Sentuhan Islam Terhadap Pornografi Dan Pornoaksi

ISLAM menuntun, membimbing, mengarahkan dan menentukan manusia dalam memperlakukan dan memanfaatkan tubuh, agar terjaga kehormatan, derajat, dan martabat diri, baik dalam keluarga, masyarakat, dan bangsa, untuk mencapai kebahagiaan hidup dan kehidupan di dunia dan akhirat kelak. Kiranya, siapapun akan terhenyak lantas bergairah ketika mendengar kata Pornografi ataupun Pornoaksi. Karena begitu kompleksnya masalah yang menggugah image dan libido makhluk Adam yang tak kenal usia dan strata sosial ini. Diskusi tentang batasan pornografi dan pornoaksi selalu menarik untuk dibicarakan, terlebih saat RUU APP membuat kontroversi semua kalangan. Jelas saja, setiap argumen tentang masalah tersebut disertai dengan berbagai alasan baik yang mendukung maupun menentangnya, keduanya sama-sama kuat. Padahal, kalau kita betul-betul merujuk pada Alqur’an (tanpa mencari-cari justifikasi pemikiran dari sumber yang lain), secara jelas sudah menguraikan batasan bagaimana memelihara kehormatan diri (baca: aurat) manusia. Lantas, sampai di manakah batasan tentang tindakan yang dikategorikan Pornografi dan Pornoaksi itu ? Jawabannya secara gamblang akan dibahas dalam buku ini.

Pornografi dan pornoaksi merupakan masalah klasik yang belum dapat ditanggulangi oleh ketentuan-ketentuan yang ada, yang terdapat dalam Kitab Undang-undang Hukum Pidana (Wetbook van Sarfrecht voor Nederlandsch-Indie) dan berlaku di Indonesia sejak masa pemerintahan Hindia Belanda, yaitu Januari 1917. Setelah Bangsa ini meraih kemerdekaan, KUHP diberlakukan berdasarkan UU No. I Th 1946 jo. UU No. 73 Th.1958. Sekarang, masalah ini semakin memprihatinkan dan dampak negatifnya pun semakin nyata. Semisal perzinaan, perkosaan bahkan pembunuhan maupun aborsi. Tidak hanya perempuan dewasa, korban anak-anak –laki-laki dan perempuan– dengan pelakunya dari orang-orang yang tidak dikenal sampai mereka yang memiliki hubungan keluarga dengan korban, hubungan seprofesi, hubungan tetangga dan yang lebih menyakitkan hubungan pendidik dengan murid, baik guru sekolah atau guru mengaji. Adanya adegan-adegan yang dipertontonkan melalui film, VCD, tayangan dan gambar atau tulisan yang membuat jantung berdegup kencang, memegang peran penting terhadap timbulnya masalah pornografi dan pornoaksi di atas. Karena ternyata VCD-VCD porno tidak hanya menampilkan hubungan seksual antara manusia dengan manusia saja, baik secara heteroseksual maupun homoseksual, tetapi juga menvisualisasikan hubungan seksual antara manusia dengan binatang. Pornografi dan Pornoaksi selalu dikaitkan dengan gerak tubuh yang erotis dan atau sensual dari perempuan dan atau laki-laki-laki untuk membangkitkan nafsu birahi baik bagi lawan jenis maupun sejenis. Sebenarnya perbuatan yang termasuk perbuatan pornografi dan pornoaksi bukan semata-mata perbuatan erotis yang membangkitkan nafsu birahi, namun juga termasuk perbuatan erotis dan atau sensual yang memuakkan, menjijikkan, atau memalukan orang yang melihatnya atau mendengarnya, atau menyentuhnya. Sebagai contoh, menyentuh alat kelamin buatan yang banyak beredar dan dijual bebas di toko-toko obat dan bandara. Timbulnya perbuatan ini biasanya dikaitkan pada prinsip kepemilikan tubuh itu sendiri bagi masing-masing pemilik tubuh, selalu dijamin dengan perolehan sejumlah harta sebagai imbalan jasa baik sebagai model peragaan busana (kecuali busana muslim), model iklan, lukisan, patung, penari, penyanyi atau kepemilikan tubuh bagi orang atau badan usaha terkait.

Pornografi dan pornoaksi adalah pilihan dan merupakan sebuah entitas yang unik serta menempati genre tersendiri. Siapapun akan tetap berpikir bagaimana kedua hal ini, tatkala tindakan itu dilarang dengan adanya pembatasan melalui Undang-Undang yang kini baru digodok di parlemen. Berbagai persepsi turut menyembul bak letupan lahar gunung berapi. Pembatasan kebebasan berekspresi dan Pelanggaran Hak Asasi Manusia menjadi alasan kuat terus dibiarkannya pornografi dan pornoaksi, muncul dari pihak yang merasa dirugikan dengan RUU ini. Di satu sisi, agamawan semakin bersikeras agar RUU tersebut segera disahkan karena pornogarafi dan pornoaksi diharamkan agama selain telah menjatuhkan moral bangsa. Tak ketinggalan aktivis LSM perempuan juga turut memperjuangkan musnahnya eksploitasi terhadap perempuan karena perempuan selalu menjadi obyek sekaligus subyek korban dunia pornografi dan pornoaksi.

Dalam hukum Islam, sejak abad ketujuh Masehi, perbuatan-perbuatan tersebut sudah dilarang secara tegas, karena teramat jelas pula kemudaratannya. Namun yang perlu segera dikemukakan adalah sampai saat ini masih ada pendapat bahwa hukum Islam, khususnya hukum pidana Islam, tidak sesuai dengan hak asasi manusia, karena dianggap melanggar hak-hak kemanusiaan sebagai individu, kejam dan demoralisasi. Menurut pihak ini, tubuh bagi setiap orang adalah hak mutlak pribadi masing-masing. Setiap individu bebas memperlakukan tubuhnya, termasuk mempergunakan tubuhnya untuk hal-hal yang pornografis atau untuk melakukan perbuatan-perbuatan pornoaksi. Jika ada anggota masyarakat atau orang lain yang terganggu atau terangsang hasrat seksualnya, atau merasa jijik, malu, muak sebagai akibat dari melihat, atau mendengar, atau menyentuh tindakan-tindakan yang porno tersebut, menurut mereka, adalah karena orang bersangkutan rusak moralnya, kotor pikirannya, ngeres otaknya. Setiap orang bebas mengekspresikan tubuhnya tanpa batas, sepanjang tidak melanggar kesusilaan masyarakat setempat. Karena itu, hukum publik, menurut mereka, dilarang ikut serta mengatur perilaku seseorang terhadap sikap, perbuatan, tindakan, perlakuan terhadap tubuh masing-masing. Karena tubuh adalah merupakan hak mutlak masing-masing individu, bukan hak hukum publik. Pelacuran, masih menurut mereka, adalah perbuatan yang boleh dilakukan sepanjang pelacuran itu dilakukan oleh pihak yang sudah dewasa secara suka sama suka, dan tidak mengganggu orang lain. Pendapat ini, setidaknya sependapat dengan orang-orang Barat yang hanya menganggap rasa kesusilaan masyarakat setempat sebagai dasar batasan pornografi dan pornoaksi. Sampai di sini, Apa tolok ukur pornografi dan pornoaksi ditinjau dari perspektif hukum Islam ? Ditinjau dari hukum Islam, pendapat tersebut sangat paradoksial, karena hukum Islam secara tegas mengatur bagaimana cara orang memelihara tubuh. Tubuh adalah amanah Allah yang wajib dipelihara oleh setiap insan demi menjaga kehormatan. Islam menuntun, membimbing, mengarahkan dan menentukan manusia dalam memperlakukan dan memanfaatkan tubuh agar terjaga kehormatan, derajat, dan martabat diri, baik dalam keluarga, masyarakat, dan bangsa, untuk mencapai kebahagiaan hidup dan kehidupan di dunia dan akhirat kelak. Kajian Ulama’ menambahkan bahwa pemeliharaan diri dari hal-hal pornografis dan pornoaksi sama maknanya dengan pemeliharaan tubuh, jiwa, akal dan rohani yang menyatu dan terwujud dalam tubuh setiap manusia sekaligus memelihara agama, keturunan, harta serta kehormatan diri. Persoalan kerap muncul: Apakah sama antara hukum adat dengan hukum Islam ? Sejauh mana hubungan antara keduanya ?

Menurut teori Receptio a Contrario (teori resepsi), hukum yang berlaku di Indonesia adalah hukum adat yang notabene mendapatkan pengaruh dari hukum Islam. Namun hukum Islam dapat berlaku apabila telah diterima oleh hukum adat. Artinya hukum Islam yang telah diterima oleh hukum adat bukan sebagai hukum Islam lagi, namun telah menjadi hukum adat. Hal itu, seperti yang telah dikemukakan oleh Snouck Hurgronje dengan teori resepsinya (receptie theorie). [Ingat ! ini hanya teori bikinan sang muallaf palsu tersebut, sekaligus dialah arsitek politik Devide et Impera-nya pemerintahan kaum Belanda saat menjajah bangsa kita, sehingga bangsa kita terpecah belah -red]. Hukum adat dapat berlaku apabila tidak bertentangan dengan hukum Islam. Inilah yang disebut dengan teori reception a contrario yang dipelopori Hazairin yang didahului oleh teori receptio in complexu yang dikemukakan Lodewijk Willem Christian van den Berg yang juga kelanjutan pendahulunya Salomon Keyzer dan Frederik Winter awal abad 18 M.

Tentang RUU Penanggulangan Pornografi dan Pornoaksi diantaranya meliputi pembinaan dan pengawasan, selain rehabilitasi dan pendidikan agar tidak terjerumus dalam penyakit manusiawi ini. Sebab dengan menghindari pornografi dan pornoaksi dengan jalan memelihara tubuh, jiwa, akal kita, akan bisa menjadi orang baik, supaya hidup sehat, berumur panjang, cerdas dan rela berbuat baik dengan moral yang tinggi.

(dari buku : Pornografi dan Pornoaksi, Penulis : Neng Djubaedah, S.H., M.H.Penerbit : Prenada Media, Edisi : Cetakan Kedua, Desember 2004)Copyright (c) 2003 Banjarmasin Post

http://www.indomedia.com/bpost/022006/19/ragam/ragam1.htm

catatan : artikel di atas telah dimuat dalam Labbaik, edisi : 020/th.02/Dzulhijjah-Muharram/1427H/2006M

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: