Menebas Sekat Kejumudan

“Dan berpegangteguhlah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah dan janganlah bercerai-berai. Dan ingatlah akan nikmat Allah kepadamu ketika kamu dahulu (masa jahiliyah) bermusuh-musuhan, maka Allah menjinakkan antara hatimu, lalu menjadilah kamu karena nikmat Allah orang-orang yang bersaudara…” [QS.Ali ‘Imran : 103]

Suatu ketika Abdullah bin Abi Awfa bertutur kisah. Waktu itu, kata Ibnu Awfa, kami sedang berkumpul bersama Rasulullah SAW. Tiba-tiba beliau bersabda, “Janganlah duduk bersamaku hari ini orang yang memutuskan persaudaraan.” Segera seorang pemuda berdiri meninggalkan majlis Rasul. Rupanya sudah lama ia bertengkar dengan bibinya. la pergi untuk meminta maaf kepada bibinya dan sang bibi pun, tentu saja, memaafkannya. Setelah itu, barulah ia kembali lagi ke majlis.
Rasulullah kemudian bersabda lagi, “Sesungguhnya rahmat Allah tidak akan turun kepada suatu kaum yang disitu ada orang yang memutuskan persaudaraan.” [At-Tar ghib 3: 345]

Rasul yang mulia mengawali pendobrakan sekat-sekat tafarruq dari lingkup wahana terkecil dan terdekat. Betapa Allah dan Rasul-Nya jelas-jelas tidak menyukainya karena permusuhan, tidak bisa tidak, adalah remah-remah sisa jahiliyah. Sebaliknya, ukhuwwah, persaudaraan, merupakan bukti kongkrit kemuliaan dan keluhuran Islam sebagai rahmatan lil ‘aalamiin. Ketika Rasulullah SAW bersabda, “Innamaa bu’itstu li utammimaa makaarimal akhlaaq”, maka sebenarya beliau tahu persis bahwa kunci dari terjauhkannya umat dari permusuhan dan ternikmatinya kelezatan persaudaraan adalah kemuliaan akhlak. Kemuliaan akhlak letaknya di dalam relung qalbu yang bersih dan bening laksana cermin, tanpa noda setitik pun. Dari sana, ia lalu menyemburat ke seluruh jasad, akal pikiran, dan perilaku.
Aneka buah pikirannya, sesederhana apa pun, adalah buah pikiran yang sekuat-kuatnya dicurahkan bagi terpecahkan dan teringankannya masalah-masalah yang menggelayut pada dirinya sendiri maupun orang-orang di sekelilingnya, sehingga berdialog dengannya selalu membuahkan kelapangan. Tatapan matanya adalah tatapan bijak bestari, sehingga siapapun niscaya akan merasakan kesejukan dan ketenteraman. Wajahnya adalah cahaya cemerlang yang sedap dipandang lagi mengesankan karena menyemburatkan kejujuran itikad. Sementara senyum yang tak pernah lekang menghias bibirnya adalah shadaqah yang jauh lebih mahal nilainya daripada intan mutiara. Tak akan pernah terucap dari lisannya, kecuali untaian kata-kata yang penuh hikmah, menyejukkan, membangkitkan keinsyafan, dan meringankan beban derita siapa pun yang mendengarkannya. Jabat tangannya yang hangat adalah jabat tangan yang mempertautkan seerat-eratnya dua hati dan dua jiwa, yang tiada terlepas, kecuali diawali dan diakhiri dengan ucapan salam. Kedua tangannya selalu terlalu mudah untuk terulur bagi siapapun yang membutuhkannya. Sementara bimbingan kedua tangannya, tidak bisa tidak, selalu akan bermuara di majlis-majlis yang diberkahi Allah Azza wa Jalla.

Adakah itu semua dapat kita rasakan dari orang yang tidak memiliki kemuliaan akhlak? Tentu saja sama sekali tidak! Kemuliaan akhlak tidak akan pernah berpadu dengan hati yang penuh iri, dengki, ujub, riya, dan takabur. Di dalam qalbu yang kusam dan busuk inilah justru tersimpan benih-benih tafarruq yang mengejawantah dalam aneka bentuk permusuhan dan kebencian terhadap sesama muslim. Dengan demikian, bila ada dua bangsa yang berperang, maka sekurang-kurangnya salah satunya adalah sekumpulan manusia bejat akhlak, tamak, dan terbius oleh nafsu ingin melemahkan pihak yang lain. Bila dua suku berseteru, sekurang-kurangnya salah satunya bermental rendah dan hina, karena (mungkin) merasa sukunya lebih tinggi derajat kemuliaannya. Bila dua keluarga tak bertegur sapa, sekurang-kurangnya salah satunya telah terselimuti hawa nafsu, sehingga menganggap permusuhan adalah satu-satunya langkah yang bisa menyelesaikan masalah.

Selanjutnya, tanyakanlah kepada diri masing-masing. Adakah kita saat ini tengah merasa tidak enak hati terhadap adik, kakak, atau bahkan ayah dan ibu sendiri? Adakah kita saat ini masih menyimpan kesal kepada teman sekantor karena ia lebih diperhatikan oleh atasan? Adakah hingga saat ini masih meletup-meletup keinginan membalas rasa sakit hati kepada ternan sepengajian hanya karena kalah cepat dalam menggamit perhatian seorang akhwat, misalnya? Adakah kita masih merasakan berat shalat di samping ternan hanya karena kebetulan ia NU, Persis, Muhammadi yah, atau Arqam?
Nah, dari sinilah seyogyanya memulai langkah untuk merenungkan dan mengkaji ulang sejauh mana kita telah memahami makna ukhuwwah Islamiyah. Karena, justeru dari sini pula Rasulullah SAW dahulu mengawali mengemban amanah kerasulannya. Betapa Rasul menyadari bahwa menyempurnakan akhlak pada hakikatnya adalah merubah karakter dasar manusia. Karakter akan berubah seiring munculnya kesadaran setiap orang akan jatidirinya. Maka, menumbuh suburkan kesadaran adalah jihad karena kesadaran merupakan sebutir mutiara yang hilang tersaputi berlapis-lapis hawa nafsu. Manakala kesadaran telah tersemai, maka jangan heran kalau Umar bin Khaththab yang pemberang adalah manusia paling pemaaf kepada musuhnya yang telah menyerah di medan perang. Seorang sahabat menempelkan pipinya di tanah dan minta diinjak kepalanya oleh sahabat bekas budak hitam yang telah dihinanya. Para sahabat yang berhijrah bersama Rasul ke Madinah, dipertautkan dalam tali persaudaraan yang indah dengan kaum Anshar, sementara kaum Muslimin Madinah ini rela berbagi tanah dan tempat tinggal dengan saudara-saudaranya seiman seaqidah tersebut.

Demi agar semakin tersemainya ruh ukhuwwah, Rasul pun pernah bertanya kepada para sahabatnya, “Maukah kalian aku tunjukkan amal yang lebih besar pahalanya dari pada shalat dan shaum?” . “Tentu saja!” sambut para sahabat. Rasul kemudian menjelaskan, “Engkau damaikan yang bertengkar, menyambungkan persaudaraan yang terputus, mempertemukan kembali saudara-saudara yang terpisah, menjembatani berbagai kelompok dalam Islam, dan mengukuhkan ukhuwwah di antara mereka, (semua itu) adalah amal shaleh yang besar pahalanya. Barangsiapa yang ingin dipanjangkan usianya dan dibanyakkan rizkinya, hendaklah ia menyambungkan tali persaudaraan.” [H.R. Bukhari-Muslim].

Lalu, bagaimanakah agar ruh ukhuwwah tetap kokoh, agar firqah-firqah yang terpecah-belah dengan ikhlash kembali berjalin berkelindan? Allah, satu-satunya Dzat Pemilik sifat Rahman dan Rahim, bukankah telah memberikan pedoman? Firman-Nya, “Hai orang-orang yang beriman, janganlah suatu kaum memperolok-olokkan kaum yang lain (karena) boleh jadi mereka (yang diperolok-olokkan itu) lebih baik daripada mereka (yang memperolok-olokkannya). Janganlah pula wanita-wanita (memperolok- olokkan) wanita-wanita lain (karena) boleh jadi wanita-wanita (yang diperolok-olokkan itu) lebih baik daripada wanita (yang memperolok-olokkannya). Janganlah kamu mencela dirimu sendiri dan janganlah kamu panggil-memanggil dengan gelar-gelar yang buruk. Seburuk-buruk panggilan adalah (panggilan) yang buruk sesudah iman. Dan barangsiapa yang tidak bertaubat, maka mereka itulah orang-orang yang zhalim. Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan dari prasangka (karena) sesungguhnya sebagian dari prasangka itu adalah dosa. Dan janganlah kamu mencari-cari kesalahan orang lain dan janganlah sebagian kamu menggunjing sebagian yang lain. Sukakah salah seorang di antara kamu memakan daging saudaranya yang sudah mati? Maka, tentulah kamu merasa jijik terhadapnya. Dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Penerima taubat lagi maha Penyayang.” [Q.S. Al-Hujuraat (49): 11-12J].

Rahasianya ternyata terletak pada sejauh mana kita mampu bersungguh-sungguh menata kesadaran untuk memiliki qalbu yang bening bersih dan selamat. Karena, qalbu yang kotor dipenuhi sifat iri, dengki, hasud, dan buruk sangka hampir dapat di pastikan akan membuat pemiliknya melakukan perbuatan-perbuatan tercela sebagaimana yang dilarang Allah melalui ayat tersebut. Bila di antara sesama muslim saja sudah saling berburuk sangka, saling iri, dan saling mendengki, maka bagaimana akan tumbuh nilai-nilai persaudaraan yang indah? Bukankah bagi dua orang yang me rasa ada masalah di antara keduanya, untuk bertemu saja – secara tidak sengaja sekalipun – merupakan beban batin yang amat berat? Bertemu di kantor, membuat kantor yang luas dan nyaman pun serta-merta terasa berubah menjadi sempit dan menyesakkan dada. Bertemu di masjid pun, membuat hati jadi tidak nyaman dan shalat pun menjadi tidak khusyuk.

Bila demikian halnya, bagaimana bisa terketuk hati ini ketika mendengar ada seorang muslim yang teraniaya, ada sekelompok masyarakat muslim yang diperangi? Bagaimana mungkin kita mampu bangkit serentak manakala hak-hak muslim dirampas oleh kaum yang zhalim? Bagaimana mungkin kita akan mampu menata kembali puing-puing kejayaan umat Islam yang saat ini mewujud dalam ketertinggalan di berbagai bidang dibandingkan kaum kafir, dalam ketakberdayaan kekuatan kita dari kedigdayaan politik, ekonomi, militer, dan ilmu pengetahuan kaum yang jauh dari kebenaran ilahiyah? Umat Islam, dengan demikian, harus segera memanfaatkan momentum hijriyah ini dengan berhijrah dari keberpecahbelahan menuju ukhuwwah Islamiyah, seraya menepis remah-remah jahiliyah dari hati ini. Memiliki qalbu yang bersih dan selamat harus di atas segala-galanya agar kita mampu mengevaluasi diri dengan sebaik-baiknya dan menatap jauh ke depan agar Islam benar-benar dapat termanifestasikan menjadi rahmatan lil ‘aalamiin dan umat pemeluknya benar-benar menjadi khairu ummah yang diturunkan di tengah-tengah manusia.

Nah, sampai di manakah nilai-nilai ukhuwwah Islamiyah telah kita semburatkan? Atau, kita memang masih membutuhkan seorang Salman Rushdie, Arswendo, atau Permadi, untuk sekedar jadi trigger (pemicu) bagi terbangkitkannya kembali “emosi ukhuwwah” di antara kita? – (oleh : KH. Abdullah Gymnastiar, PondokPesantren Daarut Tauhid, bisa di hubungi melalui gymnastiar@hotmail.com)

Dari Adiy bin Hatim r.a. berkata: Rasulullah saw bersabda, “Tiadalah seseorang dari kamu melainkan akan berhadapan dan ditanya oleh Tuhan tanpa ada antaranya dengan Tuhan seorang juru bahasa. Maka ia melihat ke sebelah kanannya tiada sesuatu pun kecuali amal perbuatannya yang baik-baik dan ia melihat ke sebelah ki ri juga tidak melihat sesuatu pun kecuali amal perbuatannya yang buruk dan ia melihat ke depannya maka tidak terlihat kecuali api yang di hadapannya. Maka jagalah dirimu dari api neraka walau dengan bersedekah separuh biji kurma.” (Bukhari – Muslim)

‘Aisyah r.a. berkata: Rasulullah saw bersabda, “Manusia akan dihimpun pada hari kiamat dalam keadaan tidak beralas kaki, telanjang dan masih kulup (belum berkhitan).” ‘Aisyah bertanya, “Ya Rasulullah, apakah lelaki dan perempuan akan berkumpul dan masing-masing akan melihat kepada yang lainnya?” Nabi saw menjawab, “‘Aisyah, suasana pada hari itu jauh lebih berat dari sekadar sebagiannya mereka memperhatikan sebagian yang lain.” (Bukhari – Muslim)

note : artikel di atas telah dimuat dalam Labbaik edisi no.006/th.01/Rajab 1425H/2004M

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: