Kenapa diam seribu bahasa ?

Adalah sebuah kenyataan yang pahit apabila pada saat ini sudah mulai banyak umat Islam yang enggan mengikuti perkembangan berita mengenai saudara-saudara kita di Palestina. Persepsi yang terlebih dulu muncul apabila mendengar kabar tentang Palestina adalah, “Ah, paling-paling tentang perang, tentang jihad, tentang aksi-aksi bom bunuh diri, kelompok militan, aksi melawan yahudi, aksi boikot, dll”. Atau, “Ah, pembahasan tentang Palestina lebih cocok untuk kalangan garis keras, fundamentalis, ekstremis, dll, kita-kita tidak usahlah ikut-ikutan”. Dan seribu satu alasan lagi untuk tidak sudi mengamati. Jangankan turut membantu, sekedar mendengar dan melihat saja sudah enggan. Na’udzubillah.

Padahal bicara Islam sangat erat hubungannya dengan Palestina, bicara sholat dan isra’ mi’raj rasulullah saw tidak mungkin lepas dari Palestina, pembahasan tentang kiblat tak mungkin lepas dari
Palestina, begitu pula bila mempelajari sejarah sabahat Umat bin Khottob, mujahid Shalahuddin Al Ayyubi. Apalagi bila sudah mengulas tentang saudara seaqidah yang tertindas dan diperangi, tentang saudara kita terusir, tentang kedzaliman kaum kafir, dll. Semua itu tidak bisa lepas dari Palestina.

Fakta, bahwa Palestina adalah sama-sama bangsa muslim, bukankah sesama muslim itu ibarat satu tubuh, kalau ada satu anggota badan yang sakit, maka selayaknya anggota badan yang lain juga merasakan sakit ?
Fakta, bahwa saudara kita di Palestina sedang terjajah, teraniaya, tertindas, miskin, sengsara, dan lain sebagainya. Setiap saat kabar beritanya dengan sangat mudah bisa dilihat, didengar dan dibaca dari berbagai media massa.
Fakta, bahwa lawan yang dihadapi adalah bangsa yang sangat rusak, sangat brutal, sangat licik, paling keras permusuhannya terhadap umat Islam, sangat kuat persenjataannya dan sangat canggih. Sekali-kali jangan salah mengatakan, “Cuma melawan negara kecil seperti Israel saja, kenapa mesti repot-repot harus dibantu”. Ingatlah selalu, di belakang Israel itu ada raksasa super dzolim beserta kroni-kroninya yg siap membantu total 100%, fisik maupun psikis, persenjataan hingga lobby-lobby kelas PBB, dari embargo hingga kucuran dana yg tidak terbatas. Tidak akan menimbang-nimbang apakah yang sedang dibantu itu berada di pihak yang benar atau yang salah. Mereka sangat solid, bersatu memerangi Islam.

Sebagai sesama umat Islam, kenapa kita diam seribu bahasa ? kenapa kita pura-pura tidak tahu ?. Mana wujud tenggang rasa demi menyaksikan penderitaan saudara kita ? Mana hati nurani kita ? Mana pengamalan sikap ukhuwwah yang saban hari kita dengung-dengungkan ?. Kenapa saudara kita itu kita biarkan berjuang sendiri dengan persenjataan ala kadarnya ? padahal nyata-nyata musuh yg dihadapi adalah raksasa dengan persenjataan yang amat canggih, rudal, bom, tank-tank apache, jet tempur, bahkan nuklir pun ada ?. Kenapa negara-negara tetangga yg sama-sama muslim, bahkan dengan kekayaan yang melimpah ruah tidak terketuk hati untuk membela saudaranya ?. Belum lagi lawan-lawan dari bangsanya sendiri yang pemikirannya sudah terinfiltrasi ideologi pihak musuh, sehingga sampai hati menuruti kehendak penjajah dan menangkapi saudaranya sendiri yang tengah berjuang untuk Al Quds, untuk Palestina, untuk Islam.

Semoga penerbitan edisi khusus ini dapat mengembalikan semangat untuk terus memantau perkembangan kabar mengenai saudara kita yang terus hidup dalam keadaan tertindas dan terdzolimi. Syukur alhamdulillah bila kemudian tergerak hati untuk membantu dengan segala daya yang ada. Bukan malah sebaliknya, melupakan, menganggap tidak ada apa-apa, apalagi ikut-ikutan memusuhi saudara sendiri yang terus hidup dalam keadaan terancam dan terus berjuang dengan susah payah.

[dari : Mukaddimah Labbaik edisi : 032/th.03/Jummadil Akhir-Rajab 1428H/2007M

Jangan lupakan saudara kita yang terus terjajah dan tertindas ...

Setiap datang bulan Juni, umat Islam yang memiliki perhatian terhadap sejarahnya, akan selalu teringat bahwa pada bulan itu kota Al Quds jatuh ke tangan Zionis, apalagi bila mengingat bahwa di kota tersebut terdapat masjid Al Aqsho, kiblat pertama umat Islam dan tempat Isra’-nya rasulullah SAW. Peristiwa kejatuhan itu dimulai pada tgl. 5 Juni 1967, yakni saat pecah perang antara Arab melawan Israel, perang ini hanya berlangsung sekejap, dan lebih popular disebut perang 6 hari, karena memang dalam tempo 6 hari saja Al Quds dan masjid Al Aqsho berhasil dikuasai Israel.
Menurut para analis, sebab utama mengapa begitu mudahnya Arab yang terdiri dari beberapa negara, yakni Mesir, Yordania dan Suriah dapat dika lahkan Israel, adalah karena negara-negara Arab tidak berperang atas nama agama, mereka berperang atas nama nasionalisme dan sosialisme. Padahal Israel sejak dari awal sudah berperang dengan membawa semangat agamanya.

Inilah salah satu dampak yang sangat fatal karena sulitnya umat Islam diajak menjalin persatuan, bersatu hanya di bawah naungan Islam, bersatu dengan satu semangat Islam saja !. Mudah sekali umat kita ini mengucapkan kata “ukhuwwah” namun semangat untuk menjalankannya amal kecil. Terlebih lagi para pemimpinnya, sudah banyak yang terilfiltrasi pemikiran barat yg kafir, mereka justru menjalankan hukum dan ideologi kafir dalam mengatur umat. Mereka mulai melupakan hukum-hukum yang telah disyariatkan agama, bahkan dalam menjalankannya pun seringkali dalam keadaan setengah hati. Na’udzubillah !.

[dari : Mukaddimah Labbaik edisi khusus 40 tahun penjajahan Al Quds dan Al Aqsho, nomor edisi : 032/th.03/Jummadil Akhir-Rajab 1428H/2007M]

About these ads

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: