Menuju Fajar Persatuan Islam

Persatuan Islam adalah cita-cita bersama yang selalu diinginkan elemen Islam. Sayangnya tidaklah seperti membalik telapak tangan. Perlukah fikih ikhtilaf (fikih pebedaan)?. Persatuan Islam ? Kelihatannya hanya satu kata. Bukanlah sesuatu yang mengagetkan, manakala datangnya euphoria partai, umat Islam ‘pecah berkeping-keping’. Dibilang berkeping-keping karena kebanyakan diantara mereka merasa penting dan harus menampilkan diri, meski dengan agak memaksa. Contoh paling nyata adalah ketika regulasi partai di tahun 1999. Umat Islam merasa paling benar dengan membuat partai sendiri-sendiri, untuk sekedar menunjukkan kehebatannya. Apakah selesai ? Tidak. Babak baru selanjutnya, justru lahirnya konflik internal dan perpecahan di dalam. Fenomena ini juga merembet tidak hanya pada partai politik dengan basis umat Islam saja. Bahkan pada level gerakan-gerakan Islam juga mengalaminya. Sebuah kelompok yang menamakan dengan kelompok Salaf, misalnya, pecah berfaksi-faksi. Dan antara satu dengan yang lainnya tidak bisa bertemu. Ini, belum termasuk perbedaan antara harakah Islamiyah yang juga bisa menimbulkan potensi konflik.

Dalam sejarah, konflik bisa panjang hanya karena perbedaan pendapat dalam menyikapi bolehnya ikut parlemen atau tidak. Persatuan adalah cita-cita luhur umat Islam, yang hakikatnya adalah prinsip yang fundamental. Namun disesalkan, kini hanya sekedar platform yang sering di usung tapi sampai dewasa ini belum mencapai harapan. Padahal prinsip persatuan adalah langkah awal menuju kejayaan umat. Dr M. Said Ramadhan al-Buthi dalam Fiqh al-Siroh-nya menjelaskan bahwa tidak ada satu negarapun yang bangkit dan maju tanpa berasaskan kesatuan rakyat dan saling bekerjasama. Selanjutnya, kata dia, kebersamaan dan kesatuan itu tidak dapat dicapai kecuali dimulai oleh dorongan kecintaan antar sesama. Sejarah pembentukan masyarakat madani paska hijrah dari Mekah ke Madinah tak lepas dari penekanan awal oleh Rosulullah SAW ketika mempersatukan antar suku Arab. Keberhasilan Rasulullah terealisasikan tak hanya mempertemukan kaum Muhajirin dan Anshor, tapi bahkan persaudaraan bersifat universal, yakni mempertemukan antar etnik yang sebelumnya sangat rawan konflik. Yakni hadirnya, Bilal al-Habasyi (Ethiopia), Shuhaib al-Rumi (Romawi ), dan Salman al-Farisi (Persia ).Letak universalitas disini adalah bahwasanya persaudaraan tersebut tidak hanya antar ras tapi juga antar etnis. Background sejarah diatas mengilustrasikan betapa pentingnya arti persatuan Islam. Dan bila dikerucutkan, kiranya perpecahan umat saat ini adalah implikasi dari kesalahpahaman kaum muslimin dalam menyikapi perbedaan yang terjadi.

Perbedaan madzhab

Pepatah Arab mengatakan, Li Kulli Ro’sin Ro’yun. Lain kepala lain pendapat. Ini bahkan tak hanya pada tubuh. Fenomena perbedaan antar madzhab fiqh pun (yurespendensi hukum) adalah suatu yang lumrah terjadi. Karena itu, perbedaan yang muncul merupakan sunnatullah bagi manusia. Masalah, perbedaan seperti apa yang dibolehkan atau dilarang ?

Imam al-Baidlowi dalam tafsirnya menyebut perpecahan yang dilarang Allah sebagaimana dikutip dalam (QS : Ali Imron : 105 ). Bahwa perbedaan yang dimaksud bukanlah masalah furu’ tapi masalah ushul. Nabi Muhammad SAW mengatakan, “Man Ijthada Wa Ashoba Falahu Ajroni, Wa Man ijtahada Wa Akhto’a Falahu Ajrun”. (Barang siapa yang berijtihad dan ia benar maka ia mendapatkan dua pahala, sedangkan yang berijtihad lalu ia salah maka ia (hanya ) memperoleh satu pahala (HR: Bukhori).

Fenomena perbedaan hukum juga mengindikasikan arti kesesuaian syariat dengan hukum kemanusiaan. Alhasil, bagi yang mengetahui latar belakang seluk beluk pembentukan hukum (tarikh tasyri’), maka akan memahami bahwasanya perbedaan madzhab fiqh adalah sesuatu hal yang tidak bisa dielakkan. Sayid Muhammad al-Shathiry dalam bukunya “al-wahdah al-islamiyah’ menyatakan bahwa Islam pada substansinya mempunyai karakteristik menyatukan bukan memecah-belah. Selama Nabi kita tak berbeda yaitu Muhammad SAW, ideologi dasar kita sama tentunya Al-Quran, kiblat kita juga satu Ka’bah. Rosulullah SAW dalam salah satu haditsnya juga menegaskan lebel keislaman bagi orang yg tidak melenceng dari hal di atas. “Man Sholla Sholatana wastaqbala qi blatana wa akala dzabihatana…fadzalikal al muslim alladzi lahu dzimmatullahi ,dzimmatu rosulihi, fala takhfirullah fi dzimmatihi”. artinya, “Barangsiapa yang sholat sebagaimana sholat kita, menghadap kiblat kita, dan makan sembelihan kita …dialah seorang muslim yang berada dalam naungan Allah dan Rosul-Nya, maka dalam pada itu janganlah kamu sekalian menggugat lindungan Allah (HR al-Bukhori dan al-Nasa’i).Tapi bagaimana dengan hadits yang justru pernah mengatakan ada perpecahan di antara umat menjadi tujupuluh tiga golongan sebagaimana diriwayatkan dari Anas RA, “taftariqu ummati ala bidh’in wa sab’iina firqotan, kulluha fi al-jannah illa wahidah, wahiya al-zanadiqoh “. (Umatku akan terpecah belah menjadi tujuhpuluh lebih golongan, semuanya kembalinya ke syurga terkecuali satu golongan, dia adalah zanadiqoh) ( HR Abu Ya’la ). Zanadiqoh adalah bentuk plural dari zindiq yang berarti oknum-oknum yang “berkulit” Islam namun batinnya kafir. Apapun motifnya, dan dalam fase manapun mereka hidup.Menurut al-Syathiry, hadits hadits yang populer dengan nama hadits al-iftiroq, yang salah satu tambahan riwayat redaksinya berbunyi, “kulluha fi al-naar illa wahidah “, artinya ” semuanya masuk neraka kecuali satu golongan, ” menurut al-Syathiry banyak menuai kritikan baik dari sisi redaksi (matan ) ataupun sanad (mata rantai periwayatan), begitu juga Al-Qaradhawi dalam bukunya al-Shohwah al-Islamiyyah. Pendapat senada juga datang dari Sayyid Hasan Ali al-Seggaf, pakar hadits yang berdomisili di Yordania yang memaparkan perihal lemahnya hadits al-Iftiroq di karyanya Syarh al-aqidah al-Thohawiyah (Komentar dari kitab al-aqidah al-Thohawiyah). Dalam bahasan tersendirinya disebutkan disana bahwa diantara faktor yang menyebabkan dho’ifnya adalah disebabkan hadits ini termasuk hadits mudhthorib (hadits yang riwayatnya berbeda-beda dan tidak menerima jam’u (sinkroni sasi), naskh (reposisi hukum atau tarjih (adu kekuatan), dan kalau diteliti ternyata mereka merujuk ke pendapat beberapa ulama pendahulunya, sebut saja al-Syau kani dalam tafsirnya yang monumental Fathul Qodir yang juga menukil dari tafsir Ibnu Katsir bahwa hadits yang menjelaskan tentang terpecahnya umat Islam menjadi tujuh puluh lebih itu ada dalam beberapa periwayatan, tapi tambahan “kulluha fi al-naar illa wahidah” banyak menuai vonis dho’if dari para muhaddits bahkan Ibnu Hazm mengkatagorikannya maudhu’ (palsu ), Ibnu al-Wazir salah satu ulama Zaidiyah dalam kitabnya al-Awashim wa al-Qowasim juga mendukung pendapat akan kelemahan sanadnya.Tapi al-Syathiri juga mencoba bersikap moderat dengan pendapatnya –atas dasar kemungkinan shohihnya hadits al-Iftiroq (masih dalam strata iftirodhi)– sebagai upaya jam’u (sinkronisasi) antara beberapa teks hadits, bahwa yang dimaksud dengan lafadz “umat” yang disebutkan akan berpecah menjadi tujuh puluh tiga atau lebih dan semuanya akan ke neraka kecuali satu, itu adalah umat da’wah (segala kaum) bukan umat ijabah (khusus kaum Muslimin). Realitanya, tidak sedikit terjadi konflik antar umat Islam, dikarenakan setiap golongan memang mengklaim bahwa dialah yang selamat (firqoh al-naajiyah). Karena itu, menyingung perihal hadits iftiroq ini dalam bahasan persatuan umat adalah sangat signifikan.

Fikih Perbedaan

Sebagai bekal setiap individu muslim, bagaimanapun, kita harus bisa memahami perbedaan pendapat yang ada. Sebab, suatu pendapat adalah hasil cara pandang rasio manusia. DR Yusuf al-Qaradhawi mengistilahkannya dengan “Fiqh al-Ikhtilaf ” atau fikih perbedaan. Fikih Ikhtilaf disini bukan berarti sebatas mengenal perbedaan pendapat hukum fuqaha’, atau yg lebih masyhur dengan fikih khilaf, toh ini hanya sekedar terminologi seperti dikatakan , “la musyahata fi al-istilah”. (masalah peristilahan tak usahlah diperdebatkan). Fikih ikhtilaf ini kiranya adalah kunci mengantisipasi keretakan hubungan antar umat Islam. Sayid Abu Bakr al-Adni al- Masyhur dalam karyanya “al-Zauba’ah al-Aashifah” (Badai Yang menerpa) menerangkan bahwa perbedaan tak lain merupakan hikmah ilahi, maka bagi yang memahami letak hikmah ini, seyogyanyalah selalu memaklumi perbedaan dari yang lain, dan mengukurnya dengan barometer etika terhadap Allah dan semua hamba-Nya .Fikih perbedaan bermuara dari dua tolak ukur. Yakni tolak ukur pemikiran dan moral. Pemikiran meliputi beberapa poin penting, dan yang paling krusial untuk di bicarakan disini adalah menghormati umat Lailaha Illa Allah, sedangkan dari tolak ukur moral adalah menanggulangi fanatisme. Karena itu, tidak berlebihan kiranya bila takfir (vonis kafir) kepada seorang Muslim ibarat “gunting” pemutus tali persaudaraan, karena secara otomatis akan “menelanjangi” mereka dari “baju” keislaman. Rosulullah SAW bersabda, “Barangsiapa yang menvonis kafir terhadap seorang yang beriman maka seperti telah membunuhnya ” (HR Bukhori Muslim)

Kasus teguran Nabi SAW terhadap ijtihad Usamah bin Zeid yang membunuh lawan perangnya padahal ia telah mengucapkan Lailaha Illa Allah adalah bukti kuat bagaimana sikap Islam dalam menghormati orang yang telah melegimitasi keislamannya dengan kalimat tauhid.Ibnu Taimiyah dalam koleksi fatwanya (majmu’ fatawa) mengatakan, memvonis kafir kepada seorang muslim itu dilarang, baik disebabkan kriminalitas yang diperbuat, atau kesalahan yang dilakukannya, selama masih dalam koridor beda pendapat hukum antar umat Islam. DR.Muhammad Alwi al-Maliki dalam karya magnum opus-nya yang berjudul Mafahim ya jibuan Tushohhah (Isme-isme yang perlu diluruskan) menyebutkan bahwa ketergesa-gesaan dalam menvonis kafir adalah berkontradiksi dengan prinsip nasehat yang baik (mauidzoh hasanah) kemudian dengan cara diskusi (al-jidal bi allati hiya ahsan) sesuai dengan tuntutan Al-Quran (QS: al-Nahl 125). Salah satu hal yang menghalangi persatuan umat adalah fanatisme. Ada banyak model fanatisme. Menurut Al-Qaradhawi, bisa berbentuk individual, madzhab, hingga fanatik golongan atau partai. Intinya, ia hanya memandang dirinya sendiri benar. Kondisi ini agak berbeda dengan perilaku para fuqaha pada abad ke 2 Hijriyah. Sejarah mencatat, bahwa semarak munculnya ulama fuqaha tak lepas dari pengaruh budaya diskusi dan debat positif konstruktif. Tak heran bila pada fase tersebut lahir pioner-pioner ijtihad yang hingga saat ini mayoritas madzhabnya masih tetap eksis di kalangan umat. Diantara mereka sebut saja Imam al-Syafi’i, al-Auza’i di kawasan Syam Abu Hanifah dan Sufyan al-Tsauri di Kufah, Malik bin Anas di Madinah, dan Ahmad bin Hambal di Baghdad. Umumnya, mereka lebih menyukai diskusi dan tukar pemikiran (hiwar) untuk mencari kebenaran.Ini agak berbeda dengan sikap kita sekarang yang banyak melenceng dari kode etik debat (adab al munadzarah) itu sendiri. Jadi diskusi bukan untuk mencari kebenaran yang terjadi justru adu mulut dan caci-maki. Yang tak kalah ironis, korban takfir (mengkafirkan orang) justru terjadi oleh sebagian Muslim kepada Muslim lain makin marak hingga kini.

Bagaimanapun, siapa saja yang mengaku dirinya sebagai seorang Muslim, yang membiarkan perpecahan yang melanda umat Islam, sama saja dengan mensukseskan misi musuh-musuh Islam dengan segala bentuk makarnya memecah belah kesatuan umat. Karena itu, urgensi fikih ikhtilaf adalah suatu keharusan. Dan cita-cita menuju persatuan Islam bukanlah sekedar angan-angan, tapi merupakan suatu tujuan yang harus direalisasikan. Masalahnya, maukah kita mengkritisi diri sendiri, berlapang dada dan bisa mengambil faidah keilmuan dari orang lain ?. http://www.hidayatullah.com/index.php?option=com_content&task=view&id=2749&Itemid=1

Islam itu Agama Toleran

“(Semasa kaum muslim menduduki tanah Eropa) Tidak pernah kami mendapati satu keteranganpun bahwa kaum muslimin berusaha mendiskreditkan kelompok lain dan memaksakan untuk menerima Islam, atau berbentuk undang undang pemaksaan bertujuan menghilangkan ad din al Masihi, kalau seandainya para Khalifah (Pemimpin) Islam menginginkan mudah sekali bagi mereka untuk menghilangkan & mengusir orang orang kristen dari negeri mereka sebagaimana yang telah diperbuat oleh Ferdinand dan Isabella ketika mereka menghapus Din Islam dan kaum Muslimin dari Asbenia.., oleh karena itu keberadaan gereja sampai sekarang masih disaksikan oleh dunia, ini merupakan dalil yang kuat dan sangat nyata sekali menunjukan kepada kita bahwa Islam betul betul telah mempraktekkan toleransi di negeri itu.”

(Ad Da`wah Ilal Islam, oleh Thomas Arnold [Ahli Sejarah asal Inggris] hal. 89-99. Dinukil dari kitab “Manhaj Al Islam Fi Al Harb wa As Salm”, hal. 65).

http://www.thullabul-ilmiy.or.id/blog/?p=35#more-35

note : artikel di atas telah dimuat dalam Labbaik, edisi : 028/th.03/DzulHijjah-Muharram 1428H/2007M

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: