Anak Sebagai Cobaan

“Dan ketahuilah, bahwa harta dan anak-anakmu itu hanyalah sebagai cobaan dan sesungguhnya di sisi Allah-lah pahala yang besar.” (QS Al Anfaal [8]: 28).

Hidup adalah perpindahan dari satu cobaan ke cobaan yang lain. Cobaan atau ujian tidak selalu identik dengan kesusahan, tapi bisa juga berupa kemudahan. Ujian itu bisa menjadi musibah atau nikmat tergantung cara kita menyikapi kesusahan atau kemudahan itu. Musibah adalah segala sesuatu (baik kesusahan maupun kemudahan) yang bisa menjauhkan kita dari Allah, sedangkan nikmat adalah segala sesuatu (baik kesusahan maupun kemudahan) yang bisa mendekatkan kita kepada Allah SWT. Kalau diuji dengan kesusahan kita menjadi semakin jauh dari Allah (menyikapi dengan minder, putus asa, atau berprasangka buruk kepada Allah), maka kita gagal menghadapi ujian itu, sehingga menjadi musibah. Tetapi jika dengan ujian kesusahan kita semakin dekat kepada Allah (menyikapi dengan tetap khusnudzan kepada-Nya, evaluasi diri, tobat, dan memperbaiki diri), maka kita sukses menghadapi ujian itu, sehingga menjadi nikmat. Begitu pula, jika diuji dengan kemudahan kita menjadi semakin jauh dari Allah (menjadi ujub, sombong, takabur), maka kita gagal menghadapi ujian itu, sehingga menjadi musibah. Tetapi jika diuji dengan kemudahan kita semakin dekat kepada Allah (menjadi bersyukur dan tawadhu), maka kita sukses menghadapi ujian itu, sehingga menjadi nikmat.

Umpamakan, ujian hidup ini seperti soal-soal ujian saat sekolah, kita akan stres melihat soal ujian kalau tidak pernah belajar. Kita tidak mungkin menyalahkan soal ujian kalau tidak bisa mengerjakannya. Hanya orang yang selalu mempersiapkan diri dalam hiduplah yang bisa menjadikan setiap cobaan menjadi nikmat yang dapat meningkatkan derajat kemuliaannya baik di dunia maupun di akhirat.
Anak-anak itu juga benar-benar menjadi cobaan bagi orang tuanya, baik kesuksesannya maupun kegagalannya. Memiliki anak yang sukses itu ujian, jika kita menjadi tawadhu, malu kepada Allah dan merasa bahwa semuanya itu karunia Allah, maka itu adalah kesuksesan. Tapi kalau menjadi ujub, takabur, dan merasa berjasa berarti gagal menyikapi anak yang maju. Cobaan bisa dalam bentuk anak yang tidak sesuai dengan harapan. Usahakanlah sekuat tenaga agar kekurangan anak menjadi ladang amal bagi ibu bapaknya.

Saya pernah melihat seorang ibu yang anaknya tergelincir, walaupun sudah mencoreng aib, ibunya berkata, “Dia darah daging saya. Saya tetap bertanggung jawab untuk membantu dia kembali ke jalan Allah. Mungkin ini teguran dari Allah karena kami kurang bersungguh-sungguh mendidiknya.”
Pernah juga ada seorang ibu yg anaknya selalu menyusahkan. Saat anaknya terkena narkoba, ibunya berusaha keras menyembuhkannya. Setelah sembuh, malah masuk penjara, tetapi tetap saja dikunjungi. Ketika ditanya, “Mengapa Ibu tidak habis-habisnya menyayanginya ?”. “Saya akan terus memperbaikinya sekuat kemampuan saya karena ini adalah ladang amal bagi saya. Kalau orang lain diuji dengan anak-anak yg cemerlang, mungkin saya diuji dengan ini. Saya tidak malu dihina oleh orang lain. Yg malu itu kalau saya tidak bertanggung jawab terhadap anak-anak saya.”

Dengan demikian tidak berarti ibu ini terhina dan gagal. Mudah-mudahan hal inilah yang akan menjadikannya sebagai jalan pendekat kepada Allah SWT. Mengurus anak itu bukan sisa waktu, sisa pikiran, dan sisa tenaga, tapi harus menjadi bagian dari kesibukan kita. Jangan sampai anak merasa tidak mempunyai orang tua karena ibu-bapaknya tidak mempunyai waktu untuk mereka. Jangan sampai anak kita merasa ibunya sekadar orang yg melahirkannya, atau merasa bapaknya sekadar orang yang memberinya uang, bahkan ada anak yang merasa para pembantunya sebagai ibu atau bapaknya karena mereka yang selalu menjaganya.
Marilah kita terus meningkatkan kesadaran bahwa anak adalah ujian dari Allah. Tekadkan dalam hati, “Saya tidak boleh mengharapkan anak anak saya membalas budi baik kepada saya karena mendidik anak adalah ladang amal. Apakah anak akan membalas budi atau tidak itu urusan anak, tapi saya mengurus anak dengan sebaik-baiknya di jalan Allah, itu adalah urusan saya.”

Jangan pernah patah semangat. Semoga Allah melindungi kita dari cobaan yang tidak sanggup kita memikulnya.  Wallahu a’lam.

[Oleh : K.H. Abdullah Gymnastiar]

http://www.republika.co.id/

note : artikel di atas telah dimuat dalam Labbaik, edisi : 040/th.04/Jummadil Akhir-Rajab 1429H/2008M

About these ads

Satu Balasan ke Anak Sebagai Cobaan

  1. Rumah Aqiqah mengatakan:

    Assalamualaikum..nice artikel menambah ilmu dan pengetahun seputar anak. Sedikit ingin berbagi informasi mengenai Aqiqah.
    “Anak tergadai dengan aqiqahnya. Disembelihkan untuknya pada hari ketujuh (dari kelahirannya)”. (HR al-Tirmidzi, Hasan Shahih)
    InsyaAllah kami Rumah Aqiqah telah tersebar di 14 kota di Indonesia dan siap untuk membantu anda. Silahkan berkunjung ke http://www.rumahaqiqah.org. Terima kasih
    Wassalamualaikum

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d blogger menyukai ini: