Cara Yang Ganjil Dalam Memahami Agama

(oleh : Mukhlas Hasyim MA*)

 

 

Pemahaman-pemahaman agama yang menyimpang dari kaidah-kaidah penafsiran nash serta prinsip-prinsip Usuluddin sudah muncul sejak generasi pertama umat Islam (Assalaf Ash shalih). Pemahaman-pemahaman ini muncul dalam bentuk yang berbeda-beda dan tentu dengan latar belakang atau dorongan yang berbeda-beda pula. Di penghujung kepemimpinan Imam Ali bin Abi Thalib R.A, sekelompok orang yg terbakar dendam politik mengangkat isu aqidah dengan slogan laa hukma illa lillah, Mereka mengkafirkan dan berlaku kejam kepada umat muslim yang tidak sepaham. Itulah ke lompok yang kemudian dikenal dengan sebutan Al Khawarij atau Al Haruriyah.

Di masa dinasti Abbasiyah, seorang penyair yakni, Abul ‘Ala Al Ma’ri mengkritik hukuman potong tangan bagi pencuri, Ia mengatakan :”Yadun bihomsi mi iina ‘asjadin fudiyat # Maa baa luhaa quti’at fi rub’i diinarin” (Satu tangan harus ditebus dengan lima ratus dinar, kenapa hanya karena mencuri seperempat dinar tangan itu harus dipotong ?). Kritikan ini boleh jadi karena faktor keingintahuan si penyair tentang suatu hukum yang dianggap tidak rasional atau boleh jadi ia sengaja membuat keraguan terhadap syari’ah Islam sebab pada masa itu terdapat banyak orang Zanadiqah yang tidak jelas keyakinannya. Pada masa ini pula muncul kelompok Ikhwanushshafa yang tidak jelas siapa orang-orangnya tetapi pikiran mereka dituangkan dalam tulisan-tulisan yang menggabungkan antara sastra dan filsafat.

 

Pada intinya mereka mengajak manusia untuk berbuat kebajikan tanpa harus berpegang pada aturan-aturan syari’ah. Kemudian lahir pula kelompok Bathiniyah yang menganggap ayat-ayat Alqur’an mempunyai dua jenis makna yaitu makna lahir dan makna batin. Aliran ini terus eksis meski Imam Al Ghazali telah berupaya untuk merobohkannya lewat bukunya Fadlaih Al Bathiniyah.

Belakangan pada masa kebangkitan Eropa dan kemunduran negara-negara Islam, ketika wilayah Islam menjadi seperti kue yang dibagi-bagi diantara negara-negara penjajah dan ketika dinasti Ottoman (Utsmaniyah) – simbol otoritas khilafah Islam – menjadi semacam orang tua yang sakit dan ditunggu kematian dan warisannya oleh bangsa-bangsa Eropa, ketika itulah bermunculan para orientalis yang giat mempelajari ilmu-ilmu keislaman bukan untuk melihat kebesarannya, tetapi sebagian besar mereka melakukannya hanya untuk mencari-cari kelemahan untuk mengobati rasa dendam atau fobia mereka terhadap agama terakhir ini. Maka tidak heran jika mereka seringkali mendasarkan kritikannya kepada syari’ah pada kutipan-kutipan yang diambil dari buku semacam Al Aghani karya Al Ashfihani.

 

Dalih Pembaharuan

Di tengah kemajuan Barat yang semakin pesat dan kemunduran umat Islam yang semakin parah, Barat tidak segan-segan untuk mengkampanyekan bahwa kemajuan mereka tidak lain karena mereka sukses dalam menjadikan agama sebagai urusan pribadi antara manusia dengan Tuhannya dan tidak ada sangkut pautnya dengan dengan kehidupan bermasyarakat dan bernegara. Karena itu umat Islam pun kalau ingin maju harus melakukan hal yang sama. Kampanye ini diterima oleh sebagian umat Islam khususnya setelah runtuhnya dinasti Ottoman dan digantikan dengan negara sekuler pimpinan Kamal Ataturk. Muncul kemudian pemikir-pemikir yang mengatakan bahwa hukum Islam sudah tidak relevan lagi dengan perkembangan zaman. Hukum-hukum itu hanya cocok untuk seribu tahun yang lalu ketika masyarakat Arab masih dalam kondisi primitif. Pemikiran ini menjadi eksis di kalangan tokoh-tokoh yang memperjuangkan hak-hak rakyat miskin yang semakin tertindas seiring dengan menguatnya pemikiran sosialis di Eropa yang diilhami oleh pandangan-pandangan Karl Marx. Para tokoh sosialis (kiri) ini kemudian mencari justifikasi (pembenar) dari agama agar pendapat mereka itu kelihatan sah dan dibenarkan agama. Maka ditampilkanlah sahabat Nabi SAW seperti Abi Dzar R.A yang berseberangan dengan sayyidina Utsman R.A yang mereka anggap mewa kili kaum borjuis. Pemikiran ini kemudian merembet ke sebagian kaum terpelajar Islam yang gencar mengkampanyekan pembaharuan agama. Mereka menganggap selama ini terdapat kekeliruan umat Islam dalam memahami agamanya sehingga menyebabkan umat ini begitu terpuruk nasibnya.

Di lain pihak lahir pemikiran yang bertolak belakang dengan pemikiran di atas. Yakni bahwa keterpurukan umat Islam tidak lain karena mereka semakin jauh dari ajaran agamanya. Agama tinggal masalah-masalah ibadah, itupun dalam kadar yang semakin menurun. Sementara persoalan ekonomi, politik, hukum, sosial budaya dll, sudah sangat jauh dari agama. Padahal semuanya ini sama-sama mendapatkan perhatian serius dari agama. Mereka rata-rata selalu berdalih pada perlunya pembaharuan agama. Dalih dan Pemikiran mereka ini tentu mendapat respon dan dukungan sangat positif dari dunia Barat sehingga pemikiran mereka pada umumnya diekspos dari sana. Hampir setiap sesuatu yang datang dari Barat atau mendapat acungan jempol darinya selalu memikat orang-orang Indonesia tidak terkecuali pemikiran-pemikiran islam. Begitulah kemudian pemikiran-pemikiran atau paling tidak ide dasar mereka laku keras di kalangan muda NU. Maka lahirlah Jaringan Islam Liberal (JIL) yang mengkampanyekan ajaran-ajaran islam yang liberal, pluralis, humanis, demokratis yang dikomandani oleh Ulil Abshar Abdalla. Muncul pula Islam Emansi patoris, madzhab yang dirintis oleh Masdar F. Masudi yang mengajak untuk mendialogkan Islam dengan problem real (nyata) yang dihadapi umat Islam. Kemudian Islam Post. Tradisionalisme-nya Ahmad Baso dkk dan Islam Kirinya LKIS dan entah apa lagi. – Wallahu A’lam ***

 

*) Kepala Madrasah Aliyah Al Hikmah 2, Alumni Al-Azhar Mesir

http://www.padhangmbulan.com/modules.php?name=News&file=article&sid=143

 

Kafir dan munafik

“Sesungguhnya orang-orang kafir, sama saja bagi mereka, kamu beri peringatan atau tidak kamu beri peringatan, mereka tidak juga akan beriman. Allah telah mengunci-mati hati dan pendengaran mereka, dan penglihatan mereka ditutup. Dan bagi mereka siksa yang amat berat. Di antara manusia ada yang mengatakan :”Kami beriman kepada Allah dan Hari kemudian,” padahal mereka itu sesungguhnya bukan orang-orang yang beriman. Mereka hendak menipu Allah dan orang-orang yang beriman, padahal mereka hanya menipu dirinya sendiri sedang mereka tidak sadar.

Dalam hati mereka ada penyakit, lalu ditambah Allah penyakitnya; dan bagi mereka siksa yang pedih, disebabkan mereka berdusta. Dan bila dikatakan kepada mereka: “Janganlah kamu membuat kerusakan di muka bumi”. Mereka menjawab: “Sesungguhnya kami orang-orang yang mengadakan perbaikan.” Ingatlah, sesungguhnya mereka itulah orang-orang yang membuat kerusakan, tetapi mereka tidak sadar. Apabila dikatakan kepada mereka :”Berimanlah kamu sebagaimana orang-orang lain telah beriman.” Mereka menjawab :”Akan berimankah kami sebagaimana orang-orang yang bodoh itu telah beriman ?”. Ingatlah, sesungguhnya merekalah orang-orang yang bodoh; tetapi mereka tidak tahu. Dan bila mereka berjumpa dengan orang-orang yang beriman, mereka mengatakan :”Kami telah beriman”. Dan bila mereka kembali kepada syaitan-syaitan mereka, mereka mengatakan :”Sesungguhnya kami sependirian dengan kamu, kami hanyalah berolok-olok.” Allah akan (membalas) olok-olokan mereka dan membiarkan mereka terombang-ambing dlm kesesatan mereka”. (QS.Al Baqarah: 6- 15)

 

Hadis riwayat Abdullah bin Masud ra., ia berkata, Rasulullah saw. Bersabda : “Mencaci-maki orang Islam adalah kefasikan & memeranginya adalah kekafiran”.- (Sahih Muslim, hadits no.97)

Hadis riwayat Jarir ra., ia berkata, Ketika haji wada, Nabi saw. bersabda kepadaku : ”Suruhlah orang-orang diam. Setelah orang-orang diam, beliau bersabda : “Janganlah sesudah kutinggalkan, kalian kembali menjadi orang-orang kafir, dimana sebagian membunuh sebagian yang lain”. – (Sahih Muslim, hadits no.98)

Hadis riwayat Ibnu Umar ra., ia berkata, Nabi saw. Bersabda :”Apabila seseorang mengafirkan temannya, maka ucapan (yang mengafirkan) itu benar-benar kembali kepada salah seorang di antara keduanya (yang mengatakan atau yang dikatakan)” – (Sahih Muslim, hadits no.91)

Hadis riwayat Anas ra., ia berkata, Nabi saw. Bersabda :”Ada tiga hal yg barang siapa mengamalkannya, maka ia dapat menemukan manisnya iman, yaitu orang yang lebih mencintai Allah dan Rasul-Nya daripada yang lain, mencintai orang lain hanya karena Allah, tidak suka kembali ke dalam kekufuran (setelah Allah menyelamatkannya) sebagaimana ia tidak suka di lemparkan ke dalam neraka”. – (Sahih Muslim, hadits no.60)

 

catatan : artikel ini telah dimuat dalam majalah islami “Labbaik“, edisi : 021/th.02/Safar-Rabi’ul Awwal 1427H/2006M

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: