Akibat Si Ulil …

AlhamduLillah, (Terima Kasih Buat Ulil) *]

Puji Tuhan, sudah sekian lama saya mencari dan mencari jawaban dari pertanyaan yang selama ini mengungkung diri saya. Akhirnya saya hampir saja menemukan jawabannya di Islam Liberal, dengan membaca tulisal Ulil Abshar : “Menyegarkan Kembali Pemahaman Islam”.

Tetapi saya ingin lebih jauh lagi menanyakan dan memastikan supaya saya dapat mantap dengan keyakinan saya. Saya sangat terkesan sekali dengan tulisan Mas Ulil Abshar mengenai :”Dengan tanpa rasa sungkan dan kikuk, saya mengatakan, semua agama adalah tepat berada pada jalan seperti itu, jalan panjang menuju Yang Mahabenar. Semua agama, dengan demikian, adalah benar, dengan variasi, tingkat dan kadar kedalaman yang berbeda-beda dalam menghayati jalan religiusitas itu. Semua agama ada dalam satu keluarga besar yang sama : yaitu keluarga pencinta jalan menuju kebenaran yang tak pernah ada ujungnya.” “Semua agama adalah baju, sarana, wasilah, alat untuk menuju tujuan pokok : penyerahan diri kepada Yang Maha Benar.”

Sudah lama saya merasa terbelenggu dengan aturan-aturan yang umum dilaksanakan muslim. Saya orang yang cinta kedamaian, tidak suka berbuat rusak, mengakui Tuhan yang Esa, takut berbuat dosa, tetapi saya sangat tidak suka sekali jika harus diperintah-perintah harus mensucikan diri dengan wudlu, bersujud sembah yang, berlapar puasa, berhaji. Karena saya sudah tahu itu semua tujuannya. Jalan panjang menuju Yang Maha Benar yang saya lalui kiranya tidak salah sedikitpun. Saya islam dalam arti yang disebutkan di atas dan saya ingin melakukannya seperti agama-agama yang lain tidak seperti Islam Umumnya (seperti yang Ulil). Saya ingin seperti orang Budha yang penyabar, seperti Kristiani yang jika saya berdosa, bisa ditebus langsung melalui pengakuan dosa ke padre karena dosa saya sudah ditebus oleh Yesus. Demi Tuhan saya merasa gerah kalau harus bersujud komat-kamit dengan bahasa yang bukan bahasa saya sendiri dan sulit dimengerti. (bolehkah saya ganti dengan bahasa indonesia, supaya sujud saya mantap ?).

Semua agama adalah benar dengan variasi dus kemudian saya ingin variasi yang tidak membuat saya membenci Tuhan karena merasa dikungkung, variasi yang saya sukai sesuai dengan nilai universal di Islam Liberal. Tuhan kan tidak pernah menurunkan Hukumnya ? Tidak ada Hukum Tuhan mengenai ini kan ? Mas Ulil, saya gemetar saking gembiranya. Saya tidak dihukum karena tidak Sholat kan ? karena saya ingin ikut Islam seperti orang Kristiani yang tidak pakai Sholat 5 waktu. Tuhan tahu kan Mas ? ini urusan manusia. Tuhan tahu kan mas bahwa saya tunduk, patuh dan mengakui Tuhan yang satu? Tuhan tidak menurunkan hukumnya buat ini kan mas ? ini kan hanya kebiasaan orang arab kan ? yang harus berbincang-bincang arab kalau berdo’a ? saya kan bisa berdoa bahasa indonesia kan ?

Saya sangat tidak suka sekali kata-kata bahasa Arab, seperti Allahu-Akbar, Alhamdulillah, Astaghfirullah. Karena sesungguhnya itu ucapan dimulut, tidak pernah menyentuh hati. Lagian kan itu bahasanya orang Arab, budaya Arab ?. kenapa harus ikut ? yang penting kan intinya saya membesarkan nama Tuhan, Beryukur, dan memohon ampun ? Benar kan Mas Ulil Abshar ? Bukankah nilai universal ketundukan saya sudah Tuhan ketahui, apakah saya ada di jalan yang benar ? akankah saya masuk surga jika terus mengamalkan keyakinan saya ?

Demi Tuhan saya muslim, tapi saya tidak ingin seperti muslim yang mas Ulil sebut , muslim dogmatis. Jika saya punya banyak uang tidak perlu saya sisihkan sejumlah berapa persen, suka-suka saya, serelanya saya, soalnya kadang saya merasa berat kalau harus dipotong 2,5% gaji saya. Saya ingin kalau saya rela saja, 1% atau berapa saja yang saya inginkan. Tuhan kan tidak pernah menurunkan Hukumnya untuk ini kan ? ini adalah urusan manusia kan mas ? Yang penting intinya sudah saya pahami, harus berbagi dengan sesama. Mengenai berapanya kan urusan manusia kan ?

Kedua, aspek-aspek Islam yang merupakan cerminan kebudayaan Arab, misalnya, tidak usah diikuti. Contoh, soal jilbab, potong tangan, qishash, rajam, jenggot, jubah, tidak wajib diikuti, karena itu hanya ekspresi lokal partikular Islam di Arab. Pernah saya mencuri dalam artian seperti korupsi. Saya takut benar bahwa sesungguhnya saya sebenarnya sudah di potong tangan. Tetapi baru sekarang saya lega, ternyata saya sudah menunaikan kewajiban saya. Saya sudah kembalikan uang nya, kemudian saya tambahi dengan uang tebusan. Saya dan kantor sama-sama ikhlas. saya sudah menebus dosa saya, memberi kesenangan orang lain. Sudah benar kan mas apa yang saya lakukan ? saya sudah terbebas dari dosa mencuri kan mas ? Demi Tuhan saya ingin mas Ulil menjawab ini. Supaya saya dapat keyakinan, saya orang awam. Kalau mas Ulil bisa memberi ketenangan saya, saya bersyukur.

Ketiga, bagaimana mengikuti Rasul ? Di sini, saya mempunyai perbedaan dengan pandangan dominan. Dalam usaha menerjemahkan Islam dalam konteks sosial-politik di Madinah, Rasul tentu menghadapi banyak keterbatasan. Rasul memang berhasil menerjemahkan cita-cita sosial dan spiritual Islam di Madinah, tetapi Islam sebagaimana diwujudkan di sana adalah Islam historis, partikular, dan kontekstual. Memang mas, saya kadang agak ragu, karena saya tidak pernah mendengar dan melihat Rasul secara langsung. Cuma cerita-cerita sejarah saja. Al-Qur’an bagi saya cuma sejarah. Yang penting menghayati nilai-nilai universal yang dikandungnya. Rasul tidak lebih hanya sekedar tokoh sejarah saja, saya setuju. Itu juga yang menyebabkan saya enggan untuk sholawat-sholawat. Apa hubungannya saya menyebut-nyebut Rasul ? Masa sih dengan menyebut Rasul saja saya dapat syafaat (katanya), dapat pertolongan di hari perhitungan ? kan tidak mungkin kan mas ? orang cuman menyebut saja kan ringan ? kenapa ganjarannya begitu besar ? Tapi saya juga masih bingung mas, soalnya waktu saya ke gereja, saya juga disuruh menyebut-nyebut Yesus. Sama temen-2 budha, saya disuruh menyebut-nyebut Budha.

Saya yakin kalau pandangan Mas Ulil benar karena teman-2 kristiani ternyata menyembah Tuhan Allah, cuman Tuhan Yesus juga dipujanya. Makanya saya ikut mereka pada waktu pengakuan dosa, tidak perlu susah-susah sholat Jum’at atau tahajut ?

Mohon mas Ulil, meneguhkan hati saya karena Demi Tuhan saya gelisah. Saya sangat menghargai jawaban mas Ulil karena dapat menjawab kegelisahan dan kegundahan saya selama ini. Saya menemukan kedamaian di Islam Liberal.

Salam

Mochammad Arfan – arfan@medifast.com

*] Artikel di atas aslinya tanpa judul, sehingga kami coba memberikan sendiri judul yang pas untuk artikel ini. Artikel ini adalah salah satu surat terbuka yang kebetulan kami temukan dalam sebuah situs internet. Nama penulis yang ter cantum di atas nama samaran atau asli tak diketahui. Benar muslim atau mengada-ada juga tidak diketahui. Barangkali ada jamaah ingin menghubungi yang bersangkutan, maka bisa melalui alamat email yang dia tinggalkan : arfan@medifast.com . Yang terpenting, tetap terus mengingatkan saudara / kerabat kita agar tidak sampai terpeleset sebagaimana kejadian di atas.

“Dan barangsiapa yang menentang Rasul sesudah jelas kebenaran baginya. dan mengikuti jalan yang bukan jalan orang-orang mu’min, Kami biarkan ia leluasa terhadap kesesatan yang telah dikuasainya itu dan Kami masukkan ia kedalam Jahannam, dan itulah seburuk-buruk tempat kembali.” (QS. An-Nisaa’ : 115).

Note : artikel di atas telah dimuat dalam Labbaik edisi no.012/th.01/Safar-Rabi’ul Awwal 1426H/2005M

Iklan

2 Responses to Akibat Si Ulil …

  1. M. Abdullah Habib berkata:

    Ketika saya membaca surat tanpa judul di atas saya merasa kasihan dengan penulisnya. Alasan saya kasihan Pertama : Kalau dia mengada-ada betapa besar dosanya dia di sisi Tuhan karena telah menipu sekian banyak yang membaca. Kedua : Kalau memang dia jujur yang ditulis itu benar-benar isi hatinya, saya kasihan mengapa orang yang tidak mempunyai sandaran masih juga tidak mau belajar dengan baik.

    Saya berpendapat, bahwa semua agama adalah sama dengan catatan kita melihat dari persamaannya. Kasih sayang, menolong sesama, sopan dalam berbicara, memaafkan kesalahan orang lain adalah hal yang dipandang baik oleh setiap agama. Berdusta, mencuri, berbuat kezaliman, angkuh, sombang dan keras kepala tidak ada agama yang menganggap itu sebuah keutamaan.

    Disini kita temukan titik persamaan semua agama.

    Tetapi kalau dikatakan semua agama berbeda, itu juga tidak salah karena setiap agama memang mempunyai perbedaan antara satu dengan yang lain.

    Saya juga sependapat bahwa beragama adalah proses panjang dalam mencari kebenaran mutlak. Diantara manusia ada yang dari usahanya dalam pencarian semakin dekat dengan kebenaran, tetapi ada juga yang justru semakin jauh. Ibarat orangyang mencari sesuatu yang hilang disuatu tempat, kalau barang tersebut ada di sebelah kanannya dan ia pun mencari dengan pergi ke arah kanan maka dia akan semakin dekat dengan yang dia cari, tetapi kalau sebaliknya, justru dia akan semakin jauh.

    Kehidupan beragama orang sangat beragam motifnya, ada yang demi harta, kedudukan atau demi perempuan yang akan dia nikahi dan ada juga yang memang panggilan nurani untuk lebih dekat dengan Sang Pencipta. Dari keragaman motifasi inipun akan menghasilkan kesimpulan yang berbeda.

    Kepada penulis surat tanpa judul di atas, saya ingin bertanya apa motif anda menulis pertanyaan lewat surat di atas dan apa yang anda cari dalam hidup ini ?
    Saya bukan minta jawaban dengan kata-kata tetapi jawablah dengan nurani. Kalau jawaban nurani anda benar, mudah-mudahan anda akan memperoleh kebenaran dan ke depan anda akan semakin lebih baik.

    Semoga anda tidak bingung dan gelisah dan anda mendapatkian jawaban dari nurani anda yang dapat menentreamkan hati anda.

    Salam…!

  2. Wijhatul Haq berkata:

    si Ulil islam kampungan sangat mudah termakan volusi pemikiran sesat atau filsafat barat dia sebenarnya orang kosong aliyas blo’ong karena dipengaruhi oleh tradisi sebelimnya kultur Nu sangat benci dan sentimen terhadap wahabi aliyas salaf …saya memaklumi terhadap si Ulil dan bagi si Ulil pemikiran yang dia dapat itu sesuatu yang baru ,/kren trendy jadinya si Ulil kagum dan menirunya dengan gaya peyegaran islam kembali bahwa apa yang dikatakan si Ulil itu bukan sesuatu yang baru. baru bagi si Ulil tetapi bagi orang lain tu sesuatu sudah basi maklumlah dia latar belakang yang jumud …. dan saat ini dia di Jil masih senang2nya masih blum sadarkan diri nantinya klo udah sadar bisa2 tertawa seperti sahabat Umar ra ketika beliau ingat masa jahiliyah Tuhan Kue setelah disembah kemudian dimakan dan si Ulil lebih dari itu ….!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: