Virus Berbahaya Itu Bernama Televisi

Adzan Maghrib berkumandang dari menara-menara masjid di komplek perumahan BTN kawasan Tangerang. Adzan itu juga terdengar dari sejumlah stasiun televisi yang juga tak absen menyiarkan suara panggilan sholat Maghrib itu. Tapi toh, anak-anak yang sedang menonton tivi di sejumlah besar rumah di komplek itu tetap tak beranjak. Mereka asyik memelototi layar kaca tersebut. Sama sekali tak acuh dengan suara adzan.

Di rumah ibu Kukun (bukan nama sebenarnya), seorang warga komplek, pemandangannya juga tak jauh berbeda. Di ruang tengah rumah Bu Kukun tempat bertenggernya kotak ajaib bergambar itu, sejumlah pasang mata milik anak-anak, memelototi acara hiburan yang sedang ditayangkan. Saking hobi berat nonton tivi dan tak mau diganggu-gugat keasyikan mereka, channel suara Adzan pun buru-buru mereka ganti dengan chanel hiburan lainnya. Suara adzan bagi anak-anak usia TK dan SD tersebut, saat itu betul-betul jadi tidak menarik, bahkan mungkin buat mereka jadi menyebalkan. Pertanyaannya, salah siapa jika anak-anak itu jadi kesengsem berat dengan televisi ketimbang panggilan sholat? Jelas ini persoalan serius yang tidak bisa dipandang ringan. Jika anak-anak kita sudah demikian getolnya pada tivi , tentu saja sangat berbahaya. Masalahnya sampai saat ini, nyaris tidak ada acara yang disiarkan stasiun televisi, kacuali tayangan acara-acara yang jauh dari norma dan nilai-nilai agama.

Bu Kukun mengaku sulit untuk mengatasi anak-anak mereka dari hobi nonton tivi. Pasalnya, jika dimatikan ketika anak-anaknya sedang asyik nonton film kartun misalnya, pasti mereka akan menangis dan tidak mau makan, khususnya yang masih usia TK dan SD. Padahal saat itu adzan Maghrib sudah tiba. Sedangkan anak-anak yang lebih besar, jika tivi di rumah dimatikan, mereka pasti akan menonton ke rumah tetangga. Walhasil bu Kukun saat ini cenderung pasrah, membiarkan anak-anaknya menumpahkan hobinya. Baginya yang penting, tiga orang anaknya yang masih usia TK dan SD, tidak nangis dan tidak sulit makan. Ini barangkali kesalahan Bu Kukun. Ibu itu sejak semula, kerap memberi makan anak-anaknya menjelang adzan Maghrib, sembari disetelkan tivi. Kebiasaan makan sambil menonton tivi itu, akhirnya terus menjadi kebiasaan anak-anaknya sampai sekarang. Untuk melarang dari menonton tivi, Bu Kukun menghadapi kesulitan. Apalagi bapaknya anak-anak sering pulang malam, sehingga tidak bisa membantu menertibkan anak-anaknya menonton tivi.

Problematika Bu Kukun, boleh jadi menjadi fenomena keluarga-keluarga masa kini. Di mana stasiun televisi bertambah banyak, dengan sajian beragam acara, dari mulai tayangan film kartun, film-film syirik, joged erotis, video klip cabul, keke rasan ala “smack down”, hingga adegan film-film sadisme dan kebebasan seks. Sementara hobi anak-anak menonton televisi kian tak terkontrol. Atau mungkin sebagian besar keluarga modern di zaman kiwari ini, tidak menganggap muatan acara televisi saat ini sebagai masalah dan ancaman serius bagi anak-anak mereka? Tayangan-tayangan acara di televisi memang tidak bisa dianggap remeh. Apalagi fenomena pornografi telah meresap kuat dalam hampir setiap acara di sejumlah stasiun televisi. Sebut saja misalnya, progam MTV yang dulu cuma bisa dilihat dengan bantuan antena parabola. Kini masyarakat bisa dengan mudah melihatnya di Global TV. Sejak 1 April 2002, Global TV menggantikan posisi AN Teve menyiarkan full program MTV, suatu acara yang menampilkan lagu-lagu dan klip-video asing dan lokal. Celakanya, program itu sangat digandrungi kaum muda. Padahal bila disimak isinya sangat vulgar. Di dalamnya para pemirsa bisa melihat sebagian besar penyanyi asing dan lokal, dengan klip maupun syair-syair yang sama vulgarnya. Klip itu umumnya menampilkan penyanyi (khususnya penyanyi wanita) bergaya sensual, diiringi pendukung wanita-wanita berbusana sensual, dengan menampilkan adegan-adegan erotis.

Saat ini SCTV juga tengah disoroti lantaran menyajikan acara “Duel Maut”. Sebuah tayangan berpasangan dengan artis-artis dangdut. Artis-artis dangdut itu berlomba mengeksploitasi fantasi seks melalui goyangan dangdut “maut” mereka. Entah kenapa media massa, khususnya televisi, sampai saat ini begitu getol mengekspos dan mempopulerkan goyangan tak bermoral itu. Padahal korban akibat tayangan erotis sudah berjatuhan. Baru-baru ini di Jakarta, seorang remaja belasan tahun memperkosa anak kecil yang baru berusia 3 tahun. Ketika ditanya, apa yang menyebabkan dia bernafsu memperkosa korbannya? Si pelaku menjawab lantaran terbuai fantasi seks goyangan dangdut di tv. Kegawatan akibat tayangan erotisme di hampir seluruh stasiun televisi memang sangat mengkhawatirkan. Baru-baru ini Rhoma Irama, tokoh Raja Dangdut terkenal Indonesia mengatakan, dia akan mendatangi SCTV dan akan mendesak agar siaran Duel Maut di hentikan. Karena Rhoma meng anggap tayangan itu hanya untuk memenuhi selera rendah orang-orang yang bermoral bejad. Bahwa televisi telah menjadi orangtua asuh kedua bagi anak-anak, memang sulit dinafikan. Atau bahkan ia telah menjadi orangtua asuh pertama anak-anak kita? Na’udzu billah.

Jelas, gelombang perusakan moral lewat acara-acara televisi memang tidak bisa dibiarkan. Keluar kita harus melawannya secara simultan dan terus-menerus terhadap media massa (khususnya tv), dan ke dalam kita beri pengertian pada anak-anak kita. Jangan pernah bosan. Ini memang butuh kesabaran. Selain itu ajaklah anak-anak sekali-kali ke tempat-tempat lebih nyaman dan aman lahir batin, sebagai al ternatif hiburan mereka. Mereka juga harus sesering mungkin ditemani dan diajak berkomunikasi. Dan yang tak kalah penting, sering-seringlah anak-anak kita ajak ke masjid atau mulai memperkenalkan nuansa-nuansa islami. Wallahu a’lam.

http://www.eramoslem.com/ar/kg/34/6262,1,v.html

Asy Syawqu Ilaa Al-Jannah *)

Thabrani mentakhrijkan dari Ibnu ‘Umar ra. (yang maksudnya kurang lebih), dia berkata, ” Seorang laki-laki dari Habasyah datang kepada Rasulullah SAW. Maka berkatalah Rasulullah SAW, ‘bertanyalah dan pahamkanlah!’. Ia lalu berkata, ‘Ya Rasulullah! Engkau telah dimuliakan dari kami dengan rupamu, dengan keturunanmu, dengan kenabianmu. Apakah jika aku beriman dengan apa yang engkau telah beriman dan beramal dengan apa yang engkau telah amalkan apakah aku akan bersamamu di da lam Jannah?’. Berkata Rasulullah SAW, “Na’am, dan orang yang dirinya seperti ini (berkulit hitam) sesungguhnya dia terlihat putih di Jannah sejauh seribu tahun perjalanan”. Kemudian Rasulullah SAW berkata, “Barangsiapa mengucapkan laa ilaa ha illallaah, bersamanya janji Allah dan siapa yang mengucapkan Subhanallahi wa bihamdihi dituliskan baginya seratus duapuluh empat ribu (124.000) hasanah”. Maka laki-laki itu berkata, “Bagaimana keadaanku setelah ini ya Rasulullah?” Maka berkata Rasulullah SAW, “Sesungguhnya seorang lelaki mendatangi hari kiamat dengan amal …”. Kemudian dibacakan oleh Rasulullah SAW surah berikut yaitu surah Al-Insaan ayat 1 hingga ayat 20. Orang Habsyi itu bertanya lagi, “Dan apakah mata ini akan melihat apa yang akan engkau lihat di dalam Jannah?” Berkatalah Rasulullah, “Na’am”. Maka orang Habsyi itu menangis dan meninggal dunia (yakni keluarlah ruhnya)…(Tafsir Ibnu Katsir). Di dalam riwayat yang lain bersabda Rasulullah SAW terhadap lelaki habsyi tersebut, “Telah keluarlah ruh sahabatmu ini (saudaramu ini) dikarenakan Asy Syauqu ilaa Al-Jannah, rindukan jannah. (HR Ahmad).

*)Riwayat hadits selengkapnya pada kitab Hayatush Shahabah 3:80)

http://go.to/sahabatnabi

note : artikel di atas telah dimuat dalam Labbaik edisi no.007/th.01/Sya’ban 1425H/2004M

Iklan

One Response to Virus Berbahaya Itu Bernama Televisi

  1. kukuh berkata:

    maap blom bs kritik skarng soale buru2. blm sempet baca tp sekilas baca mantap juga ni tulisan.
    salam kenal

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: