Benarkah roh bergentayangan ?

Alhikmah.com – Kita mengetahui tubuh terdiri jasad fisik dan roh. Setelah meninggal jasad fisik dikubur untuk kembali ke bahan dasarnya, yaitu tanah. Sedangkan, roh kita meninggalkan jasad untuk memasuki alam kubur untuk beristrirahat sementara sebelum kiamat. Nah, apakah definisi roh, cara kerja roh, bagaimana roh kembali ke Allah dan dimana roh berada belum ada yang bisa men jawab. Wajar, karena mekanisme roh itu hanya urusan Allah Azza Wa Jalla.Tetapi, masyarakat sering dibuat geger dengan kasus roh atau arwah penasaran yang bergentayangan akibat kematian tidak wajar. Kemunculan kuntilanak yang diinterprestasikan akibat wanita hamil yang meninggal tidak wajar. Atau pocong yang bergentayangan karena lupa melepas tali pocong mayat. Semua itu, menunjukkan sangkaan, bahwa roh atau arwah yang penasaran yang tidak di terima oleh Allah SWT.

Benarkah sangkaan itu ? Arwah secara etimologi adalah bentuk jamak dari roh. Roh secara terminologi adalah makhluk Allah yang diciptakan Allah. Roh adalah unsur terpenting pada manusia setelah jasab sebagai sumber penggerak kehidupan. Dengan roh manusia bisa hidup beraktivitas di dunia dan tanpa roh manusia meninggalkan aktivitas dunia menuju alam kubur. Roh ini merupakan suatu subtansial yang mempunyai kesadaran terhadap dirinya dan lingkunganya karenanya, ketika roh itu ditiupkan Allah ke janin seorang anak dalam kandungan ibunya ia mampu berbicara di hadapan Allah SWT. Hal ini disebutkan dalam Al Qur’an. ‘Maka apabila Aku telah menyempurnakan kejadiannya, dan telah meniupkan ke dalamnya roh-Ku….’ (QS:al-Hijr:29). ‘Dan (ingatlah) ketika Tuhanmu mengeluarkan keturunan anak-anak Adam dari sulbi mereka dan Allah mengambil kesaksian terhadap jiwa mereka (seraya berfirman), ‘bukanlah Aku tuhanmu ?’ mereka menjawab, ‘betul (Engkau tuhan kami), kami menjadi saksi…’ (QS:al-A’raaf:172)

Roh merupakan sumber energi kehidupan jasad manusia. Jika roh bersatu dengan jasad, maka jasad menjadi hidup. Apabila roh meninggalkan jasad, maka jasad itu akan mati. Roh merupakan benar-benar rahasia Allah SWT yang hanya sedikit manusia diberikan pengetahuanya. Iman Ghozali dalam kitab Ihya ‘Ulumuddin menerangkan tentang roh: ‘roh mempunyai dua pengertian: roh itu adalah bagian dari jasad manusia, yaitu suatu zat yang sangat halus yang bersumber dalam ruangan hati (jantung), menjadi pusat dari semua aliran pembuluh darah yang menyebar ke seluruh bagian tubuh manusia. Karenanya manusia dapat hidup dan bergerak, dapat merasakan berbagai perasaan, dengan mata dapat melihat, dengan telinga dapat mendengar, dan dengan hidung dapat mencium, dan dengan otak dapat berpikir. Adapun roh pengertian kedua inilah, manusia dapat mengenal dirinya dan penciptanya, dapat mecapai berbagai ilmu pengetahuan, dapat berprikemanusian, berakhlaq baik, berbeda dengan binatang. Roh ini dapat menerima perintah dan larangan dari Allah dan bertanggung jawab atas gerak-gerik, tingkah laku dan perbuatannya. Ia menjadi pusat segala aktivitas manusia.’ Iman al-Ghozali berpesan kepada ummat Islam bahwa hakikat roh itu tidak akan pernah diketahui manusia dan tidak dapat diukur dengan apapun serta tidak dapat dianalisis dengan akal pikiran manusia. Roh adalah hidup selama ada kehidupan dan tidak bergantung pada ruang dan waktu, bahkan tanpa ruang pun roh tetap ada dan tetap hidup.

Keadaan dan hakikat roh tidak dapat diketahui dan dipelajari oleh siapa pun, sekalipun para nabi dan para rasul. Roh merupakan perkara ghaib yang tidak akan pernah dilihat bentuknya oleh manusia. Allah menyatakan dalam firman-Nya tentang perkara ghaib. ‘Katakanlah, tidak ada seorang pun dilangit dan di bumi yang mengetahui perkara ghaib kecuali Allah…..'(QS:an-Naml:65).

Banyak dukun dan paranormal yang memberikan informasi mengenai roh kepada masyarakat dalam berbagai kasus, seperti: kesurupan; ‘wah, ini kesurupan roh A karena begini-begitu..’ dan ‘wadagnya cocok dengan karuhunnya sehingga ditinggalin karuhun’, memanggil roh siliwangi, brawijaya, sunan kalijaga dll. Maupun mereka mengaku bisa melihat dan berdialog dengan roh manusia yang meninggal untuk meminta nasihat.

Marilah kita kembalikan masalah benar tidaknya roh bisa dilihat, dipanggil, dan bergentayangan di dunia fana. Islam akan membawa kita menemukan beberapa pengetahuan mengenai keadaan roh manusia. Allah SWT mengisyaratkannya mengenai roh ini: ‘dan mereka bertanya kepadamu (Muhammad) tentang roh. Katakanlah, ‘Roh itu termasuk urusan Tuhanku (Allah), dan tidaklah kamu diberi pengetatahuan melainkan sedikit.’ (QS:al-Israa’:85)

Roh manusia adalah sesuatu yang berada pada perkara gaib yang tidak seorangpun manusia termasuk Nabi Muhammad SAW mengetahui pasti bentuk dan bagian mana kehidupan roh. Ia masih hidup tanpa bergantung pada sesuatu yang bersifat materi. Abdullah r.a berkata, ‘pada suatu ketika, aku berjalan-jalan bersama Nabi Muhammad SAW, di sebidang kebun. Beliau bertongkat pelepah kurma. Tiba-tiba lewat serombongan orang-orang yahudi. Setengah dari mereka berkata kepada yang lain, ‘tanyakanlah kepadanya ( Nabi Muhammad SAW) masalah roh ?’. Kata yang lain ,’tidak ada faedahnya ditanyakan kepadanya, niscaya jawabannya akan menjengkelkanmu.’ Kata yang lain pula, ‘tanya sajalah’ . Selanjutnya, datanglah sebagian mereka kepada Nabi Muhammad SAW menanyakan perihal roh. (setelah mendengar pertanyaan mereka) rasulullah diam, tidak langsung menjawab. Aku tahu, ketika itu Rasulullah Muhammad SAW sedang mendapat wahyu. Karena itu, aku tetap saja ditempatku. Setelah wahyu selesai turun. Nabi muhammad membaca ayat: ‘dan mereka bertanya kepadamu (Muhammad) tentang roh. Katakanlah, ‘roh itu urusan Tuhanku (Allah) dan tidaklah kamu diberi pengetahuan melainkan sedikit.’ (QS:al-Israa’:85). Namun definisi ‘tidaklah kamu diberi pengetahuan melainkan sedikit’ tidak berarti sebagian orang tertentu bisa berkomunikasi dengan roh. Tetapi, keadaan roh manusia setelah meninggal banyak diterangkan oleh ajaran Islam dengan sumber Al Qur’an dan Al Hadist.

Rasulullah Muhammad SAW menggolongkan roh-roh manusia yang sudah meninggal menjadi dua golongan. Diterangkan dalam hadist shahih yang di ri wayatkan oleh Imam Muslim dari Abu Hurairah ra, ‘apabila roh orang-orang mukmin keluar dari tubuh, dua orang malaikat menyambutnya dan menaikkan ke langit. Kata penduduk langit, ‘roh yang baik datang dari bumi shallallahu ‘alaika dan kepada tubuh tempat engkau bersemayam.’ Roh itu lalu dibawa ke hadapan Allah Azza Wa Jalla. Allah lalu berfirman, ‘bawalah dia ke sidratul muntaha dan biarkanlah disana hingga hari kiamat.’ Kata Hammad, ‘selanjutnya, apabila roh orang-orang kafir keluar dari tubuhnya, ia berbau busuk dan mendapat makian. Berkata penduduk langit, ‘roh jahat datang dari bumi.’ Diperintahkanlah (oleh Allah), ‘bawalah dia ke penjara dan biarkan di sana hingga hari kiamat.’ Anas bin Malik r.a, Nabi Muhammad SAW bersabda, ‘apabila seorang hamba telah di letakkan dalam kuburnya dan para sahabat yang mengantar telah pulang, sesungguhnya dia mendengar bunyi terompah mereka. Ketika itu, datanglah kepadanya dua malaikat dan mendudukkanya. Keduanya lalu bertanya, ‘tahukah kamu, siapa laki-laki ini ? ‘ kalau mayat itu mayat seorang mukmin, dia menjawab, ‘aku menjadi saksi bahwa dia itu seorang hamba Allah dan rasul Allah.’ Dikatakan kepadanya, ‘lihat lah tempatmu sedianya di neraka, tetapi Allah ta’ala telah menggantikannya dengan tempat di surga, selanjutnya, diperlihatkan tempat itu kedua-duanya.’

Pada saat ini, banyak tersebar berita keahlian seseorang yang memiliki kemampuan memanggil dan memasukkan roh ke tubuh seseorang. Mereka pun membuktikannya di berbagai media dan kesempatan tentang keahliannya tersebut. Di antara sebagian masyarakat banyak yang menpercayainya dan ikut menyebarkan berita keahlian itu. Benarkah roh orang meninggal bisa hadir di dunia fana dan menyusup ke tubuh manusia. Kita lihat arti dan makna hadist-hadist diatas yang mengisyaratkan roh manusia yang sudah meninggal tidak dapat kembali ke jasadnya sendiri ataupun ke jasad orang lain. Rasulullah Muhammad SAW pernah menanyai roh-roh orang kafir yang mati dalam perang Badar. Sebagaimana yang diriwayatkan dari Anas Bin Malik r.a, ‘Rasulullah Muhammad SAW pergi ke tempat-tempat bekas pertempuran di Badar setelah tiga hari perang usai. Rasulullah Muhammad SAW mendatangi pula tempat-tempat musuh yang terbunuh dan memanggil mereka. Rasulullah Muhammad SAW berkata ‘hai Abu Jahal bin Hisyam, hai Ummayah bin Khalaf, hai Utbah bin Rabi’ah, hai Syaibah bin Rabi’ah! Bukankah kalian telah merasakan apa yang dijanjikan Tuhanmu sungguh-sungguh terjadi ? Aku sendiri menyaksikan apa yang dijanjikan Tukanku sungguh-sungguh terjadi.’ Ucapan Nabi Muhammad SAW tersebut terdengar oleh Umar, lalu ia bertanya, ‘ya Rasulullah Muhammad SAW bagaimana mungkin mereka dapat mendengar dan menjawab, padahal mereka telah menjadi bangkai ?’. Nabi Muhammad SAW menjawab, ‘demi Allah yang jiwaku dalam kuasa Allah, pendengaranmu tidak setajam pendengaran mereka. Hanya saja mereka tidak dapat menjawab.’ Nabi Muhammad SAW memerintahkan supaya mayat-mayat musuh itu dikumpulkan lalu di lemparkan ke telaga Badar.’ Hadist tersebut telah menunjukkan kepada kita bahwa kondisi roh orang yang sudah meninggal dapat mendengar apa yang kita ucapkan, tetapi roh-roh tersebut tidak dapat berbicara lagi. Apalagi roh-roh itu dapat bergentayangan di dunia dan menyusup ke tubuh. Hal ini dipertegas dengan firman Allah; ‘mengapa ketika nyawa sampai dikerongkongan, padahal ketika itu kamu melihat dan kami lebih dekat lagi kepadanya daripada kamu. Namun kamu tidak melihat. Maka mengapa jika kamu tidak dikuasai (oleh Allah) kamu tidak mengembalikan nyawa itu (kembali ke raganya) jika kamu adalah orang-orang yang benar ?’ (QS:al-Waaqi’ah:83-87).

Realita roh tidak bisa dipanggil dan bergentayangan yang dijelaskan Al Qur’an dan Al Hadist. sebagian dukun dan paranormal yang mengaku bisa berkomunikasi dengan roh dan fenomena sebagian orang yang mengaku melihat keberadaan dan pemunculan roh-roh manusia bergentanyangan. Apakah yang mereka panggil dan saksikan itu ? Mereka adalah orang yang tertipu oleh tipu daya jin dan jin telah membuat mereka merasa bahwa keahlian mereka merupakan ‘mukjizat’ atau ‘karomah’ dari Allah. Jin itu sengaja melakukannya dengan tujuan untuk menjerumuskannya dan menyesatkan manusia dari jalan Allah. Tidak ada roh manapun yang memiliki wewenang dari Allah yang dapat dipanggil dan berkomunikasi tentang perkara – perkara ghaib dengan manusia yang ternyata banyak salah daripada benarnya, seperti: ramalan kiamat 1999, ramalan ratu adil dan satria piningit, ramalan jangka jayabaya, dll. Apabila terjadi rentetan peristiwa yang membenarkan ramalan itu hanyalah sebuah kebetulan-kebetulan yang berasal dari Allah SWT.

Banyak orang yang menjadikan rentetan peristiwa itu sebagai alasan pembenaran ramalan- ramalan. Padahal semua itu hanyalah perbuatan jin yang menipu ummat manusia. Ummat Islam harus memiliki pengetahuan yang cukup untuk mengkaji dan memahami fenomena jin dan roh supaya tidak terjadi supaya tidak terjadi kerancuan roh itu mampu bergentayangan. Apa bila anda mempercayai dan menyakini roh itu bergentayangan bisa mengelincirkan akidah Islam anda menuju ke arah bid’ah, khurafat dan musyrik. Maha Suci Alloh, yang Maha mengetahui hal gaib, dan tidak akan memperlihatkan kegaiban tersebut kecuali kepada orang-orang yang diridhoi-Nya dari sebagian Rasul…..(dikutip dari Surat Jin) .

http://alhikmah.com/contents.php?id=454

Tanda-Tanda Ajal Mendekat

Ada seorang hamba yang begitu taat kepada Tuhan. Sebut saja namanya Fulan. Dia sangat rajin beribadah. Pendeknya, Fulan ini tak pernah lalai sekalipun kepada Allah SWT. Suatu hari ada yang bertamu ke rumah Fulan. Betapa kaget Fulan ketika mengetahui siapa gerangan yang datang bertamu. Tamu itu ternyata Izrail, malaikat pencabut nyawa. Terjadilah tanya jawab antara Fulan dengan tamunya itu. “Wahai sahabatku, Izrail ! Apa maksud kedatanganmu kemari adalah atas perintah Allah untuk mencabut nyawaku, ataukah hanya kunjungan biasa ?”. “Ya, Fulan sahabatku ! Kedatanganku kali ini tidak dalam rangka mencabut nyawamu. Kedatanganku ini hanya kunjungan biasa. Kunjungan seorang sahabat kepada sahabatnya. “Mendengar penjelasan Izrail, maka seketika bersinarlah wajah Fulan karena gembiranya. Mereka lalu bercakap-cakap sampai tiba saatnya Izrail akan pamit. “Wahai sahabatku, Izrail ! Sebagai tanda persahabatan kita, aku ada harapan kepadamu semoga kau tidak berkeberatan untuk mengabulkannya.”. “Apa gerangan permohonanmu itu, hai Fulan sahabatku ?”. “Begini, ya Izrail. Jika nanti kau datang lagi kepadaku dengan maksud untuk mencabut nyawaku, maka mohon kiranya engkau mau mengirimkan seorang utusan kepadaku terlebih dahulu. Jika demikian, maka aku ada waktu untuk bersiap-siap menyambut kedatanganmu.”. “Oh, begitu ? Hai, Fulan, kalau hanya itu permohonanmu, aku kabulkan. Aku berjanji akan mengirimkan utusan itu kepadamu.” Gembiralah Fulan menerima janji Izrail. Rupanya Izrail ini berbaik hati mau mengabulkan harapanku, demikian pikir Fulan.

Demikian kisahnya, waktu pun berjalan. Tahun berganti tahun. Tak terasa bahwa pertemuan antara Fulan dengan Izrail telah sekian lama berlalu. Kehidupan berlangsung terus sampai suatu ketika Fulan kaget sekali. Tak disangka-sangka sebelumnya Izrail muncul di rumahnya. Fulan merasa bahwa kedatangan Izrail ini begitu mendadak, padahal ada komitmen janji Izrail dengannya. “Wahai, Izrail sahabatku ! Mengapa engkau tak mengirimkan utusanmu kepadaku ? Mengapa engkau ingkar janji ?” , kata Fulan. Dengan tersenyum, Izrail menjawab, “Wahai Fulan, sahabatku ! Sesungguhnya aku sudah mengirimkan utusanku itu kepadamu, hanya kamu sendiri yang mungkin tidak menyadarinya. Coba perhatikan punggungmu, dulu ia tegak tetapi sekarang bungkuk. Perhatikan caramu berjalan, dulu kamu begitu tegap perkasa, sekarang gemetaran dengan ditopang tongkat. Perhatikan penglihatanmu, dulu ia bersinar sehingga orang luluh kena sorotnya tetapi sekarang kabur dan lemah. Ya, Fulan, bukankah pikiran-pikiranmu sekarang mudah putus asa padahal ia dulu begitu enerjik dan penuh berbagai harapan ? Tempo hari kamu hanya menginginkan seorang utusan saja dariku, tetapi aku telah mengirimkan begitu banyak utusanku kepadamu………….”

(Sumber: Mutiara Hikmah dalam 1001 Kisah, Poliyama Widya Pustaka)

http://www.ikhtiaronline.com/km/detail.php?id=467

Note : artikel di atas telah dimuat dalam Labbaik edisi : 003/th.01/rabi’ul akhir 1424H/2004M

Iklan

One Response to Benarkah roh bergentayangan ?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: