Mata pena seringkali lebih tajam daripada mata pedang…

Kalau kita saban hari melihat berita di TV, dengar radio atau baca koran. Pernahkah terbetik pikiran dalam benak kita, kenapa kalau ada saudara-saudara kita sesama muslim yang sedang berjuang mempertahankan negaranya, misalnya di Palestina, Irak, Bosnia, Chehnya, Philipina, atau dimana saja. Lantas semua berita menyebut para pejuang yang saudara kita itu dengan ’embel-embel’ : militan, fundamental, garis keras bahkan yang akhir-akhir ini gencar di’populerkan’ adalah istilah teroris ?. Misalkan yang ‘diobok-obok’ itu adalah negara kita, kemudian kita membela negara kita mati-matian. Tiba-tiba saja semua TV, radio dan koran menyiarkan, bahwa kita yang sedang berjuang itu ternyata diberitakan sebagai kaum fundamentalis, militan, garis keras dan teroris. Tentu marah besar kita. Bisa jadi semangat kita dalam berjuang jadi berlipat-lipat karena bercampur rasa marah itu.

Sekarang pertanyaannya, kenapa TV, radio dan koran kita memberitakannya seperti itu ?. Inilah salah satu kelemahan perusahaan-perusahaan media kita, hampir semua berita, maksudnya berita luar negeri yang berhubungan dengan kejadian-kejadian di negara-negara muslim, semua media kita biasanya hanya membeli beritanya dari perusahaan-perusahaan media asing, misal : CNN, BBC, AFP, Washington Post, AP , Reuters, dll. Kemudian oleh media kita diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia, lantas diterbitkan. Esok harinya, kita semua sebagai pembaca yang hanya ‘tahu jadi’, langsung saja mengkonsumsi kata-kata ‘militan-fundamental-garis keras dan teroris’. Padahal semua perusahaan media asing yang disebut di atas, bisa dipastikan bukan milik orang muslim, termasuk wartawan/reporter yang menulis berita di tempat kejadian.
Maka masuk akal bila mereka suka menyebut saudara-saudara kita dengan istilah-istilah seperti itu. Yang patut disayangkan, banyak pembaca yang masih saudara kita sesama muslim ternyata menelan begitu saja semua istilah itu. Maka jadilah sesama (negara) muslim saling curiga dan waspada. Ghazwul Fikri…….

Nuansa pemberitaan lain akan kita jumpai bila kita membaca majalah-majalah Islam seperti : Sabili, Hidayatullah, Hidayah, Tarbawi, dll. Majalah-majalah ini cukup selektif dan cerdik. Mereka mencari berita dari sumber-sumber Islami, dari kantor-kantor berita asing di negara Islam. Sehingga yang muncul adalah istilah-istilah yang sesuai dan layak, misalnya : Pejuang, Mujahid, Syuhada, Pahlawan,dll. Nada beritanyapun tidak terkesan ‘miring’. Hal demikian terlihat pula pada web site/situs islami di internet. Pada kasus yang sama, namun nampak nyata perbedaan kandungan beritanya.

Sahabat, meskipun (masih) dalam skala kecil, Labbaik akan berusaha ‘bergerilya’ guna memperbaiki citra Islam yang rusak akibat pemberitaan media asing di atas. Labbaik akan senantiasa mencarinya dari sumber-sumber Islami. Kalau memang manis insya Allah isi artikelnya manis pula, sebaliknya kalau adanya pahit, maka isi artikel akan ditampilkan insya Allah pahit pula. “Katakanlah yang benar walau pun pahit”, demikian pesan Rasulullah SAW. Wallahu a’lam bisshowwab.

(dari : Mukaddimah Labbaik edisi no.008/th.01/Syawwal – DzulQoidah 1425H/2005M

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: