Pemimpin Penebar Cinta

Dari puluhan milyard anak cucu Adam yang pernah mendiami dunia, menurut Michael H. Hart*] penulis Seratus Tokoh Yang Paling Berpengaruh Dalam Sejarah, mungkin hanya sekitar 20.000 orang yang hasil upayanya punya harga untuk disebut dalam buku kamus biografi. Dan dari jumlah tersebut, dia memilih seratus orang berdasarkan urutan paling berpengaruh dalam sejarah.

Dari seratus yang masuk klasifikasi, Rasulullah SAW menempati urutan pertama, bahkan mengalahkan “Nabi Isa” yang entah menurut penulisnya dianggap sebagai Nabi atau Tuhan atau selainnya. Hart menulis, “Lebih jauh dari itu (berbeda dengan Isa) Muhammad bukan semata pemimpin agama tapi juga pemimpin duniawi. Fakta menunjukkan, selaku kekuatan pendorong terhadap gerak penaklukan yang dilakukan bangsa Arab, pengaruh kepemimpinan politiknya berada dalam posisi terdepan sepanjang waktu.”
Lepas dari masalah setuju-tidaknya dengan pendapat Hart di atas, yang jelas dan pasti Rasulullah SAW banyak diakui oleh mereka yang non muslim, sebagai figur pemimpin yang tak tertandingi hingga kini. Bahkan mereka terus menerus mempelajari dan menyelidiki, apa kunci sukses kepemimpinan Muhammad SAW.

Bila demikian mereka yang non muslim, aneh bin ajaib bila terdapat seorang muslim yang mengaku sebagai ummatnya justru tak menjadikannya sebagai figur, tauladan, dan sumber inspirasi dalam segala hal yang menyangkut kepemimpinan. Padahal lepas dari masalah apapun, sebagai seorang muslim, tak salah bila dikatakan bahwa meniru Beliau SAW merupakan suatu kewajiban.
“Jika kita mengukur kebesaran dengan pengaruh, dia (Muhammad SAW, pen) seorang raksasa sejarah. Ia berjuang meningkatkan tahap ruhaniah dan moral suatu bangsa yang tenggelam dalam kebiadaban karena panas dan kegersangan gurun. Dia berhasil lebih sempurna dari pembaharu manapun; belum pernah ada orang yang begitu berhasil mewujudkan mimpi-mimpinya seperti dia”, demikian pendapat Will Durant dalam The Story Of Civilization.
Thomas Carlyle, dalam On Heroes and Hero Worship mengatakan, “Dia datang seperti sepercik sinar dari langit, jatuh ke padang pasir yang tandus, kemudian meledakkan butir-butir debu menjadi mesiu yang membakar angkasa sejak Delhi hingga Granada”.
Mereka dan ribuan sejarawan serta ilmuwan lain “penasaran” dan terus mengkaji strategi dakwah, manajemen kepemimpinan bahkan “mengamalkan” sunnah-sunnah Nabi. Ironisnya, mereka yang bersyahadat tentang kenabiannya justru tak meneladani bagaimana sepak terjang perjuangan dan kepemimpinan Beliau SAW.
Yang terkadang memilukan, adalah “tingkah polah” sebagian oknum pemimpin ummat yang merasa mencintai dan dicintai Nabi SAW, padahal pada dasarnya justru menginjak-injak sunnah Beliau SAW. Mereka mengamalkan sebagian sunnah, inipun dengan keniatan penampilan atau yang lebih bersifat “aksesoris”, namun melemparkan sunnah lain yang jauh lebih penting untuk diteladani.
Memanjangkan janggut, memakai surban, imamah, jubah, bersiwak dan sejumlah “aksesoris” lain yang kesemuanya untuk meyakinkan penampilan di hadapan mereka yang awam. Sementara cinta dan kasih sayang, yang menjadi modal utama dan sekaligus kunci keberhasilan dakwah dan kepemimpinan Nabi SAW terlupakan.
Sewaktu Allah menggambarkan mengenai kedatangan kekasih-Nya sebagai rahmat untuk seluruh alam, Allah berfirman, “Sesungguhnya telah datang kepadamu seorang rasul dari kaummu sendiri. Berat terasa olehnya penderitaanmu, sangat mengharapkan (keimanan dan keselamatan) bagimu. Amat belas kasihan lagi penyayang terhadap orang-orang mukmin”. (QS. At-Taubah, 9: 128)

Insan yang bernama Muhammad SAW ini, merasa sedih dan ikut merasakan penderitaan bila terdapat ummatnya yang menderita. Pengkabaran ini difirmankan langsung oleh Allah seperti dalam ayat di atas. Dan dalam prakteknya, sejarah telah menulis berbagai kisah tentang apa yang difirmankan Allah di atas.
Lalu siapa pemimpin di dunia ini yang akan mampu meneladani? Kalaulah tak mampu, dan tak seorang pun yang akan mampu menyamainya, syukur-syukur masih ada sifat kasih sayang di hati mereka. Namun pada kenyataannya, dan termasuk sebagian pemimpin ummat dalam pengertian ulama, justru berhati srigala.
Mereka makan, menikmati dan hidup “berkat” penderitaan ummat yang dipimpinnya. Mereka tak pernah mempedulikan penderitaan ummat, namun sibuk dan takut jangan sampai mereka mengalami penderitaan. Ummat tak lebih bagai anak tangga yang terus diinjak-injak untuk menjadi sarana naik ke kekuasaan. Kemiskinan dan kebodohan ummat terus dilestarikan oleh mereka, karena bagaimanapun juga keduanya sangat dibutuhkan untuk “diperjual-belikan”.

Bila Sang Nabi SAW sangat mengharapkan keimanan dan keselamatan ummat, mereka para pemimpin sekarang tak pernah ambil pusing dengan masalah tersebut. Bahkan dalam kondisi tertentu, keselamatan ummat dipertaruhkan demi untuk keselamatan kekuasaan, ekonomi, dan harga diri mereka sendiri.
Beliau SAW, bersifat belas kasih dan penyayang (rauufur rahiim) terhadap ummatnya. Kedua sifat ini, pada dasarnya adalah sifat Allah SWT, namun diberikan oleh-Nya bagi manusia yang diutus bagi seluruh ummat di dunia. Dan dengan bekal cinta dan kasih sayang itulah, Rasulullah SAW berjuang dalam berdakwah dan memimpin ummat.
Jelas, tentu dan pasti metode yang telah dipraktekkan dan terbukti keampuhannya ini merupakan suri tauladan bagi para pemimpin di kalangan ummatnya. Sekalipun takkan ada manusia seperti Beliau SAW dalam cinta dan kasih sayang kepada ummatnya, namun tragis bila sifat seperti itu hilang sama sekali di kalbu para pemimpin kita.

Rasulullah SAW telah tercatat dalam berbagai kitab sejarah tentang bagaimana sifat kasih sayang beliau. Jangankan terhadap manusia, bahkan terhadap lingkungan dan hewan pun rasa kasih sayang itu masih beliau perlakukan. Dialah manusia yang menangis sesenggukan saat melihat hewan yang diperlakukan kasar oleh si majikan. Benda-benda mati pun tak kalah diperhatikan olehnya, dalam sebuah sabdanya beliau SAW berujar, bahwa Gunung Uhud cinta kepada beliau dan beliau pun cinta kepada Uhud.
Sifat dan sikap cinta serta kasih sayang inilah yang hilang di kalbu para pemimpin kita. Bahkan lebih dari itu, lahirlah para pemimpin super rakus yang sangat aneh, yakni menyantap apapun yang sekiranya bisa disantap. Anda bisa bayangkan, apa yang tak mampu disantap manusia jenis seperti ini? Bukan hanya yang berwujud uang saja, namun termasuk pohon, aspal, batu, pasir, semen dan seluruh apa yang ada.
Dalam kondisi krisis kepemimpinan dan sekaligus krisis idola, aneh rasanya bila ummat berkiblat atau mengidolakan manusia selain Muhammad SAW. Bila mereka dari kalangan non muslim, mungkin wajar, sekalipun cukup banyak dari mereka yang mengakuinya. Namun bila dari kalangan ummat Islam sendiri, sungguh suatu keanehan yang sulit untuk diterima akal mereka yang beriman dan “sadar”.

Jasad Muhammad SAW telah terbaring di pusaranya 14 abad yang lalu, dan tak mungkin muncul manusia yang akan mampu menyamainya, apalagi mengungguli. Secara realistis kita lihat saja di lingkungan kita dalam skala terkecil hingga terbesar, siapa diantara mereka yang paling besar prosentase kemiripannya, maka dialah yang patut dipilih dan dijadikan pimpinan. Dan sebagai barometernya, kita lihat saja, siapa diantara mereka yang memiliki sifat rahmat, mengedepankan cinta dan selalu bersikap kasih sayang.
Bila dalam memilih seorang pemimpin kita mengacu dengan acuan seperti di atas, paling tidak kita masih pantas untuk mempunyai harapan akan terjadinya perubahan secara cepat. Dan perubahan yang terwujud, merupakan hakekat kebangkitan, bukan hanya kepulihan secara semu. Karena bagaimanapun juga, muara dari seluruh “penyakit” yang meruntuhkan segala sendi kehidupan, adalah kosongnya jiwa.
Bila jiwa Rasulullah SAW dipenuhi dengan sifat cinta dan kasih sayang, tanpa perlu muluk-muluk, cukup bagi kita untuk mencari pemimpin yang jiwanya masih berisi dengan cinta dan kasih sayang. Namun kita perlu ingat, bahwa tak mudah untuk mencari pemimpin jenis ini, karena mereka akan memandang kepemimpinan, bahkan dalam skala sekecil apapun merupakan amanat. Mereka takkan muncul apalagi berambisi untuk berebut amanat. “Kamu semua adalah pemimpin”, demikian tutur Nabi SAW, “Dan kamu kelak akan dimintai pertanggungjawaban atas kepemimpinanmu”. Semakin besar “skala” kepemimpinan seseorang, sebagai konsekuensinya, maka pasti akan semakin besar pula pertanggungjawabannya.

Dalam konteks amanat, kepemimpinan (baca kekuasaan) jauh lebih membangkitkan bulu kuduk. Bagaimana tidak, sementara langit, bumi, dan gunung pun menolak untuk mengemban amanat yang maha dahsyat ini. Namun konyolnya, manusia malah berebut untuk mendapatkannya. Tak salah bila Al-Quran dalam membicarakan mengenai hal ini, mengakhiri ayatnya dengan ungkapan, “Sesungguhnya manusia itu (karena mau memikul amanat) sangat dhalim dan bodoh” (QS. 33; 72).
Belum lagi berbagai ancaman dari hadits Nabi SAW mengenai beratnya pertanggungjawaban sebuah kepemimpinan. “Tidak ada seorang pemimpin yang memimpin sekelompok ummat Islam, kemudian meninggal dalam keadaan berkhianat terhadap orang yang dipimpinnya, melainkan Allah mengharamkan surga atasnya”, demikian sabda Nabi SAW. Dalam riwayat lain disebutkan, jangankan surga, bau surga pun mereka takkan menghirupnya.
Cukup banyak pemimpin yang berucap, bahwa kepemimpinan yang ia raih merupakan amanat. Namun pada kenyataannya, tindakan, kebijakan, dan keputusan yang mereka ambil tak mencerminkan seseorang yang memandang kepemimpinan sebagai amanat.
Bagaimana sebuah amanat, bila dalam mencarinya sampai menghalalkan segala cara? Apakah pantas bila dalam menerima amanat di sambut dengan tepuk tangan, sujud syukur, acara syukuran hingga menghabiskan ratusan juta rupiah? Apakah mungkin bila sebuah amanat harus dipertahankan dengan berbagai cara? Bila demikian, sungguh tepat firman Allah yang menyebutkan, bahwa mereka sangat dhalim dan bodoh.

Kita yang mayoritas sebagai “rakyat jelata”, tak perlu pusing dan hanyut memikirkan fragmen rebutan amanat. Karena siapapun kita dan apapun “jabatan” yang melekat, adalah pemimpin yang pasti akan dimintai pertanggungjawaban atas kepemimpinannya. Bila kepemimpinan masing-masing kita beres, toh keadaan dan kondisi akan semakin baik.
Biarkan para pemimpin pencari amanat menikmati kekuasaannya sesaat. Walau tak dapat dipungkiri, bahwa pengaruh mereka untuk pemulihan keadaan besar, namun semuanya kembali kepada masing-masing kita juga. Untuk itu, siapapun pemimpinnya, kita mutlak membenahi kepemimpinan kita masing-masing.
Sudahkah kita contoh Nabi SAW dengan cinta dan kasih sayang dalam kepemimpinan kita di keluarga, lingkungan, pekerjaan dan lain-lain? Sebarkan cinta dan kasih sayang kepada siapapun, dengan demikian, Insya Allah pertanggungjawaban kita kelak akan ringan. Amiiin.
—————————————————————
*] Pesan dari Labbaik : Apapun hasil tulisannya, sebaiknya ummat islam tetap extra hati-hati terhadap karya-karya kaum kafir. Harap senantiasa tabayyun dan tidak langsung percaya begitu saja.

[Artikel Lainnya di Bank Data Majalah] http://www.fosmil.org/adzan/edisi_01_20/01.laputama/lap.html

note : artikel di atas telah dimuat dalam Labbaik edisi no.007/th.01/Sya’ban 1425H/2004M

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: