Ketika kami bertengkar..

Adalah biasa terjadi perbedaan pendapat diantara sesama manusia, termasuk pada sesama anggota keluarga. Dengan perbedaan itu tentu kita tak ingin suasana sebuah keluarga ini menjadi dingin, apalagi berantakan, terlebih lagi bila di dalam keluarga itu ada anak-anak. Yang perlu diperhatikan adalah bagai mana cara masing-masing pihak dalam menyelesaikan perbedaan pendapat tersebut.

Ada sebuah kisah tentang seorang guru wanita yang hingga kini masih lekat dalam ingatan penulis, padahal ketika cerita itu beliau sampaikan adalah sekitar awal th ’80-an. Mungkin juga karena beliau saat itu sudah cukup uzur usianya (saat itu sekitar 50th), sehingga cukup bijak dalam mengahadapi permasalahan dalam keluarga. Semoga cerita ini bisa kita ambil hikmahnya.

“Suatu hari saya dan suami bertengkar, karena ada perbedaan pendapat . Untungnya kami berdua sedikit banyak masih punya iman Islam yang baik (insya’ Allah), sehingga pertengkaran itu tak sampai menimbulkan situasi yang emosional … teriak-teriak….saling bentak…banting barang-barang….apalagi main tangan ..”
“Kami masih bisa mengendalikan emosi.. namun…malamnya kami tidak tidur sekamar.”
“Saat sendiri di kamar itulah, tiba-tiba terpikir sebuah inisiatif untuk saling meng ingatkan…dan inisiatif itu saya tuangkan dalam sebuah surat…kemudian aku bungkus dengan indah….dan saya selipkan ke bawah pintu kamar suami”, beliau mengisahkan.

Isinya….

Assalamu ‘alaikum wr.wb
(Ingat Say, salamku ini benar-benar sebuah doa, bukan salam basa-basi).
Sungguh aku tak mampu menipu hati kecil ini,
bahwa sesungguhnya aku sangat menyayangimu..
Say, sungguh kebenaran itu datangnya hanya dari Allah.
Bukan dari manusia (kecuali nabi saw kita tercinta)
Bukankah kita sangat sadar bahwa kebenaran manusia itu amat relatif…
Menurut kita benar menurut orang lain belum tentu…
Hari ini benar, besok belum tentu …
Menurut kita berdua benar, menurut orang banyak belum tentu …
Maka mulai hari ini aku tak mau lagi membohongi hati kecil ini….
bahwa aku akan tetap menyayangimu…..dan..
bila ada suatu masalah aku akan senantiasa introspeksi terlebih dulu…
‘Apakah ada langkahku yang melanggar kebenaran Allah (agama). Bila ada, maka dengan ikhlas …insya’ Allah aku akan minta maaf terlebih dulu….’
Say, sungguh aku juga berharap agar hal seperti itu juga ada padamu…

Wassalamu ‘alaikum wr.wb.
Yang menyayangimu.

nb : Say, kalau sikap diatas kita ambil, insya’ Allah langkah kita akan senantiasa bernilai ibadah… dan benar bagi semua pihak.

“Wahai orang yang beriman taatlah kamu kepada Allah, Rasul dan ulil amri diantara kamu. Maka apabila kamu berselisih sesuatu maka kembalikan persolalan tersebut kepada Allah dan Rasul apabila kamu beriman kepada Allah dan hari akhir. Hal itu lebih baik dan terbaik akibatnya” (QS.An Nisa 58).

http://www.eramoslem.com/ar/kg/42/9169,1,v.html

Catatan : artikel di atas telah dimuat dalam Labbaik edisi no.001/th.01/safar 1425H/2004M

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: