Do’a Seorang Ibu

Doa seorang ibu sungguh mustajab. Baik doa kebaikan ataupun doa buruk. Nabi Muhammad SAW pernah menyampaikan suatu kisah menarik berkaitan dengan doa ibu. Suatu kisah yang terjadi pada masa sebelum Rasulullah, yang mana patut diambil sebagai ibroh bagi orang-orang yang beriman.

Dahulu, ada tiga orang bayi yang bisa berbicara. Salah satunya adalah seorang bayi yang hidup pada masa Juraij. Juraij adalah seorang ahli ibadah, dia memiliki sebuah tempat ibadah yang sekaligus jadi tempat tinggalnya. Suatu ketika Juraij sedang melaksanakan sholat, tiba-tiba ibunya datang memanggilnya :”Wahai Juraij”. Dalam hatinya, Juraij bergumam :”Wahai Robbku, apakah yang harus aku dahulukan ? meneruskan sholatku ataukah memenuhi panggilan ibuku ?”. Dalam kebimbangan, dia tetap meneruskan sholatnya. Akhirnya sang ibu pulang. Esok harinya, sang ibu datang lagi dan memanggil :”Wahai Juraij !”. Juraij yang saat itu pun sedang sholat bergumam dalam hatinya :”Wahai Robbku, apakah aku harus meneruskan sholatku…atau (memenuhi) panggilan ibuku ?”. Tetapi dia tetap meneruskan sholatnya. Sang ibu kembali pulang untuk kedua kalinya. Ketiga kalinya, ibunya datang lagi seraya memanggil :”Wahai Juraij !”. Lagi-lagi Juraij sedang menjalankan sholat. Dalam hatinya, ia bergumam :”Wahai Robbku, haruskah aku memilih meneruskan sholatku ataukah memenuhi panggilan ibuku ?”. Tetapi dia tetap meneruskan sholatnya. Akhirnya, dengan kecewa setelah tiga kali panggilannya tidak mendapat sahutan dari anaknya, sang ibu berdoa :”Ya Allah, janganlah engkau matikan Juraij hingga dia melihat wajah wanita pelacur”.

Orang-orang bani Israil (ketika itu) sering menyebut-nyebut nama Juraij serta ketekunan ibadahnya, sehingga ada seorang wanita pelacur berparas cantik mengatakan :”Jika kalian mau, aku akan menggodanya (Juraij)”. Wanita pelacur itupun kemudian merayu dan menawarkan diri kepada Juraij. Tetapi sedikitpun Juraij tak memperdulikannya. Namun apa yang kemudian dilakukan oleh wanita itu ?. Ia mendatangi seseorang yang tengah menggembala di sekitar tempat ibadah Juraij. Lalu demi terlaksananya tipu muslihat, wanitu itu kemudian merayunya. Maka terjadilah perzinahan antara dia dengan penggembala itu. Hingga akhirnya wanita itu hamil.

Dan manakala bayinya telah lahir, dia membuat pengakuan palsu dengan berkata kepada orang-orang :”Bayi ini adalah anak Juraij”. Mendengar hal itu, masyarakat percaya dan beramai-ramai mendatangi tempat ibadah Juraij, memaksanya turun, merusak tempat ibadahnya dan memukulinya. Juraij yg tidak tahu masalahnya bertanya dgn heran :”Ada apa dengan kalian ?”. “Kamu telah berzina dengan wanita pelacur lalu dia sekarang melahirkan anakmu”, jawab mereka. Maka, tahulah Juraij bahwa ini adalah makar wanita lacur itu. Lantas bertanya :”Dimana bayinya ?”. Merekapun membawa bayinya. Juraij berkata : “Biarkan saya melakukan sholat dulu”, kemudian dia berdiri sholat. Seusai menunaikan sholat, dia menghampiri si bayi lalu mencubit perutnya seraya bertanya : “Wahai bayi, siapakah ayahmu ?”. Si bayi menjawab :”Ayahku adalah si fulan, seorang penggembala”. Seketika masyarakat bergegas menghampiri Juraij, mencium dan mengusapnya. Mereka minta maaf dan berkata :”Kami akan membangun tempat ibadahmu dari emas”. Juraij mengatakan :”Tidak, bangun saja seperti semula yaitu dari tanah Hat”. Lalu merekapun mengerjakannya.

Hikmah yang bisa dipetik dari kisah ini :

1. Wajibnya mendahulukan birrul walidain daripada perkara-perkara sunnah, seperti sholat (sunnah) dan sejenisnya.

2. Doa ibu adalah mustajab (terkabulkan).

3. Fitnah terbesar yang menimpa suatu umat adalah fitnah wanita.

4. Fitnah tidaklah membahayakan bagi orang yang beriman.

5. Apapun problematika yang menimpa, solusinya adalah memohon pertolongan kepada Allah SWT saja dengan sholat dan doa.

(Disarikan dari : Bahjatun Nadhirin (1/345-347) karya Syaikh Salim Al-Hilali cet. Darr Ibnu Jauzy)

http://vbaitullah.or.id/index.php?option=content&task=view&id=524&Itemid=43

note : “Dan berilah peringatan kepada kerabat-kerabatmu terdekat” (QS.26 : 214)“Dan tetaplah memberi peringatan, karena sesungguhnya peringatan itu bermanfaat bagi orang-orang beriman” (QS.51 : 55)

catatan : artikel di atas telah dimuat dalam Labbaik, edisi : 020/th.02/Dzulhijjah-Muharram/1426H/2006M

Iklan

19 Responses to Do’a Seorang Ibu

  1. fitri berkata:

    apakah kisah ini shahih ?

  2. labbaik berkata:

    Insya Allah Shahih Ukhti Fitri, kisah Juraij yang hidup jauh sebelum masa Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Muslim. Di samping itu dalam artikel di atas juga telah dicantumkan dengan jelas sumbernya.

    Kalau Ukhti ingin lebih jelas sehubungan dengan artikel di atas, maka berikut ini Labbaik kutipkan kisah-kisah Juraij lainnya. Selamat membaca, semoga bermanfaat :

    Hadits-hadits Juraij Dan Perihal Birrul Walidain

    “Diriwayatkan dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu katanya,”Seorang yang bernama Juraij sedang mengerjakan ibadah di sebuah sauma (tempat ibadah). Lalu ibunya datang memanggilnya.”
    Humaid berkata, “Abu Rafi’ pernah menerangkan kepadaku mengenai bagaimana Abu Hurairah meniru gaya ibu Juraij ketika memanggil anaknya, sebagaimana beliau mendapatkannya dari Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam yaitu dengan meletakkan tangannya di bagian kepala antara dahi dan telinga serta mengangkat kepalanya, ‘Hai Juraij! Aku ibumu, jawablah panggilanku’.
    Ketika itu perempuan tersebut mendapati anaknya sedang shalat. Dengan keraguan Juraij berkata kepada diri sendiri, ‘Ya Allah, ibuku atau shalatku’. Tetapi Juraij telah memilih untuk meneruskan shalatnya.
    Tidak berapa lama selepas itu, perempuan itu pergi untuk yang kedua kalinya. Beliau memanggil, ‘Hai Juraij! Aku ibumu, jawablah panggilanku’.
    Juraij bertanya lagi kepada diri sendiri, ‘Ya Allah, ibuku atau shalatku’.
    Tetapi beliau masih lagi memilih untuk meneruskan shalatnya.
    Oleh karena terlalu kecewa akhirnya perempuan itu berkata, ‘Ya Allah, sesungguhnya Juraij adalah anakku. Aku sudah memanggilnya berulang kali, namun ternyata ia enggan menjawabnya. Ya Allah, janganlah Engkau matikan ia sebelum ia mendapat fitnah yang disebabkan oleh perempuan pelacur’.
    Pada suatu hari seorang pengembala kambing sedang berteduh di dekat tempat ibadah Juraij yang letaknya jauh terpencil dari orang ramai.
    Tiba-tiba datang seorang perempuan dari sebuah dusun yang juga sedang berteduh di tempat tersebut. Kemudian keduanya melakukan perbuatan zina, sehingga melahirkan seorang anak. Ketika ditanya oleh orang ramai, ‘Anak dari siapakah ini?’. Perempuan itu menjawab. ‘Anak dari penghuni tempat ibadah ini’. Lalu orang ramai berduyun-duyun datang kepada Juraij. Mereka membawa besi perajang.
    Mereka berteriak memanggil Juraij, yang pada waktu itu sedang shalat.
    Maka sudah tentu Juraij tidak melayani panggilan mereka, akhirnya mereka merobohkan bangunan tempat ibadahnya.
    Tatkala melihat keadaan itu, Juraij keluar menemui mereka. Mereka berkata kepada Juraij. ‘Tanyalah anak ini’. Juraij tersenyum, kemudian mengusap kepala anak tersebut dan bertanya. ‘Siapakah bapakmu?’. Anak itu tiba-tiba menjawab, ‘Bapakku adalah seorang pengembala kambing’.
    Setelah mendengar jawaban jujur dari anak tersebut, mereka kelihatan menyesal, lalu berkata. ‘Kami akan mendirikan tempat ibadahmu yang kami robohkan ini dengan emas dan perak’. Juraij berkata, ‘Tidak perlu, biarkan ia menjadi debu seperti asalnya’. Kemudian Juraij meninggalkannya”.
    [HR. Hadits Riwayat Bukhari -Fathul Baari 6/476, dan Muslim 2550 (8)]

    Kisah di atas diceritakan Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika sedang menjelaskan tentang tiga orang yang dapat berbicara sewaktu kecil, yang pertama adalah Isa bin Maryam yang berbicara ketika masih bayi, kedua Ashabul Ukhdud yang tercantum dalam surat Al-Buruj dan ketiga adalah kisah Juraij ini.
    Pada hadits ini Juraij melihat wajah pelacur karena do’a ibunya setelah Juraij tidak memenuhi panggilannya dengan sebab tetap mengerjakan shalat sunnah. Para ulama beristimbat dengan hadits ini bahwa shalat sunnah harus dibatalkan untuk memenuhi panggilan ibu.
    Dari kisah di atas dapat diambil pelajaran bahwa taat kepada kedua orang tua harus didahulukan dari ibadah sunnah, lebih ditekankan lagi apabila orang tua kita menyuruh kita untuk melakukan ibadah yang bersifat sunnah atau wajib kifayah. (lihat : Bahjatun Nazhirin I/347.)

    Ibnu Hazm berkata, “Tidak boleh jihad kecuali dengan izin kedua orang tua kecuali kalau musuh itu sudah ada di tengah-tengah kaum muslimin maka tidak
    perlu lagi izin” (Al-Muhalla 7/292 No. 922.)
    Kata Ibnu Qudamah dalam kitabnya Al-Mughni, beliau mengatakan bahwa izin itu harus didahulukan daripada jihad kecuali kalau sudah jelas wajibnya jihad dan musuh sudah berada ditengah-tengah kita maka didahulukan jihad. Para ulama membawakan beberapa hadits bahwa selama jihad tersebut fardhu kifayah maka harus didahulukan berbakti kepada kedua orang tua. Sebagaimana dalam hadits yang diriwayatkan oleh Bukhari, Muslim, Abu Dawud, Nasa’i dari Abdullah bin Amr bin ‘Ash.

    “Seseorang datang kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam meminta izin untuk jihad. Kemudian Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bertanya, “Apakah bapak ibumu masih hidup ?” orang itu menjawab, “Ya” maka kata Nabi Shallallahu
    ‘alaihi wa sallam. “Hendaklah kamu berbakti kepada keduanya”
    [Hadits Riwayat Bukhari, Muslim 5/2529 Abu Dawud 2529, Nasa’i, Ahmad 2/165, 188, 193, 197 dan 221]
    Juga yang diriwayatkan oleh Muslim (no. 2549) dari Abdullah bin Amr bin ‘Ash.

    “Ada yang datang kepada Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Ya Rasullullah aku berbaiat kepadamu untuk hijrah dan berjihad ingin mencari ganjaran dari Allah”. Kata Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam, “Apakah kedua orang tuamu masih hidup ?”, kata orang tersebut “Bahkan keduanya masih hidup”.
    “Apakah engkau mencari ganjaran dari Allah ?. “Orang itu menjawab, “Ya aku mencari ganjaran dari Allah”. “Kembali kepada kedua orang tuamu, berbuat baiklah kepada keduanya”. Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam menyuruhnya pulang” [Hadits Riwayat Muslim No. 2549]
    Dalam riwayat lain yang shahih yang diriwayatkan oleh Imam Abu Dawud dan Nasa’i, dikatakan: “Seseorang datang kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan berkata, “Ya Rasulullah saya akan berba’iat kepadamu untuk berhijrah dan aku tinggalkan kedua orang tuaku dalam keadaan menangis”. Kata Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Kembali kepada kedua orang tuamu dan buatlah keduanya tertawa sebagaimana engkau telah membuat keduanya menangis”
    [Hadits Riwayat Abu Dawud 2528, Nasa’i dalam Kubra, Baihaqi dan Hakim 4/152]

    Dalam hadits yang diriwayatkan oleh Imam Nasa’i dengan sanad yang hasan dari Muawiyah bin Jaa-Himah. “Jaa-Himah Radhiyallahu ‘anhu datang kepada Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata, “Ya Rasulullah aku ingin perang dan aku datang kepadamu untuk musyawarah”. Kemudian kata Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Apakah kamu masih mempunyai ibu?”. Kata orang ini, “Ibu saya masih hidup”. Kata Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Hendaklah kamu tetap berbakti kepada ibumu karena sesungguhnya surga berada di kedua telapak kaki ibu”
    [Hadits Riwayat Nasa’i, Hakim 2/104, 4/151, Ahmad 3/329.]

    Dikatakan oleh Ibnu Qudamah dalam kitabnya Al-Mughni beliau mengatakan kenapa Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam menyebutkan tentang beberapa hadits ini ketika disebutkan jihad, Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam menyuruh anak ini untuk meminta izin kepada kedua orang tua. Kata Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam: “Sesungguhnya berbakti kepada kedua orang tua adalah fardlu ‘ain didahulukan daripada fardhu kifayah”

    [Disalin dari buku “Berbakti Kepada Kedua Orang Tua” oleh Ustadz Yazid bin Abdul Qadir Jawas, terbitan Darul Qolam – Jakarta]

  3. Resi berkata:

    Akhie,

    Kisah tersebut menandakan anak harus berbakti kepada kedua orang tuanya, Bagaimana dengan orang tua yg tidak pernah sholat ? apakah doa nya terkabul atau sumpahnya diijabah oleh Alloh ? mohon pencerahan.

    Salam,

    Adi

  4. labbaik berkata:

    Assalamu ‘alaikum wr.wb.

    A. PERIHAL TIDAK SHOLAT

    Para ulama sepakat bahwa seorang muslim yang sudah akil baligh bila meninggalkan shalat dengan mengingkari kewajibannya adalah kafir dan murtad (keluar) dari agama Islam, sehingga halal darahnya. Pihak pemerintah Islam melalui mahkamah syar`iyah berhak memvonis mati orang yang murtad karena mengingkari kewajiban shalat.
    Namun bila seseorang tidak shalat karena malas atau lalai, sementara dalam keyakinannya masih ada pendirian bahwa shalat itu adalah ibadah yang wajib dilakukan, maka dia adalah fasik dan pelaku maksiat. Demikian juga vonis kafir tidak bisa dijatuhkan kepada orang meninggalkan shalat karena seseorang baru saja masuk Islam atau karena tidak sampai kepada mereka dakwah Islam yang mengajarkan kewajiban shalat.

    Secara duniawi, hukuman seorang muslim yang tidak mau mengerjakan shalat menurut para ulama antara lain :

    1. Al-Hanafiyah
    Menurut kalangan Al-Hanafiyah, orang muslim yang tidak mau mengerjakan shalat huumannya di dunia ini adalah dipenjara atau dipukul dengan keras hingga keluar darahnya. Hingga dia merasa kapok dan mau mengerjakan shalat. Bila tidak mau juga, maka dibiarkan terus di dalam penjara hingga mati. Namun dia tidak boleh dibunuh kecuali nyata-nyata mengingkari kewajiban shalat. Seperti berkeyakian secara sadar sepenuhnya bahwa di dalam Islam tidak ada perintah shalat.

    2. Ulama lainnya
    Sedangkan para ulama lainnya mengatakan bahwa bila ada seorang muslim yang malas tidak mau mengerjakan shalat tanpa uzur syar`i, maka dia dituntun untuk bertobat (yustatab) dengan masa waktu tiga hari. Artinya bila selama tiga hari itu dia tidak bertaubat dan kembali menjalankan shalat, maka halal darahnya dan boleh di bunuh.

    3. Al-Malikiyah dan Asy-Syafi`iyah
    Mereka mengatakan kebolehan untuk dibunuhnya itu karena dasar hudud (hukum dari Allah), bukan karena pelakunya kafir. Sehingga orang itu tidak dianggap sebagai kafir yang keluar dari Islam. Kondisinya sama dengan seorang muslim yang berzina, mencuri, membunuh dan sejenisnya. Mereka ini wajib dihukum hudud meski statusnya tetap muslim. Sehingga jasadnya pun tetap harus dishalatkan dan dikuburkan di pekuburan Islam.
    Jumhur ulama sepakat bahwa muslim yang tidak mengerjakan shalat bukan karena jahd (sengaja tidak mengakui kewajiban shalat), tidak dianggap orang kafir. Dasarnya adalah firman Allah SWT: Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik, dan Dia mengampuni segala dosa yang selain dari itu, bagi siapa yang dikehendaki-Nya. Barangsiapa yang mempersekutukan Allah, maka sungguh ia telah berbuat dosa yang besar.(QS. An-Nisa: 48)
    Sedangkan imam Ahmad mengatakan bahwa seorang muslim yang meninggalkan shalat harus dibunuh atas dasar bahwa dirinya telah kafir. Pendapat itu didasarkan pada firman Allah SWT: Apabila sudah habis bulan-bulan Haram itu, maka bunuhlah orang-orang musyrikin itu di mana saja kamu jumpai mereka, dan tangkaplah mereka. Kepunglah mereka dan intailah di tempat pengintaian. Jika mereka bertaubat dan mendirikan sholat dan menunaikan zakat, maka berilah kebebasan kepada mereka untuk berjalan. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi maha Penyayang. (QS. At-Taubah: 5)
    Juga ada dalil dari hadits Rasulullah SAW: “Batas antara seorang dengan kekafiran adalah meninggalkan shalat” (HR Jamaah kecuali Bukhari)

    Namun pendapat yang rajih (lebih kuat) dalam masalah ini adalah pendapat jumhur ulama yang mengatakan bahwa bila seorang tidak shalat hanya karena alasan malas, lalai atau baru masuk Islam, maka tidak dianggap kafir. Barulah dikatakan kafir kalau dia secara tegas menolak/ tidak menerima adanya kewajiban shalat dalam Islam.

    (sumber : Ahmad Sarwat, Lc – http://www.eramuslim.com/ustadz/shl/7705095457-hukum-orang-meninggalkan-shalat-kafir.htm)

    Demikian penjelasan perihal orang yang tidak sholat.

    B.PERIHAL AMALAN (TERMASUK DZIKIR / DO’A)

    “Siapa yang melakukan amal shalih baik laki-laki atau perempuan sedang dia itu mukmin, maka Kami akan berikan kepadanya penghidupan yang baik serta Kami akan memberikan kepadanya balasan dengan balasan yang lebih baik dari apa yang telah mereka amalkan” (An Nahl : 97)

    “Siapa yang melakukan amal shalih, baik laki-laki atau perempuan sedangkan dia mukmin, maka mereka masuk surga seraya mereka diberi rizqi didalamnya tanpa perhitungan” (Ghafir/Al Mukmin : 60)

    “Dan siapa yang melakukan amalan-amalan shalih baik laki-laki atau perempuan, sedang dia itu mukmin, maka mereka masuk surga dan mereka tidak dizalimi barang sedikitpun” (An Nisa : 124)

    “Dan siapa yang melakukan amal-amal shalih sedang dia itu mukmin, maka dia tidak takut dizalimi dan tidak pula takut akan dikurangi” (Thaha : 112)

    “Dan siapa yang melakukan amal shalih, sedang dia itu mukmin maka tidak ada pengingkaran terhadap amalannya dan sesungguhnya Kami tuliskan bagi dia apa yang dia lakukan” (Al Anbiya : 94)

    “Sungguh, bila kamu berbuat syirik, maka hapuslah amalanmu, dan sunguh kamu tergolong orang-orang yang rugi” (Az Zumar : 65)

    “Dan bila mereka berbuat syirik, maka lenyaplah dari mereka apa yang pernah mereka amalkan” (Al An’am : 88)

    “Amalan-amalan mereka (orang-orang musyrik/kafir) adalah bagaikan debu yang diterpa oleh angin kencang di hari yang penuh badai” (Ibrahim : 18)

    “Dan orang-orang kafir amalan mereka itu bagaikan fatamorgana ditanah lapang, yang dikira air oleh orang yang dahaga, sehingga tatkala dia mendatanginya ternyata dia tidak mendapatkan apa-apa, justeru dia mendapatkan Allah disana kemudian Dia menyempurnakan penghisabanNya” (An Nur : 39)

    “Apakah kalian mau kami beritahukan kepada kalian tentang orang-orang yang paling rugi amalannya, yaitu orang-orang yang sia-sia amalannya dalam kehidupan di dunia ini, sedangkan mereka mengira bahwa mereka melakukan perbuatan baik?” (Al Kahfi : 102-104)

    “Siapa yang mengharapkan perjumpaan dengan Tuhannya maka hendaklah dia beramal shalih dan tidak menyekutukan sesuatupun dalam ibadah kepada Tuhannya” (Al Kahfi : 110)

    hadits qudsiy : “Bahwa Allah berfirman : ‘Aku adalah yang paling tidak butuh akan sekutu, siapa yang melakukan amalan dimana dia menyekutukan yang lain bersamaKu dalam amalan itu, maka Aku tinggalkan dia dengan penyekutuannya” (HR. Muslim)

    “Siapa yang melakukan amalan yang tidak ada dasarnya dari kami , maka itu tertolak” (HR. Muslim)

    Demikian dalil-dalil yang dapat Labbaik sampaikan perihal amalan orang-orang yang kafir/musyrik/fasik dll, apabila Antum ingin penjelasan yang lebih mantap, maka Labbaik menyarankan agar menghubungi ulama fuqoha (ahli fiqih), atau klik saja : http://www.syariahonline.com/ Antum dapat mengadakan tanya jawab dengan para ulama yang lebih paham masalah syariah.
    wallahu a’lam bishshowwab..
    Wassalamu ‘alaikum wr.wb.

  5. dhanang berkata:

    assalamu’alaikum
    di segala hal memang kita selalu dianjurkan untuk bernuat baik dan santun kepada kedua orang tua,
    jikalau dalam sesuatu diskusi terjadi ketidakcocokan bagaimana harus menyikapinya tanpa menggoreskan pena luka pada keduanya? tolong aku….

    wa’alaikumsalam

    “dhanang firdaus”

  6. dhanang berkata:

    assalamu’alaikum
    di segala hal memang kita selalu dianjurkan untuk berbuat baik dan santun kepada kedua orang tua,
    jikalau dalam sesuatu diskusi terjadi ketidakcocokan bagaimana harus menyikapinya tanpa menggoreskan pena luka pada keduanya? tolong aku….

    wassalamu’alaikum

    “dhanang firdaus”

  7. diaz berkata:

    Jenengan arep buko ora
    ono kurmo buku o nang FIAI
    tapi kudu nyukur godege pak syarif
    he he

  8. […] DO’A SEORANG IBU Do’a Seorang Ibu […]

  9. Bram berkata:

    Ya Allah, ampunilah hamba jika selama ini sering mengabaikan ibunda hamba..
    Terima kasih, artikelnya sangat menginspirasi.

  10. febry berkata:

    pak / bu …
    maaf , saya mau nge-link karyanya bapak/ ibu …

  11. dilah berkata:

    assalamu’alaikum wr.wb

    bagaimana cara agar ibu kita mendoakan kita sedangkan beliau dalam keadaan marah pada kita??

  12. more reload berkata:

    betul ms, smu masalh pasti ada jaln keluarnya, gak perlu bikin sakit hati orang tua qt…..

  13. dickyboboy berkata:

    assalamu’alaikum
    di segala hal memang kita selalu dianjurkan untuk berbuat baik dan santun kepada kedua orang tua,
    jikalau dalam sesuatu diskusi terjadi ketidakcocokan bagaimana harus menyikapinya tanpa menggoreskan pena luka pada keduanya? tolong aku….

    wassalamu’alaikum

    “@dickyboboy”

  14. dickyboboy berkata:

    Doa seorang ibu sungguh mustajab. Baik doa kebaikan ataupun doa buruk. Nabi Muhammad SAW pernah menyampaikan suatu kisah menarik berkaitan dengan doa ibu. Suatu kisah yang terjadi pada masa sebelum Rasulullah, yang mana patut diambil sebagai ibroh bagi orang-orang yang beriman.

    Dahulu, ada tiga orang bayi yang bisa berbicara. Salah satunya adalah seorang bayi yang hidup pada masa Juraij. Juraij adalah seorang ahli ibadah, dia memiliki sebuah tempat ibadah yang sekaligus jadi tempat tinggalnya. Suatu ketika Juraij sedang melaksanakan sholat, tiba-tiba ibunya datang memanggilnya :”Wahai Juraij”. Dalam hatinya, Juraij bergumam :”Wahai Robbku, apakah yang harus aku dahulukan ? meneruskan sholatku ataukah memenuhi panggilan ibuku ?”. Dalam kebimbangan, dia tetap meneruskan sholatnya. Akhirnya sang ibu pulang. Esok harinya, sang ibu datang lagi dan memanggil :”Wahai Juraij !”. Juraij yang saat itu pun sedang sholat bergumam dalam hatinya :”Wahai Robbku, apakah aku harus meneruskan sholatku…atau (memenuhi) panggilan ibuku ?”. Tetapi dia tetap meneruskan sholatnya. Sang ibu kembali pulang untuk kedua kalinya. Ketiga kalinya, ibunya datang lagi seraya memanggil :”Wahai Juraij !”. Lagi-lagi Juraij sedang menjalankan sholat. Dalam hatinya, ia bergumam :”Wahai Robbku, haruskah aku memilih meneruskan sholatku ataukah memenuhi panggilan ibuku ?”. Tetapi dia tetap meneruskan sholatnya. Akhirnya, dengan kecewa setelah tiga kali panggilannya tidak mendapat sahutan dari anaknya, sang ibu berdoa :”Ya Allah, janganlah engkau matikan Juraij hingga dia melihat wajah wanita pelacur”.

    Orang-orang bani Israil (ketika itu) sering menyebut-nyebut nama Juraij serta ketekunan ibadahnya, sehingga ada seorang wanita pelacur berparas cantik mengatakan :”Jika kalian mau, aku akan menggodanya (Juraij)”. Wanita pelacur itupun kemudian merayu dan menawarkan diri kepada Juraij. Tetapi sedikitpun Juraij tak memperdulikannya. Namun apa yang kemudian dilakukan oleh wanita itu ?. Ia mendatangi seseorang yang tengah menggembala di sekitar tempat ibadah Juraij. Lalu demi terlaksananya tipu muslihat, wanitu itu kemudian merayunya. Maka terjadilah perzinahan antara dia dengan penggembala itu. Hingga akhirnya wanita itu hamil.

    Dan manakala bayinya telah lahir, dia membuat pengakuan palsu dengan berkata kepada orang-orang :”Bayi ini adalah anak Juraij”. Mendengar hal itu, masyarakat percaya dan beramai-ramai mendatangi tempat ibadah Juraij, memaksanya turun, merusak tempat ibadahnya dan memukulinya. Juraij yg tidak tahu masalahnya bertanya dgn heran :”Ada apa dengan kalian ?”. “Kamu telah berzina dengan wanita pelacur lalu dia sekarang melahirkan anakmu”, jawab mereka. Maka, tahulah Juraij bahwa ini adalah makar wanita lacur itu. Lantas bertanya :”Dimana bayinya ?”. Merekapun membawa bayinya. Juraij berkata : “Biarkan saya melakukan sholat dulu”, kemudian dia berdiri sholat. Seusai menunaikan sholat, dia menghampiri si bayi lalu mencubit perutnya seraya bertanya : “Wahai bayi, siapakah ayahmu ?”. Si bayi menjawab :”Ayahku adalah si fulan, seorang penggembala”. Seketika masyarakat bergegas menghampiri Juraij, mencium dan mengusapnya. Mereka minta maaf dan berkata :”Kami akan membangun tempat ibadahmu dari emas”. Juraij mengatakan :”Tidak, bangun saja seperti semula yaitu dari tanah Hat”. Lalu merekapun mengerjakannya.

  15. Assalamu’alaikum wr wb.

    Bu,…??? maafin opick bu,..? selama ini opick belum pernah bahagiakanmu, opick do’akan moga ibu diberikan umur panjang serta sehat rohani jasmani, agar senantiasa opick bisa dan sempat membahagiakanmu sebelum wafatmu.

  16. Ibu memang perempuan yg sempurna bagi Qu…..,, tanpa y, Qu tidak bakalan menjadi seprti ini…..!!
    Makasih “ibu” nama & banyang Mu akan selalu tersimpan di dalam Hati Qu…..!!

  17. Abufaiz berkata:

    Ya Allah, ampunilah dosa – dosaku dan dosa orang tuaku, berikanlah kasih sayang-Mu kepada orang tuaku sebagaimana mereka menyanyangiku sewaktu aku kecil…
    Ibu, maafkan aku bila selama ini aku belum bisa membahagiakan ibu. Walau baru sedikit sekali yang aku perbuat untuk membalas segala kebaikanmu namun do’amu untuk kebaikan anakmu aku harapkan slalu…
    Ayah, semoga Allah mengampuni dosa – dosamu, Allah melapangkan kuburmu, dan menerima amal – amal kebaikanmu.
    Sungguh tak akan hilang dari ingatanku atas segala pengorbananmu untuk semua anak – anakmu.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: