Al Wala wa Al Bara (idola)

Beberapa waktu belakangan ini kita kerap disuguhi berita tentang tewasnya beberapa remaja kita, ketika sedang berusaha menyaksikan dan melihat secara dekat dan langsung penampilan artis idola mereka. Sebut saja misalnya tragedi yang terjadi di Lampung beberapa waktu silam, ketika sebuah grup musik yang sedang melejit ‘ Sheila On 7’ sedang manggung, terjadilah tragedi yang menewaskan beberapa remaja putri penggemar mereka. Dan yang masih hangat adalah tewasnya empat orang remaja putri !- akibat berdesak-desakan ingin bertemu dengan salah satu grup musik manca negara yang kebetulan datang ke Indonesia : a1 (a-one) namanya. Bagi sebagian pengamat sosial, kejadian-kejadian ini menjadi sebuah fenomena yang patut diteliti lebih jauh sebagai fenomena baru di kalangan anak muda kita. Namun sebagai seorang muslim, kita tentu harus melihatnya dari kacamata Islam. Menurut penulis, semua tragedi ini tidak lebih merupakan akibat dari salah memilih dan memperlakukan idola.

Dalam Islam kita diajarkan sebuah konsep bersikap atau kalau Anda mau, Anda dapat mengatakan : konsep beridola . Para ulama menyebutnya dengan konsep Al-Wala wa Al-Bara. Al-Wala artinya kita wajib memberikan loyalitas kepada Allah, RasulNya dan orang-orang beriman tanpa terikat zaman dan tempat. Sedangkan Al-Bara adalah kewajiban untuk berlepas diri dari segala tindak kekufuran dan kedurhakaan serta pelaku-pelakunya, tentu yang pertama kali masuk dalam kategori ini adalah syetan dan pengikut-pengikutnya serta orang- orang kafir-.
Berdasarkan konsep ini maka ada beberapa hal yang dapat disimpulkan :
Pertama, manusia-manusia yang patut diidolakan oleh seorang muslim adalah Rasulullah SAW dan orang-orang shaleh yang mengikuti beliau para shahabat dan generasi pendahulu yang shaleh (As-Salaf Ash-Shaleh)-,
Kedua, cara kita mengidolakan mereka tentu saja harus sesuai dengan ketentuan Allah, tidak kurang dan tidak lebih (ghuluw). Itulah sebabnya, Rasulullah SAW melarang kita memperlakukan beliau sebagaimana orang nashrani memperlakukan Isa alahissalam- yang memperlakukan beliau sebagai tuhan.
Ketiga, jenis manusia yang tidak pantas diidolakan adalah manusia-manusia yang kafir dan durhaka kepada Allah Azza wa Jalla. Maka orang-orang yang profesinya hanya membuat orang lain (baca :penggemarnya) lalai dan lupa kepada Allah – seperti para artis film dan penyanyi- tentulah termasuk dalam kategori ini.

Inilah renungan kita kali ini ; sebuah renungan yang patut direnungkan oleh setiap orang tua, utamanya yang seringkali salah memilihkan idola bagi anaknya-, setiap pemuda-pemudi -utamanya yang masih belum memiliki ukuran yang jelas dalam mencari idola- dan bagi siapa saja yang sampai saat ini belum mengidolakan Rasulullah SAW dan para pengikut beliau hingga akhir zaman.
“Sesungguhnya telah ada pada diri Rasulullah itu suri tauladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat, dan dia banyak mengingat Allah” (Al-Ahzab : 21)
_______________________________________________________
(Abul Miqdad, iccang@ekilat.com )
al-madina.s5.com, Mei 2001

Note : artikel di atas telah dimuat dalam Labbaik edisi : 002/th.01/rabi’ul awal 1424H/2004M

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: