NABI MUHAMMAD SAW.

Disadari atau tidak, wujud Tuhan pasti dirasakan oleh jiwa manusia, baik redup atau benderang. Manusia menyadari bahwa suatu ketika dirinya akan mati. Kesadaran ini mengantarkannya kepada pertanyaan tentang apa yang akan terjadi sesudah kematian ? bahkan menyebabkan manusia berusaha memperoleh kedamaian dan keselamatan di negeri yang tak dikenal itu. Wujud Tuhan yang dirasakan, serta hal-ihwal kematian, merupakan dua dari sekian banyak faktor pendorong manusia untuk berhubungan dengan Tuhan dan memperoleh informasi yang pasti. Sayangnya tidak semua manusia mampu melakukan hal itu. Namun, kemurahan Allah menyebabkan-Nya memilih manusia tertentu untuk menyampaikan pesan-pesan Allah, baik untuk periode dan masyarakat tertentu maupun untuk seluruh manusia di setiap waktu dan tempat. Mereka yang mendapat tugas itulah yg dinamai Nabi (penyampai berita) dan Rasul (Utusan Tuhan). Jumlah mereka secara pasti tidak diketahui. Al-Quran hanya menginformasikan bahwa, “Tidak satu umat (kelompok masyarakat) pun kecuali telah pernah diutus kepadanya seorang pembawa peringatan” (QS.Fathir [35]: 24). Al-Quran juga menyatakan kepada Nabinya bahwa, “Kami telah mengutus nabi-nabi sebelum kamu, di antara mereka ada yang telah kami sampaikan kisahnya, dan ada pula yang tidak Kami sampaikan kepadamu” (QS Al-Mu’min [40]: 78). Al-Quran menyebutkan secara tegas nama dua puluh lima Nabi /Rasul; delapan belas diantaranya disebutkan dalam Al-Quran surat Al-An’am (6): 83-86, sisanya didapatkan dari berbagai ayat. Nabi Muhammad Saw. seperti dinyatakan Al-Quran surat Al-A’raf (7): 158 -diutus kepada seluruh manusia, dan beliau merupakan khataman nabiyyin (penutup para nabi) (QS Al-Ahzab [33]: 40).

Masa Prakelahiran

Al-Quran menegaskan bahwa para nabi sudah pernah diangkat janjinya untuk percaya dan membela Nabi Muhammad Saw. “Dan ingatlah ketika Allah mengambil perjanjian dan para Nabi, ‘Sungguh apa saja yang Aku berikan kepadamu berupa kitab dan hikmah, kemudian datang kepadamu seorang Rasul (Muhammad) yang membenarkan kamu, niscaya kamu sungguh-sungguh akan beriman kepadanya dan menolongnya.’ Allah berfirman, ‘Apakah kamu mengakui dan menerima perjanjian-Ku yang demikian itu ?’ Mereka menjawab, ‘Kami mengakui.'” (QS Ali’Imran [3]: 81). Dalam kaitan ini, Nabi Muhammad Saw. bersabda, “Demi (Allah) yang jiwaku berada pada genggaman-Nya, seandainya Musa a.s. hidup, dia tidak dapat mengelak dan mengikutiku” (HR Imam Ahmad).Tidak jelas kapan dan bagaimana perjanjian yang disinggung ayat tersebut. Setidaknya, ia mengisyaratkan bahwa Allah Swt. telah merencanakan sesuatu untuk Nabi Muhammad Saw., jauh sebelum kelahiran beliau. Karena itu pula sementara pakar menyatakan bahwa kematian ayah beliau sebelum kelahiran, kepergiannya ke pedesaan menjauhi ibunya, serta ketidakmampuannya membaca dan menulis merupakan strategi yang dipersiapkan Tuhan kepada beliau untuk dijadikan utusan-Nya kepada seluruh umat manusia kelak. Bahkan ulama lain meyakini bahwa pemilihan hal-hal tertentu berkaitan dengan beliau bukanlah kebetulan. Misalnya bulan lahir, hijrah, dan wafatnya pada bulan Rabi’ul Awal (musim bunga). Nama beliau Muhammad (yang terpuji), ayahnya Abdullah (hamba Allah), ibunya Aminah (yg memberi rasa aman), kakeknya yang bergelar Abdul Muththalib bernama Syaibah (orang tua yang bijaksana), sedangkan yang membantu ibunya melahirkan bernama Asy-Syifa’ (yang sempurna dan sehat), serta yang menyusukannya adalah Halimah As-Sa’diyah (yang lapang dada dan mujur). Semuanya mengisyaratkan keistimewaan berkaitan dengan Nabi Muhammad Saw. Makna nama-nama tersebut memiliki kaitan yang erat dengan kepribadian Nabi Muhammad Saw.

Al-Quran surat Al-A’raf (7): 157 juga menginformasikan bahwa Nabi Muhammad Saw. pada hakikatnya dikenal oleh orang-orang Yahudi dan Nasrani. Hal ini antara lain disebabkan mereka mendapatkan (nama)-nya tertulis di dalam Taurat dan Injil. (QS Al-A’raf [7]: 157). Menurut pakar agama Islam, yang ditegaskan oleh Al-Quran itu, dapat terbaca antara lain dalam Pertanjian Lama, Kitab Ulangan 33 ayat 2 :”… bahwa Tuhan telah datang dari Torsina, dan telah terbit untuk mereka itu dari Seir, kelihatanlah ia dengan gemerlapan cahayanya dari gunung Paran.”

Pemahaman mereka berdasarkan analisis berikut :”Gunung Paran” menurut Kitab Perjanjian Lama, Kejadian ayat 21, adalah tempat putra Ibrahim -yakni Nabi Ismail- bersama ibunya Hajar memperoleh air (Zam-Zam). Ini berarti bahwa tempat tersebut adalah Makkah, dan dengan demikian yg tercantum dalam Kitab Ulangan di atas mengisyaratkan tiga tempat terpancarnya cahaya wahyu Ilahi : Thur Sina tempat Nabi Musa a.s., Seir tempat Nabi Isa a.s., dan Makkah tempat Nabi Muhammad Saw. Sejarah membuktikan bahwa beliau satu-satunya Nabi dari Makkah. Karena itu pula wajar jika Al-Quran surat Al-Baqarah ayat 146 menyatakan bahkan mereka itu mengenalnya (Muhammad Saw.), sebagaimana mereka mengenal anak-anak mereka, bahkan salah seorang penganut agama Yahudi yang kemudian masuk Islam, yaitu Abdullah bin Salam pernah berkata, “Kami lebih mengenal dan lebih yakin tentang kenabian Muhammad Saw. daripada pengenalan dan keyakinan kami tentang anak-anak kami. Siapa tahu pasangan kami menyeleweng.”

Masa Prakenabian

Ada beberapa ayat Al-Quran yang berbicara tentang Nabi Muhammad Saw. sebelum kenabian beliau. Antara lain, “Bukankah Dia (Tuhan) mendapatimu sebagai seorang yatim, lalu Dia melindungimu, dan Dia mendapatimu bimbang, lalu Dia memberi petunjuk kepadamu, dan Dia mendapatimu dalam keadaan kekurangan, lalu Dia memberikan kecukupan ?” (QS Al-Dhuha [93]: 6-8).Beliau yatim sejak di dalam kandungan, kemudian dipelihara dan dilindungi oleh paman dan kakeknya. Beliau hidup di dalam keresahan dan kebimbangan melihat sikap masyarakatnya, lalu Allah memberinya petunjuk, dan mengangkatnya sebagai Nabi dan Rasul. Beliau hidup miskin karena ayahnya tidak meninggalkan warisan untuknya, kecuali beberapa ekor kambing dan harta lainnya yang tidak berarti. Tetapi Allah memberinya kecukupan, khususnya menjelang dan saat hidup berumah tangga dengan istrinya, Khadijah a.s.Ayat lain yang oleh ulama dianggap berbicara tentang Nabi Muhammad Saw. pd masa kanak-kanaknya, adalah surat Alam Nasyrah ayat pertama :”Bukankah Kami (Tuhan) telah melapangkan dada untukmu ?”. Sebagian ulama mengartikan kata nasyrah dengan “memotong/membedah.” Memang, bila dikaitkan dengan sesuatu yang bersifat materi, artinya demikian. Apabila dikaitkan dengan sesuatu yang bersifat non materi, kata itu mengandung arti membuka, memberi pemahaman, menganugerahkan ketenangan dan semaknanya. Yang mengaitkan dengan hal-hal materi berpendapat bahwa ayat ini berbicara tentang “pembedahan” yang pernah dilakukan oleh para malaikat terhadap Nabi Muhammad Saw. kala beliau remaja. Pendapat ini antara lain dikemukakan oleh mufasir An-Naisaburi. Tetapi sepanjang penelitian penulis kata tersebut dengan berbagai bentuknya terulang sebanyak 5 kali, dan tidak satu pun yang digunakan dengan arti harfiah, apalagi bermakna pembedahan. Akan lebih jelas lagi jika hal itu disejajarkan dengan ayat yang berbicara tentang doa Nabi Musa a.s. di dalam Al-Quran. “Wahai Tuhanku, lapangkanlah dadaku, mudahkanlah untukku urusanku dan lepaskanlah kekakuan lidahku, supaya mereka mengerti perkataanku” (QS Thaha [20]: 25-28) Selanjutnya Al-Quran menegaskan bahwa Nabi Muhammad Saw. Tidak pernah membaca satu kitab atau menulis satu kata sebelum datangnya wahyu Al-Quran. “Engkau tidak pernah membaca satu kitab pun sebelumnya (Al-Quran), tidak juga menulis satu tulisan dengan tanganmu, (andai kata kamu pernah membaca dan menulis) pasti akan benar-benar ragulah orang yg mengingkari-(mu)” (QS Al-‘Ankabut [29]: 48). Ayat ini secara pasti menyatakan bahwa beliau Saw. Adalah orang yang tidak pandai membaca dan menulis. Banyak ulama yang memahami bahwa kendatipun kemudian Nabi Saw. menganjurkan umatnya belajar membaca dan menulis, namun beliau sendiri tidak melakukannya, karena Allah Swt. ingin menjadikan beliau sebagai bukti bahwa informasi yang diperolehnya benar-benar bukan bersumber dari manusia, melainkan dari Allah Swt. Ada juga ulama yang memahami bahwa ketidakmampuan beliau membaca hanya terbatas sampai sebelum terbukti kebenaran ajaran Islam. Setelah kebenaran Islam terbukti -setelah hijrah ke Madinah- beliau telah pandai membaca. Menurut pendukungnya ide ini dikuatkan antara lain oleh kata “sebelumnya” yang terdapat pada ayat di atas. Memang, kata ummi hanya ditemukan dua kali dalam Al-Quran (QS Al-A’raf [7] 157 dan 158), dan keduanya menjadi sifat Nabi Muhammad Saw. Memang kedua ayat itu turun di Makkah, meskipun ada juga ayat lain yang turun di Madinah menyatakan, “Dia (Allah) yang mengutus kepada masyarakat ummiyyin (buta huruf), seorang Rasul di antara mereka” (QS Al-Jum’ah [62]: 2).

Disisi lain, harus disadari bahwa masyarakat beliau ketika itu menganggap kemampuan menulis sebagai bukti kelemahan seseorang. Pada masa itu sarana tulis-menulis amat langka, sehingga masyarakat amat mengandalkan hafalan. Seseorang yang menulis dianggap tidak memiliki kemampuan menghafal, dan ini merupakan kekurangan. Penyair Zurrummah pernah ditemukan sedang menulis, dan ketika ia sadar bahwa ada orang yang melihatnya, ia bermohon, “Jangan beri tahu siapa pun, karena ini (kemampuan menulis) bagi kami adalah aib.” Memang, nilai-nilai dalam masyarakat berubah, sehingga apa yang dianggap baik pada hari ini, boleh jadi sebelumnya dinilai buruk. Pada masa kini kemampuan menghafal tidak sepenting masa lalu, karena sarana tulis-menulis dengan mudah diperoleh.

Masa Kenabian

Dr.Nazme Luke, seorang pendeta Mesir, berkomentar bahwa menghidupkan orang mati, mengembalikan penglihatan orang buta, dan lain-lain adalah hal-hal yang sangat mengagumkan, tetapi tidak berarti apa-apa jika digunakan untuk membuktikan bahwa 2+2 = 5. Masyarakat pada masa Isa a.s. membutuhkan bukti-bukti yang bersifat suprarasional, karena mereka belum mencapai tingkat kedewasan yang memadai. Hal ini, tulisnya, sama dengan membujuk anak kecil untuk makan, padahal jika telah dewasa, ia akan makan tanpa dibujuk. Memang Nabi Muhammad Saw. Tidak mengandalkan hal-hal yang bersifat suprarasional sebagai bukti kebenaran ajarannya. Bukti kebenaran kenabian dan kerasulannya adalah Al-Quran dan diri beliau sendiri yang ummi (tidak pandai membaca dan menulis). Para pakar bersepakat dengan menggunakan berbagai tolok ukur untuk mengakui beliau sebagai manusia teragung yang pernah dikenal oleh sejarah kemanusiaan. Demikianlah kesimpulan Thomas Carlyle dalam bukunya On Heroes, Hero, Worship and the Heros in History dengan menggunakan tolok ukur kepahlawanan. Demikian pula Will Durant dalam The Story of Civilization in the World dengan tolok ukur hasil karya, Marcus Dodds dalam Muhammad, Buddha, and Christ, dengan tolok ukur keberanian moral, Nazme Luke dalam Muhammad Al-Rasul wa Al-Risalah dengan tolok ukur metode pembuktian ajaran, serta Michael Hart dalam bukunya tentang seratus tokoh dunia yang paling berpengaruh dlm sejarah, dengan tolok ukur pengaruh serta sederetan pakar lainnya.

“Mustahil bagi siapa pun yg mempelajari kehidupan dan karakter Muhammad (Saw.), hanya mempunyai perasaan hormat saja terhadap Nabi mulia itu. Ia akan melampauinya sehingga meyakini bahwa beliau adalah salah seorang Nabi terbesar dari sang Pencipta,” demikian Annie Besant menulis dalam The Life and Teachings of Muhammad.

Dalam konteks ini Al-Quran surat Alam Nasyrah ayat 4 menyatakan, “Sesungguhnya Kami pasti akan meninggikan namamu.” Dalam ayat lain dinyatakan :”Wahai seluruh manusia, telah datang kepada kamu bukti yang sangat jelas dan Tuhanmu (yakni Muhammad Saw.), dan Kami telah (pula) menurunkan cahaya yang terang benderang (Al-Quran)” (QS Al-Nisa’ [4]: 174).

Akhlak dan Fungsi Kenabian Muhammad Saw.

Al-Quran mengakui secara tegas bahwa Nabi Muhammad Saw. memiliki akhlak yang sangat agung. Bahkan dapat dikatakan bahwa konsideran pengangkatan beliau sebagai nabi adalah keluhuran budi pekertinya. Hal ini dipahami dari wahyu ketiga yang antara lain menyatakan bahwa :”Sesungguhnya engkau (Muhammad) berada di atas akhlak yang agung” (QS Al-Qalam [68]: 4). Kata “di atas” tentu mempunyai makna yang sangat dalam, melebihi kata lain, misalnya, pada tahap/dalam keadaan akhlak mulia. Seperti dikemukakan di atas, Al-Quran surat Al-An’am ayat 90 menyebutkan dalam rangkaian ayat-ayatnya 18 nama Nabi/Rasul. Setelah kedelapan belas nama disebut, Allah berpesan kepada Nabi Muhammad Saw., “Mereka itulah yang telah memperoleh petunjuk dari Allah, maka hendaknya kamu meneladani petunjuk yang mereka peroleh.”Ulama-ulama tafsir menyatakan bahwa Nabi Saw. pasti memperhatikan benar pesan ini. Hal itu terbukti antara lain, ketika salah seorang pengikutnya mengecam kebijaksanaan beliau saat membagi harta rampasan perang, beliau menahan amarahnya dan menyabarkan diri dengan berkata, “Semoga Allah merahmati Musa as. Dia telah diganggu melebihi gangguan yang kualami ini, dan dia bersabar (maka aku lebih wajar bersabar daripada Musa as.).” Karena itu pula sebagian ulama tafsir menyimpulkan, bahwa pastilah Nabi Muhammad Saw. telah meneladani sifat-sifat terpuji para nabi sebelum beliau Nabi Nuh a.s. dikenal sebagai seorang yang gigih dan tabah dalam berdakwah. Nabi Ibrahim a.s. dikenal sebagai seorang yang amat pemurah, serta amat tekun bermujahadah mendekatkan diri kepada Allah. Nabi Daud a.s. dikenal sebagai nabi yang amat menonjolkan rasa syukur serta penghargaannya terhadap nikmat Allah. Nabi Zakaria a.s., Yahya a.s., dan Isa a.s., adalah nabi- nabi yg berupaya menghindari kenikmatan dunia demi mendekatkan diri kepada Allah Swt. Nabi Yusuf a.s. terkenal gagah, dan amat bersyukur dalam nikmat dan bersabar menahan cobaan. Nabi Yunus a.s. diketahui sebagai nabi yang amat khusyuk ketika berdoa, Nabi Musa terbukti sebagai nabi yang berani dan memiliki ketegasan, Nabi Harun a.s. sebaliknya, adalah nabi yang penuh dengan kelemah-lembutan. Demikian seterusnya, dan Nabi Muhammad Saw. meneladani semua keistimewaan mereka itu.Ada beberapa sifat Nabi Muhammad Saw. yang ditekankan oleh Al-Quran, antara lain, “Sesungguhnya telah datang kepadamu seorang rasul dari kaummu sendiri, berat terasa olehnya penderitaanmu (umat manusia), serta sangat menginginkan kebaikan untuk kamu semua, lagi amat tinggi belas kasihannya serta penyayang terhadap orang-orang mukmin” (QS Al-Tawbah [9]: 128). Begitu besar perhatiannya kepada umat manusia, sehingga hampir-hampir saja ia mencelakakan diri demi mengajak mereka beriman (baca QS Syu’ara [26]: 3). Begitu luas rahmat dan kasih sayang yang dibawanya, sehingga menyentuh manusia, binatang, tumbuh-tumbuhan, dan makhluk-makhluk tak bernyawa.

Sebelum Eropa memperkenalkan Organisasi Pencinta Binatang, Nabi Muhammad Saw. Telah mengajarkan, “Bertakwalah kepada Allah dalam perlakuanmu terhadap binatang-binatang, kendarailah dan makanlah dengan baik.” “Seorang wanita terjerumus ke dalam neraka karena seekor kucing yang dikurungnya.” “Seorang wanita yang bergelimang dosa diampuni Tuhan karena memberi minum seekor anjing yang kehausan.”

Rahmat & kasih sayang yg dicurahkannya sampai pula pd benda-benda tak bernyawa.

Susu, gelas, cermin, tikar, perisai, pedang, dan sebagainya, semuanya beliau beri nama, seakan-akan benda-benda tak bernyawa itu mempunyai kepribadian yang membutuhkan uluran tangan, rahmat, kasih sayang, dan persahabatan. Diakui bahwa Muhammad Saw. diperintahkan Allah untuk menegaskan bahwa, “Aku tidak lain kecuali manusia seperti kamu, (tetapi aku) diberi wahyu …” (QS Al-Kahf [18]: 110).Beliau adalah manusia seperti manusia yang lain dalam naluri, fungsi fisik, dan kebutuhannya, tetapi bukan dalam sifat-sifat dan keagungannya, karena beliau mendapat bimbingan Tuhan dan kedudukan istimewa di sisi-Nya, sedang yang lain tidak demikian. Seperti halnya permata adalah jenis batu yang sama jenisnya dengan batu yang di jalan, tetapi ia memiliki keistimewaan yang tidak dimiliki oleh batu- batu lain. Dalam bahasa tafsir Al-Quran, “Yang sama dengan manusia lain adalah basyariyah bukan pada insaniyah.” Perhatikan bunyi firman tadi : basyarun mitslukum bukan insan mitslukum. Atas dasar sifat-sifat yang agung dan menyeluruh itu, Allah Swt. menjadikan beliau sebagai teladan yang baik sekaligus sebagai syahid (pembawa berita gembira dan pemberi peringatan). “Sesungguhnya terdapat dalam diri Rasul teladan yang baik bagi yang mengharapkan (ridha) Allah dan ganjaran di hari kemudian.” (QS Al-Ahzab [33]: 2l).Keteladanan tersebut dapat dilakukan oleh setiap manusia, karena beliau telah memiliki segala sifat terpuji yang dapat dimiliki oleh manusia. Dalam konteks ini, Abbas Al-Aqqad, seorang pakar Muslim kontemporer menguraikan bahwa manusia dapat diklasifikasikan ke dalam empat tipe: seniman, pemikir, pekerta, dan yang tekun beribadah. Sejarah hidup Nabi Muhammad Saw. membuktikan bahwa beliau menghimpun dan mencapai puncak keempat macam manusia tersebut. Karya-karyanya, ibadahnya, seni bahasa yang dikuasainya, serta pemikiran-pemikirannya sungguh mengagumkan setiap orang yang bersikap objektif. Karena itu pula seorang Muslim akan kagum berganda kepada beliau, sekali pada saat memandangnya melalui kacamata ilmu dan kemanusiaan, dan kedua kali pada saat memandangnya dengan kacamata iman dan agama. Banyak fungsi yang ditetapkan Allah bagi Nabi Muhammad Saw., antara lain sebagai syahid (pembawa berita gembira & pemberi peringatan) (QS Al-Fath [48]: 8), yang pada akhirnya bermuara pada penyebarluasan rahmat bagi alam semesta.Di sini fungsi beliau sebagai syahid/syahid akan dijelaskan agak mendalam. Demikian itulah Kami jadikan kamu umat pertengahan, agar kamu menjadi saksi terhadap manusia, dan agar Rasul (Muhammad Saw.) menjadi saksi terhadap kamu … (QS Al-Baqarah [2]: 143). Kata syahid/syahid antara lain berarti “menyaksikan,” baik dengan pandangan mata maupun dengan pandangan hati (pengetahuan). Ayat itu menjelaskan keberadaan umat Islam pada posisi tengah, agar mereka tidak hanyut pada pengaruh pebendaan, tidak pula mengantarkannya membubung tinggi ke alam ruhani sehingga tidak berpijak lagi di bumi. Mereka berada di antara keduanya (posisi tengah), sehingga mereka dapat menjadi saksi dalam arti patron/teladan dan skala kebenaran bagi umat-umat yang lain, sedangkan Rasulullah Saw. yang jugaberkedudukan sebagai syahid (saksi) adalah patron dan teladan bagi umat Islam. Kendati ada juga yang berpendapat bahwa kata tersebut berarti bahwa Nabi Muham mad Saw. akan menjadi saksi di hari kemudian terhadap umatnya dan umat-umat ter dahulu, spperti bunyi firman Allah dalam Al-Quran surat Al-Nisa’ (4) : 41 )Maka bagaimanakah halnya orang-orang kafir nanti apabila Kami menghadirkan se orang saksi dari tiap-tiap umat dan Kami hadirkan pula engkau (hai Muhammad) sebagai saksi atas mereka (QS Al-Nisa, [4]: 41).

Tingkat syahadat (persaksian) hanya diraih oleh mereka yang menelusuri jalan lurus (shirath al-mustaqim), sehingga mereka mampu menyaksikan yang tersirat di balik yang tersurat. Mereka yang menurut Ibnu Sina disebut “orang yang arif,” mampu memandang rahasia Tuhan yang terbentang melalu qudrat-Nya. Tokoh dari segala saksi adalah Rasulullah Muhammad Saw yuang secara tegas di dalam ayat ini dinyatakan “diutus untuk menjadi syahid (saksi).”

Sikap Allah Swt. terhadap Nabi Muhammad Saw.

Dari penelusuran terhadap ayat-ayat Al-Quran ditemukan bahwa para nabi sebelum Nabi Muhammad Saw. telah diseru oleh Allah dengan nama-nama mereka; Ya Adam…, Ya Musa…, Ya Isa…, dan sebagainya. Tetapi terhadap Nabi Muhammad Saw., Allah Swt. sering memanggilnya dengan panggilan kemuliaan, seperti Ya ayyuhan Nabi…, Ya ayyuhar Rasul…, atau memanggilnya dengan panggilan-panggilan mesra, seperti Ya ayyuhal muddatstsir, atau ya ayyuhal muzzammil (wahai orang yang berselimut). Kalau pun ada ayat yang menyebut namanya, nama tersebut dibarengi dengan gelar kehormatan. Perhatikan firman-Nya dalam surat Ali-‘Imran (3): 144, Al-Ahzab (33) : 40, Al-Fat-h (48): 29, dan Al-Shaff (61): 6.Dalam konteks ini dapat dimengerti mengapa Al-Quran berpesan kepada kaum mukmin.“Janganlah kamu menjadikan panggilan kepada Rasul di antara kamu, seperti panggilan sebagian kamu kepada sebagian yang lain… (QS Al-Nur [24]: 63). Sikap Allah kepada Rasul Saw. dapat juga dilihat dengan membandingkan sikap-Nya terhadap Musa a.s. Nabi Musa a.s. bermohon agar Allah menganugerahkan kepadanya kelapangan dada, serta memohon agar Allah memudahkan segala persoalannya. “Wahai Tuhanku, lapangkan dadaku & mudahkanlah untukku urusanku (QS Thaha [20]: 25-26).Sedangkan Nabi Muhammad Saw. memperoleh anugerah kelapangan dada tanpa mengajukan permohonan. Perhatikan firman Allah dalam surat Alam Nasyrah, Bukankah Kami telah melapangkan dadamu ? (QS Alam Nasyrah [94]: 1).Dapat diambil kesimpulan bahwa yang diberi tanpa bermohon tentunya lebih dicintai daripada yang bermohon, baik permohonannya dikabulkan, lebih-lebih yang tidak. Permohonan Nabi Musa a.s. adalah agar urusannya dipermudah, sedangkan Nabi Muhammad Saw. bukan sekadar urusan yang dimudahkan Tuhan, melainkan beliau sendiri yang dianugerahi kemudahan. Sehingga betapapun sulitnya persoalan yang dihadapi -dengan pertolongan Allah- beliau akan mampu menyelesaikannya. Mengapa demikian ? Karena Allah menyatakan kepada Nabi Muhammad dalam surat Al-A’la (87): 8, “Dan Kami mudahkan kamu ke jalan yang mudah.” Mungkin saja urusan telah mudah, namun seseorang, karena satu dan lain sebab-tidak mampu menghadapinya. Tetapi jika yang bersangkutan telah memperoleh kemudahan, walaupun sulit urusan tetap akan terselesaikan.Keistimewaan yang dimiliki beliau tidak berhenti di sana saja. Juga dengan keistimewaan kedua, yaitu “jalan yang beliau tempuh selalu dimudahkan Tuhan” sebagaimana tersurat dalam firman Allah, “Dan Kami mudahkan kamu ke jalan yang mudah.” (QS Al-A’la [87]: 8).Dari sini jelas bahwa apa yang diperoleh oleh Nabi Muhammad Saw. melebihi apa yang diperoleh oleh Nabi Musa a.s., karena beliau tanpa bermohon pun memperoleh kemudahan berganda, sedangkan Nabi Musa a.s. baru memperoleh anugerah “kemudahan urusan” setelah mengajukan permohonannya. Itu bukan berarti bahwa Nabi Muhammad Saw. dimanjakan oleh Allah, sehingga beliau tidak akan ditegur apabila melakukan sesuatu yang kurang wajar sebagai manusia pilihan. Dari Al-Quran ditemukan sekian banyak teguran-teguran Allah kepada beliau, dari yang sangat tegas hingga yg lemah lembut. Perhatikan teguran firman Allah ketika beliau memberi izin kepada beberapa orang munafik untuk tidak ikut berperang. “Allah telah memaafkan kamu. Mengapa engkau mengizinkan mereka ? (Seharusnya izin itu engkau berikan) setelah terbukti bagimu siapa yang berbohong dalam alasannya, dan siapa pula yang berkata benar (QS Al-Tawbah [9]: 43)Dalam ayat tersebut Allah mendahulukan penegasan bahwa beliau telah dimaafkan, baru kemudian disebutkan “kekeliruannya.” Teguran keras baru akan diberikan kepada beliau terhadap ucapan yang mengesankan bahwa beliau mengetahui secara pasti orang yang diampuni Allah, dan yang akan disiksa-Nya, maupun ketika beliau merasa dapat menetapkan siapa yang berhak disiksa. “Engkau tidak mempunyai sedikit urusan pun. (Apakah) Allah menerima tobat mereka atau menyiksa mereka (QS Ali ‘Imran [3]: 128). Perhatikan teguran Allah dalam surat ‘Abasa ayat 1-2 kepada Nabi Muhammad Saw., yang tidak mau melayani orang buta yang datang meminta untuk belajar pada saat Nabi Saw. Sedang melakukan pembicaraan dengan tokoh-tokoh kaum musyrik di Makkah. “Dia (Muhammad) bermuka masam dan berpaling, karena telah datang seorang buta kepadanya…”Teguran ini dikemukakan dengan rangkaian sepuluh ayat, dan diakhiri dengan :”Sekali-kali jangan (demikian). Sesungguhnya ajaran-ajaran Allah adalah suatu peringatan” (QS ‘Abasa [80]: 11).Nabi berpaling dan sekadar bermuka masam ketika seseorang mengganggu konsentrasi dan pembicaraan serius pada saat rapat; hakikatnya dapat dinilai sudah sangat baik bila dikerjakan oleh manusia biasa. Namun karena Muhammad Saw. adalah manusia pilihan, sikap dernikian itu dinilai kurang tepat, yg dalam istilah Al-Quran disebut zanb (dosa). Dalam hal ini ulama memperkenalkan kaidah: Hasanat al-abrar, sayyiat al-muqarrabin, yang berarti “kebajikan-kebajikan yang dilakukan oleh orang-orang baik, (dapat dinilai sebagai) dosa (bila diperbuat oleh) orang-orang yang dekat kepada Tuhan.”–oo0oo–Disadari sepenuhnya bahwa uraian tentang Nabi Muhammad Saw. amat panjang, yang dapat diperoleh secara tersirat maupun tersurat dalam Al-Quran, maupun dari sunnah, riwayat, dan pandangan para pakar. Tidak mungkin seseorang dapat menjangkau dan menguraikan seluruhnya, karena itu sungguh tepat kesimpulan yang diberikan oleh penyair Al-Bushiri, “Batas pengetahuan tentang beliau, hanya bahwa beliau adalah seorang manusia, dan bahwa beliau adalah sebaik-baik makhluk Allah seluruhnya.” Allahumma shalli wa sallim ‘alaih.

(sumber : WAWASAN AL-QURAN, Tafsir Maudhu’i atas Pelbagai Persoalan Umat, oleh :Dr.M.Quraish Shihab, M.A. Penerbit Mizan, Jln. Yodkali No.16, Bandung 40124Telp. (022) 700931 Fax. (022) 707038)

http://media.isnet.org/islam/Quraish/Wawasan/Muhammad3.html

Kehadiran Al-Mushthafa


Dunia islam yang kini meliputi lebih dari satu milyar manusia, dengan peradaban dan kebudayaan yang telah melintasi kurun sejarah lima belas abad, adalah hal yg empirik dan tak dapat dibantah oleh siapa pun. Realita tersebut tidak dapat dipisahkan dari kehadiran Al Mushthafa (Muhammad SAW). Ia merupakan titik awal berhembusnya angin baru sejarah kemanusiaan yang mengarahkan sejarah itu menuju suatu perubahan total atas peta kehidupan manusia. Bukan saja wajah geografis dunia ini berubah, tetapi yang lebih mendasar adalah berubahnya nilai-nilai kehidupan dan norma-norma yang menata pergaulan manusia dalam masyarakatnya.Kehadiran Al Mushthafa sebagai seorang tokoh sejarah yang diakui oleh kawan dan lawan mempunyai makna monumental yang sangat besar dan amat mendalam pengaruhnya dalam perkembangan sejarah dunia. Memang banyak tokoh yang silih berganti muncul di atas panggung sejarah, baik pemimpin-pemimpin agama seperti para nabi dan rasul atau pendiri-pendiri kepercayaan/agama lainnya maupun pemimpin/penguasa seperti raja-raja imperium yang besar-besar dan para panglima penakluk, para pahlawan perjuangan-perjuangan besar dan lain sebagainya, atau pun pakar-pakaar kenamaan seperti para filosof dan ilmuwan-ilmuwan besar, maupun mereka yang terbatas ketokohannya dan bidang kepemimpinannya. Sejumlah besar dari mereka terpendam dalam perut sejarah hampir tidak dikenal lagi di kalangan masyarakat luas. Tetapi Al Mushthafa adalah tokoh sejarah yang namanya tak putus-putusnya disebut dengan penuh penghormatan dan kekaguman.Ketika ia berpulang ke rahmatullah, ia meninggalkan ummat yang tidak lebih dari seratus lima puluh ribu orang, tetapi sekarang ini ummatnya sudah mencapai satu milyar dua ratus lima puluh ribu jiwa jumlahnya, yang tersebar di seluruh pelosok bumi yang luas ini. Dan di tanah air kita Indonesia mereka berjumlah tidak kurang dari seratus lima puluh juta jiwa (hampir sembilan puluh persen dari populasi rakyat Indonesia).(dari : Sambutan KH.Alie Yafie, ditulis pada tgl.19 Juni 1990, untuk penerbitan buku Riwayat Kehidupan Nabi Besar Muhammad SAW, karya HMH.Al Hamid Al Husaini, Pustaka Hidayah)

catatan : artikel di atas telah dimuat dalam Labbaik, edisi : 022/th.02/Rabi’ul Awwal-Rabi’ul Tsani 1427H/2006M

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: