Salah kaprah …

Suatu hari di sebuah halaman rumah seorang ibu sedang menyuapi anaknya. Begitu lucu dan lincahnya si anak itu. Yang namanya anak-anak, apalagi masih batita (bawah tiga tahun), maka tidak heran bila si anak hanya mau disuapi asal diperbolehkan sambil bawa mainan atau lari-lari kesana-kemari. Riang sekali dia, terlebih saat teman-temannya juga ikut gabung bersamanya.

Suasana ceria saat bermain-main itu terkadang membuat si kecil ‘tidak mau diganggu’, meski hanya diminta ibunya untuk membuka mulut untuk memasukkan suapan berikutnya, karena makanan yang dimulut sudah selesai di telan. Sang ibu mencoba membujuknya, namun si kecil tetap saja asyik dengan mainan dan teman-temannya. Dicobanya lagi, dengan bujukan lainnya. ‘Ayo sayang, buka dulu mulutnya….entar habis makan boleh ikut ibu ke pasar, ayo gih ? ‘.
Usaha ini pun tak berhasil, si anak malah berlari mengejar teman-temannya yang sedang berebut bola.

Mulailah sang ibu kerepotan, namun sang ibu tak kekurangan ‘akal’, senjata ampuhnya yang selama ini digukanan adalah menakut-nakuti si kecil sudah siap-siap untuk dikeluarkan, benar saja….tak lama kemudian maka diluncurkanlah kalimat itu… ‘Ayo sini makan dulu, kalau nggak makan entar setannya datang semua….ayo sini makan dulu !’. Seketika terkesiap si anak….

Setan…kata inilah yang selama ini manjur untuk menakuti si anak. Dan kata ‘setan’ itu memang benar-benar mengendap dalam benak si anak. Makin sering dia ditakuti seperti itu, makan makin mengendap bayangan menakutkan itu. Si anak benar-benar ngeri dengan kata ‘setan’ , apalagi teman-teman si kecil juga sering bercerita tentang ‘setan’….dengan cerita-cerita yang cukup menyeramkan. Fantasinya tentang ‘setan’ makin membuat kecil hatinya…ciut nyalinya bila mendengar kata ‘setan’…

Memang si anak jadi mau membuka mulut, dan mau melanjutkan makan, tapi bukankah ingatan tentang setan itu makin mengendap dalam benaknya ? bukankah si kecil makin hari akan makin takut pada setan ?

Sungguh sering terdengar di telinga kita, bahkan karena seringnya mungkin malah telinga kita sudah menjadi ‘biasa’ terhadap hal yang janggal dan tidak mendidik ini…sesungguhnya inilah salah satu sebab awal seseorang menjadi lebih takut pada setan daripada takut pada Allah. Inilah salah satu awal munculnya sifat syirik pada diri seseorang, yang sengaja atau tak sengaja akan mempengaruhi pertumbuhan aqidah seorang anak.

Sebaliknya, orang tua sering kali ‘membiarkan’ ketika seorang anak tidak sholat dengan benar, tidak wudlu dengan benar, tidak berdo’a ketika mau makan, suka mengolok-olok kawannya, maunya main terus meski adzan sudah terdengar, dan lain sebagainya….bukankah hal ini memang benar-benar terjadi ? bukankah hal ini amat ‘biasa’ kita lihat sehari-hari ?

Saking biasanya….
Kita jadi tidak heran ketika banyak manusia lebih menghamba pada syetan daripada menghamba kepada Allah.
Kita tidak merasa aneh ketika melihat orang minta tolong pada dukun daripada memohon kepada Allah.
Kita tidak tersinggung ketika orang lebih percaya cerita-cerita ghaib tentang syetan daripada ke-ghaib-an Allah.
Kesyirikan yang sungguh mencolok di depan mata.

“Sesungguhnya Allah tidak mengampuni dosa mempersekutukan (sesuatu) dengan Dia, dan Dia mengampuni dosa yang selain dari syirik itu bagi siapa yang dikehendaki-Nya. Barang siapa yang mempersekutukan (sesuatu) dengan Allah, maka sesungguhnya ia telah tersesat sejauh-jauhnya”. (QS.An-Nisaa’ : 116)

(c) 2001 muslimsources.com
pesan : insya’ Allah lebih bermanfaat bila diteruskan pada sahabat dan saudara.
Catatan : artikel di atas telah dimuat dalam Labbaik edisi no.001/th.01/safar 1425H/2004M

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: