Sebenar-benar Haji

Satu-satunya yang menyandang gelar haji di kampung saya adalah, Haji Tami. Selain beliau, sampai sekarang belum ada lagi. Kecuali para haji yang berangkat ke tanah suci berawal dari mereka menjadi TKI di sana. Dan walaupun katanya sudah haji, mereka-mereka ini tidak pernah disebut haji atau hajjah oleh masyarakat di kampung saya. Entah mengapa.

Ketika saya berumur belasan tahun, jika ada orang lewat di depan rumah saya, dan memakai topi putih, pasti ia adalah Haji Tami. Tak salah jika ada orang yang pagi-pagi sudah mengelilingi sawah di depan rumah saya dan memakai topi putih, sudah pasti, itu adalah Haji Tami. Di kampung saya dulu, ketika saya masih kecil, tak ada orang berani memakai topi haji. Kata kakek, topi putih itu hanya dikenakan oleh mereka yang sudah pergi ke Mekkah. Jadi jika ada orang belum ke Mekkah tapi sudah memakai topi haji, itu namanya meremehkan atribut haji. Sebab yang layak pakai, hanyalah orang yang sudah haji itu. Lain dengan sekarang, anak kecil sampai orang tua yang mau pergi ke kalangan orang judi pun enak-enak saja mema kai pakaian mulia itu. Zaman memang telah berubah !

Kehadiran seorang haji di kampung saya, khususnya Haji Tami, memang membawa kese jukan bagi warga kampung. Dulu, ketika saya kecil, jika sakit gatal atau demam, entah kenapa ayah saya cepat-cepat membawa saya ke rumahnya. Kemudian saya diminta minum air putih yang sebelumnya diberi doa. Dengan izin Allah, Alhamdulillah saya sembuh. Ketika sawah bapak saya diserang tikus, solusi terakhirnya juga minta nasihat beliau. Pokoknya, segala kebutuhan atau masalah kampung yang mengalami kebuntuan, warga selalu mengadukannya pada Haji Tami. Dari penyakit kudis sampai sampai penyakit jantung. Dari putus cinta sampai orang minta keturunan. Dari pelajar yang ingin lulus sampai permintaan visa TKI ke luar negeri agar cepat turun.

Ketika lebaran datang, kami-kami kecil sangat gembira. Selepas melaksanakan shalat Idul Fitri, kami anak-anak kampung, segera berduyun-duyun ke rumah Haji Tami. Bagi anak kecil seperti saya, bukan silaturahminya yang penting, tapi hidangan dari beliaulah yang selalu kami buru. Maklum, beliau termasuk orang paling kaya di kampung saya. Tanah pertanian dan sawahnya luas. Sehingga hidangan lebarannya setiap tahun pasti lebih spesial dibanding dengan yang lain. Ia memang senang sekali berbagi. Sungguh, Haji Tami yang ke tanah suci tahun 70-an itu, sampai sekarang masih sangat berfungsi dan tempat bergantung, minimal bagi penduduk di sekitarnya. Sampai sekarangpun jika ada pembangunan masjid atau madrasah, dan kekurangan biaya, tidak ada lain, maka Haji Tami selalu menjadi pamungkasnya.

Konon, sampai sekarang, satu-satunya orang yang paling banyak tabungannya di Bank BRI kecamatan kami adalah beliau ini. Mungkin berkah Allah untuk rezekinya yang selalu ia keluarkan. Kehadiran beliau selalu menyejukkan kami warga kampung. Melihat wajahnya saja rasanya ikut merasa damai. Apalagi bisa duduk bersanding berjam-jam dengan beliau, rasanya hati kami jadi tambah tenang. Kata-katanya mampu menentramkan jiwa. Mungkin sebuah pancaran dari kualitas hajinya, (Mudah-mudahan demikian).

Dan sekarang ini, ketika saya bekerja di Brunei Darussalam, sebuah negara yang warganya begitu mudah melaksanakan rukun Islam yang ke lima itu, saya sangat merindukan kehadiran seorang haji seperti Haji Tami. Yang jika saya pandang raut mukanya bisa menyejukkan, dan jika saya dekati bisa menjelma curah hujan di musim kemarau. Namun sayang, harapan saya ini belum juga terkabul. Termasuk seorang haji yang sehari-harinya bertemu saya. Duduk bersama saya. Yang rumahnya setiap hari saya bersihkan. Yang setiap bulan menggaji saya. Belum juga mampu memberikan siraman selembut embun kepada kami para pekerjanya. Bahkan kata teman saya, jika berdekatan dengan haji yang satu ini justru hatinya seolah kian panas.

Ya, saya memang sedang rindu kepada profil haji yang banyak bermanfaat bagi orang di sekitarnya. Bukan hanya shalih sendiri. Haji yang ketika di tanah suci benar-benar mensucikan dirinya dari segala nafsu busuk keduniaan. Sehingga ketika sudah di tanah air, terpancarlah sinar kesucian, sinar ke-mabrur-an. Hingga tak ayal lagi, ia adalah sebenar-benar haji dan memiliki nilai lebih dalam kehidupannya, dalam kehidupan masyarakat sekitarnya. Hajinya bukan hanya embel-embel gelar yang menjadi gengsi di mata manusia, tapi haji yang mencerminkan keimanan penuh sebagai seorang muslim.

http://www.eramuslim.com/ar/oa/51/16700,1,v.html

Ada Apa Dengan Kita ?

Saudaraku, saat mobil mewah dan mulus yang kita miliki tergores, maka goresannya bagai menyayat hati kita. Saat kita kehilangan handphone di tengah jalan, sepertinya separuh tubuh ini hilang bersama barang kebanggaan kita tersebut. Dan saat orang mengambil secara paksa uang kita, seolah terampas semua harapan hidup….
Tetapi saudaraku, tak sedikitpun keresahan dalam hati saat kita melakukan perbuatan yang melanggar perintah Allah, kita masih merasa tenang meski terlalu sering melalaikan sholat, kita masih berdiri tegak dan sombong meski tak sedikit pun infak dan shodaqoh tersisihkan dari harta kita, meski di sekeliling kita anak-anak yatim menangis menahan lapar. Saudaraku, ada apa dengan kita ?

Saudaraku, kata-kata kotor dan dampratan seketika keluar tatkala sebuah mobil yang melaju kencang menciprati pakaian bersih kita. Enggan dan malu kita menggunakan pakaian yang terkena noda tinta meski setitik dan kita akan tanggalkan pakaian-pakaian yang robek, bolong dan menggantinya dengan yang baru……
Tetapi saudaraku, kita tak pernah ambil pusing dengan tumpukan dosa yang mengotori tubuh ini, kita tak pernah merasa malu berjalan meski wajah kita penuh noda kenistaan, kita pun tak pernah tahu bahwa titik-titik hitam terus menyerang hati ini hingga saatnya hati kita begitu pekat, dan kitapun tak pernah mencoba memperbaharuinya. Saudaraku, ada apa dengan kita ?

Saudaraku, kita merasa tidak dihormati saat teguran dan sapaan kita tidak didengarkan, hati ini begitu sakit jika orang lain tak mengindahkan panggilan kita, terkadang kita kecewa saat orang lain tidak mengenali kita meski kita seorang pejabat, pengusaha, kepala pemerintahan, tokoh masyarakat bahkan orang trepandang, kita sangat khawatir kalau-kalau orang membenci kita, dan berat rasanya saat orang-orang meninggalkan kita…..
Tetapi saudaraku, tidak jarang kita abaikan nasihat orang, begitu sering kita tak mempedulikan panggilan adzan, tak bergetar hati ini saat lantunan ayat-ayat Allah terdengar ditelinga. Dengan segala kealpaan dan kekhilafan, kita tak pernah takut jika Allah Yang Maha Menguasai segalanya membenci kita dan memalingkan wajah-Nya, kita pun tak pernah mau tahu, Baginda Rasulullah mengenali kita atau tidak di Padang Mahsyar nanti. Kita juga, tak peduli melihat diri ini jauh dari kumpulan orang-orang sholeh dan beriman…… Saudaraku, tanyakan dalam hati kita masing-masing, ada apa dengan kita ?
Wallahu a’lam bishshowaab

[Sumber : eramuslim.com]

note : artikel di atas telah dimuat dalam Labbaik edisi no.010/th.01/DzulQoidah_dzulhijjah 1425H/2005M

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: