Anugrah Seorang Rasul

Sungguh Allah telah memberi karunia kepada orang-orang yang beriman ketika Allah mengutus di antara mereka seorang Rasul dari golongan mereka sendiri, yang membacakan kpd mereka ayat-ayat Allah, membersihkan (jiwa) mereka dan mengajarkan kpd mereka al-Kitab dan al-Hikmah. Dan sesungguhnya sebelum (kedatangan Nabi) itu, mereka adalah benar-benar dlm kesesatan yang nyata”. (QS Ali Imran: 164) Kehadiran manusia di dunia ini, tidaklah dibiarkan begitu saja oleh Allah, tanpa adanya bimbingan dan hidayah. Namun Dia mengutus seorang Rasul, untuk mengarahkan dan membimbing mereka menuju makna dan hakikat diciptakannya manusia. Membebaskannya dari belenggu kemusyrikan dan kejahiliyahan. Kemudian mengajak hanya menghambakan diri pada Allah. Membacakan kitab-kitab Allah dan mengajarkannya, begitu juga hikmah. Membersihkan hati dari keburukan akhlak jahiliyyah, memberinya pelajaran-pelajaran yang berharga bagi kehidupannya, baik dunia maupun akhirat. Menyelamatkannya dari kesesatan hidup, dan menjaganya dari kerusakan. Khusus umat yang mulia ini, Allah Saw. mengutus Muhammad bin Abdullah yang ummi (buta huruf), yang terjaga kehidupannya dari perbuatan salah dan tercela, hingga masyarakatnya menyebutnya dan memberikan julukan al-Amin. Dari kalangan manapun mengakui akhlak dan pribadi beliau yang agung. Bahkan Allah pun memujinya, “Dan sesungguhnya engkau benar-benar berbudi pakerti yang agung”. (QS al-Qalam: 4)

Beliau sebagai penutup para Nabi sebelumnya, dan tiada Nabi setelahnya. Penyempurna akhlak, ajaran dan pelengkap sebuah tuntunan. Allah melebihkan beliau diatas para Nabi sebelumnya, begitu pula umatnya. Jika para Nabi dan Rasul sebelumnya diutus oleh Allah, khusus untuk kaumnya sendiri, tapi Rasulullah, Muhhamad Saw., diutus untuk sekalian umat manusia hingga akhir zaman. Beliau sebagai rahmat bagi sekalian alam. Maka kemudian beliau memberikan pesannya yang sangat berharga, “Demi Dzat yang jiwaku ada ditangan-Nya, tidak seorang pun dari umat ini, baik dari Yahudi maupun Nasrani yang mendengar tentang aku, lalu ia mati, dan tidak beriman terhadap apa yang aku sampaikan/bawa, kecuali ia masuk neraka”. (HR Muslim). Maksud hadits ini begitu jelas, bahwa siapa pun ia, setelah terutusnya Rasulullah, Muhammad Saw., ia tidak beriman, bahkan memusuhi, meremehkan tentang apa yang beliau dakwahkan, maka tiada tempat yang lebih pantas baginya, kecuali hanya neraka Allah Swt. Karena setelah terutusnya Rasulullah Saw., semua agama sebelumnya dimansukh/dihapus oleh Allah Swt. Dan hanya Islam, satu-satunya agama yang diakui oleh Allah Swt. Berita tentang kedatangan Muhammad bin Abdullah telah dijelaskan oleh Allah, dalam kitab-kitab sebelumnya. Ini terbukti dari firman Allah Saw: “Dan (ingatlah) ketika Isa putra Maryam berkata, “Hai bani Isra’il, sesungguhnya aku adalah utusan Allah kepadamu, membenarkan kitab (yang turun sebelumku), yaitu Taurat dan memberi kabar gembira dengan (datangnya) seorang Rasul yang akan datang sesudahku, yang namanya Ahmad (Muhammad).

Maka tatkala Rasul itu datang kepada mereka dengan membawa bukti-bukti yang nyata, mereka berkata: “Ini adalah sihir yang nyata”. (QS ash-Shaaf: 6)Ayat ini jelas, bahwa kedatangan Muhammad bin Abdullah, dari suku Quraisy telah dijelaskan oleh Allah pada kitab-kitab sebelum al-Quran. Maka kemudian, Allah Swt. mewajibkan bagi seluruh umat manusia dan juga jin untuk beriman kepadanya. Lihat dan renungkanlah firman Allah ini, “Katakanlah: ‘Hai manusia sesungguhnya aku adalah Allah kepadamu semua, yaitu Allah Yang mempunyai kerajan langit dan bumi; tiada Ilah yang haq disembah selain Dia, Yang menghidupkan dan mematikan, maka berimanlah kamu kepada Allah dan Rasul-Nya, Nabi yang ummi yang beriman kepada Allah dan kepada kalimat-kalimat-Nya (kitab-kitab-Nya) dan ikutilah dia, supaya kamu mendapat petunjuk”. (QS al-A’raf: 158) Karenanya, iman kepada Rasulullah Saw. merupakan salah satu dari rukun iman. Yang tidak dibenarkan atau dianggap tidak sah keimanan seseorang, jika tanpa mengimani padanya; dalam artian, mengimani bahwa beliau Saw. adalah seorang manusia sebagaimana kita, yang di utus oleh Allah Swt. serta dilengkapi dengan wahyu untuk sekalian manusia, bahkan untuk sekalian alam. Dan apa yang dibawanya berasal dari Allah, dan bukanlah dari perkataan hawa nafsunya. Dan beliau Saw. tidaklah sesat dan bukan orang bodoh sebagaimana yang ditu duhkan kaum musyrikin saat itu. Beliau adalah makhluk Allah, yg telah dipilih oleh Allah Swt., dan beliau membawa wahyu dari Allah yang wajib kita beriman kepada segala apa yang beliau bawa, yang akan menghantarkan umat manusia pada suatu kemuliaan hidup. Inilah anu grah Allah Saw. yang harus kita syukuri.

http://www.taruna-alquran.org/sq/art.php?artid=64

catatan : artikel di atas telah dimuat dalam Labbaik, edisi : 022/th.02/Rabi’ul Awwal-Rabi’ul Tsani 1427H/2006M

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: