Mengapa Manusia Rugi ?

“Demi masa. Sesungguhnya manusia itu benar-benar berada dalam kerugian. Kecuali orang-orang yang beriman dan beramal saleh dan nasehat menasehati supaya menta’ati kebenaran dan nasehat menasehati supaya menetapi kesabaran.” QS: 103:1-3)

Pada dasarnya, Allah Swt cinta dan sayang kepada manusia, apalagi bila mereka beriman kepada-Nya. Bukti kecintaan itu adalah Allah Swt mengemukakan faktor-faktor yg menyebabkan manusia menjadi rugi. Secara harfiyah, Al-Qur’an menggunakan kata “khusr” untuk menyebut kerugian, khusr itu sendiri artinya berkurang, rugi, sesat, celaka, lemah, tipuan, dll, semuanya dengan makna negatif. Apa saja faktor-faktor yang membuat manusia menjadi rugi ?

Beriman kepada hari akhir merupakan salah satu keimanan yang sangat penting, karenanya Al-Qur’an dan Hadits seringkali merangkai penyebutan iman kepada Allah dengan iman kepada hari akhir. Kehidupan hari akhir merupakan hasil yang sesungguhnya dari apa yang dilakukan manusia dalam kehidupannya di dunia, baik maupun buruk. Kehidupan hari akhir juga kesempatan emas untuk bisa berjumpa langsung dengan Allah Swt, karena itu amat rugi orang yg mendustakan hari akhirat dan perjumpaan dengan Tuhannya, Allah Swt berfirman yang artinya: “Sungguh telah rugilah orang-orang yang mendustakan pertemuan mereka dengan Tuhan; sehingga apabila kiamat datang kepada mereka dengan tiba-tiba, mereka berkata: : “Alangkah besarnya penyesalan kami, terhadap kelalaian kami tentang kiamat itu”, sambil memikul dosa-dosa di atas punggungnya. Ingatlah, amatlah buruk apa yang mereka pikul itu (QS 6:31).

Akibat dari pengingkaran manusia terhadap hari akhirat membuat manusia tidak memperoleh petunjuk dari Allah Swt, bukan karena Allah tidak memberinya petunjuk, tapi karena pemberian Allah itu tidak mau diambil, sehingga tidak ada yang mereka dapatkan kecuali kerugian dalam kehidupan di dunia dan akhirat, Allah berfirman yang artinya: “Sesungguhnya rugilah orang-orang yang mendustakan pertemuan mereka dengan Allah dan mereka tidak mendapat petunjuk (QS 10:45).
Disamping tidak memperoleh petunjuk, orang yg tidak beriman pada kehidupan akhirat akan membuat mereka menganggap kehidupan di dunia ini lebih baik, padahal kehidupan dunia ini hanya permainan dan senda gurau, dunia adalah sarana bukan tujuan sebagaimana permainan dan senda gurau itu sendiri, sarana bagi pencapaian tujuan tertentu, Allah Swt berfirman yang artinya: “Dan tiadalah kehidupan dunia ini, selain dari main-main dan senda gurau belaka. Dan sungguh kampung akhirat itu lebih baik bagi orang-orang yang bertakwa. Maka tidakkah kamu memahaminya?” (QS 6:32).

Salah satu yang harus kita waspadai terhadap orang yang menjadikan dunia sebagai tujuan adalah apapun yang dilakukannya, meskipun hal itu merupakan sesuatu yang sangat buruk dia akan menganggapnya sebagai sesuatu yang baik, keburukan itu dikemas dengan kata-kata yang indah. “Sesungguhnya orang-orang yang tidak beriman kepada negeri akhirat, Kami jadikan mereka memandang indah perbuatan-perbuatan mereka, maka mereka bergelimang (dalam kesesatan). Mereka itulah orang-orang yg mendapat (di dunia) azab yang buruk dan mereka di akhirat adalah orang-orang yg paling merugi (QS 27:4-5).

Menjadi orang bodoh bukan hanya tidak menyenangkan, tapi juga bisa membahayakan, karenanya kebodohan akan membawa manusia pada kerugian yang nyata. Dalam bahasa Arab, kebodohan diistilahkan dengan kata “jahl”, kita sering mendengar istilah zaman jahiliyah, suatu zaman dimana manusia begitu bodoh, bukan karena tidak tahu, tapi tidak mau menerima kebenaran yang datang dari Allah Swt dan Rasul-Nya. Pada masa jahiliyah itulah, kebodohan telah membuat manusia membunuh anaknya sendiri, hanya karena anak itu berjenis kelamin wanita. Sementara jauh sebelum Nabi Muhammad Saw, dengan kejahilannya raja bernama Fir’aun ketakutan akan adanya pemimpin selain dirinya, hingga dia menginstruksikan kepada setiap orang tua untuk membunuh bayi berjenis kelamin laki-laki dan itupun dilaksanakan oleh rakyatnya yang juga bodoh dan takut.

Disamping itu, kebodohan juga membuat mereka mengharamkan apa-apa yang telah di rizkikan oleh Allah Swt atas mereka, padahal Allah telah menghalalkannya, inilah kerugian yang nyata, baik di dunia maupun di akhirat. “Sesungguhnya rugilah orang yang membunuh anak-anak mereka karena kebodohan sema ta, tanpa ilmu dan mengharamkan apa yang Allah telah rizkikan kepada mereka dengan dengan semata-mata mengada-adakan terhadap Allah. Sesungguhnya mereka telah sesat dan tidaklah mereka mendapat petunjuk (QS 6:140).
Manusia seringkali tidak menyadari, syaitan yang seharusnya dianggap dan diperlakukan sebagai musuh tapi malah dijadikan sebagai pemimpin, apa saja perintah dan keinginan serta bisikan-bisikannya dituruti. Hal ini membuat manusia menjadi rugi, baik di dunia maupun di akhirat. Allah Swt berfirman tentang tekad syaitan untuk menyesatkan manusia: “Dan saya (syaitan) benar-benar akan menyesatkan mereka, dan akan membangkitkan angan-angan kosong pada mereka dan akan menyuruh mereka (memotong telinga-telinga binatang ternak), lalu mereka benar-benar memotongnya, dan akan saya suruh mereka (merobah ciptaan Allah), lalu benar-benar mereka merobahnya. Barangsiapa yang menjadikan syaitan menjadi pelindung selain Allah, maka sesungguhnya ia menderita kerugian yang nyata (QS 4:119). “Syaitan telah menguasai mereka lalu menjadikan mereka lupa mengingat Allah; mereka itulah golongan syaitan. Ketahuilah, bahwa sesungguhnya golongan syaitan itulah golongan yang merugi (QS 58:19). Apabila manusia tidak mau mengikuti syaitan, disamping harus menunjukkan sikapnya yang tegas terhadap syaitan dengan selalu bermusuhan, manusia juga harus berlindung kepada Allah dari segala godaan syaitan.

Salah satu faktor yang membuat kita beruntung dalam hidup kita di dunia dan akhirat adalah karena keimanan dan pengabdian kepada Allah Swt. Dengan itulah, kehidupan kita akan berjalan dan terarah dengan sebaik-baik dan selurus-lurusnya. Namun seringkali ada kendala untuk bisa melakukan hal itu dengan baik, salah satunya adalah tidak adanya konsistensi atau keistiqomahan, sehingga pengabdian kepada Allah tidak berkesinambungan. Manakala pengabdian itu bisa mendatangkan keuntungan duniawi, kita akan terus mengabdi kepada Allah dan bila malah mendatangkan ‘resiko’ tidak menyenangkan, maka kita menjauh dari pengabdian kepada-Nya. Sikap seperti ini merupakan bagian dari kemunafikan yang sangat tercela. Di dalam Islam, sikap seperti itu tidaklah berguna, karena seseorang tidak akan mendapatkan nilai apa-apa dari Allah Swt meskipun ia mengabdi, karena niatnya tidak ikhlas karena Allah dan ini merupakan kerugian yang nyata, Allah Swt berfirman yang artinya: “Dan diantara manusia ada orang yang menyembah Allah dengan berada di tepi, maka jika ia memperoleh kebajikan, tetaplah ia dalam keadaan itu, dan jika ia ditimpa oleh suatu bencana, berbaliklah ia ke belakang. Rugilah ia di dunia dan di akhirat. Yang demikian itu adalah kerugian yg nyata (QS 22:11).

Oleh karena itu, menjadi amat penting bagi kita untuk memiliki sikap istiqomah (memiliki pendirian yang kuat) dalam keimanan dan pengabdian kita kepada Allah Swt. Enak dan tidak enak, senang dan sengsara, dipuji maupun dicela, menguntungkan atau malah merugikan semuanya tidak menggoyahkan kita dalam pengabdian kita kepada Allah Swt, karena inilah yang akan menguntungkan dan membawa ketenangan dalam jiwa kita, Allah Swt berfirman yang artinya: “Sesungguhnya orang yang mengatakan: “Tuhanku Allah”, kemudian mereka istiqomah, maka tidak ada rasa takut atas mereka dan merekapun tidak berduka cita”. (QS 46:13).

Termasuk rugi adalah bila melakukan kebathilan. Secara harfiyah, bathil berarti tidak terpakai, tidak berfaedah, rusak dan sia-sia. Artinya, perbuatan bathil adalah perbuatan yang terlepas atau gugur dari ketentuan syari’at sehingga tidak berguna bahkan mengakibatkan kerusakan. Oleh karena itu perbuatan seseorang disebut bathil apabila bertentangan dengan syari’at, tidak ada faedahnya dan tidak sesuai dengan tuntunan syari’at. Bagi seorang muslim, jangankan melakukan kebathilan, mencampur-adukkan antara kebenaran dengan kebathilan saja sudah tidak dibenarkan, baik dalam bentuk melakukan kebenaran yang disertai dengan melakukan kebathilan atau melakukan kebathilan untuk mencapai tujuan yg haq. Sebab dari kebathilan ini, manusia akan mengingkari Allah Swt dan apa yg datang dari-Nya. Karena itu, manakala manusia mempercayai segala bentuk kebathilan yang menyebabkannya menjadi ingkar kepada Allah Swt, maka ia akan menjadi orang yang merugi. Allah Swt berfirman yang artinya: “Dan orang-orang yang percaya kepada yang bathil dan ingkar kepada Allah, mereka itulah orang-orang yg merugi”. (QS 29:52).

Meskipun Allah dan Rasul-Nya beserta para penerus perjuangan da’wah telah mengingatkan agar manusia tidak melakukan kebathilan, tetap saja banyak manusia yang melakukannya, bahkan dengan peringatan dalam bentuk azab dan bencana pun belum juga bisa menyurutkannya dari jalan bathil. Mereka baru betul-betul paham akan kerugian yang besar di hari akhirat nanti, mereka tidak akan bisa mengelak dari kerugian yang nyata, Allah Swt berfirman yg artinya: “Dan hanya kepunyaan Allah kerajaan langit dan bumi. Dan pada hari terjadinya kebangkitan, akan rugilah pada hari itu orang-orang yang mengerjakan kebatilan (QS 45:27). Karena kebathilan merupakan sesuatu yg hanya mendatangkan kerugian, maka meski pun seseorang berkorban dengan hartanya yang banyak, tetap akan menjadi penyesalan yg sangat dalam karena tidak ada hasil yang mereka peroleh, di akhirat mereka akan menyesal tiada terkira, karena dimasukkan ke dalam neraka, Allah berfirman yg artinya : “Sesungguhnya orang-orang kafir membelanjakan hartanya untuk merintangi agama Allah, maka mereka tetap akan membelanjakan hartanya, kemudian akan menjadi penyesalan bagi mereka, kemudian mereka pasti kalah, sedang orang kafir pasti di kumpulkan dalam neraka jahannam. Untuk memisahkan yg jahat dari yang baik dan Allah akan menjadikan yang jahat setengahnya berkumpul (bertumpuk) dengan setengahnya, lalu dijadikan satu dan dilempar ke dalam jahannam, merekalah orang-orang yang rugi”. (QS 8:36-37).

Ketika seseorang telah menyatakan dirinya beriman kepada Allah Swt, salah satu yang harus dibuktikannya adalah menerima hukum-hukum yang datang dari Allah Swt. Sikap ini menjadi begitu penting agar pengakuan seseorang sebagai mu’min diakui keimanannya oleh Allah Swt. Disamping itu, seorang mu’min juga harus dengan senang hati dan siap menerima Rasulullah Saw sebagai hakim yang memutuskan perkara di antara kaum mu’min atas berbagai persoalan yang mereka hadapi berdasarkan hukum-hukum Allah Swt, tanpa ada rasa berat sedikitpun di dalam hati mereka. Seseorang yang sudah mengaku beriman tapi tidak mau menerima hukum-hukum Allah, maka dia tidak bisa diakui keimanannya oleh Allah Swt sebagaimana firman-Nya yang artinya: “Maka demi Tuhanmu, mereka tidak beriman hingga mereka menjadikan engkau hakim dalam perkara yang mereka perselisihkan, kemudian mereka tidak mendapatkan rasa keberatan dalam hati mereka terhadap putusan yang engkau berikan, dan mereka menerima dengan penerimaan sepenuhnya (QS 4:65). Manakala manusia berlaku demikian, maka dia akan termasuk orang yg rugi, baik di dunia maupun di akhirat, di dunia dia tidak mencapai martabat sebagai seorang mu’min, bahkan tidak memperoleh keuntungan yg bersifat duniawi, sedangkan di akhirat kerugiannya sudah pasti, karena Allah tidak menyukainya sehingga apapun amal yg dilakukannya di dunia meskipun nampaknya baik, tidak akan mendapat nilai & imbalan yg baik dari Allah Swt, amalnya menjadi sia-sia, Allah berfirman yang artinya: “Barang siapa yg kafir sesudah beriman (tidak menerima hukum-hukum Islam), maka hapuslah amal-amalnya dan di akhirat termasuk orang-orang yang merugi”. (QS 5:5).

Dari keterangan beberapa ayat di atas, menjadi amat penting bagi kita untuk selalu mewaspadai, agar tidak sampai tergolong sebagai manusia yang merugi. Amin.

http://alhikmah.com/contents.php?id=334

“Dan bersabarlah kamu bersama-sama dengan orang-orang yang menyeru Tuhannya di pagi dan senja hari dengan mengharap keridhaan-Nya; dan janganlah kedua matamu berpaling dari mereka (karena) mengharapkan perhiasan dunia ini; dan janganlah kamu mengikuti orang yang hatinya telah Kami lalaikan dari mengingati Kami, serta menuruti hawa nafsunya dan adalah keadaannya itu melewati batas.” (QS.Al Kahfi : 28)

note : artikel di atas telah dimuat dalam Labbaik, edisi : 030/th.03/Rabi’ul Awal-Rabi’ul Tsani 1428H/2007M

About these ads

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d blogger menyukai ini: