Operasi Badai Gurun Hariri

Setelah Perang Teluk usai, terdapat sekitar 100 tentara Muslim di Fort Bragg, Carolina Utara –dan hanya satu di antaranya seorang wanita. Sersan Hariri, tiga puluh tahun, yang masuk Islam di Saudi Arabia, kembali ke Amerika Serikat dan mengenakan hijab di basis militernya.
Saya seorang intendan. Saya dikirim ke Saudi dan ditempatkan di Dammam. Kemiliteran menyewa sebuah kamp yang merupakan kamp para pekerja. Di sanalah kami tinggal dan di sana pula kami mengendalikan operasi gudang kami. Beberapa kompi berada jauh di padang pasir dan mereka tidak mempunyai perbekalan. Kami mengendalikan gudang perbekalan untuk persediaan air dan makanan bagi mereka. Suatu hari, kami harus menghabiskan malam dengan bersiaga di tempat perlindungan, sebab sebuah misil telah lewat di dekat kami, dan yang satu meledak tepat di atas kepala kami tanpa sinyal bahaya! Untuk itu kami menulis daftar kebutuhan yang perlu dibeli, dan mengesahkannya melalui para penghubung, dan para tentara pergi untuk membelinya. Salah seorang yang menjual barang kebutuhan kami adalah orang yang memperkenalkan saya kepada Islam. Sekarang dia juga menjadi suami saya, Hussain Hariri. Dia berasal dari Lebanon.
Saya meminta untuk menceritakan pada saya sebuah kisah dari Al-Quran. Saya ingin tahu buku macam apakah Al-Quran itu ? apa itu sebuah buku yang keras dan kejam? Dia mengakhiri ceritanya dengan kisah Nabi Yusuf. Ketika telah menyelesaikan cerita tersebut, saya berkata, “Kami juga punya kisah seperti itu, tetapi orang-orangnya berbeda.” Dia hanya tertawa, “Itu kisah yang sama.” Dia berkata bahwa mereka juga punya Moses, tetapi menyebutnya Musa. Dia memberitahu saya nama-nama yang terdapat di Injil dan memberitahukan nama-nama mereka dalam bahasa Arab di Al-Quran. Hal itu mengejutkan saya. Saya bahkan tidak pernah mendengar tentang Islam atau Quran sampai kami mulai diberikan pengarahan tentang apa yang tidak boleh kami lakukan, apa yang tidak boleh kami ucapkan, dan area yang harus di hindari, sebelum diterjunkan ke lapangan. Saya bertanya kepadanya apakah dia dapat mencarikan Al-Quran berbahasa Inggris untuk saya. Dia mendapatkannya dari salah seorang temannya.

Pada suatu hari, Hussain dan saya bercakap-cakap lebih jauh tentang Islam. Saya tanya kepadanya seberapa banyak yang harus diketahui sese orang sebelum dia mengucapkan syahadat. Dia bilang Anda dapat menjadi seorang Muslim tanpa mengetahui apa pun tentang Islam, dan jika engkau menunggu sampai mengetahui segalanya tentang Islam, engkau tidak akan pernah melakukannya. Pada dasarnya, ada lima rukun Islam. Anda harus menyadari bagaimana hal itu akan mempengaruhi hidup Anda. Anda harus menyadarinya mulai saat ini, Anda akan bertang gungjawab atas semua tindakan Anda. Dan Anda harus bersungguh-sungguh berkeinginan menjadi seorang Muslim dan bukan hanya …………
“yah, mungkin saya akan mencoba agama ini untuk sementara”.
Keikhlasan dan kesungguhan sangatlah penting. Saya berkata, “Saya akan mempelajari hal-hal yang lain nanti, tetapi saya sudah mem punyai bekal yang cukup untuk membuat keputusan sekarang.” Dia menghela napas panjang, dan berkata, “Baiklah, apa keputusanmu ?”Saya berkata, “Saya ingin menjadi seorang Muslim.” Dia berkata, “Engkau harus mengucapkan kalimat syahadat.” Dia mengucapkannya dalam bahasa Inggris dan saya mengikutinya. Kemudian dia berkata, “Engkau harus mengucapkannya dalam bahasa Arab.” Saya telah mulai belajar huruf-huruf dan percakapan bahasa Arab, tetapi bukan bahasa Arab Al-Quran. Dia melafalkannya dalam bahasa Arab dan dia memberitahu saya makna tiap kata, dan dia berkata, “Jika engkau tidak mengetahui apa yang engkau ucapkan, berarti engkau tidak mengucapkan apa-apa.”Saya mengucapkan syahadat tiga kali dan selesailah sudah.

Saya memberitahu perwira komandan saya mengenai keislaman saya. Dan dia sama sekali tidak keberatan selama keislaman saya tidak mengganggu dan mempengaruhi tugas saya. Pada jam-jam tugas, tentu saja, saya masih harus mengenakan seragam pasukan badai gurun. Tetapi selepas jam tugas, saya memakai jubah panjang hitam dan kerudung hitam yang diberikan Hussain. Saya tampak seperti orang Saudi.
Saya sering mendapat tatapan aneh. Orang-orang begitu terkejut. Saya berkata kepada mereka, “Hey, nama saya Sersan Peck. Ada yang ingin Anda tanyakan pada saya ?” Mereka menjawab, “Tidak. Kurang dari sebulan kemudian saya kembali ke Amerika. Hussain tetap tinggal di sana. Dengan berharap musim panas ini kami berdua berada di negara yang sama. Sementara itu saya tetap berusaha memperjuangkan sebisa mungkin agar pakaian religius diperbolehkan dipakai oleh seorang sersan seperti saya. Setelah berjuang dengan dibantu oleh beberapa orang terdekat, akhirnya saya berhasil memperjuangkan hak untuk memakai jilbab coklat yang sudah dari dulu ingin saya kenakan. Pada saat makan siang, saya mengenakan kerudung. Penampilan saya sangat mencolok dan menarik perhatian. Ketika masa cuti usai, saya bekerja di toko perbekalan batalion. Para perwira berdatangan kesana untuk menga wasi dan memastikan segala sesuatunya berjalan dengan baik, dan saya selalu mendapat sekilas pandangan aneh dari mereka. Seseorang berkata, “Mengapa Anda meletakkan kain lap di atas kepala Anda itu?” Dia seorang tamtama yang lebih rendah. Saya berbalik dan mereka melihat pangkat saya, kemudian mereka berkata “Uh-oh, maaf.” Saya berkata, “Ini bukan kain lap, ini adalah pakaian religius; saya mengenakan ini karena alasan religius.” Mereka berkata, “Maaf, maaf.” Pangkat saya mungkin menghalangi banyak orang untuk mengatakan apa yang ingin mereka katakan.

Tahun lalu, komandan sersan mayor, perwira berpangkat tertinggi di sana, menginginkan saya untuk memberikan pidato singkat di NCOPD (Noncommissioned Officer Development Program). Dia memanggil saya, dan ketika saya sedang berjalan menuju ke depan, saya tak sengaja mendengar seorang wanita berpangkat E5 berkata, “Apakah kami harus mendengarkan ini ?” Saya berdiri dan berkata, “Dalam perjalanan saya menuju kemari, saya mendengar komentar yang berbunyi ‘Apakah kami harus mendengarkan ini?’ Dan saya berdiri di sini untuk memberitahu kalian, Ya, Anda harus mendengarkannya. Ini bukan mengenai agama siapa yang benar dan agama siapa yang salah. Ini mengenai tugas kalian sebagai anggota NCO dan bagian dari tugas kalian mengurusi tentara. Anda mengendalikan tentara yang beragama Kristen, Luther, dan Yahudi, atau apa pun. Tetapi apabila kalian tidak mengetahui apa-apa tentang tentara kalian, kalian tidak mengetahui bagaimana mengendalikan mereka. “Jika kalian mempunyai tentara Muslim dan mereka tinggal di barak, mereka mempunyai hak yang sama dengan tentara Yahudi dalam hal yang berkenaan dengan jatah makanan yang terpisah. Tentara Yahudi mempunyai hak untuk tidak makan di ruang mess, sebab sebagian besar makanan tercampur dengan daging babi.
Jika Anda telah menikah, Anda mendatangi bagian personalia, Anda akan mendapat uang tiap bulan dan Anda akan membeli makanan sendiri, karena Anda telah menikah. Sekarang, orang-orang di barak tidak diberi hak untuk mendapatkan uang tersebut, tetapi tentara Muslim dan Yahudi berhak sebab mereka mempunyai peraturan makanan yang berdasarkan pada agama mereka. Mereka boleh membeli makanan sendiri.” Sersan mayor itu berkata, “Bagus sekali.”

[sumber : diambil dari buku American Jihad, Islam after Malcolm X]

Artikel Lainnya di Bank Data Majalah – Online sejak 2 Mei 2002/19 Safar 1423 H – http://www.fosmil.org/adzan/15.muallaf/mu07.html

Note : artikel di atas telah dimuat dalam Labbaik edisi : 004/th.01/jumada al awwl 1425H/2004M

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: