Hidup bak ikan di laut..

Perkara toleransi dan saling menghormati antar umat beragama, sebagai umat islam jelas setuju, karena memang islam mengajarkan begitu. Bukankah Rasulullah SAW orang yang perta ma kali menjenguk tetangganya, si Yahudi yg sedang sakit itu ?. Bukankah Rasulullah mela rang menyakiti kafir dzimmy yg tinggal di negara Islam (selama mereka tdk memerangi) ?. Bukankah Rasulullah SAW sepakat dalam persetujuan damai “‘Ahd Najran”, yang berisikan an tara lain, bahwa “warga Kristen Najran mendapat keamanan Allah dan rasulNya, baik bagi kehidupan, agama, harta kekayaan mereka ?. Bahkan berdasarkan QS.Al Mumtahanah : 8, umat islam diperbolehkan bekerja sama & bergaul dengan umat agama lain dalam masalah-masalah yang berhubungan dengan keduniaan, “Allah tidak melarang kamu (ummat Islam untuk berbuat baik dan berlaku adil terhadap orang-orang (beragama lain) yang tidak memerangi kamu ka rena agama, dan tidak pula mengusir kamu dari negerimu. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berlaku adil”.
Namun kalau umat Islam diajak untuk mengikuti paham pluralisme (paham yang mengatakan bahwa semua agama itu sama dan tidak boleh menganggap agama sendiri paling benar), nanti dulu. Islam tidak mengajarkan untuk mencampur-adukkan aqidah dan peribadatan agamanya dg agama lain, berdasarkan Al Kafirun: 1-6; Al Baqarah: 42. Masalah kebenaran agama islam itu bukan sekedar klaim umat Islam, melainkan sudah jelas tercantum dalam ; Ali Imran : 19 dan 85, “Sesunggguhnya agama (yang diridhoi) di sisi Allah hanyalah Islam” dan “Ba rangsiapa yang mencari agama selain islam, maka sekali-kali tidak akan diterima (agama itu) dan dia di akherat termasuk orang-orang yang merugi”. Pluralisme mudah menggelin cirkan umat Islam jatuh ke dalam jurang kemusyrikan, bahkan menurut Buya HAMKA (alm) : “seperti orang tidak beragama”.

Perkara umat islam agar turut serta memikirkan & aktif dalam urusan keduniaan, setuju. Karena memang kita diajarkan agar tidak hanya memikirkan dan berbuat untuk akherat saja. Namun kalau umat Islam diajak untuk mengikuti paham sekularisme, yakni pemisahan antara agama dan kehidupan atau memisahkan antara agama dan negara. Memisahkan segala urusan du nia dan kemasyarakatan dari unsur-unsur agama, nanti dulu. Apalah jadinya roda kehidupan ini bila politik dijauhkan dari agama, ekonomi dijauhkan dari agama, kebudayaan dijauh kan dari agama, pendidikan dijauhkan dari agama, apa jadinya ?. Itu sama saja dengan me nafikan keberadan Allah SWT, meremehkan ke-Maha Kuasa-an Allah. Persis seperti yang sela ma ini digembar-gemborkan dunia barat, bahwa ‘kedaulatan/kekuasaan ada di tangan rakyat (manusia)’, lantas ke-Maha Kuasa-an Allah SWT dikemanakan ?. Dalam Islam justru kita di ajarkan untuk menghiasi segala aktifitas keduniaan agar bisa bernilai ibadah, bahkan mu lai dari bangun tidur sampai tidur lagi. Apalagi bila mengingat QS.Adz-dzariyaat : 56, dimana Allah mengingatkan bahwa diciptakannya jin dan manusia itu tidak lain adalah un tuk beribadah. Mengikuti paham sekularisme sama saja dengan mengajak untuk meremehkan bahwa Allah SWT itu Maha Kuasa.

Perkara Liberalisme, ini lagi, dari namanya saja sudah memancing umat untuk bertindak semaunya, apalagi bila ditempelkan pada kata ‘Islam’ -islam liberal- . Nama Islam yang amat mulia ini, yang merupakan pemberian langsung dari Allah SWT, ,”..dan Aku rela Islam menjadi agamamu…”, lambat laun makna kata Islam itu akan rusak, penganut paham liberal sering terpeleset, lebih memperjuangkan ke-liberalan-nya ketimbang keislamannya. Maka ti dak heran ketika umat islam memprotes foto panas Madame de Syuga, film BCG, Inulisasi, dll, kaum liberal justru membelanya. Pembelaannya pun persis seperti ungkapan yang sudah lazim kita dengar di dunia barat, yakni “Art is art”, seni adalah seni. Liberalisme me ngajak kita untuk pura-pura tidak tahu bahwa Allah itu Maha Melihat, Maha Mendengar dan Maha Mengetahui segala tingkah laku kita sebagai hamba-Nya.

Gerakan pluralisme, sekularisme, liberalisme dan sejenisnya ini sudah demikian dahsyat, mengglobal ke seluruh penjuru dunia. Dan didukung dengan dana yang terus mengucur deras. Kalau tidak kuat iman akan sulit untuk tidak terpengaruh. Menyadari hal di atas, seorang ulama pernah berpesan, “Hiduplah bak ikan di laut. Tetap tawar meski sepanjang hari di kelilingi air yang asin”. Wallahu ‘alam bishshowab.

{dari : Mukaddimah Labbaik edisi no.013/rabi’ul awwal-rabi’ul tsani 1426H/2005M}

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: