Melepas Orang Mati

Sebaik-baik manusia menurut rasulullah saw ialah orang yang panjang umurnya dan baik perbuatannya. Sedang sejelek-jelek manusia ialah orang yang panjang umurnya tetapi jelek perbuatannya.

Seorang lelaki datang dan bertanya kepada rasulullah saw :
”Ya rasulullah, manusia yang mana yang paling ?”. Rasulullah saw menjawab :”Ialah orang yang panjang umurnya dan baik perbuatannya”. Lalu orang itu bertanya lagi :”Ya rasulullah, dan siapa pula yang jelek ?”. Rasulullah menjawab :”Ialah orang panjang umurnya, tetapi jelek perbuatannya”. (HR.Ahmad dan Turmudzi, hadits hasan shahih)

Perbuatan dan keadaan seseorang di akhir umurnya sangat menentukan apa oraang itu termasuk orang yang baik, berbahagia atau tidak. Rasulullah saw bersabda :”Bila Allah menghendaki seseorang menjadi baik, Allah jadikan ia orang beramal”. Lalu (sahabat) bertanya :”Bagaimana caranya ya rasulullah ?”. Rasulullah menjawab :”Digiatkan Allah ia melakukan pekerjaan-pekerjaan yang baik sebelum mati, lalu Allah cabut nyawanya dalam keadaan demikian itu”. (HR.Ahmad, Turmudzi, Hakim dan Ibnu Hiban). Orang demikian itulah yang dinamakan orang yang mendapat khusnul khotimah, yaitu orang yang baik akhir hidupnya, sekali pun sebelumnya orang itu tidak begitu baik.
Lawannya ialah orang yang su’ul khotimah, yaitu orang yang akhir hidupnya tidak baik, sekali pun sebelumnya ia adalah orang baik. Rasulullah menganjurkan agar kita sering berdo’a, minta agar hidup kita diakhiri dengan khusnul khotimah.

Tiga malam sebelum rasulullah saw wafat, beliau menasehatkan dengan sabdanya : ”Janganlah mati seseorang dari kamu, kecuali dalam keadaan berbaik sangka terhadap Allah”. Keadaan yang sebaik-baiknya bagi seseorang yang menghadapi maut ialah bila dia dalam keadaaan berbaik sangka terhadap Allah, yaitu dengan penuh harapan kepada Allah, harapan yang Allah akan mengampuni dosanya, harapan yang Allah akan menyediakan tempat bahagia baginya, harapan yang ia dalam keadaan penuh iman dan taqwa terhadap Allah. Harapan yang demikian itu hanya dapat dicapai bagi orang yang menghadapi mati, bila dia benar-benar sudah bertaubat dan minta ampun atas segala dosa dan kesalahannya, taubat dan minta ampun yang sebenar-benarnya.

Pernah rasulullah menghadiri seorang pemuda dalam menghadapi maut. Rasulullah bertanya kepadanya :”Bagaimana keadaanmu ?”. Pemuda itu menjawab :”Aku berharap akan Allah dan aku takuti akan dosa-dosaku”. Mendengar jawaban itu rasulullah lalu berkata kepadanya :”Bila sudah bertemu dua perasaan tadi (perasaan harap dan takut) pada hati seorang hamba yang sedang menghadapi suasana ini (dekat mati), pasti Allah akan memberi apa yang ia harapkan itu. Dan Allah akan mengamankannya dari apa yang ia takuti”. (HR.Ibnu Majah dan Turmudzi dengan sanad baik).

Dua perasaan itu tidak akan tumbuh dikala menghadapi mati, kecuali bila orang yang akan mati itu benar-benar iman dan taqwa, cukup amal kebajikan dalam hidupnya, benar-benar sudah taubat dan minta ampun atas segala dosa dan kesalahannya.
Sebaliknya, orang yang tidak iman, tidak taqwa, tidak melakukan kebajikan, malah penuh dosa dan kesombongan, tidak mungkin dia mempunyai rasa harap kepada Allah di saat menghadapi maut itu. Malah semua dosa dan kesombongan itu akan menjadi ‘hantu’ yang datang menakut-nakutinya dalam keadaan seperti itu.
Ingat ayat Allah dalam surat Al Qiyamah 26:36 :”Ingatlah bila roh sudah sampai di kerongkongan. Dan ditanyakan ‘siapakah yang dapat menyembuhkan ?’. Yakinlah ia bahwa perpisahan (mati) sudah dekat. Berbelitlah kepayahan demi kepayahan. Kepada Tuhanmu hari itu engkau akan kembali. Padahal ia tidak membenarkan ajaran Allah dan tidak sembahyang. Malah senantiasa mendustakan dan berpaling. Lalu kembali mendapatkan keluarganya berlenggang sombong. Celakalah engkau dan celaka. Celakalah engkau dan celaka”. Demikianlah ajaran-ajaran Allah dan rasul-Nya bagi orang yang akan meningggal dunia.
Wallahu A’lam bishshowab.

(diketik ulang dari buku “Hidup Sesudah Mati”, KH.Bey Arifin, penerbit Kinanda,cetakan ke 15, 1998, hal : 87 – 91)

catatan : artikel di atas telah dimuat dalam Labbaik, edisi : 019/th.02/DzulQoidah-Dzulhijjah/1426H/2006M

Iklan

6 Responses to Melepas Orang Mati

  1. Leed berkata:

    menurut anda, apakah cara/kejadian meninggalnya seseorang mencerminkan khusnul khatimahnya seseorang? misalnya melalui sakit, tiba2 atau kecelakaan.

  2. labbaik berkata:

    Tanda-tanda Khusnul Khotimah

    Setiap hamba Allah yang berjalan diatas manhajnya yang lurus yang berusaha meneladani kehidupan Rasulullah dan para sahabatnya ajmain tentu sangat mengharapkan akhir kesudahan yang baik. Allah telah menetapkan tanda-tandanya, diantara tanda-tanda itu adalah :

    1. Mengucapkan kalimah syahadat ketika wafat
    Rasulullah bersabda :”barangsiapa yang pada akhir kalimatnya mengucapkan “La ilaaha illallah” maka ia dimasukkan ke dalam surga” (HR. Hakim)

    2. Saat wafat dahinya berkeringat
    Ini berdasarkan hadits dari Buraidah Ibnul Khasib. Adalah Buraidah dahulu ketika di Khurasan, menengok saudaranya yang tengah sakit, namun didapatinya ia telah wafat, dan terlihat pada jidatnya berkeringat, kemudian ia berkata,”Allahu Akbar, sungguh aku telah mendengar Rasulullah bersabda: Matinya seorang mukmin adalah dengan berkeringat dahinya” (HR. Ahmad, AN-Nasai, at-Tirmidzi, Ibnu Majah, Ibnu Hibban, Al-Hakim dan ath-Thayalusi dari Abdullah bin Mas’ud)

    3. Wafat pada malam jum’at
    Hal ini berdasarkan sabda Rasulullah “Tidaklah seorang muslim yang wafat pada hari jum’at atau pada malam jum’at kecuali pastilah Allah menghindarkannya dari siksa kubur” (HR. Ahmad)

    4. Mati syahid dalam medan perang
    Mengenai hal ini Allah berfirman :”Janganlah kamu mengira bahwa orang-orang yang gugur dijalan Allah itu mati, bahkan mereka hidup di sisi Tuhan-Nya dengan mendapat rezeki, mereka dalam keadaan gembira disebabkan karunia Allah yang diberikanNya kepada mereka dan mereka bergirang hati terhadap orang-orang yang masih tinggal dibelakang yang belum menyusul mereka bahwa tidak ada kekawatiran terhadap mereka dan tidak pula mereka bersedih hati. Mereka bergirang hati dengan nikmat dan karunia yang besar dari Allah dan bahwa Allah tidak menyia-nyiakan pahala
    orang-orang yang beriman” (QS.Ali Imraan:169-171).

    Adapun hadits-hadits Rasulullah shalallahu alaihi wassalam yang berkenaan dengan masalah ini sangat banyak dijumpai diantaranya adalah sebagai berikut :
    a. Rasulullah bersabda :”Bagi orang yang mati syahid ada 6 keistimewaan yaitu: diampuni dosanya sejak mulai pertama darahnya mengucur, melihat tempatnya didalam surga, dilindungi dari adzab kubur, dan terjamin keamanannya dari malapetaka besar, merasakan kemanisan iman, dikawinkan dengan bidadari, dan diperkenankan memberikan syafa’at bagi 70 orang kerabatnya” (HR.At-Tirmidzi,Ibnu Majah, dan Ahmad)
    b. Seorang sahabat Rasulullah berkata: “Ada seorang laki-laki datang kepada Rasulullah dan berkata: Wahai Rasulullah mengapa orang mukmin mengalami fitnah di kuburan mereka kecuali yang mati syahid? beliau menjawab: Cukuplah ia menghadapi gemerlapnya pedang diatas kepalanya sebagai fitnah” (HR. an-Nasai)
    catatan:
    Dapatlah memperoleh mati syahid asalkan permintaannya benar-benar muncul dari lubuk hati dan penuh dengan keikhlasan, kendatipun ia tidak mendapatkan kesempatan mati syahid dalam peperangan. Hal ini berdasarkan sabda Rasulullah: “Barang siapa yang memohon mati syahid kepada Allah dengan sungguh-sungguh, maka Allah akan menyampaikannya derajat para syuhada sekalipun ia mati diatas ranjangnya”( HR. Imam Muslim dan al-Baihaqi)

    5. Mati dalam peperangan fisabilillah
    Ada dua hadist Rasulullah SAW :

    a. Rasulullah bersabda:”Apa yang kalian kategorikan sebagai orang yang mati syahid diantara kalian ? mereka menjawab :Wahai Rasulullah yang kami anggap sebagai orang yang mati syahid adalah siapa saja yang mati terbunuh dijalan Allah. Beliau bersabda :Kalau begitu ummatku yang mati syahid sangatlah sedikit. Para sahabat kembali bertanya:Kalau begitu siapa sajakah dari mereka yang mati syahid wahai Rasulullah ? beliau menjawab: Barangsiapa yang terbunuh dijalan Allah, yang mati sedang berjuang dijalan Allah, dan yang mati karena penyakit kolera, yang mati karena penyakit perut (yakni disebabkan penyakit yang menyerang perut seperti busung lapar, diare atau sejenisnya) maka dialah syahid dan orang-orang yang mati tenggelam dialah syahid “(HR. Muslim, Ahmad, dan al-Baihaqi)

    b.Rasulullah bersabda: Siapa saja yang keluar dijalan Allah lalu mati atau terbunuh maka ia adalah mati syahid. Atau yang dibanting oleh kuda atau untanya lalu mati atau digigit binatang beracun atau mati diatas ranjangnya dengan kematian apapun yang dikehendaki Allah, maka ia pun syahid dan baginya surga” (HR. Abu Daud,al-Hakim, dan al-Baihaqi)

    6. Mati disebabkan penyakit kolera.
    Tentang ini banyak hadits Rasulullah meriwayatkannya diantaranya sebagai berikut:

    a. Dari Hafshah binti Sirin bahwa Anas bin Malik berkata:”Bagaimana Yahya bin Umrah mati? Aku jawab: “Karena terserang penyakit kolera” ia berkata:Rasulullah telah bersabda: penyakit kolera adalah penyebab mati syahid bagi setiap muslim” (HR. Bukhari, ath-Thayalusi dan Ahmad)

    b. Aisyah bertanya kepada Rasulullah tentang penyakit kolera. Lalu beliau menjawab;”Adalah dahulunya penyakit kolera merupakan adzab yang Allah timpakan kepada siapa saja yang dikehendaki- Nya kemudian Dia jadikan sebagai rahmat bagi kaum mukmin. Maka tidaklah seorang hamba yang dilanda wabah kolera lalu ia menetap dikampungnya dengan penuh kesabaran dan mengetahui bahwa tidak akan menimpanya kecuali apa yang Allah tetapkan baginya pahala orang yang mati syahid”(HR. Bukhari, al-Baihaqi dan Ahmad)

    7. Mati karena tenggelam.

    8. Mati karena tertimpa reruntuhan/tanah longsor.
    Dalil dari 2 point diatas adalah berdasarkan sabda Rasulullah shalallahu alaihi wassalam: “Para syuhada itu ada lima; orang yang mati karena wabah kolera, karena sakit perut, tenggelam, tertimpa reruntuhan bangunan, dan syahid berperang di jalan Allah” (HR.Imam Bukhari, Muslim, at-Tirmidzi, dan Ahmad)

    9. Wanita yang meninggal karena melahirkan.
    Ini berdasarkan hadits yang diberitakan dari Ubadah ibnush Shamit radhiyallahu anhu bahwa Rasulullah shalallahu alaihi wassalam menjenguk Abdullah bin Rawahah yang tidak bisa beranjak dari pembaringannya, kemudian beliau bertanya : “Tahukah kalian siapa syuhada dari ummatku? orang-orang yang ada menjawab:Muslim yang mati terbunuh” beliau bersabda: Kalau hanya itu para syuhada dari ummatku hanya sedikit. Muslim yang mati terbunuh adalah syahid, dan mati karena penyakit kolera adalah syahid, begitu pula perempuan yang mati karena bersalin adalah syahid (anaknya yang akan menariknya dengan tali pusarnya kesurga)” (HR. Ahmad, Darimi, dan ath-Thayalusi) menurut Imam Ahmad ada periwayatan seperti itu melalui jalur sanad lain dalam Musnad-nya.

    10. Mati terbakar.

    11. Mati karena penyakit busung perut.
    Tentang kedua hal ini banyak sekali riwayat, dan yang paling masyhur adalah dari Jabir bin Atik secara marfu’: “Para syuhada ada 7: mati terbunuh dijalan Allah, karena penyakit kolera adalah syahid,mati tenggelam adalah syahid,karena busung lapar adalah syahid, karena penyakit perut keracunan adalah syahid,karena terbakar adalah syahid, dan yang mati karena tertimpa reruntuhan(bangunan atau tanah longsor) adalah syahid, serta wanita yang mati pada saat mengandung adalah syahid” (HR. Imam Malik, Abu Daud, An-Nasa’i, Ibnu Majah dan Ahmad)

    12. Mati karena penyakit Tubercolosis (TBC).
    Ini berdasarakan sabda Rasulullah shalallahu alaihi wassalam:
    “Mati dijalan Allah adalah syahid, dan perempuan yang mati ketika tengah melahirkan adalah syahid, mati karena terbakar adalah syahid, mati karena tenggelam adalah syahid, mati karena penyakit TBC adalah syahid, dan mati karena penyakit perut adalah syahid”(HR.Thabrani )

    13. Mati karena mempertahankan harta dari perampok.
    Dalam hal ini banyak sekali haditsnya, diantaranya sebagai berikut:
    a. “Barangsiapa yang mati karena mempertahankan hartanya (dalam riwayat lain; Barang siapa menuntut hartanya yang dirampas lalu ia terbunuh) adalah syahid” (HR. Bukhari, Muslim, Abu Daud, an-Nasa’i, at-Tirmidzi, Ibnu Majah, dan Ahmad)

    b. Abu Hurairah berkata, seorang laki-laki datang kepada Nabi seraya berkata: “Ya, Rasulullah, beritahukanlah kepadaku bagaimana bila ada seseorang yang datang dan akan merampas hartaku” beliau menjawab: ‘jangan engkau berikan’ Ia bertanya; bagaimana kalau ia membunuhku? beliau menjawab; Engkau mati syahid. Orang itu bertanya kembali,Bagaimana kalau aku yang membunuhnya? beliau menjawab; ia masuk neraka”(HR. Imam Muslim, an-Nasa’i dan Ahmad)

    c. Mukhariq berkata, seorang laki-laki datang kepada Nabi dan berkata :
    “ada seorang laki-laki hendak merampas hartaku, beliau bersabda: Ingatkan dia akan Allah. Orang itu bertanya: bila tetap saja tak mau berdzikir? beliau menjawab: Mintalah tolong orang disekitarmu dalam mengatasinya. Orang itu bertanya lagi : Bila tidak saya dapati disekitarku seorangpun? Beliau menjawab:Serahkan dan minta tolonglah kepada penguasa.Ia bertanya: Bila penguasa itu jauh tempatnya dariku? beliau bersabda: berkelahilah dalam membela hartamu hingga kau mati dan menjadi syahid atau mencegah hartamu dirampas” (HR. An-Nasa’i, dan Ahmad)

    14. Mati dalam membela agama dan jiwa.
    Dalam hal ini ada dua riwayat hadits sebagai berikut:
    a.”Barangsiapa mati terbunuh dalam membela hartanya maka ia mati syahid, dan siapa saja yang mati dalam membela keluarganya maka ia mati syahid, dan barang siapa yang mati dalam rangka membela agama(keyakinannya) maka ia mati syahid, dan siapa saja yang mati mempertahankan darah (jiwanya) maka ia syahid” (HR. Abu Daud, an-Nasa’i, at-tirmidzi, dan Ahmad)

    2. “Barangsiapa mati dalam rangka menuntut haknya maka ia mati syahid” (HR. An-Nasa’i)

    15. Mati dalam berjaga-jaga (waspada) dijalan Allah.
    Dalam hal ini ada dua hadits dari Rasulullah shalallahu alaihi wasslam :
    a. “Berjaga-jaga (waspada) dijalan Allah sehari semalam adalah lebih baik daripada berpuasa selama sebulan dengan mendirikan (shalat) pada malam harinya. Apabila ia mati, maka mengalirkan pahala amalannya yang dahulu dilakukannya dan juga rezekinya serta aman dari siksa kubur(fitnah kubur)” (HR. Imam Muslim, an-Nasa’i, Tirmidzi, Hakim dan Ahmad)

    b. “setiap orang yang meninggal akan disudahi amalannya kecuali orang yang mati dalam berjaga-jaga dijalan Alllah, maka amalannya dikembangkan hingga tiba hari kiamat nanti serta terjaga dari fitnah kubur” (HR. ABu Daud, Tirmidzi, Hakim, dan Ahmad)

    16. Meninggal pada saat mengerjakan amal shaleh.
    Ini berdasarkan sabda Rasulullah shalallahu alaihi wassalam: “Barangsiapa mengucapkan ‘laa ilaaha illallah’ dengan berharap akan keridhaan Allah, dan diakhir hidupnya mengucapkannya, maka ia akan masuk surga. Dan, barangsiapa yang berpuasa sehari mengharap keridhaan Allah kemudian mengakhiri hidupnya dengannya (puasa), maka ia masuk surga. Dan barangsiapa bersedekah mencari ridha Allah dan menyudahinya dengan (sedekah) maka ia akan masuk surga” (HR. Ahmad)

    Mudah-mudahan Allah menjadikan akhir hidup kita husnul khatimah dan memasukkannya dalam golongan orang-orang yang mati syahid amin.

    (sumber : “Tuntunan Lengkap Mengurus Jenazah ” hal:52-55 M. Nashiruddin Al-Albani, Gema Insani Press, Jakarta,1999 )

  3. heri berkata:

    ass. wr.wb. tolong doakan ana ya agar mati syahid, husnul khotimah.

  4. labbaik berkata:

    wa’alaikum salam wr.wb.

    Amin, amin. Insya Allah.

  5. awang berkata:

    kalau menyurut saya teroris itu bukan syahid. apalagi bom bunuh diri.

  6. awang berkata:

    sebab islam adalah agama rahmatan lil alamin.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: