Jangan Kecewakan Rasulullah !

Berikut ini adalah sebagian isi khutbah yang disampaikan oleh ustadz Muhsin Al-Jufri dalam Peringatan Maulid Nabi SAW di Masjid Asseqaf, Wiropaten, Solo, Pada 12 Rabi’ul Awwal 1424 H/14 Mei 2003. Hal ini untuk memenuhi permintaan banyak kalangan yg meminta teks pidato tersebut & menyarankan agar menyebarluaskannya. Semoga menjadi sebuah renungan yg membawa manfaat bagi kita semua, amiin.

Telah terbit di atas kita bulan purnama, dari kejauhan bukit Wada’iWajiblah bagi kita bersyukur bersama, seperti doa yang disampaikan penyeru Wahai yang diutus kepada kami, engkau datang dengan perintah untuk ditaatiKedatanganmu telah memuliakan Madinah, selamat datang, wahai sebaik-baik penyeru

(Gubahan syair Thola’al Badru dari penduduk Madinah saat menyambut kedatangan Rasulullah SAW saat hijrah menuju Madinah)

Puja-puji bagi Allah sumber dan Pencurah berbagai kenikmatan. Dialah Allah yang telah mengkaruniai nikmat, sekalipun tanpa diminta. Hamba-Nya yang taat dan maksiat, semuanya hidup dengan curahan nikmat dari-Nya. Dan satu dari sekian banyak kenikmatan terbesar yang telah dicurahkan kepada kita, adalah dijadikannya kita ummat dari Nabi pilihan Muhammad SAW. Puji syukur bagi-Mu ya Allah, yang telah menjadikan kita sebagai ummatnya. Karena hanya dengan kenikmatan itu kita mengenal Allah dan dengan kenikmatan itu pula, kita dapat selamat dunia hingga akhirat. Sholawat dan salam, semoga tercurah bagi junjungan kita Nabi Muhammad SAW, Rasul pilihan yang diutus sebagai rahmat bagi seisi alam. Beliau berdakwah menyampaikan risalah, dan berjuang dengan mempertaruhkan nyawa dan segala yang ia punyai demi tegaknya Islam. Sholawat dan salam, semoga juga tercurah para keluarga serta sahabat beliau yang telah membantu perjuanganan tegaknya Islam. Dan bagi kita semua, semoga dikelompokkan sebagai ummat yang selalu mencintai dan mengikuti serta meneruskan risalahnya.

Hadirin yang dimuliakan Allah.Hari ini, untuk kesekian kalinya kita memperingati hari kelahiran junjungan kita Nabi Muhammad SAW. Peringatan seperti ini, tentu saja sangat penting, terutama bila kita dapat mengambil berbagai hikmah guna menambah rasa cinta kita kepada beliau, meneladani akhlaknya dan mengingatkan kepada diri kita tentang tugas untuk meneruskan perjuangan serta dakwahnya. Mengenai ketinggian kedudukkan beliau dan kemuliaan akhlaknya, telah sering kita dengar. Beberapa ayat Al-Quran dan Hadits Nabi SAW mengenai hal tersebut juga banyak diantara kita yang telah hafal. (Mengungkapkan kecintaan dengan memperbanyak membaca sholawat dan salam, juga semakin memasyarakat dan banyak dilakukan orang.) Yang masih terasa kurang bagi kita, adalah mengungkapkan rasa cinta dan memuliakan serta menggembirakan beliau SAW, dalam bentuk semangat untuk meneruskan risalah dakwah yang telah beliau sampaikan. Padahal bila melihat kondisi yang ada saat ini, sangat banyak dari ummat Nabi SAW yang bergelimang dengan kemaksiatan, kebodohan dan kemiskinan. Dan yang lebih memprihatinkan, dari hari ke hari kondisi ini semakin tidak menentu. Hampir di setiap tempat, kemaksiatan telah secara terang-terangan dilakukan. Dan sekarang bukan hanya di kota, bahkan telah masuk ke pelosok desa. Kebodohan telah menjerumuskan pelakunya kepada perbuatan dosa, menerjang hukum Allah bahkan melakukan kemusyrikan. Kemiskinan telah menggelapkan mata mereka yang lemah iman, hingga kriminalitas tumbuh subur dan mengusik ketentraman juga menimbulkan ketakutan. Dan kemiskinan juga telah menjadi alasan pokok bagi pihak lain untuk merayu ummat Islam, ummat Nabi Muhammad SAW. Apakah dengan semua ini kita hanya diam menjadi penonton ? atau sekedar ikut prihatin tanpa melakukan apapun ?

Tidak tepat rasanya, bila kita berpangku tangan dan acuh tak acuh dengan keadaan yang ada. Bila itu terjadi, bukankah sama saja dg kita membuat sedih Rasulullah SAW ? Bila kita tidak melakukan tindakan apapun, apa yang akan kita jawab bila kelak Rasulullah SAW bertanya ? Bila kita diam, apakah hal itu akan membuat Rasulullah SAW senang kepada kita ? Sungguh sangat dhalim, bila beliau SAW yang sangat mencintai kita, memikirkan nasib kita dan merindukan diri kita, sementara kita membalasnya justru dengan membuat sedih hati beliau. Untuk itu, marilah kita gembirakan hati Rasulullah SAW, kita tunjukkan kepada beliau, bahwa kita sebagai ummat dan pecintanya mengikuti apa yang beliau perintahkan.

Dan untuk itu juga, marilah kita mengenang dan meneladani bagaimana semangat Beliau, para sahabat dan salafus shaleh dalam mengemban estafet dakwah. Hadirin, para pecinta dan pengharap syafaat Rasulullah SAW. Tepat pada hari ini, sekitar 1434 tahun yang lalu telah lahir seorang bayi di Makkah yang diberi nama Muhammad. Empat puluh tahun setelah kelahirannya, beliau dipilih oleh Allah dan menerima perintah untuk menyebarkan Islam bagi seluruh manusia. Suatu tugas yang sangat mulia, tetapi jg sekaligus sangat berat. Saat itu beliau hidup di tengah kaum yang sangat bejat dan bertuhankan ratusan berhala, sementara risalah yang harus beliau sampaikan adalah tauhid (pengesaan Tuhan) dan menyempurnakan akhlak yang mulia. Walau demikian, sungguh sangat mengagumkan, dalam waktu hanya 23 tahun tugas tersebut telah selesai dengan hasil yang tidak mungkin pernah terulang lagi di dunia ini. Keberhasilan ini, bukan didapat Nabi SAW dengan hanya duduk berdoa. Selama 23 tahun mengemban risalah, hampir sepanjang tahun itu pula beliau berjuang dengan jiwa dan raganya. Keringat, air mata dan darah mengisi hari-hari Nabi, terutama pada 10 tahun pertama, kurun Makkah. Keadaan yang hampir sama juga menimpa sebagian sahabat. Namun dengan keikhlasan, sabar dan akhlak yang mulia, berbondong-bondong kaum kafir menyatakan keislamannya. Dan yg lebih mengherankan, dalam waktu singkat, mereka yang sebelumnya memusuhi menjadi sahabat, pecinta dan pendukung setia Rasulullah SAW. Ketika Rasulullah wafat, hampir seluruh wilayah tanah Arab telah masuk Islam. Tak lama kemudian, Islam menyebar bagai air bah ke segala penjuru dunia. Generasi demi generasi berlomba untuk berdakwah dan meneruskan risalah Rasulullah SAW, termasuk juga ke negeri kita tercinta, Indonesia. Kita sebagai generasi ke sekian, pada dasarnya hanya tinggal meneruskan dan menjaga apa yang telah secara susah payah dirintis dan dilakukan para generasi pendahulu. Kita kini bukan berdakwah kepada mereka yang non-Islam, tetapi kepada ummat Islam sendiri agar tidak ditarik oleh mereka yang non-Islam, agar mereka taat, agar mereka menjauhi maksiat dan mengamalkan ajaran Islam secara utuh. Bila kita tak sadar dengan tanggung jawab ini, maka sama saja dg kita mengecewakan mereka para pendahlu & Rasulullah SAW. Padahal beliau SAW sangat mencintai dan mengharapkan kita mengikuti jejak langkahnya. Pada suatu hari, seusai shalat subuh Rasulullah SAW bertanya kepada para sahabat “Siapakah mahkluk Allah yang paling menakjubkan imannya ?”. Para sahabat menjawab, “Para malaikat”. Mendengar jawaban ini, Rasulullah menyalahkan dengan berkata, “Bagaimana malaikat tidak beriman, padahal mereka pelaksana perintah Allah”.“Kalau begitu para nabi, merekalah yang imannya paling hebat”. Mendengar jawaban inipun Rasulullah SAW masih menyalahkan, “Bagaimana para Nabi tak memiliki iman yang kuat, sementara wahyu dari Allah turun kepada mereka”. “Kalau begitu sahabat-sahabatmu ya Rasulullah”, jawab sahabat lagi. Mendengar jawaban inipun Nabi membantahnya dengan berucap, “Bagaimana sahabat-sahabatku tidak beriman, padahal mereka menyaksikan secara langsung mengenai diriku. Orang yang paling menakjubkan imannya, adalah kaum yang datang sesudah kamu sekalian. Mereka beriman kepadaku tanpa pernah melihat diriku. Mereka membenarkan aku tanpa pernah melihatku. Mereka menemukan tulisan dan beriman kepadaku, mereka mengamalkan apa yang ada dalam tulisan itu. Mereka membelaku, seperti kalian membelaku. Alangkah inginnya aku berjumpa dengan ikhwanku ini”. Kepada kaum muslimin yang hadir saat itu, yakni para sahabat Nabi, beliau memanggilnya dengan kata, “sahabat”. Namun untuk ummat Islam yang datang kemudian dan termasuk kita, beliau memanggilnya dengan kalimat, “Ikhwani” atau “Saudara-saudaraku”. Bila kita dipanggil oleh orang yang berpangkat, atau kaya, atau terkenal dengan sebutan ‘ikhwani’, maka kita akan sangat senang, padahal kebanyakan panggilan itu hanya basa-basi. Sedangkan insan ini, Muhammad SAW, bukan basa-basi, bukan sekedar bicara, tetapi benar-benar dengan penuh kecintaan dan kerinduan beliau memanggil dan mengakui kita sebagai ikhwani. Alangkah besarnya kenikmatan ini dan alangkah ruginya bila kita tak membalas kecintaan Rasul. Seolah-olah beliau melebihkan kita atas para sahabatnya, padahal keimanan, ketakwaan, amal dan kepatuhan kita kepada beliau SAW, sangat jauh bila dibandingkan dengan keimanan, ketakwaan, amal dan kepatuhan para sahabat.Mereka para sahabat, telah berjuang dengan mengorbankan jiwa dan raga untuk membela Islam dan membela Rasulullah SAW. Apa yang telah kita lakukan untuk menegakkan kalimat Allah dan membela Nabi serta sunnah-sunnahnya ? Sangat jauh perbedaan antara kita dengan mereka. Seorang sahabat Nabi SAW yang bernama Abdullah bin Jahsy ra, menjelang perang Uhud ia berdoa dengan sebuah doa yang menurut kita mungkin janggal, tetapi seperti itulah potret keimanan para sahabat. Ia berdoa, “Ya Allah, berilah aku musuh yang gagah perkasa. Aku berusaha membunuhnya dan ia berusaha membunuhku. Kemudian ia memotong hidung dan telingaku. Kelak apabila aku berjumpa dengan-Mu (Ya Allah) dan ditanya mengenai hidung dan telingaku, maka aku akan menjawab, ‘Ke duanya terpotong ketika aku berjuang di jalan-Mu dan jalan Rasul-Mu”. Doa sahabat Abdullah bin Jahsy ini akhirnya menjadi kenyataan, seusai perang Uhud, hidung dan telinga Abdullah telah tergantung pada seutas tali karena terpotong dalam membela Allah dan Rasul-Nya.Anas bin Nadhar ra, pada perang Uhud, saat ummat Islam terdesak mundur beliau maju dengan gagah berani ke tengah-tengah musuh. Sewaktu bertemu dengan sahabat lainnya ia berkata, “Sungguh demi Allah, saya mencium bau wangi surga datang dari arah gunung Uhud”. Saat pertempuran berakhir, tak satupun sahabat yang dapat mengenali Anas bin Nadhar, karena tubuhnya telah rusak dengan 80 sabetan pedang, panah dan tombak. Hanya saudara wanitanya yang masih mengenali jasad Anas saat dilihat jari tangannya.

Seorang sahabat lain yang bernama Handhalah ra, saat ia selesai melangsungkan pernikahan, beberapa hari setelah itu Rasulullah SAW mengumumkan jihad. Sahabat yang masih pengantin baru ini langsung keluar menjawab seruan jihad Nabi SAW. Dan dalam peperangan yang sengit, ia tewas sebagai syahid. Tak lama kemudian, suasana medan pertempuran menjadi agak mendung. Para sahabat bertanya-tanya mengenai perubahan keadaan ini, dan Rasulullah SAW menjawab, bahwa para malaikat berduyun-duyun turun dari langit untuk memandikan jasad Handhalah, pengantin baru yang telah mati syahid. Seorang sahabat yang bernama Abu Sa’id ra berkata, “Ketika Rasulullah SAW bersabda demikian mengenai Handhalah, maka saya pergi untuk melihat mayatnya lebih jelas. Saya melihat, tetesan air telah keluar dari kepalanya seperti layaknya seseorang selesai mandi”.

Hadirin, terhadap Handhalah yang syahid bahkan dimandikan ribuan malaikat, Rasulullah SAW memanggilnya dengan “Sahabatku”. Sedang kepada kita sekalian, beliau SAW memanggil dengan, “Ikhwani”. Apa yang telah kita lakukan untuk Islam ? Apakah pantas panggilan itu untuk diri kita ? . Seorang Arab badui pernah mendatangi Nabi SAW, dan menyatakan keimanan serta ikut berhijrah dan berjihad bersama beliau. Dalam sebuah peperangan, Nabi SAW membagikan ghanimah atau rampasan perang kepada para sahabat. Saat si badui akan diberikan ghanimah bagiannya, ia menolak dengan berkata, “Aku mengikuti engkau bukan karena ini. Aku mengikutimu agar aku dikenai panah pada bagian ini, kemudian mati dan masuk surga”, ucap si badui sambil menunjuk lehernya, lalu melanjutkan perjuangan. Tak lama kemudian, beberapa sahabat datang sambil membawa jasad seorang syahid yang tewas dengan anak panah di lehernya. Setelah dilihat, ternyata si badui telah tewas dengan anak panah yang persis seperti yang telah ditunjuk sendiri olehnya. Rasulullah SAW mengkafani jasad si badui dengan jubahnya & menshalatkan. Saat pemakaman sambil menangis beliau berdoa, “Ya Allah, inilah hamba-Mu yang telah keluar di jalan-Mu dan terbunuh sebagai syahid, aku menjadi saksi untuknya”. Dalam perang Uhud, saat Rasulullah SAW terkepung pasukan kafir yang telah melukai beliau, seorang sahabat yang bernama Wahab bin Qabus datang menyerang hingga musuh berlarian. Dalam keadaan terkepung dan terluka Nabi bersabda, “Barang siapa yang dapat membubarkan orang-orang ini, ia akan tinggal di surga bersamaku”. Sabda Nabi ini semakin menambah semangat jihad Wahab, ia terus menyerang hingga akhirnya tewas sebagai syahid. Saat menghampiri jenazah Wahab bin Qabus, Nabi SAW bersabda, “Allah telah ridha kepadamu dan aku juga ridha kepadamu”. Para sahabat menceritakan, bahwa sekalipun Nabi dlm keadaan terluka, namun beliau turut menguburkan, bahkan tangan beliau yg memasukkan jasad Wahab ke liang lahat. Semangat jihad seperti ini, bukan hanya dipunyai oleh kaum pria. Khansa’ seorang ibu yang mempunyai 4 putra, sewaktu mendapat kabar kematian keempat putranya sekaligus dalam sebuah peperangan, beliau berucap :”Maha suci Allah yang telah memuliakan kami dengan kematian 4 putraku”

Begitulah sebagian kecil gambaran pengorbanan para sahabat, nyawa mereka pertaruhkan demi kemulian Islam dan membela Rasulullah SAW. Dan semangat seperti itu diwariskan terus-menerus generasi demi generasi. Tak aneh bila seorang sahabat bernama Sa’ad bin Abi Waqqas dalam menaklukkan Persia, saat mengirim surat kepada pihak musuh menulis; “Sesungguhnya pasukan yang bersamaku mencintai mati seperti pasukanmu mencintai khamr “. Hadirin, yang perlu kita ingat, kalau jiwa saja mereka pertaruhkan demi membela Islam, apalagi harta, pikiran dan tenaga. Bahkan dalam beberapa kesempatan, Rasulullah sampai mengingatkan beberapa sahabat agar tak menginfakkan seluruh hartanya karena mengingat keperluan keluarga. Harta yang mereka keluarkan bukan sekedar zakat, harta di mata mereka, bagai ungkapan Sayyidina Ali ra yang mengatakan, “Apa saja yang kamu simpan lebih dari keperluan hidupmu, adalah kepunyaan orang lain dan kamu adalah penjaganya”. Bila kepada para sahabat yang telah mempertaruhkan nyawa dan harta sampai seperti itu, beliau SAW memanggil mereka dengan sahabatku. Apakah pantas Rasulullah SAW memangil kita dengan ikhwani ? Apa yang telah kita lakukan untuk Islam dan muslimin ? Pasti sangat jauh perbedaan antara kita dengan para sahabat, baik dari segi ketaatan, amal, mengikuti sunnah dan berkorban harta serta jiwa. Bahkan bila dibandingkan dengan para salafus sholeh, generasi terdahulu yang sholeh, kita juga kalah dalam segala-galanya. Mereka para sahabat dan generasi berikutnya termasuk para salafus sholeh, memiliki ikatan yang sangat kuat dengan Rasulullah SAW. Sangat banyak riwayat yang menyebutkan bahwa mereka sangat sering mimpi berjumpa dengan Rasulullah, bahkan banyak juga yang mencapai tingkatan hingga berjumpa secara yaqadhah atau dalam keadaan jaga. Dalam berbagai keadaan, seolah-olah Nabi SAW selalu membimbing dan menyertai kemana pun mereka berada.Sudah semestinya bagi kita untuk merenungkan, mengapa semua itu bagai tinggal cerita. Bila kita merasa telah banyak meniru apa yang mereka amalkan, maka aneh, mengapa kita tak mencapai kedudukkan seperti mereka ? Apa perbedaannya ? Perbedaan yang termasuk pokok, adalah kita telah memilih dalam mencontoh. Kita hanya meniru hal-hal yang mudah kita lakukan seperti meniru nama mereka, pakaian mereka, jenggot mereka sementara yang termasuk pokok yang seharusnya kita tiru dan teruskan, justru kita tinggalkan. Dan satu hal pokok yang belum kita tiru dari contoh para sahabat dan para salafus sholeh, adalah pengorbanan jiwa dan harta mereka untuk Allah dan Rasul-Nya. Bila mereka telah berjuang mengorbankan jiwa, kita sangat patut bersyukur, karena jihad yang ada di zaman kita saat ini bukan jihad dalam arti perang secara fisik. Kita dapat berjihad tanpa pedang, tanpa mempertaruhkan nyawa, tanpa mengganggu kerja, tanpa meninggalkan keluarga. Karena jihad yang harus kita lakukan, adalah jihad memerangi kemiskinan, jihad memerangi kemaksiatan, jihad memerangi kebodohan dan jihad memerangi nafsu kita sendiri. Mengenai berjihad dengan harta, bagi kita tak perlu seluruh harta, tak perlu setengahnya, tak perlu sepuluh persen. Jihad harta bagi kita, cukup dengan kita mentaati perintah Nabi SAW untuk tidak melakukan kemubadziran atau berfoya-foya dalam segala hal. Apakah pantas bagi seorang yang mengaku muslim, saat ribuan saudara muslim lainnya menjerit kelaparan, ia melangsungkan acara pernikahan dengan biaya puluhan bahkan ratusan juta? Sunnah siapa yang diikuti ? Apakah acara seperti ini menggembirakan hati Nabi SAW ? Demi Allah ! Nabi akan sedih dengan kemubadziran ini, selama sebagian ummatnya masih dalam keadaan yg memprihatinkan. Apakah pantas bagi seorang yg mengaku pecinta Nabi, saat ratusan saudara muslim lainnya berkeliling kebingungan membayar sewa rumah, sementara ia membangun beberapa rumah mewah. Inikah yg dilakukan oleh Rasulullah semasa hidupnya ? Ayat Al-Quran mana yg membenarkan tindakan ini ? Sunnah Nabi mana yg memcontohkan kehidupan mewah berlebihan seperti ini ?. Bila kehidupan berjalan secara nomal, mungkin tindakan seperti di atas hanya sekedar suatu tindakan yang kurang tepat. Namun bila melihat kondisi yang ada seperti saat ini, sungguh suatu tindakan salah yang mempunyai konsekuensi berat, baik sesama manusia, apalagi di mata Allah dan Rasul-Nya.

Di awal bulan Maulid ini, seorang ibu terpaksa meninggalkan bayinya di rumah sakit sebagai “jaminan”. Dengan wajah pucat setelah persalinan, ia terpaksa keluar berkeliling mencari pinjaman sebesar Rp 500.000,. untuk mengambil buah hatinya. Hal ini terpaksa ia lakukan, karena bila seisi rumah dijualpun belum mencapai Rp 500.000,. Bagaimana rasanya jika hal itu terjadi pada diri kita sendiri ? Apa yg anda lakukan ?. Demi Allah ! Kisah ini benar-benar terjadi di lingkungan kita sendiri. Pengelola rumah sakitnya Islam, sang ibu Islam, mereka yang menolak meminjamkan uang juga Islam, semuanya ummat Rsulullah SAW. Lalu di mana kira-kira kita telah meletakkan Islam di tubuh kita ? Bukankah kita hafal dengan sifat Ra sulullah yang sering kita baca sejarahnya, bahwa Beliau dermawan dan mencintai mereka yang papa ? Lalu mana prakteknya ? Apakah sejarah yang kita baca untuk dihafalkan bukan dipraktekkan ?. Ini baru satu kasus, belum lagi seorang wanita yang terpaksa menjual dirinya untuk membiayai hidup anak-anaknya, karena sang suami telah menjadi hamba ‘cam ji kia’. Ada juga yang terlilit hutang untuk mem biayai pengobatan orang tuanya dan masih banyak kasus lainnya. Bagaimana jika hal itu terjadi pada diri kita, pada keluarga kita ? Ini bukan terjadi di Afrika, tetapi semua ini terjadi di lingkungan kita, di tengah-tengah kita.Dalam kondisi seperti penggambaran di atas, apa yang kira-kira dapat menggembirakan hati Rasulullah SAW ? Apakah cukup dengan memuji dan memuliakannya ? Apakah cukup dengan mengadakan acara peringatan hari kelahirannya ? Kita patut bersyukur, bahwa dengan mengadakan peringatan dalam bentuk apapun untuk menyambut kelahiran Nabi SAW, Insya Allah kita akan dikelompokkan sebagai ummatnya yang mencintai dan memuliakannya. Namun setelah dua kewajiban tersebut, yakni mencintai dan memuliakannya, kita masih mempunyai kewajiban lain, yaitu meneladani dan meneruskan risalahnya serta peduli kepada ummatnya. Mengenai jihad dengan jiwa, cukup bagi kita untuk berjihad sesuai dengan kemampuan masing-masing. Entah dengan ilmu, atau tenaga, atau pemikiran atau apapun juga. Yang penting kita turut memikirkan nasib ummat Muhammad SAW. Bila jihad dengan jiwa tidak, ilmu tidak punya, akhlak jelek, harta hanya sekedar zakat, tak mau memikirkan nasib orang lain, dosa dan kemaksiatan terus-menerus kita lakukan, masih pantaskah bagi kita untuk mengharap masuk surga bersama Nabi ? Amal kita apa ? Bekal kita menghadapi maut apa ? . Tak satupun dari kita yang bisa menghindar dari kewajiban jihad. Paling tidak, kita berjihad terhadap diri kita sendiri agar menjadi ummat Nabi yang baik, yang taat menjalankan perintah Allah & mengikuti akhlak serta sunnah Rasulullah SAW. Yang perlu kita ingat juga, bahwa ajakan untuk berjihad di atas, merupakan suatu kewajiban yang termaktub di dalam Al-Quran dan hadits Nabi SAW. Dan ancaman bagi mereka yang melalaikannya sangat berat. Untuk itu, marilah kita niatkan untuk menggembirakan hati Rasulullah SAW. Dan yang dapat menggembirakan hati beliau, adalah bila kita meneladani akhlaknya, mengikuti sunnahnya, meneruskan dakwahnya, dan peduli dengan ummatnya. Bila hal itu telah kita lakukan, Insya Allah, Rasulullah akan bertambah cinta kepada kita. Kita akan menjadi ummat yang di banggakan oleh beliau dan beliau akan menantikan kita dengan wajah berseri-seri, terutama saat kita menghadapi sakaratul maut.

Saat seorang sahabat Anshar sakit mendekati ajalnya, Rasulullah SAW datang menjenguk bersama beberapa sahabat lain. Ketika memasuki kamar sahabat tersebut, tak lama kemudian Rasulullah berucap dengan lirih, “Wahai Izrail, bersikap lembutlah , karena dia adalah sahabatku”. Bila seperti itu sikap Rasulullah kepada sahabatnya, Insya Allah Beliau tak melupakan kita sebagai ikhwannya, termasuk saat sakaratul maut. Kita menyakini, bahwa jasad Rasulullah telah terkubur, tetapi beliau masih ada dan mengetahui apa yang sedang menimpa ummatnya.

Ya Rabb, Ya Allah, berkat kekasih-Mu Muhammad, Rahmatilah ummat Sayyidina Muhammad, ampu nilah dosa ummat Sayyidina Muhammad, lepaskanlah kesusahan ummat sayyidina Muhammad, sembuhkanlah segala penyakit ummat sayyidina Muhammad. Amiiin.

(Karena keterbatasan waktu dan tempat, tidak semua isi khutbah bisa disampaikan dalam tulisan ini, mohon maaf). http://www.fosmil.org/bankdata/majalah.html

catatan : artikel di atas telah dimuat dalam Labbaik, edisi : 022/th.02/Rabi’ul Awwal-Rabi’ul Tsani 1427H/2006M

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: