Jangan Menunggu Musim Semi Berlalu

Seorang bapak tua, usia di atas 60 tahun. Sejak muda hingga tua dia tidak pernah menjalankan perintah agama dengan baik. Suatu ketika, entah karena apa, dia mengambil songkok hitam lalu memakai songkok itu di depan cermin. Sambil memandangi dirinya di depan cermin bapak itu bergumam: “Nampaknya, aku sudah pantas untuk mulai beribadah kepada Tuhan.” Setelah waktu berlalu, ternyata keinginan hanya tinggal keinginan. Kesadaran baik yang pernah timbul di hati bapak itu ternyata hanya muncul sesaat. Ia tidak mengendap lama. Ia muncul, lalu tenggelam ditelan kegelapan hati. Maka sejarah pun tidak jadi tertulis dengan tinta emas.

Setiap orang diberi kesempatan dan modal untuk hidup berjaya. Diantara manusia ada yang pandai dalam menggunakan kesempatan dan modal itu, namun ada pula yang menyia-nyiakannya. Jika kemudian terjadi penderitaan atau kesempitan, ia bermula dari kemalasan diri belaka. Jangan pernah menuding siapapun dengan derita yang kita alami, selain menuding diri sendiri. Cobalah, buka hati itu dan pikirkan segala-sesuatu secara tenang dan jernih, maka kita akan menemukan petunjuk bahwa pangkal dari segala kekalahan kita adalah diri kita sendiri. Kekalahan itu terjadi sebab sejak semula kita memang menginginkan kekalahan. Anda tidak percaya? Marilah kita berhitung-hitung kembali.
Ketika kita memiliki waktu yang panjang, apa yang kita lakukan disana? Belajar? Berdo’a? Bekerja? Berlatih? Tafakkur diri? Ternyata, sebagian besar waktu kita gunakan untuk melamun, bersenang-senang, menonton, membaca novel, bercanda penuh gelak tawa, ngobrol tak karuan ujung, bermain-main, keluyuran dan seterusnya. Tentu saja, sah-sah saja kita gunakan waktu untuk melepas ketegangan, berhibur diri, atau menikmati manisnya kenikmatan. Semua ini sah belaka. Namun jika sebagian besar waktu digunakan untuk itu, bahkan ia menjadi aktifitas terpenting dalam kehidupan kita, tentulah kerugian belaka yang akan kita alami. Kita akan kehilangan waktu dan kesempatan untuk membangun diri. Tahu-tahu, ketika mendung kesempitan telah menyelimuti, barulah kita menyesali diri.

Sebenarnya kita bisa belajar dari para petani. Para petani sejak awal telah mempersiapkan lahan, menyemai benih, memelihara tanaman, memupuk, serta menjaga tanaman dari hama dan penyakit. Sejak awal sampai tiba musim panen, para petani harus mengeluarkan tenaga, pikiran dan uang untuk memelihara tanamannya. Setelah tiba masa panen, mereka pun akhirnya memetik hasil. Jika perlu, sesudah itu ada hari-hari indah yang dirayakan dengan penuh syukur. “Pesta selalu diadakan di akhir pekerjaan.” Inilah yang benar-benar harus kita renungkan. Kegembiraan dan suka cita akan terjadi ketika telah tuntas seluruh rangkaian perjuangan, ketika telah tiba “masa petik”.
Sayang sekali, prinsip seperti ini jarang dipahami. Ketika masih muda, orang umumnya menghabiskan kekuatan dan kesempatan untuk berpesta-pora. Setelah masa senja datang, ketika tubuh mulai lemah, ingatan berkurang, tulang-tulang mulai berbunyi, ketika penyakit mulai berdatangan, ketika itu orang ingin mulai mem bangun diri. Tentu saja, ini adalah keterlambatan yang sangat menyedihkan. Sekali lagi, “Pesta selalu diadakan di akhir pekerjaan.” Kebaikan, kebahagiaan dan sukses merupakan ujung dari sebuah rangkaian panjang perjuangan. Siapa yang telah menanam kebaikan, sekecil apapun itu, kelak akan melihat hasilnya. Sebaliknya, siapapun yang telah menyia-nyiakan kesempatan, dia pun akan merasakan akibatnya. “Dan bagi setiap orang memperoleh derajat-derajat (sesuai) dengan apa yang telah mereka kerjakan. Dan tidaklah Rabb-mu lengah dari apa yang mereka kerjakan.” (QS. Al An’aam, 132).

Kembali ke cerita bapak tua di atas. Sejak lama dia hidup dalam kegelapan, lalu suatu ketika mendapatkan ilham untuk berjalan di bawah cahaya terang. Namun sayang, dia menepiskan begitu saja ilham itu, padahal jika dia menuruti kata hati yang jernih, mungkin saja akan muncul sejarah baru yang lebih baik. Demikianlah, Allah SWT selalu memberikan kesempatan kepada hamba-hamba-Nya untuk sadar diri, lalu memulai hidup baru yang lebih baik. Mungkin saja, waktu-waktu panjang yang telah berlalu merupakan kekayaan besar yang kita sesali sebab ia tidak bisa digunakan dengan baik sebagaimana mestinya. Tapi setidaknya, jika dihari ini ada keinginan kuat untuk berubah, itu adalah lebih baik. Dengan kesadaran yang kuat kita masih memungkinkan untuk menyelamatkan kekayaan hidup yang masih tersisa, atau mengurangi dampak buruk dari kerugian-kerugian yang telah terjadi. Bisa dikatakan, setiap keinginan baik tidak pernah sia-sia. Selalu saja ada kebaikannya, asal kita mau menempuhnya.

Saudaraku, musim semi akan segera datang. Saat itu Allah Ta’ala mengajakmu untuk memperbaiki hidup, memulai lembaran-lembaran baru yang lebih putih dan jernih. Jika musim itu telah tiba, ambillah lalu manfaatkan sebaik mungkin. Jangan pernah menunggu hingga musim itu pergi, lalu tidak tersisa di dalam hatimu selain penyesalan dan kesedihan. Sesudah satu musim semi berlalu, mungkin masih akan muncul musim semi berikutnya (insya Allah). Tapi ingat, ini adalah musim semi yang baru. Ia bukan musim semi seperti sebelumnya. Ia datang dengan wajah baru, membawa kesempatan baru untuk menghadapi berbagai persoalan baru. Jika musim itu ternyata juga kita biarkan, bahkan setiap musim selalu kita acuhkan, maka apa lagi yang hendak dinanti? Ketika telah datang tanda-tanda Kemurahan Allah, maka gunakan kemurahan itu untuk membangun kehidupan baru yang lebih baik. Jangan menanti hingga musim semi berlalu, kemudian dirimu menyesal. Sungguh tidak ada yang lebih layak disesali selain diri sendiri. Dan tidak ada lagi yang layak diharap, selain Allah SWT. Wallahu a’lam bisshawaab.

http://www.masjid-lautze.com/index2.php

AL-QUR’AN SEBAGAI PEMBELA DI HARI AKHIRAT

Abu Umamah r.a. berkata :”Rasulullah SAW telah menganjurkan supaya kami semua mempelajari Al-Qur’an, setelah itu Rasulullah SAW memberitahukan tentang kelebih an Al-Qur’an. Telah bersabda Rasulullah SAW :” Belajarlah kamu akan Al-Qur’an, di akhirat nanti dia akan datang kepada ahli-ahlinya, yang mana di kala itu orang sangat memerlukannya.” Ia akan datang dalam bentuk seindah-indahnya dan ia bertanya, ” Kenalkah kamu kepadaku?” Maka orang yang pernah membaca akan balik bertanya : “Siapakah kamu?”. Dan berkatalah Al-Qur’an : “Akulah yang kamu cintai dan kamu sanjung, dan juga kamu telah bangun malam untukku dan kamu juga membacaku di waktu siang hari.”

Kemudian berkata orang yang pernah membaca Al-Qur’an itu : “Adakah kamu Al-Qur’an?” Lalu Al-Qur’an mengakui orang yang pernah membaca menghadap Allah SWT. Lalu orang itu diberi kerajaan di tangan kanan dan kekal di tangan kirinya, kemudian dia meletakkan mahkota di atas kepalanya. Pada kedua ayah dan ibunya pula, yang muslim diberi perhiasan yang tidak dapat ditukar dengan dunia walau berlipat ganda, sehingga keduanya bertanya : “Dari manakah kami memperoleh ini semua, pada hal amal kami tidak sampai ini ?”. Lalu dijawab : “Kamu diberi ini semua kerana anak kamu telah membaca (mempelajari) Al-Qur’an.”

http://kastamselangor.tripod.com/

Note : artikel di atas telah dimuat dalam Labbaik edisi : 004/th.01/jumada al awwal 1425H/2004M

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: