Pada Hari Itu di Padang Arafah

Kota ini adalah kota haram Mu, Kota aman yang teramat ku rindu,
Maka dengan lindungan Mu, Hindarkan kulit, daging, bulu.
Dan seluruh bagian tubuhku, Dari ganasnya bara neraka Mu.
(Sebuah doa ketika memasuki kota Makkah)
***
Kota yang bersinar cemerlang semenjak Al-Musthafa datang, Madinah, saat itu tak lagi lengang. Sebuah undangan mulia untuk berhaji bersama dengan manusia pilihan bergaung merdu. Beribu-ribu orang menyemut di sebuah kota, yang telah menjadi mu asal kekhalifahan islam. Kumandang ajakan dari bibir semanis madu Rasulullah saw untuk melakukan perjalanan haji, disambut bahagia semua manusia. Semua datang dengan senyum terkembang. Mereka datang dari kota dan pedalaman yang amat jauh di tempuh. Mereka berdatangan dari berbagai pelosok tanah Arab, dari gunung-gunung, dari lembah sahara, dari setiap jengkal tempat yang dilimpahi dakwah Nabi mulia.

Banyak kemah-kemah didirikan di sekitar kota Madinah. Mereka membangunnya dengan cinta, dengan kasih sayang yang berdenyar lapang. Mereka saling tersenyum kepada wajah-wajah yang baru pertama dijumpa. Mereka saling bertemu, berjabat tangan dan berdekapan meski sama-sama asing. Semua datang untuk saling mengenal, merekatkan kasih sayang dan menebarkan keselamatan. Sungguh tak lagi nampak permusuhan antar kabilah. Madinah cerah. Langit bersuka cita menatap ukhuwah yang dipersembahkan muslim di sana.

Saat matahari tergelincir, pada 25 Zulqaidah tahun ke sepuluh Hijriah, sang Purnama Madinah berangkat menuju Baitullah diikuti beribu jemaah. Semua berbekal, dengan sebaik-baik bekal, taqwa. Berderap, beriringan, berbaris rapi seperti gigi sisir yang indah. Rasulullah berada paling depan dengan tunggangan unta betina. Awan berarak, udara bergerak, dan pepasir berderak menyaksikan sebuah duyunan iman dan keikhlasan yang berkelindan di setiap dada.
Adalah ia, seorang pangeran berair muka rupawan nampak tersenyum melihat ummat yang kini berada bersamanya. Ia mengenang saat-saat pertama menelusupkan dakwah di bumi Makkah. Telah belasan tahun, ia berjuang dengan sepenuh cinta di dada, bergumul, tersungkur, terusir dan berperang demi menegakkan kalimah tauhid, mengarahkan manusia kepada jalan indah Allah. Dan tidak terbilang harinya ditumpahkan untuk sebuah peruntuhan berhala Latta dan Uzza, mengikis setiap peluh kebobrokan dari setiap dada-dada manusia dan mengisinya dengan banyak hikmah, iman dan Islam. Dan kini, tak lagi ia seorang diri.

Setelah sampai dan bermalam di Dhul-Hulaifa, keesokan harinya, Nabi keluar dari kemahnya dan mengenakan pakaian ihram putih tanpa jahitan. Para sahabat yang melihatnya langsung bersegera memberitahu setiap gendang telinga untuk berganti pakaian menjadi serupa dengan yang saat itu digunakan Nabi. Dan alangkah menakjubkan memandangi lautan putih dengan banyak kemilau suka cita. Degup jantung mereka satu warna, kegembiraan. Saat itu, dengan sepenuh kalbu, Kekasih Allah, Muhammad SAW, mengahadapkan wajah ke arah langit seraya bertalbiyah.

Sepoi angin membumbungkan suara beningnya ke angkasa :

Kupenuhi panggilan Mu , Ya Allah.
Kupenuhi panggilan Mu. Kupenuhi panggilan Mu, Ya Allah.
Tiada bersekutu Duhai Allah,
Segala puji, nikmat dan syukur adalah kepunyaan Mu

Bukan hanya lidah semua sahabat yang lantang ikut berseru. Lembah, sahara bahkan seluruh tingkatan langit juga bersahutan, mengulang kalimat talbiyah yang di senandungkan sang penerang.
Pada hari ke delapan Zulhijjah, Nabi pergi ke Mina. Di sana ia melaksanakan kewajiban shalat dan tinggal dalam kemahnya hingga fajar menyingsing pada hari haji. Setelah shalat subuh, ketika surya baru saja tersembul, dengan untanya, ia menuju ke arah gunung Arafah. Arus manusia mengikutinya dari belakang. Mereka bertalbiyah, dan berseru kepada Allah yang maha Akbar. Gemanya membahana, menyapa semesta di alam raya.

Di Namira, sebuah desa sebelah timur Arafah, telah dibangun sebuah kemah untuk Rasulullah. Dan ketika matahari telah tergelincir, ia berkendara Al-Qashwa, unta betina, untuk berangkat ke sebuah perut wadi di daerah ‘Urana. Di sinilah, Nabi yang Ummi, memanggil semua jemaah untuk berkumpul dan mendengarkan tuturnya. Di atas unta, Al-Musthafa dengan anggun bersabda. Seorang sahabat bernama Rabi’a bin Ummaya bin Khalaf kembali mengulang setiap kata yang diucapkan Nabi dengan lantang, agar semua jemaah tak luput dari seru indah manusia terpilih. Angin siang berdesir lamban. Arakan awan memutih di langit Arafah. Hening memulun di semua lembah. Semua bersiap atas sabda yang hendak terucap. Pada hari itu bumi Arafah bersaksi tentang sebuah khutbah megah.

Beginilah sang penyayang anak yatim itu berkhutbah :

“Wahai sekalian manusia, dengarkanlah nasehatku ini baik-baik, aku tidak tahu sesudah ini apakah aku mampu menjumpaimu lagi di tempat berkah ini. Tahukah kalian hari apakah ini ? Inilah hari Nahar, hari kurban yang suci. Tahukah kamu bulan apakah ini ? Inilah bulan yang suci. Tahukah kamu tempat apakah ini ? Inilah kota yang suci. Maka hari ini kupermaklumkan bahwa darahmu dan harta benda sekalian adalah suci buatmu, seperti hari ini, bulan ini dan tempat ini, sampai masa datangnya kalian mengahadap Tuhan.
Barang siapa yang telah diberikan sebuah amanah hendaklah tunaikan amanah itu kepada yang berhak menerimanya.

Hari ini hendaklah dihapuskan semua bentuk riba dan sesungguhnya riba jahiliyah itu batil. Dan riba pertama yang aku hapuskan pertama kali adalah riba yang dilakukan pamanku sendiri, Abbas bin Abd Muthalib. Bahwa semua tuntutan darah selama masa jahiliyah tidak berlaku lagi, dan tuntutan darah pertama yang kuhapuskan adalah darah ‘Amir bin Haris.

Wahai manusia yang kucinta, hari ini setan telah berputus-asa untuk disembah di semesta. Ingatlah ia akan berbangga ketika kamu mentaatinya meski dalam perkara yang kecil, oleh karena itu peliharalah agamamu baik-baik.

Hai manusia, zaman itu berputar semenjak Allah yang maha perkasa menciptakan langit dan bumi. Jumlah bilangan bulan menurut Allah adalah dua belas, empat bulan adalah bulan suci, tiga bulan berturut-turut dan bulan Rajab itu antara bulan Jumadil akhir dan Sya’ban.

Duhai manusia, sesungguhnya bagi kaum wanita (isteri) mu ada hak-hak yang harus kamu penuhi, dan bagimu juga ada hak-hak yang harus dipenuhi isteri. Ialah, bahwa mereka tidak boleh sekalipun membawa orang lain ke tempat tidur selain kamu sendiri, dan mereka tidak boleh membawa orang lain yang tidak kamu sukai ke rumahmu, kecuali setelah mendapat izinmu. Maka sekiranya kaum wanita melanggar yang demikian, sesuangguhnya Allah telah mengizinkan kamu untuk meninggalkan mereka, dan kamu berkenan melecut ringan terhadap diri mereka yang berdosa itu. Tetapi bila mereka berhenti dan patuh kepadamu, maka menjadi kewajibanmulah untuk menafkahinya dengan sebaik-baiknya. Ingatlah bahwa wanita adalah kaum yang lemah disampingmu, mereka adalah sahabat karibmu. Kamu telah membawa mereka dengan suatu amanah dari Allah dan kamu telah halalkan kehormatannya dengan kalimat Allah. Bertaqwalah kepada Allah tentang urusan wanita dan terimalah wasiat ini untuk bergaul secara baik dengan mereka.
Wahai manusia, sesungguhnya aku tinggalkan kepadamu sesuatu yang jika kamu pegang teguh, maka hidupmu pasti bahagia di dunia dan akhirat : Kitab Allah dan Sunnah Rasul-Nya. Dengarkan aku, duhai manusia, bahwa sesama muslim adalah bersaudara. Seseorang tidak dibenarkan mengambil sesuatu dari saudaranya tanpa keikhlasan. Ya Allah, sesungguhnya aku sudah sampaikan.”

Suara Nabi berhenti. Ia pandangi ribuan manusia yang mengelilinginya. Hamparan kepala menengadah, menatap lekat dirinya. Mereka kuyup dengan cinta yang berlimpah. Beribu lidah membasah. Mengagungkan nama Allah yang Maha Pemurah. Tak terbilang kelopak mata yang tergenang bening saripati sukacita, betapa gembira berhaji bersama manusia yang paling mempesona. Betapa indah hari itu. Sungguh berdenyar detik-detik yang menari di saat itu. Putra Abdullah itu tersenyum dan turun dari untanya. Tak seberapa lama, bibir manis Rasulullah kembali menggaungkan sebuah firman Allah yang turun dengan perantara malaikat Jibril.
“Hari ini telah Ku sempurnakan agamamu ini untuk kalian, dan Ku cukupkan nikmat Ku kepadamu dan Ku sukai Islam sebagai agamamu” (QS:Almaidah 3).

Dan pada hari itu, bumi Arafah bersaksi, tentang sebuah pertemuan akbar yang di catat dalam sejarah sebagai sebuah peristiwa Haji Wada’. Tak ada lagi haji yang dilakukan oleh Nabi. Karena kita semua tahu tak lama berselang, manusia berparas rembulan itu kembali menuju Allah yang Maha Tinggi.
Pada hari itu bumi Arafah bersaksi tentang untaian pesan yang digaungkan Al-Musthafa. Pesan yang sangat agung dan dalam maknanya. Ia berpesan bahwa sesama muslim adalah bersaudara. Jika bersaudara, maka sudah dapat dipastikan saat saudaranya khilaf ia mengingatkan dengan baik. Ketika saudaranya kekurangan, dengan penuh sayang ia sigap membantu. Bersaudara seperti satu tubuh, tatkala saudaranya ditimpa kepedihan, kesakitan dan kesempitan, tak akan menunda waktu, tak akan berlama-lama, ia pasti berlari merengkuh saudaranya dengan segenap cinta, dengan uluran tangan keikhlasan, dengan bantuan tanpa tanding. Ia merasakan nyerinya. Ia merasakan sesak dada saudaranya. Ia tengadah meminta pencipta, memohonkan Allah agar saudaranya dikuatkan.

Saat ini saudara-saudara kita di Nanggroe Aceh Darussalam, bersimbah perih dan lara yang tak terkira. Mereka kehilangan teramat banyak. Yang tersisa di sana hanya air mata, anak-anak yatim piatu yang butuh perlindungan. Saat ini, ketika wukuf di Arafah tengah di langsungkan, mari mengenang pesan Nabi, bahwa sesama muslim adalah bersaudara. Mari buktikan bahwa kita adalah saudara mereka. Sebagai saudara yang bisa mencintai mereka. Hantarkan selaksa cinta kita, uang, pakaian, makanan, atau bahkan lantunan doa. Insya Allah, ada yang akan tumbuh subur dengan segera. Yakni Ukhuwah. Ukhuwah Islamiyah.
Jika pada hari itu, bumi Arafah bersaksi tentang sebuah pesan yang digaungkan kekasih Allah, pada hari ini mudah-mudahan langit menyaksikan bahwa ada yang sedang berlomba-lomba mengamalkan pesannya. Pesan bahwa sesama muslim adalah bersaudara. Dan Rasulllah pasti berbangga. Wallahu ‘alam.

http://www.eramuslim.com/ar/oa/51/16670,1,v.html

Sabda Rasulullah saw :”Barangsiapa memiliki harta yang meliputi bekal (perjalanan) dan kendaraan yang mencapai (biaya) berhaji ke Baitullah namun tidak berhaji. Maka tidak ada balasan baginya selain ia mati dalam keadaan beragama Yahudi atau Nashrani”. (HR.Tirmidzi, Nasa’I, Ibnu Majah dan Khuzaimah dalam shahihnya)

note : artikel di atas telah dimuat dalam Labbaik edisi no.010/th.01/DzulQoidah-Dzulhijjah 1425H/2005M

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: