Dimana Kan Kuikat Hati Ini ?

Sudah menjadi kebiasaan kami dalam rangka memperingati maulid nabi setiap malam sejak tanggal 1 hingga 12 rabiul awwal secara berombongan dan bergiliran selalu mengunjungi rumah salah seorang ikhwan. Malam itu tibalah giliran rumah syaikh Syalbi arrijal yang menjadi jadwal kunjungan. Kami pun berangkat seperti biasanya setelah isya. Kami berangkat secara berombongan dengan penuh kegembiraan. Saya melihat rumah syaikh Syalbi sangat terang, bersih dan rapi. Dihidangkanlah serbat, kopi dan qirjah seperti biasanya. Kami duduk dan meminta nasehat- nasehat syaikh syalbi.

Ketika kami hendak pergi, ia berkata dengan senyum yang lembut, “Datanglah kalian besok pagi pagi sekali agar kita bisa menguburkan Ruhiyah bersama-sama.” Ruhiyah adalah putri beliau satu satunya. Allah mengaruniakan Ruhiyah kepadanya kurang lebih setelah sebelas tahun dari usia pernikahannya. Ia sangat mencintainya sehingga hampir tidak pernah meninggalkannya sekalipun sedang sibuk bekerja. Ruhiyah kemudian tumbuh menjadi seorang gadis. Ia menamainya Ruhiyah karena putrinya ini menempati kedudukan ‘ruh’ pada dirinya. Tentu kami terperanjat,” “Kapan ia meninggal ?” tanya kami spontan.
“Tadi menjelang magrib” jawabnya tenang.
“Kenapa syaikh tidak memberitahukan kami semenjak tadi, sehingga kami dapat mengajak kawan yang lain untuk kemari bersama sama ?”.
Ia menjawab,”Apa yang telah terjadi meringankan kesedihanku. Pemakaman telah berubah menjadi peristiwa yang membahagiakan. Apakah kalian masih menginginkan nikmat Allah yang lebih besar lagi daripada nikmat ini ?”

Pembicaraan akhirnya berubah menjadi seperti pelajaran tasawuf yang disampaikanoleh syaikh Syalbi. Beliau mengemukakan bahwa kematian putrinya itu adalah kecemburuan Allah kepada hatinya. Memang sesungguhnya. Allah merasa cemburu kepada para hambaNya yang sholeh apabila sampai terikat dengan selainNya atau apabila ia berpaling kepada selainNya. Beliau mengambil buku dalil dengan kisah Ibrahim AS. Hati Ibrahim terikat dengan Ismail, sehingga akhirnya Allah SWT memerintahkannya untuk menyembelih putranya, Ismail. Ketika hati Nabi Ya’qub terikat dengan Yusuf Alalh swt pun membuat Yusuf hilang dari sisinya sekian tahun. Oleh karena itu jangan sampai hati seorang hamba itu terikat dengan selain Allah swt. Kalau tidak demikian maka sebenarnya ia adalah pendusta dalam hal pengakuan kecintaannya………….

[dikutip dari Memoar Hasan Al Banna, halaman 80-81]
http://masjidits.cjb.net/

Beda Manusia dan Binatang

Para filosof Barat menyatakan bahwa hakikat manusia dan binatang sama. Perbedaannya terletak pada otak, karena itu mereka berpendapat bahwa manusia itu adalah binatang yang berpikir dan berakal. Para filosof Muslim melengkapinya dengan sarana lain; yaitu akhlak. Alhasil, manusia adalah makhluk yang punya otak dan punya akhlak. “Jika hanya punya otak saja, manusia tetap akan bertindak seperti binatang: merasa benar sendiri, tidak menghargai orang lain, suka melanggar norma susila. Akibatnya, manusia akan menjadi lebih sesat daripada binatang,” kata seorang hukama. Ia juga menambahkan bahwa sifat dasar makhluk adalah al-qassatul qalbu (keras hati), al-qilla’ul haya (tak punya malu), dan al-istighalu bi uyubil khalqi (sibuk mengintai kelemahan makhluk lain). Tiga sifat dasar ini dinetralisir oleh kemuliaan dan ketinggian akhlak, sehingga manusia akan berhati lembut, memiliki rasa malu dan toleran terhadap orang lain.”

http://www.pesantrenonline.com/MutiaraShubuh/detailMS.php3?detail=10&huruf=B

Note : artikel di atas telah dimuat dalam Labbaik edisi : 003/th.01/rabi’ul akhir 1424H/2004M

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: