Membangun perkampungan setan..

Seorang security di sebuah diskotik ditanya :”Kenapa disini banyak satpamnya ?”. Dia menjawab :”Oh yah, karena di tempat seperti ini rawan kejahatan !”.
Lalu bartendernya juga ditanya :”Kenapa disini banyak dijual minuman keras ?”. Mereka menjawab :”Yaaah, masak di tempat begini aku mesti jualan bajigur, nggak pas dong, yang pas ya jualan minuman seperti ini ?”.
Ganti, sekarang kita tanya seorang pekerja wanitanya :”Kenapa anda berpakaian seperti itu, transparan, pendek, ketat ?”. Maka secara mengejutkan dia menjawab : “Lho, aku ini di sini adalah salah satu obyek hiburan, aku disini ini untuk menghibur orang, karenanya aku harus berpakaian seperti ini, ok ?!”.

Atas nama pariwisata, terkadang dengan dalih pemasukan devisa, maka para pejabatnya memberi ijin atas berdirinya tempat-tempat ‘hiburan’. Padahal para pejabat itu tahu usaha apa saja yang akan didirikan di tempat-tempat tersebut. Bahwa di sana akan ada diskotik, bahwa disana akan ada minum-minuman beralkohol, bahwa di sana akan ada buka-buka aurat, bahwa disana tak ada sekat antara lelaki dan wanita, bahwa disana ‘bebas’ berjingkrat dan bergoyang diiringi dentuman musik yang memekakkan telinga. Bahkan para pejabat itu juga sadar sebelumnya, bahwa di tempat-tempat ‘hiburan’ seperti itu pasti rawan terhadap, narkoba, mabuk-mabukan, pelecehan seksual, segala yang berbau maksiat, dan kejahatan. Sungguh para pejabat itu menyadari jauh sebelumnya. Jangankan dilihat dari kacamata agama, dari kacamata sosial saja orang awam tahu, bahwa tempat-tempat seperti itu bukanlah tempat untuk ‘orang baik-baik’. Mau bukti ?

Bayangkan, misalnya saudara wanita kita bekerja di tempat seperti itu, apa kita berani berterus terang menceritakan kepada tetangga-tetangga kalau saudara wanita kita bekerja di sebuah night club ? diskotik ? judi ding-dong ? dll. Biasanya sih kita tutup-tutupi karena malu ketahuan kalau saudara wanita kita bekerja di tempat ‘hiburan’ seperti itu. Kalau benar masih ada rasa malu, insya Allah itu pertanda masih ada iman dalam hati kita, besarnya seberapa. Wallaahu ‘Alam.
Sebaliknya, jika sudah tak ada lagi rasa malu, maka itulah tanda bahwa justru iman kita yang telah rusak. Malu itu sebagian dari iman.

Bayangkan lagi, misalnya saudara wanita kita bekerja di tempat-tempat seperti itu, mungkin siang-malam hati kita tak akan tenang, selalu diliputi rasa was-was. Kenapa was-was ? ya karena siang-malam kita telah membiarkan saudara wanita kita bergumul dengan para setan.

Pejabat sudah tahu bahwa tempat seperti itu bukanlah tempat yang baik, masyarakat pun demikian. Terus kenapa tetap diijinkan berdiri ? Apa benar itu memang tempat untuk ‘menghibur diri’ ? Apa bukan malah sebaliknya, yakni ‘tempat untuk merusak diri’ ?. Rasanya sih lebih masuk akal alasan yang terakhir itu.

Sekarang mari kita tanya sang pejabat :”Pak, kenapa ijin diberikan ?”. Sang pejabat menjawab :”Heemmm, begini saudara-saudara, ijin kami berikan demi tercapainya tujuan, yakni mewujudkan daerah kita sebagai daerah tujuan wisata”.
Tujuan wisata ? daerah wisata ?. Salah ‘kali Pak, mungkin yang anda maksud adalah “sebagai daerah tujuan maksiat”. Anda telah memberi ijin atas berdirinya se buah perkampungan para setan !.

“Sungguh akan ada di antara umatku, kaum yang menghalalkan zina, sutera, khamr dan alat-alat yang melalaikan”. (HR Bukhari)

note : artikel di atas telah dimuat dalam mukaddimah  Labbaik edisi no.015/th.02/Jumada Al Awwal-Jumada Al Tsani 1426H/2005M

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: