Sekali Lagi, Imam Wanita di New York

Oleh : M.Syamsi Ali*)

Dunia Islam, sekali lagi, dikejutkan oleh peristiwa langka dan bersejarah. Peristiwa dilaksanakannya shalat Jum’at dengan khatib dan Imamnya seorang wanita, Dr. Amina Wadud, seorang muslimah Amerika keturunan Afrika (African American). Acara jum’atan ini sendiri didalangi oleh sebuah organisasi yang berbasis dunia maya, Wake Up, yang beranggotakan sekelompok Muslim dengan pandangan-pandangan radikal untuk merombak tradisi-tradisi Islam yang ada, termasuk masalah-masalah ritual.
Sekitar 2 minggu sebelumnya, sebuah Koran harian New York, Daily News, memuat sebuah artikel yang pada intinya mengkritik sistim peribadatan Islam yang dianggap didominasi oleh kaum pria. Mulai dari masalah Imam, pemisahan shaf antara wanita dan pria, hingga kepada masalah-masalah teknis lainnya seperti pintu masuk (entrance) yang berbeda untuk kaum wanita dan pria di mesjid-mesjid. Mereka yang di wawancarai juga adalah beberapa wanita Muslim yang didominasi oleh pemikiran “non Islam”, di antaranya seorang lesbian dari Toronto, Kanada.
Bersamaan dengan pemuatan artikel di Daily News tersebut, di PPB New York juga sedang berlangsung Konferensi Internasional tentang Wanita. Lebih dari 300 peserta, baik wakil resmi dari negara-negara dan pemerintahan maupun dari berbagai LSM mengikuti konferensi tersebut. Di tengah-tengah acara konferensi yang padat itu, juga dilakukan minimal tiga kegiatan seminar tentang wanita dalam Islam, dengan para pembicara yang didominasi oleh kaum feminist dari dunia Islam. Menurut salah seorang peserta dari Malaysia, Dr. Harlina Siraj, Ketua Perhimpunan Wanita JIM (Jama’ah Islah Malaysia), pembahasan wanita dalam Islam memang menjadi topik yang hangat dalam diskusi-diskusi selama konferensi tersebut.

Tak dapat disangkal bahwa Islam memang menjadi fenomena tersendiri dalam dunia kita saat ini. Bayangkan, setiap ada kejadian-kejadian, walau itu mayoritasnya bersifat negative, Islam selalu menjadi sorotan. Jauh sebelum runtuhnya WTC di New York, terjadi kekerasan-kekerasan di Afrika dan Asia, yang pada umumnya dikaitkan dengan ajaran Islam. Ketika terjadi banyak kebodohan dan kemiskinan di dunia ketiga, biasanya Islam dinilai sebagai inspirasi kemiskinan dan kebodohan. Ketika terjadi korban mutilasi anak-anak wanita di Afrika, Islam yang kemudian dianggap sebagai sumber. Dan puncaknya ketika tuduhan jatuh kepada segelintir orang yang beragama Islam melakukan pemboman WTC, Islam sedemikian disudutkan dalam berbagai format dan cara.
Sebaliknya, ketika antar kelompok beragama di Irlandia Utara saling membunuh, tak satupun yang mengaitkannya dengan ajaran Kristen atau Katolik. Sebaliknya, dengan enteng dianggap permasalahan politik murni. Ketika kemiskinan dan kekerasan-kekerasan menimpa dunia ketiga di bagian Amerika Tengah dan Selatan, tak pernah terbetik di benak siapapun bahwa itu adalah karena ajaran Katolik. Bahkan ketika terjadi kekerasan seksual terjadi kepada anak-anak di dunia yang didomi nasi oleh ajaran Katolik, juga tidak dihubungkan dengan ajaran gereja Katolik. Bahkan ketika seorang Katolik membom pusat dagang Oklahoma, juga tidak dikaitkan dengan ajaran Katolik.

Ketika wanita Muslim dengan segala kesadaran beragama yang dimilikinya memakai jilbab atau kerudung, semua gatal menentang dan menganggapnya “kungkungan” terhadap kaum Hawa. Tapi ketika the Virgin Mary disimbolkan dengan seorang wanita yang berjilbab, Mother Theresa yang berjilbab, para Biarawati dengan jilbab, wanita Jewish Orthodox dengan jilbab, tak ada yang peduli dengan mereka.
Sebaliknya, mereka adalah wanita panutan dan dianggap sebagai symbol “religiusitas”. Bukankah ini sebuah kehormatan bagi Islam, yang selalu mendapat perhatian di mata orang lain ? Nampaknya Islam, walau selalu dikaitkan dengan hal-hal negative, semakin tidak terbendung untuk populer. Inilah yang terbukti, setelah 11 September, dengan segala perangkat propaganda untuk menjelek-jelekkan Islam, justeru Islam semakin populer dan berkembang tanpa terhalangi.
Mereka yang masuk Islam setelah tragedy 11 September lebih besar (estimasi mengatakan 4 kali lipat) ketimbang sebelumnya. Apalagi mereka yang hanya mempelajari Islam, tentu jauh lebih besar. Padahal, masyarakat Amerika adalah masyarakat yang tidak peduli dengan agama, apalagi agama yang mereka anggap berada di bawah level mereka.

Peristiwa Jum’atan dengan segala hal yang terkait dengan itu, nampaknya juga menuju kearah yang sama. Tiga malam lalu, Public Television atau PBS (Public Broadcasting Station) menyiarkan acara yang sangat menarik, Women of Islam. Acara tersebut sangat positif dan imbang. Bahkan seorang murid saya di Islamic Center (non Muslim) bangga dengan acara tersebut, karena memperlihatkan kebanggaan wanita-wanita Muslimah. Selain menyoroti masalah kedudukan wanita dalam sejarah Islam, sejak zaman Rasulullah hingga dunia modern saat ini, juga menyoroti secara khusus cara berpakaian orang-orang Muslimah dari berbagai latar belakang budaya. Alhamdulillah, intinya persis seperti konsepsi Islam itu sendiri.

Jum’atan Sebagai Cover Up

Perdebatan-perdebatan tentang Jum’atan yang dipimpin oleh Dr.Amina Wadud sebenarnya bukan inti permasalahan yang sedang digulirkan. Jum’atan, dalam pandangan saya pribadi, tak lebih dari sebuah “cover up” untuk sebuah agenda yang lebih besar. Agenda itu tak lain adalah merombak komposisi ajaran Islam dalam mengatur hubungan antar gender (pria-wanita), termasuk dalam masalah-masalah ritual seperti shalat berjama’ah. Agenda yang paling utama saat ini adalah untuk mendapatkan justifikasi bahwa memang ajaran Islam itu diskriminatif terhadap kaum wanita. Usaha seperti ini sebenarnya bukan hal baru. Dari sejak dulupun sudah ada usaha-usaha yang sama, mempertanyakan keabsahan ajaran Islam dalam pengaturan antar gender, seperti masalah warisan, persaksian, poligami, hingga kepada masalah pakaian. Tapi hingga saat ini semua hal yang dijadikan dasar belum bisa menjadi “justifikasi” klaim bahwa Islam itu ajaran yang diskriminatif terhadap kaum wanita. Untuk itu, sebuah kegiatan radikal perlu dilakukan, yaitu menggugat “imamah” dalam shalat yang hanya dimiliki oleh kaum pria.

Agenda selanjutnya adalah menggerogoti “esensi” ajaran itu sendiri. Mulai dari masalah-masalah sosial, misalnya tidak perlunya ada batasan-batasan pergaulan antara pria dan wanita. Kalau pemisahan dalam shaf shalat saja digugat, bagaimana pengaturan etika sosial dalam beriteraksi antara pria dan wanita ? Tentu akan semakin mudah dirombak dan dianggap seharusnya dilebur. Tidak perlu ada batas-batas dalam pergaulan antara pria dan wanita. Tidak perlu dikhawatirkan pergaulan anak-anak, karena logikanya mereka sudah semakin maju sebagai generasi dunia modern. Lebih jauh, agenda selanjutnya adalah mempertanyakan masalah-masalah teologis lainnya, seperti benarkah semua nabi dan rasul itu dari kalangan pria ?
Selanjutnya mereka akan menuntut agar konsepsi rasul dan nabi sebagai pria segera dirombak karena hanya memperlihatkan dominasi kaum lelaki. Demikian pula dengan masalah-masalah ritual lainnya, seperti larangan shalat bagi wanita ketika haidh dan nifas. Bahkan tidak mustahil jika tuntutan selanjutnya adalah bahwa wanita dalam melakukan ritual tidak perlu memakai pakaian yang berbeda dengan kaum pria.
Intinya adalah Jum’atan dengan Imam wanita minggu lalu di New York tidak lebih dari cover up dari berbagai agenda-agenda selanjutnya. Jum’atan feminist ini memang dobrakan sehingga wajar jika terpublikasikan secara besar-besaran karena memang banyak pihak yang memiliki kepentingan, termasuk di dalamnya beberapa media massa yang selalu menjual hal-hal yang sensasi.
Banyak yang bertanya-tanya, bagaimana reaksi kaum Muslimin di kota New York dan Amerika umumnya ? Apakah mereka diam dan tidak memberikan reaksi ? Tidakkah melakukan counter publicity menentang pelaksanaan Jum’atan tersebut ?

Majelis As-Shura atau Imams Council of New York City telah melakukan rapat untuk membahas masalah ini di kantor ICNA dua pekan sebelum Jum’atan dilaksanakan. Pada intinya, rapat menyetujui untuk tidak terlalu “over reactive” dengan rencana Jum’atan ketika itu. Dalam bahasa Imam Siraj Wahhaj, salah seorang Imam di NYC, tidak perlu di “Salman Rushdi-kan” rencana Amina Wadud ini. Kenapa demikian ? Karena kita memahami latar belakang kegiatan Jum’atan ini dengan berbagai agenda yang tersembunyi. Jika direspon dengan emosi, maka tujuan mereka mengadakan kegiatan ini telah berhasil. Yaitu terjustifikasinya tuduhan bahwa memang Islam itu tidak memberikan kemerdekaan kepada kaum wanita untuk melaklukan ekspresi kebebasannya. Selain itu, jika umat Islam melakukan demontrasi misalnya, maka media massa akan semakin mendapatkan masukan dari tangan pertama untuk agenda-agenda selanjutnya. Untuk itu, disepakati bahwa yang perlu dilakukan adalah melakukan kegiatan-kegiatan edukasi bagi semua pihak, khususnya mereka yang mungkin saja salah faham dengan ajaran Islam. Selain itu, mereka yang terlibat dalam kegiatan tersebut juga diundang secara baik (da’wah bil hikmah), dan jika perlu diajak berdialog secara positif (mujadalah billati hiwa ahsan). Pada saat yang sama, dilakukan pembahasan-pembahasan secara serius dan menyeluruh tentang permasalahan ini, dari berbagai sudut pandang seperti agama, politik sosial budaya.
Selain dikarenakan oleh isu-isu yang disebutkan di atas, Jum’atan ini juga merupakan reaksi sosial terhadap berbagai praktek-praktek sosial, khususnya dalam ma salah wanita di komunitas Muslim. Praktek-praktek sosial yang biasanya banyak dipengaruhi oleh praktek-praktek budaya local, seperti Timur Tengah, Indo Pakistan , Afrika, dll., terkadang dianggap praktek-praktek Islami. Padahal belum tentu semua praktek-praktek tersebut memang murni ajaran Islam. Sejujurnya diakui, masih ada, jika bukan masih banyak, praktek-praktek sosial dalam masalah gender ini yang menempatkan kaum wanita pada posisi yang lemah.

Wanita dalam berbagai dunia Islam, justeru di negara-negara yang dianggap kental dengan pelaksanaan Syariat Islam, masih menempatkan wanita pada posisi yang tidak nyaman. Ekslusifitas (ketertutupan) kehidupan menjadikan kaum wanita sering kali menjadi korban “domestic violence” tapi tidak teridentifikasi. Kalau saja di Amerika, hampir setiap tidak menit ada “abuse” yang terhadap kaum wanita, ba gaimana dengan dunia yang tertutup dan ekslusif ? Yang nampak kemudian memang adalah penganiyaan terhadap pembantu misalnya. Jika kita memperhatikan kehidupan komunitas Muslim di Amerika saja, terkadang dalam kegiatan-kegiatan komunitas kaum wanita nampak termarginalkan. Tempat-tempat ibadah seolah hanya diperuntukkan untuk kaum pria. Pengajian-pengajian, atas nama takut fitnah, kaum wanita tidak diikutkan. Ruangan-ruangan shalat bagi wanita tidak lebih dari tempat “gantungan jaket” di musim dingin. Terkadang di musim panas tidak ber AC, di musim dingin tidak punya heater, dll. Semua ini mengun dang reaksi sosial kaum wanita, khususnya setelah kita hidup dengan dunia yang bermottokan “freedom”. Selain secara esensi Islam mengajarkan kebebasan bereks presi, walau harus dengan tanggung jawab, juga karena lingkungan hidup di sekitar yang memberikan peluang untuk itu. Maka jangan heran, jika kaum feminis ini melakukan reaksi radikal seperti ingin menjadi Imam shalat berjama’ah.

Maka, selain dilihat sisi-sisi negatifnya, juga seharusnya memang membuka mata bagi komu nitas Muslim untuk membenahi hal-hal yang perlu dibenahi sesuai dan dalam limitasi ruang pergerakan ajaran Islam itu sendiri. Masanya untuk diteliti lagi, mana praktek-praktek sosial kita yang memang murni ajaran Allah dan RasulNya, dan mana yang sebenarnya hanya praktek-praktek budaya local yang tidak sesuai, tapi kemudian diklaim sebagai ajaran Islam. Jika tidak, jangan terkejut jika suatu ketika di sebuah mesjid Imamnya adalah Imam Fatimah, Imam Khadijah, Imam Aisha. Atau boleh jadi juga imam masjid itu bernama Imam Clara, Imam Nichole, Imam Suzanne, Imam Lorena, Imam Shinoa. Atau mungkin juga beberapa tahun ke depan, Imam mesjid-mesjid itu berada di antara nama-nama Muhammad dan Khadijah, Omar dan Hafsah, Ali dan fatimah, karena Imam sudah mengaku tidak tahu lagi orientasi seksualnya. Naudzu billah! – New York, 24 Maret 2005,
*) M.Syamsi Ali adalah ustad asal Makasar sahabat isnet tinggal di New York. – http://www.mentaritimur.com/

note : artikel di atas telah dimuat dalam Labbaik edisi no.013/th.02/Rabi’ul Awwal-Rabi’ul Tsani 1426H/2005M

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: