita. “Allah tidak melarang kamu untuk berbuat baik dan berlaku adil terhadap orang-orang yg tidak memerangi kamu karena agama. Dan tidak pula mengusir kamu dari negerimu. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berlaku adil”. Kisah ini terjadi pada Asma binti Abu Bakar Ash-Shidiq. Ketika ibunya yang masih dalam keadaan musyrik akan datang untuk berkunjung kepadanya, Asma meminta fatwa kepada Rasulullah SAW. Kemudian Rasulullah SAW bersabda, “Hendaklah kamu menyambung silaturahmi kepada ibumu” [2]

 

Secara fitrah, seorang anak akan mencintai orang tuanya karena merekalah yang melahirkan serta mengurusnya, tapi jika mencintainya karena iman maka tidak dibenarkan. Dengan dasar surat Al-Mujadalah ayat 22, “Kamu tidak akan mendapati sesuatu kaum yang beriman kepada Allah dan hari akhirat, saling berkasih sayang dengan orang-orang yang menentang Allah dan Rasul-Nya, sekalipun orang-orang itu bapak-bapak, atau anak-anak atau saudara-saudara ataupun keluarga mereka. Mereka itulah orang-orang yang Allah telah menanamkan keimanan dalam hati mereka dan menguatkan mereka dengan pertolongan yang datang daripada-Nya. Dan dimasukan-Nya mereka ke dalam surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, mereka kekal di dalamnya. Allah ridla terhadap mereka dan merekapun merasa puas terhadap (limpahan rahmat)-Nya. Mereka itulah golongan Allah. Ketahuilah, bahwa sesungguhnya golongan Allah itulah golongan yang beruntung”

Jika keduanya kafir harbi, maka tidak boleh berbakti dan bersilaturahmi kepada keduanya dengan dasar surat Al-Mumtahanah ayat 9, “Sesungguhnya Allah hanya melarang kamu menjadikan sebagai kawanmu orang-orang yang memerangimu karena agama. Dan mengusir kamu dari negerimu, dan membantu orang lain untuk mengusirmu. Dan barangsiapa menjadikan mereka sebagai kawan, maka mereka adalah orang-orang yang zhalim.” Dengan demikian kita tidak boleh berbuat baik kepada orang-orang kafir harbi atas dasar ayat tersebut. Bahkan seandainya bertemu di medan perang, diperbolehkan untuk dibunuh. Hal ini sudah pernah terjadi terhadap Abu Ubaidah Ibnul Jarrah dengan bapaknya pada waktu perang Badar. Bapaknya ikut di medan pertempuran dan berada di pihak kaum musyrikin kemudian Abu Ubaidah membunuhnya.

 

Selanjutnya mengenai birrul walidain kepada orang tua yang masih kafir. Apakah boleh kita mendo’akan mereka ? Apakah dibedakan orang kafir harbi (orang kafir yg sangat keras permusuhannya terhadap kaum muslimin) dg yg bukan kafir harbi ? . Timbul pertanyaan, “Bolehkah mendo’akan orang tua yang masih kafir ?”. Jawabnya adalah, baik kafir harbi atau bukan kafir harbi tidak diperbolehkan mendoakannya untuk memintakan ampun dan kasih sayang kepada Allah SWT, ketika keduanya masih hidup maupun sdh meninggal. Dasarnya adalah surat At-Taubah ayat 113, Allah SWT berfirman, “Tidaklah sepatutnya bagi Nabi & orang -orang beriman memintakan ampun kepada Allah bagi orang-orang musyrik walaupun orang-orang musyrik itu kaum kerabatnya, sesudah jelas bagi mereka bahwasanya orang-orang musyrik itu adalah penghuni neraka jahannam”

 

Ketika Nabi SAW meminta kepada Allah SWT supaya mengampuni dosa ibunya, Allah SWT tidak mengabulkannya karena ibunya mati dalam keadaan kafir [3]. Kedua orang tua Nabi SAW mati dalam keadaan kafir [4] Kalau ada yang bertanya, “Bukankah pada saat itu belum diutus Rasulullah SAW ?”. Saat itu sudah ada millah Ibrahim. Sedangkan kedua orang tua Nabi SAW tidak masuk dalam millah Ibrahim sehingga keduanya masih dalam keadaan kafir [5]. Nabi Ibrahim juga pernah memintakan ampun kepada Allah SWT untuk kedua orang tuanya yang masih kafir, karena pada waktu itu Ibrahim belum tahu dan belum turun wahyu tentang adanya larangan tersebut. Setelah turun wahyu, Ibrahim kemudian menahan diri. Kisah ini bisa dilihat dalam surat At-Taubah ayat 114, “Dan permintaan ampun dari Ibrahim kepada Allah untuk bapaknya tidak lain hanyalah karena janji yang telah diikrarkannya kepada bapaknya itu maka tatkala jelas bagi Ibrahim bahwa bapaknya itu adalah musuh Allah maka Ibrahim berlepas diri daripadanya, sesungguhnya Ibrahim adalah seorang yang sangat lembut hatinya dan lagi menyantun”.

Jika orang tua masih kafir tetapi bukan kafir harbi, maka diperbolehkan mendo’a kan agar mereka diberikan hidayah. Dikatakan oleh Imam Al-Qurtubi, ayat yg ke-8 tadi merupakan dalil tentang tetapnya menyambung tali silaturrahmi kepada orang tua yang masih kafir serta mendo’akan keduanya agar mendapatkan hidayah dan kembali ke jalan yang haq. Walaupun tidak boleh memintakan ampunan dan rahmat kepada orang tua yang masih kafir tetapi masih diperbolehkan memintakan hidayah kepada Allah SWT dan mendakwahkannya jika bukan kafir harbi. Jadi dakwah kepada orang tua yang masih kafir harus tetap dilakukan dan dengan cara yang baik. Dapat kita lihat bagaimana dakwahnya Ibrahim ‘Alaihi Shalatu wa sallam kepada orang tuanya. Beliau mendakwahkan dengan kata-kata yang lemah lembut.

 

 

Dakwah kepada orang tua yang masih kafir saja harus dilakukan dengan kata-kata yang lemah lembut, terlebih lagi jika orang tuanya tidak kafir tetapi masih suka melakukan bid’ah, harus didakwahkan dengan kata-kata lebih lemah lembut lagi. Sikap Nabi Ibrahim terhadap bapaknya yang kafir dapat dilihat dalam surat Maryam ayat 41-48, “Ceritakanlah wahai Muhammad kisah Ibrahim di dalam kitab Al-Qur’an, sesungguhnya dia seorang yang sangat membenarkan lagi seorang Nabi” Ingatlah ketika ia berkata kepada bapaknya, “Wahai bapakku, mengapa engkau menyembah sesuatu yang tidak dapat mendengar, tidak melihat dan tidak dapat menolongmu sedikit pun juga”. “Wahai bapakku sesungguhnya telah datang kepadaku sebagian ilmu pengetahuan yang tidak datang kepadamu. Maka ikutilah aku niscaya aku akan menun jukkan kamu ke jalan yang lurus”. “Wahai bapakku, janganlah kamu menyembah syaithan sesungguhnya syaitan itu durhaka kepada Allah Yang Maha Pemurah”. “Wahai bapakku, sesungguhnya aku khawatir kamu akan ditimpa adzab dari Allah Yang Maha Pemurah maka kamu menjadi kawan bagi syaitah”. Berkata bapaknya, “Bencikah kamu kepada tuhan-tuhanku hai Ibrahim jika kamu tidak berhenti niscaya akan aku rajam dan tinggalkanlah aku buat waktu yang lama”. Ibrahim berkata, “Semoga keselamatan dilimpahkan kepadamu aku akan meminta ampun bagimu kepada Allah sesungguhnya Dia sangat baik kepadaku”. “Dan aku akan menjauhkan diri darimu dan dari apa yang engkau seru selain Allah dan aku akan berdo’a kepada Rabb-ku mudah-mudahan aku tidak kecewa dengan berdo’a kepada Rabb-ku.”

————-

Catatan Kaki

[1] Juz. IV hal. 1877 no. 1748 (43)

[2] HR.Bukhari dan Muslim]

[3] Haits Riwayat Muslim Kitabul Jazaaiz 2 hal.671 no. 976-977, Abu Dawud 3234, Nasa’i 4 hal. 90 dll

[4] Dalilnya, ada seorang bertanya, “Ya Rasulullah ! Dimana Ayahku” Jawab Nabi SAW, “Ayahmu di Neraka”. Ketika orang itu akan pergi, dipanggil lagi, beliau bersabda, “Ayahku dan ayahmu di neraka” [Hadits Shahih Riwayat Muslim Kitabul Iman I/191 no. 203, Abu Dawud no. 4718 Baihaqi dalam Sunan Al-Kubra 7/190] Pada riwayat yang lain, Nabi SAW berkata kepada kedua anak Mulaikah, “Ibu kamu di Neraka”, keduanya belum bisa menerima, lalu Nabi panggil dan beliau bersabda, “Sesungguhnya ibuku bersama ibumu di Neraka” [Thabrani dalam Mu’jam Kabir (10/98-99 no. 10017), Hakim 4/364.

[5] Lihat, Adillah Mu’taqad Abi Hanifah fil A’zham fii Abawayir Rasul Alaihis Shalatu wa Salam ta’lif Al-‘Alamah Ali bin Sulthan Muhammad Al-Qary (wafat 1014)

 

http://vbaitullah.or.id/index.php?option=content&task=view&id=423&Itemid=43

 

 

SIAPAKAH YANG LAYAK DISEBUT KAFIR ?

 

 

Pertanyaan :

Siapakah sebenarnya yang layak dihukumi (disebut) kafir ?

 

 

Jawab:

Yang layak disebut kafir ialah orang yang dengan terang-terangan tanpa malu menentang dan memusuhi agama Islam, menganggap dirinya kafir dan bangga akan perbuatannya yang terkutuk. (Jadi) Bukan orang-orang Islam yang tetap mengakui agamanya secara lahir, walaupun dalamnya buruk dan imannya lemah, tidak konsisten antara perbuatan dan ucapannya. Orang seperti itu dalam Islam dinamakan “munafik”.

Di dunia dia tetap dinamakan (termasuk) orang Islam, tetapi di akhirat tempatnya di neraka pada tingkat yang terbawah.

Di bawah ini kami kemukakan golongan (orang-orang) yang layak disebut kafir tanpa diragukan lagi, yaitu :

1. Golongan Komunis atau Atheis, yang percaya pada suatu falsafah dan undang-undang, yang bertentangan dengan syariat dan hukum-hukum Islam. Mereka itu musuh agama, terutama agama Islam. Mereka beranggapan bahwa agama adalah candu bagi masyarakat.

2. Orang-orang atau golongan dari paham yang menamakan dirinya sekular, yang menolak secara terang-terangan pada agama Allah dan memerangi siapa saja yang berdakwah dan mengajak masyarakat untuk kembali pada syariat dan hokum Allah.

3. Orang-orang dari aliran kebatinan, misalnya golongan Duruz, Nasyiriah, Ismailiah dan lain-lainnya. Kebanyakan dari mereka itu berada di Suriah dan sekitarnya. Al-Imam Ghazali pernah berkata :”Pada lahirnya mereka itu bersifat menolak dan batinnya kufur.” Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah juga berkata :”Mereka lebih kafir daripada orang-orang Yahudi dan Nasrani. Karena sebagian besar mereka ingkar pada landasan Islam.”

Seperti halnya mereka yg baru muncul di masa itu, yaitu yg bernama Bahaiah, agama baru yg berdiri sendiri. Begitu juga golongan yg mendekatinya, yaitu Al-Qadi yaniah, yg beranggapan bahwa pemimpinnya adalah Nabi setelah Nabi Muhammad saw.

—————————————————

FATAWA QARDHAWI, Permasalahan, Pemecahan dan Hikmah, Dr.Yusuf Al-Qardhawi, Penerbit Risalah Gusti, Cetakan Kedua, 1996, Jln. Ikan Mungging XIII/1, Surabaya 60177

catatan : artikel di atas telah dimuat dalam Majalah Islami “Labbaik“, edisi : 021/th.02/Safar-Rabi’ul Awwal 1427H/2006M

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: