Vox populi vox dei …

Kalau kebanyakan orang berpendapat bahwa A itu baik, maka sebaiknya kita juga menyukai A”. Itulah saran yang sering kita dengar dari orang-orang di sekitar kita, atau mungkin malah kita sendiri pernah memberi saran seperti itu kepada orang lain. Suara/pendapat dari kebanyakan orang seringkali kita jadikan dasar acuan untuk membenarkan sesuatu dan mengikutinya. Lumrah, namanya juga ‘orang awam’. Di belahan bumi mana pun juga berlaku ‘hukum’ seperti itu. Di dunia barat bahkan lebih ‘berani’, mereka punya istilah “vox populi vox dei”, yang artinya bahwa suara kebanyakan orang atau suara rakyat itu adalah suara tuhan.

Tuhan dalam kalimat itu sekedar kiasan atau Tuhan dalam arti sebenarnya, entahlah. Namun, sebagai muslim, semoga kita tidak dengan mudahnya ikutan ‘mencatut’ nama Tuhan sebagaimana terjadi di dunia barat itu. Suara manusia ya suara manusia, suara Tuhan ya Kalamullah. Suara manusia biasanya mengandung berbagai kepentingan, sering kali malah ‘ada udang di balik batu’. Adapun suara Tuhan itu bersih, suci, murni untuk kemaslahatan semua makhluk-Nya. Suara manusia, meskipun dalam jumlah yang sangat banyak, masih memungkinkan mengandung kesalahan, sedang suara Tuhan pasti benar, mutlak benar, karena Tuhan itu Maha Benar.

Sehubungan dengan suara kebanyakan manusia ini, Allah SWT telah ‘mewanti-wanti’ melalui beberapa ayat Al Qur’an, misalnya :

“Sesungguhnya penciptaan langit dan bumi lebih besar dari pada penciptaan manusia, tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui”. (QS. 40 : 57)

“Sesungguhnya hari kiamat itu pasti datang, tidak ada keraguan tentangnya, tetapi kebanyakan manusia tidak beriman”. (QS. 40 : 59)

“Sesungguhnya Allah benar-benar mempunyai karunia yang dilimpahkan kepada manusia, akan tetapi kebanyakan manusia tidak bersyukur”. (QS. 40 : 61).

Itulah sebagian contoh peringatan Allah SWT tentang suara kebanyakan manusia. Insya Allah kita tidak kesulitan mencari contoh ayat yang lain, asalkan kita rajin membuka terjemah/atau tafsir Al Qur’an.

Mengikuti pendapat kebanyakan orang kalau ternyata salah tentu kita turut kena getahnya, kalau ternyata batil tentu kita ikut menanggung dosanya, kalau ternyata maksiat tentu kita ikut tersesat. Lain halnya bila pendapat itu berasal dari kebanyakan ulama, atau biasa disebut ‘jumhur ulama’. Kalau yang berpendapat kebanyakan ulama, insya Allah itu benar merupakan cerminan suara Allah SWT, karena seorang ulama, apalagi dalam jumlah banyak, apabila berpendapat insya Allah tidak sembarangan, mereka punya rambu-rambu berupa syariat. Ada dalil-dalil atau nash, baik Al Qur’an, Hadist atau ijma’, yang bisa digunakan untuk menopang pendapatnya tersebut. Maka kalau kebanyakan ulama berpendapat bahwa ‘B’ itu baik, sebaiknya kita juga ikut menyukai ‘B’, kalau pun ternyata salah kita tidak sepenuhnya menanggung dosanya, karena memang ilmu yang kita dapat dari para ulama seperti itu. Sedang bila ternyata benar insya Allah kita akan selamat dunia akherat. Untuk mengetahui berbagai pendapat dari jumhur ulama, tentu dengan banyak mempelajari islam, banyak mengikuti taklim, banyak membaca buku-buku islam, dll.

Ulama adalah pewaris nabi, mari mulai ikut menapaki jalan para ulama …

note : artikel di atas telah dimuat dalam Mukaddimah Labbaik edisi 014/th.02/Rabi’ul tsani-Jumada Al Awwal 1426H/2005M)

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: