Hidayah dari Biara

Aku dibesarkan dalam keluarga yang religius. Ayah dan ibuku merupakan pemeluk Katholik yang taat. Sejak bayi aku sudah dibaptis, dan sekolah seperti anak-anak lain. Aku juga mengikuti kursus agama secara privat. Ketika remaja aku aktif di organisasi gereja.
Sejak masa kanak-kanak, aku sudah termotivasi untuk masuk biara. Bagi orang Katholik, hidup membiara adalah hidup yang paling mulia, karena pengabdian total seluruh hidupnya hanya kepada Tuhan. Semakin aku besar, keinginan itu sedemikian kuatnya, sehingga menjadi biarawati adalah tujuan satu-satunya dalam hidupku.

Kehidupanku nyaris sempurna, aku terlahir dari keluarga yang kaya raya, kalau diukur dari materi. Rumahku luasnya 1000 meter persegi. Bayangkan, betapa besarnya. Kami berasal dari etnis Tionghoa. Ayaku adalah seorang pengusaha terkenal di Surabaya, beliau merupakan salah satu donatur terbesar gereja di Indonesia. Aku anak kelima dan perempuan satu-satunya dari lima bersaudara. Aku amat bersyukur karena dianugrahi banyak kelebihan. Selain materi, kecerdasanku cukup lumayan. Prestasi akademikku selalu memuaskan. Aku pernah terpilih sebagai ketua termuda pada salah satu organisasi gereja. Ketika remaja aku layaknya remaja pada umumnya, punya banyak teman, aku dicintai oleh mereka, bahkan aku menjadi faforit bagi kawan-kawanku.

Intinya, masa mudaku kuhabiskan dengan penuh kesan, bermakna, dan indah. Namun demikian aku tidak larut dalam semaraknya pergaulan muda-mudi, walalupun semua fasilitas untuk hura-hura bahkan foya-foya ada. Keinginan untuk menjadi biarawati tetap kuat. Ketika aku lulus SMU, aku memutuskan untuk mengikuti panggilan Tuhan itu.
Tentu saja orang tuaku terkejut. Berat bagi mereka untuk membiarkan anak gadisnya hidup terpisah dengan mereka. Sebagai pemeluk Katholik yang taat, mereka akhirnya mengikhlaskannya. Sebaliknya dengan kakak-kakaku, mereka justru bangga punya adik yang masuk biarawati.

Tidak ada kesulitan ketika aku melangkah ke biara, justru kemudahan yang kurasakan. Dari banyak biarawati, hanya ada dua orang biara yang diberi tugas ganda. Yaitu kuliah di biara dan kuliah di Instituit Filsafat Teologia, seperti seminari yang merupakan pendidikan akhir pastur. Salah satu dari biarawati yang diberi keistimewaan itu adalah saya.
Dalam usia 19 tahun Aku harus menekuni dua pendidikan sekaligus, yakni pendidikan di biara, dan di seminari, dimana aku mengambil Fakultas Comparative Religion, Jurusan Islamologi.

Di tempat inilah untuk pertama kali aku mengenal Islam. Di awal kuliah, dosen memberi pengantar bahwa agama yang terbaik adalah agama kami sedangkan agama lain itu tidak baik. Beliau mengatakan, Islam itu jelek. Di Indonesia yang melarat itu siapa ?, Yang bodoh siapa ? Yang kumuh siapa ? Yang tinggal di bantaran sungai siapa ? Yang kehilangan sandal setiap hari jumat siapa ? Yang berselisih paham tidak bisa bersatu itu siapa ? Yang jadi teroris siapa ? Semua menunjuk pada Islam. Jadi Islam itu jelek.
Aku mengatakan kesimpulan itu perlu diuji, kita lihat negara-negara lain, Philiphina, Meksiko, Itali, Irlandia, negara-negara yang mayoritas kristiani itu tak kalah amburadulnya. Aku juga mencontohkan negara-negara penjajah seperti terbentuknya negara Amerika dan Australia, sampai terbentuknya negara Yahudi Israel itu, mereka dari dulu tidak punya wilayah, lalu merampok negara Palestina.
Jadi tidak terbukti kalau Islam itu symbol keburukan. Aku jadi tertarik mempelajari masalah ini. Solusinya, aku minta ijin kepada pastur untuk mempelajari Islam dari sumbernya sendiri, yaitu al-Qur’an dan Hadits. Usulan itu diterima, tapi dengan catatan, aku harus mencari kelemahan Islam.

Ketika pertama kali memegang kitab suci al-Qur’an, aku bingung. Kitab ini, mana yang depan, mana yang belakang, mana atas mana bawah. Kemudian aku amati bentuk hurufnya, aku semakin bingung. Bentuknya panjang-panjang, bulat-bulat, akhirnya aku ambil jalan pintas, aku harus mempelajari dari terjemah.
Ketika aku pelajari dari terjemahan, karena aku tak mengerti bahwa membaca al-Quran dimulai dari kiri, aku justru terbalik dengan membukanya dari kanan. Yang pertama kali aku pandang, adalah surat Al Ihlas. Aku membacanya, bagus surat al-Ikhlas ini, pujiku. Suara hatiku membenarkan bahwa Allah itu Ahad, Allah itu satu, Allah tidak beranak, tidak diperanakkan dan tidak sesuatu pun yang menyamai Dia. “Ini ‘kok bagus, dan bisa diterima !”, pujiku lagi.

Pagi harinya, saat kuliah Teologia, dosen saya mengatakan, bahwa Tuhan itu satu tapi pribadinya tiga, yaitu Tuhan Bapak, Tuhan Putra dan Tuhan Roh Kudus. Tiga Tuhan dalam satu, satu Tuhan dalam tiga, ini yang dinamakan trinitas, atau tritunggal. Malamnya, ada yang mendorong diriku untuk mengaji lagi surat al-Ihklas. “Allahhu ahad, ini yang benar,” putusku pada akhirnya. Maka hari berikutnya terjadi dialog antara saya dan dosen-dosen saya. Aku katakana, “Pastur (Pastur), saya belum paham hakekat Tuhan.”

“Yang mana yang Anda belum paham ?” tanya Pastur. Dia maju ke papan tulis sambil menggambar segitiga sama sisi, AB=BC=CA. Aku dijelaskan, segitiganya satu, sisinya tiga, berarti tuhan itu satu tapi pribadinya tiga. Tuhan Bapak sama kuasanya dengana Tuhan Putra sama dengan kuasanya Tuhan Roh Kudus. Demikian Pastur menjelaskan.
“Kalau demikian, suatu saat nanti kalau dunia ini sudah moderen, iptek semakin canggih, Tuhan kalau hanya punya tiga pribadi, tidak akan mampu untuk mengelola dunia ini. Harus ada penambahnya menjadi empat pribadi,” tanyaku lebih mendalam.
Dosen menjawab, “Tidak bisa !”
Aku jawab “bisa saja”, kemudian aku maju ke papan tulis. Saya gambar bujur sangkar. Kalau dosen saya mengatakan Tuhan itu tiga dengan gambar segitiga sama sisi, sekarang saya gambar bujur sangkar. Dengan demikian, bisa saja saya simpulkan kalau tuhan itu pribadinya empat. Pastur bilang, tidak boleh. Mengapa tidak boleh ? Tanya saya semakin tak mengerti.
“Ini dogma, yaitu aturan yang dibuat oleh para pemimpin gereja !” tegas Pastur. Aku katakan, kalau aku belum paham dengan dogma itu bagaimana ?.
“Ya terima saja, telan saja. Kalau Anda ragu-ragu, hukumnya dosa !” tegas Pastur mengakhiri.

Walau pun dijawab demikian, malam hari ada kekuatan yang mendorong saya untuk kembali mempelajari surat al-Ikhlas. Ini terus berkelanjutan, sampai akhirnya aku bertanya kepada Pastur, “Siapa yang membuat mimbar, membuat kursi, meja ?” Dia tidak mau jawab. “Coba Anda jawab !” Pastur balik bertanya. Dia mulai curiga. Aku jawab, itu semua yang buat tukang kayu.
“Lalu kenapa ?” tanya Pastur lagi.
“Menurut saya, semua barang itu walaupun dibuat setahun lalu, sampai seratus tahun kemudian tetap kayu, tetap meja, tetap kursi. Tidak ada satu pun yang membuat mereka berubah jadi tukang kayu,” saya mencoba menjelaskan.
“Apa maksud Anda ?” Tanya Pastur penasaran.
Aku kemudian memaparkan, bahwa Tuhan menciptakan alam semesta dan seluas isinya termasuk manusia. Dan manusia yang diciptakan seratus tahun lalu sampai seratus tahun kemudian, sampai kiamat tetap saja manusia, manusia tidak mampu mengubah dirinya menjadi Tuhan, dan Tuhan tidak boleh dipersamakan dengan manusia.

Malamnya, kembali kukaji surat al-Ikhlas. Hari berikutnya, aku bertanya kepada Pastur, “Siapa yang melantik RW ?” Saya ditertawakan. Mereka pikir, ini ‘kok ada suster yang tidak tahu siapa yang melantik RW ?.
“Sebetulnya saya tahu,” ucapku.
“Kalau Anda tahu, mengapa Anda Tanya ? Coba jelaskan !” tantang mereka.
“Menurut saya, yang melantik RW itu pasti eselon di atasnya, lurah atau kepala desa. Kalau sampai ada RW dilantik RT jelas pelantikan itu tidak syah.”
“Apa maksud Anda ?” Mereka semakin tak mengerti.
Saya mencoba menguraikan, “Menurut pendapat saya, Tuhan itu menciptakan alam semesta dan seluruh isinya termasuk manusia. Manusia itu hakekatnya sebagai hamba Tuhan. Maka kalau ada manusia melantik sesama manusia untuk menjadi Tuhan, jelas pelantikan itu tidak syah.”

Malam berikutnya, saya kembali mengkaji surat al-Ikhlas. Kembali terjadi dialog-dialog, sampai akhirnya saya bertanya mengenai sejarah gereja. Menurut semua literratur yang saya pelajari, dan kuliah yang saya terima, Yesus untuk pertama kali disebut dengan sebutan Tuhan, dia dilantik menjadi Tuhan pada tahun 325 Masehi. Jadi, sebelum itu ia belum menjadi Tuhan, dan yang melantiknya sebagai Tuhan adalah Kaisar Constantien kaisar romawi.
Pelantikannya terjadi dalam sebuah conseni (konferensi atau muktamar) di kota Nizea. Untuk pertama kali Yesus berpredikat sebagai Tuhan. Maka silahkan umat kristen di seluruh dunia ini, silahkan mencari cukup satu ayat saja dalam injil, baik Matius, Markus, Lukas, Yohanes, mana ada satu kalimat Yesus yang mengatakan ‘Aku Tuhanmu ‘ ? Tidak pernah ada.
Mereka kaget sekali dan mengaggap saya sebagai biarawati yang kritis. Dan sampai pada pertemua berikutnya, dalam al-Quran yang saya pelajari, ternyata saya tidak mampu menemukan kelemahan al-Qur’an. Bahkan, saya yakin tidak ada manusia yang mampu.

Kebiasaan mengkaji al-Qur’an tetap saya teruskan, sampai saya berkesimpulan bahwa agama yang hak itu cuma satu, Islam. Subhanaallah. Saya mengambil keputusan besar, keluar dari biara. Itu melalui proses berbagai pertimbangan dan perenungan yang dalam, termasuk melalui surat dan ayat. Bahkan, saya sendiri mengenal sosok Maryam yang sesungguhnya dari al-Qur’an surat Maryam. Padahal, dalam doktrin Katholik, Maryam menjadi tempat yang sangat istimewa. Nyaris tidak ada doa tanpa melalui perantaranya. Anehnya, tidak ada Injil Maryam.
Jadi saya keluar dengan keyakinan bahwa Islam agama Allah. Tapi masih panjang, tidak hari itu saya bersyahadat. Enam tahun kemudian aku baru mengucapkan dua kalimah syahadat.

Selama enam tahun, saya bergelut untuk mencari. Saya diterpa dengan berbagai macam persoalan, baik yang sedih, senang, suka dan duka. Sedih, karena saya harus meninggalkan keluarga saya. Reaksi dari orang tua tentu bingung bercampur sedih.
Sekeluarnya dari biara, aku melanjutkan kuliah ke Universitas Atmajaya. Kemudian aku menikah dengan orang Katholik. Harapanku dengan menikah adalah, aku tidak lagi terusik oleh pencarian agama. Aku berpikir, kalau sudah menikah, ya selesai !
Ternyata diskusi itu tetap berjalan, apalagi suamiku adalah aktifis mahasiswa. Begitu pun dengan diriku, kami kerap kali berdiskusi. Setiap kali kami diskusi, selalu berakhir dengan pertengkaran, karena kalau aku mulai bicara tentang Islam, dia menyudutkan. Padahal, aku tidak suka sesuatu dihujat tanpa alasan. Ketika dia menyudutkan, aku akan membelanya, maka jurang pemisah itu semakin membesar, sampai pada klimaksnya.

Aku berkesimpulan kehidupan rumah tangga seperti ini, tidak bisa berlanjut, dan tidak mungkin bertahan lama. Aku mulai belajar melalui ustadz. Aku mulai mencari ustadz, karena sebelumnya aku hanya belajar Islam dari buku semua. Alhamdulillah Allah mempertemuka saya dengan ustadz yang bagus, diantaranya adalah Kyai Haji Misbah (alm.). Beliau ketua MUI Jawa Timur periode yang lalu.
Aku beberapa kali berkonsultasi dan mengemukakan niat untuk masuk Islam. Tiga kali ia menjawab dengan jawaban yang sama, “Masuk Islam itu gampang, tapi apakah Anda sudah siap dengan konsekwensinya ?”
“Siap !” jawabku.
“Apakah Anda tahu konsekwensinya ?” tanya beliau.
“Pernikahan saya !” tegasku. Aku menyadari keinginanku masuk Islam semakin kuat.
“Kenapa dengan dengan perkawinan Anda, mana yang Anda pilih ?” Tanya beliau lagi.
“Islam” jawabku tegas.

Akhirnya rahmat Allah datang kepadaku. Aku kemudian mengucapkan dua kalimat syahadat di depan beliau. Waktu itu tahun 1983, usiaku 26 tahun. Setelah resmi memeluk Islam, aku mengurus perceraianku, karena suamiku tetap pada agamanya. Pernikahanku telah berlangsung selama lima tahun, dan telah dikaruniai tiga orang anak, satu perempuan dan dua laki-laki. Alhamdulillah, saat mereka telah menjadi muslim dan muslimah.

Setelah aku mengucapkan syahadat, aku tahu persis posisiku sebagai seorang muslimah harus bagaimana. Satu hari sebelum ramadhan tahun dimana aku berikrar, aku langsung melaksanakan shalat. Pada saat itulah, salah seorang kakak mencari saya. Rumah cukup besar. Banyak kamar terdapat didalamnya. Kakakku berteriak mencariku. Ia kemudian membuka kamarku. Ia terkejut, ‘kok ada perempuan shalat ? Ia piker ada orang lain yang sedang shalat. Akhirnya ia menutup pintu.

Hari berikutnya, kakakku yang lain kembali mencariku. Ia menyaksikan bahwa yang sedang shalat itu aku. Selesai shalat, aku tidak mau lagi menyembunyikan agama baruku yang selama ini kututupi. Kakakku terkejut luar biasa. Ia tidak menyangka adiknya sendiri yang sedang shalat. Ia tidak bisa bicara, hanya wajahnya seketika merah dan pucat. Sejak saat itulah terjadi keretakan diantara kami. Agama baruku yang kupilih tak dapat diterima. Akhirnya aku meninggalkan rumah. Aku mengontrak sebuah rumah sederhana di Kota Surabaya. Sebagai anak perempuan satu-satunya, tentu ibuku tak mau kehilangan. Beliau tetap datang menjenguk sesekali. Enam tahun kemudian ibu meninggal dunia. Setelah ibu saya meninggal, tidak ada kontak lagi dengan ayah atau anggota keluarga yang lain sampai sekarang.

Aku bukannya tak mau berdakwah kepada keluargaku, khususnya ibuku. Walaupun ibu tidak senang, ketegangan-ketegangan akhirnya terjadi terus. Islam, baginya identik dengan hal-hal negatif yang saya contohkan di atas. Pendapat ibu sudah terpola, apalagi usia ibu sudah lanjut.

Tahun 1992 aku menunaikan rukun Islam yang kelima. Alhamdulillah aku diberikan rejeki sehingga bisa menunaikan ibadah haji. Selama masuk Islam sampai pergi haji, aku selalu menggerutu kepada Allah, “kalau Engkau, ya Allah, menakdirkanku menjadi seorang yang mukminah, mengapa Engkau tidak menakdirkan saya menjadi anak orang Islam, punya bapak Islam, dan ibu orang Islam, sama seperti saudara-saudaraku muslim yang kebanyakan itu. Dengan begitu, saya tidak perlu banyak penderitan. Mengapa jalan hidup saya harus berliku-liku seperti ini ?” ungkapku sedikit kesal.

Di Masjidil-Haram, aku bersungkur mohon ampun, dilanjutkan dengan sujud syukur. Alhamdulillah aku mendapat petunjuk dengan perjalan hidupku seperti ini. Aku merasakan nikmat iman dan nikmat Islam. Padahal, orang Islam yang sudah Islam tujuh turunan belum tentu mengerti nikmat iman dan Islam.
Islam adalah agama hidayah, agama hak. Islam agama yang sesuai dengan fitrah manusia. Manusia itu oleh Allah diberi akal, budi, diberi emosi, rasio. Agama Islam adalh agama untuk orang yang berakal, semakin dalam daya analisis kita, insya Allah, Allah akan memberi. Firman Allah, “Apakah sama orang yang tahu dan tidak tahu ?”

Sepulang haji, hatiku semakin terbuka dengan Islam, atas kehendak-Nya pula aku kemudian diberi kemudahan dalam belajar agama tauhid ini. Alhamdulillah tidak banyak kesulitan bagiku untuk belajar membaca kitab-kitab.
Allah memberi kekuatan kepadaku untuk bicara dan berdakwah. Aku begitu lancar dan banyak diundang untuk berceramah. Tak hanya di Surabaya, aku kerap kali iundang berdakwah di Jakarta. Begitu banyak yang Allah karuniakan kepadaku, termasuk jodoh, melalui pertemuan yang Islami, aku dilamar seorang ulama. Beliau adalah Masruchin Yusufi, duda lima anak yang isterinya telah meninggal dunia. Kini kami berdua sama-sama aktif berdakwah sampai ke pelosok desa. Terjun di bidang dakwah tantangannya luar biasa. Alhamdulillah, dalam diri ini terus menekankan bahwa hidupku, matiku hanya karena Allah.

(sumber : Kisah Irene Handono – Majalah Hidayah)

http://www.kotasantri.com/modules.php?name=Beranda&file=detail&sid=197

note : artikel di atas telah dimuat dalam Labbaik edisi no.010/th.01/DzulQoidah-Dzulhijjah 1425H/2005M

About these ads

5 Balasan ke Hidayah dari Biara

  1. Bayu Janitra mengatakan:

    Assalamua’laikum Wr.Wb..

    Cerita yang menurut saya begitu luar biasa.. didalam keadaan yang hampir tidak mungkin mengenal Islam, Namun Allah Maha Besar.. Allah memberikan hidayah pada siapa saja yang Allah kehendaki… Saya Butuh kontak Ibu Irene, karena saya butuh konsultasi dengan beliau… Mohon berikan saya kontaknya VIA e-mail saya bayu_janitra@telkom.net

    Terima Kasih.. Wassalamua’laikum

  2. team Labbaik mengatakan:

    wa’alaikum salam wr.wb.

    terima kasih atas kunjungan dan komentarnya.
    Anda bisa masuk ke Irena Center dengan cara membuka web beliau di http://irenahandono.or.id/ , pada web beliau tersebut telah disediakan
    fasilitas kalau ingin menghubungi beliau.
    demikian jawaban kami.
    terima kasih

    wassalamu ‘alaikum wr.wb.

  3. Muslim Papua mengatakan:

    BAB II SEJARAH KEBUDAYAAN JAYAWIJAYA PAPUA

    A. Sekilas Budaya Lembah Palim Selatan

    1. Geografis, Iklim dan Penduduk

    Propinsi Papua adalah salah satu propinsi Indonesia dengan luas wilayah 416.000 km2 atau tiga kali setengah Pulau Jawa. Propinsi yang amat luas ini hanya dihuni 2.013.620 juta jiwa penduduk. Dengan tingkat kepadatan penduduk terjarang di Indonesia, yaitu kurang lebih 4 jiwa, perkilo meter persegi. (BPS, Propinsi Papua, 2007).

    Kabupaten Jayawi Jaya berpenduduk 400130 jiwa dengan tingkat kepadatan 8,20 jiwa perkilo meter persegi. Secara geografis Kabupaten Jayawijaya terletak antara 30.20 sampai 50.20′ Lintang Selatan serta 1370.19′ sampai 141 Bujur Timur. Batas-batas Daerah Kabupaten Jayawijaya adalah sebagai berikut : Sebelah Utara dengan Kabupaten Jayapura dan Kabupaten Yapen Waropen, Barat dengan Kabupaten Paniai, Selatan dengan Kabupaten Merauke dan Timur dengan perbatasan negara Papua New Guinea. (BPS, Propinsi Papua, 2007).

    Kabupaten Jayawi Jaya terletak di Pegunungan Tengah Papua. Ibukota Kabupaten Jayawi Jaya adalah Wamena. Kini Kabupaten Jawi Jaya sudah dimekarkan menjadi empat Kabupaten baru yakni : Kabupaten Yahukimo, Kabupaten Tolikara, Kabupaten Punjak Jaya, dan Kabupaten Pegunungan Bintang.

    Jayawi Jaya beriklim tropic basah, hal ini dipengaruhi oleh letak ketinggian di permukaan laut dengan temperatur udara bervariasi antara 80-200Celcius dengan suhu rata-rata 17,50Celcius dengan hari hujan 152,42 hari pertahun tingkat kelembaban diatas 80%, angin berhembus sepanjang tahun dengan kecepatan rata-rata tertinggi 14 knot dan terendah 2,5 knot.

    Topografi Kabupaten Jayawi Jaya terdiri dari gunung-gunung yang tinggi dan lembah-lembah yang luas. Diantara puncak-puncak gunung yang ada beberapa diantaranya selalu tertutup salju misalnya Pucak Trikora 4750 m, Puncak Yamin 4595m dan Puncak Mandala 4760m. Tanah pada umumnya terdiri dari batu kapur/gamping dan granit terdapat di daerah pegunungan sedangkan di sekeliling lembah merupakan percampuran antara endapan Lumpur, tanah liat dan lempung.

    Penduduk asli yang mendiami Kabupaten Jayawi Jaya adalah Suku Dani, Kimyal dan Suku Jali. Selain penduduk asli, terdapat juga penduduk yang berasal dari daerah-daerah lain di Indonesia yang berada di Kabupaten Jayawi Jaya bekerja sebagai pegawai negeri, ABRI, Pengusaha, pedagang, transmigrasi dan sebagainya.

    2. Tempat Tinggal dan Mata Pencaharian

    Rumah bertempat tinggal Suku Dani di sekitar pinggir sungai Palim dan di lereng-lereng bukit Lembah Besar Palim/Balim. Pemukiman penduduk biasanya di sekitar anak sungai dari berbagai arah yang bermuara ke Sungai besar Balim. Pekarangan rumah tempat tinggal Suku Dani di Lembah Baliem Selatan biasa dinamakan Osilimo, yang terdiri dari Honai, Eweai dan Leseai. Osili/Osilimo terdiri dari beberapa unit rumah, Lese, (berbentuk segi empat panjang, paling sedikit 2 sampai 5 rumah lese), Honai, (rumah khusus laki-laki) dan Eweai (rumah tempat tidur khusus perempuan).

    Osili berdiam beberapa kerabat kepala keluarga. Osili terdiri dari tiga sampai empat Lese dan satu Honai Adat (Honai adat biasanya tersimpan benda-benda keramat suku) . Ada juga hanya dua Lese dan satu Honai. Umumnya rumah tempat tinggal di Balim dikelilingi oleh pagar dari batu atau dari kayu. Dalam satu Lese kadang-kadang bisa tinggal dua kelapa kelurga.

    Bentuk rumah Honai dan Eweai bentuknya bulat tanpa ada tempilasi udara, untuk menghindari udara yang sangat dingin. Pada sore hari sampai menjelang tidur malam didalam honay kaum pria buat api agar tetap hangat. Didalam Honay ada para-para untuk tempat tidur kaum pria bersama. Tidak seperti daerah lain, umumnya ruang tidur kaum laki-laki Balim dan wanita harus terpisah. Karena itu adakalanya Honai pria Balim tersimpan benda-benda keramat seperti, hareken, tugi mugu, yang biasa di simpan dalam lemari (kakok), yang dalam tradisi pantangan dimasuki kaum wanita Balim.

    Honai biasanya juga digunakan rapat-rapat kaum pria dalam berbagai masalah terutama membicarakan strategi perang suku antar konfederasi (perang suku kini sudah dilarang oleh pemerintah Indonesia). Berbeda dengan Honai, rumah dengan bentuk sama tapi ukuran agak kecil khusus kaum wanita Balim namanya Eweai. Disamping itu ada rumah tempat berkumpul keluarga yaitu Lesema.

    Lesema atau Lese bentuknya empat persegi panjang, kadangkala bersambung langsung dengan rumah khusus wanita Balim (Eweai). Bagian sebelahnya terdapat kandang babi. Lesema biasanya difungsikan sebagai tempat berkumpul keluarga, menerima tamu keluarga dan ruang makan bersama. Didalam rumah Honai dan Eweai pada sore menjelang malam selalu dibuat api agar tetap hangat.

    Orang Wamena kini sudah banyak yang mengenakan pakaian, tapi pada masa lalu busana mereka adalah Holim bagi pria dan Yokal dan Sili bagi kaum wanita Palim. Holim biasa orang namakan juga dengan sebutan Koteka. Koteka dibuat dari jenis labu yang dikeringkan dan dibolongi sebagai alat penutup aurat pria. Yokal adalah anyaman dari kulit kayu yang dipintal kaum wanita.

    Yokal, biasanya dikenakan bagi wanita yang sudah menikah, sedangkan bagi gadis-gadis Balim pakaian roknya disebut Kemsili. Ciri seorang wanita Balim Selatan sudah menikah atau belum ditentukan dari busan penutup aurat. Jika sudah menikah maka wanita Balim biasanya mengenakan Yokal, tapi kalau masih gadis mengenakan Sili/Kemsili.

    Orang Palim pada umumnya bermata pencaharian sehari-hari bercocok tanam atau petani ladang. Hal ini dimungkinkan karena alamnya cukup subur. Usaha pertanian subsistem di usahakan secara tardisional untuk konsumsi mereka sehari-hari, sehingga tidak menolong banyak untuk meningkatkan taraf hidupnya. Kebun-kebun mereka yang tidak hanya dibuat di Lembah Balim melainkan juga di daerah-daerah yang tinggi di lereng-lereng gunung yang curam, terurus baik.

    Tanaman utama mereka adalah Ubi jalar (Hopuru). Mereka juga menanam Keladi (Hom), Tebu (El) dan Pisang (Haki), dan mereka juga menanam berbagai jenis sayur mayur secara tumpang sari, misalnya; Jagung, Kedele, Buncis, Kol, Bayam dan lain-lain, sebagai tanaman baru yang diperkenalkan oleh para pendatang.

    Menurut Koentjaraningrat (1993), tanaman yang terpenting adalah Ubi atau Hom (Discorea esculania), tebu atau El (Sacharum officinarum), dan sebanyak kurang lebih 17 jenis tanaman lain, berikut varietas-varietasnya. Mereka mengenal sebanyak 50 varietas ubi (Versteegh, 1961), yang masing-masing dipetik pada waktu-waktu berlainan sepanjang tahun. Pengangkutan hasil kebun kerumah dilakukan oleh para wanita.

    Orang Dani juga mengenal sedikit irigasi, dan kebun-kebun mereka seringkali tampak dikelilingi dan dipotong-potong oleh parit-parit kecil, yang mereka buat dengan menggunakan kapak, tongkat tugal, atau dengan mengeruk tanahnya dengan tangan saja.

    Cara bercocok tanam orang Balim adalah berpindah-pindah. Tanah digarap selama beberapa musim tanam, dan apabila tanah itu telah ‘lelah’ karena kehabisan zat-zatnya, tanah itu ditinggalkan. Kemudian di buka sebidang tanah yang baru. Tanah yang telah ditinggalkan itu kemudian memperoleh kesempatanuntuk menjadi subur kembali.

    Disamping bercocok tanam berpindah-pindah (secara teratur), orang Dani juga (banyak) memelihara babi. Binatang ini dapat dimiliki secara pribadi oleh pria maupun Wanita, tetapi yang biasanya memelihara (menggembala) babi adalah wanita dan anak-anak. Pada waktu senja (menjelang malam) babi diberi makan ubi, tetapi sepanjang hari sampai sore binatang-binatang itu dibiarkan berkeliaran di desa atau dikebun untuk mencari makannya sendiri. Babi jantan biasanya di kebiri agar tumbuh menjadi besar, dan hanya sedikit saja yang dipelihara untuk pejantan (sic).

    Orang Dani umumnya mengkonsumsi daging babi pada waktu mengadakan pesta, seperti pesta berkenaan dengan upacara-upacara sepanjang daur hidup individu (kelahiran, inisiasi, perkawinan dan sebagainya), pembakaran jenazah, dan pada pesta-pesta babi. Selain sebagai bahan pangan, babi juga dimiliki untuk menambah gengsi. Orang-orang yang mempunyai kedudukan penting atau orang berpengaruh tentu memiliki banyak babi. Babi juga merupakan barang berharga untuk leperluan-keperluan yang bersifat ekonomi dan sosial , dan dapat dipakai untuk membalas jasa, meredakan permusuhan (dalam perang suku), tetapi juga sebagai unsur (penting) mas kawin (dalam adat perkawinan).

    Pada musim panen ubi, pria Balim Selatan mengurus secara baik kebun kelapa hutan mereka yang disebut Kain. Kain adalah tumbuhan sejenis pohon pandan yang hanya tumbuh di pegunungan diatas ketinggian 3000-4000 dpl. Jenis pohon ini sama halnya dengan pohon Sap/Buah Merah, Wamena, diurus baik oleh kaum pria Balim.

    Disamping Kain, tanaman utama dalam kebun orang Balim Selatan adalah Weramo dan Tuke. Weramo biasanya tumbuh liar di hutan tapi tetap dirawat dengan batas-batas kepemilikan secara jelas dan tegas bagi penduduk. Demikian juga dengan Tuke, yang lokasi tumbuhnya dekat dibawah salju abadi diatas ketinggian 4000 kaki dpl.

    Pria Balim selatan dalam musim kemarau juga sering berburu sebagai pekerjaan sampingan. Biasanya orang Balim Selatan berburu berbagai jenis burung dan kukus, seperti kus-kus pohon, kangguru pohon, burung kasuari dan lain-lain.

    Pada masa kini banyak juga orang Palim yang bekerja berbagai jawatan profesi. UU Otonomi Khusus No 21 tahun 1999, memungkinkan orang Palim/Balim bekerja di berbagai jawatan profesi misalnya pegawai negeri, TNI/POLRI, guru dan lain-lain.

    3. Nama dan Bahasa
    Kris Manning dan Ross Garnaut (1979:9) bahwa daerah pedalaman Papua mulai didiami manusia lebih dari pada 25.00 tahun yang lalu. Penghuni Lembah Baliem yang menurut kata orang di zaman dahulu kala merupakan danau yang sangat luas.

    Perkampungan yang pertama kali diketahui di Lembah Baliem diperkirakan sekitar ratusan tahun yang lalu. Banyak explorasi di dataran tinggi pedalaman Papua yang dilakukan. Salah satu diantaranya yang pertama adalah Expedisi Lorentz pada tahun 1909-1910 (Netherlands), tetapi mereka tidak beroperasi di Lembah Baliem.

    Memang, sebelum kedatangan orang, Suku Dani Balim dari daerah-daerah lain sejak tahun 1909 sudah pernah berhubungan dengan orang-orang dari dunia luar, yaitu dengan kedatangan expedisi militer Belanda kedarah Hulu sungai Lorentz. Orang Dani dari Lemabah Swart bahkan telah berhubungan lebih intensif dengan adanya expedisi ilmiyah pimpinan J. A. G. Kremer didaerah itu dalam perjalanannya ke Puncak Trikora dalam tahun 1920 dan 1921, dan dengan kedatangan expedisi ilmiyah Sterling dalam tahun 1926. Adapun penduduk Lembah Besar Balim baru melihat orang asing ketika expedisi ilmiah R. Archbold melintasi lembah itu dari arah utara ke arah selatan, ditempat Wamena sekarang.

    Richard Archold anggota timnya adalah orang pertama yang mengadakan kontak pada tahun 1935 dengan penduduk asli yang belum pernah mengadakan kontak dengan negara lain sebelumnya. Pengaruh Eropa dibawa ke para Missionaris yang membangun pusat Missi Protestan di Hetegima sekitar tahun 1957. Kemudian setelah Bangsa Belanda mendirikan kota Wamena maka agama Katholik mulai berdatangan.
    Orang Jayawijaya di Lembah Balim dan sekitarnya tidak menyebut dirinya sebagai Suku Dani. Nama ‘Dani’ atau ‘Ndani’ sendiri tidak mereka sukai, baik di sebelah barat maupun di sebelah timur kabupaten.
    Penduduk Jayawi Jaya sebagai satu kesatuan manusia, menyebut nama asal dirinya dengan nama perkampungannya atau kadang-kadang dengan nama dari gabungan perkampungan-perkampungan tempat tinggalnya. Orang Balim tidak mengindetitaskan diri sebagai suku etnis Ndani/Dani, tetapi menyebut diri ‘nit apuni Palim Meke’/kami orang Balim/Palim yang mengandung makna ’manusia sejati dan asli’.
    Penduduk Lembah Besar Balim serta dilembah-lembah lain disekitarnya dalam laporan-laporan atau tulisan-tulisan yang terbit sebelum perang dunia ke II kadang-kadang dikenal dengan nama Pesegem, Timorini, Morip, Uringup dan lain-lain.
    Beberapa orang yang berpandangan lebih luas menyebut dirinya “Nit Apuni Palima Meke”, yang artinya ‘kami manuai Balim’. Adapun nama sekarang yang lazim di pakai pemerintah untuk menyebut seluruh penduduk Lembah Besar Balim adalah Dani, yang juga merupakan nama sebuah klen. Lembah-lembah yang berada dibagian barat, Dani juga merupakan dari nama bahasa mereka. Demikian juga orang Moni menyebut Ndani atau Lani (sic).
    Biasanya Suku Dani akan menyebut asal dirinya dari nama-nama sungai yang mengaliri disekitar rumah tempat tinggalnya, misalnya : Palima/Balima berasal dari nama sungai Palim/Balim, Pelewaga berasal dari nama sungai Peleima, Uelesi/Walesi dari nama sungai Uweima, Hepuba berasal dari nama sungai Hepuima dan Hitigima dari nama hitigima.
    H. Myron Bromley (1994), seorang Missinaris Kristen juga ahli bahasa yang telah lama melakukan penelitian di Papua sejak bulan April 1957, menyatakan bahwa: “Propinsi Irian Jaya terkaya akan kebudayaan dan bahasa yang berbeda karena memiliki kurang lebih 250 bahasa, yang merupakan jumlah yang lebih dari sepertiga dari bahasa di Indonesia”.
    Bahasa daerah di Kabupaten Jayawi Jaya cukup banyak penuturnya dan dapat digolongkan menjadi tiga rumpun bahasa, sebagai berikut:
    a. Rumpun bahasa Ok (ada juga di Papua Nugini) bahasa Ngalum di Oksibil dan Kiwirok sekitarnya, dengan kira-kira 10.000 penutur.
    b. Rumpun bahasa Mek ( belum jelas bagaimana bahasa tersebut)
    c. Rumpun bahasa Balim
    Sub-Rumpun Baliem Pusat dalam penggolongan rumpun bahasa yakni :
    1). Sub Rumpun Yali-Ngalik.
    2). Sub-Rumpun Baliem Pusat
    3). Sub Rumpun Wano
    Perbedaan fonemik dari logat-logat bahasa Dani ini diteliti, H.M.Bromley. Berdasarkan analisanya itu (1961) ada sembilan buah logat, yaitu :
    a). Logat Dani Induk didaerah didaerah Lembah Baliem Hulu.
    b). Logat Dani Bagian Barat di Lembah Ilaga, Sinak, Swart dan Hablifuri Hulu.
    c). Logat Dani Wolo di sekitar sungai Wolo di lereng Gunung Piramid.
    d). Logat Dani Kimbim disekitar sungai Kimbim dan Wosi.
    e). Logat Dani Ibele sekitar sungai Bele.
    f). Logat Dani Aikhe sekitar sungai Aikhe.
    g). Logat Dani dari daerah Wamena dan sekitar sungai Uwe hingga kira-kira sungui Mugi.
    h). Logat Dani Jurang didaerah yang menyempit dilembah sungai Baliem,tempat sungai itu terjun kedalam sungai Vriendschap.
    i). Logat Dani Hablifuri di daerah Hablifuri
    Dialek Lembah Agung Selatan, dari sebelah Selatan Wamena sampai Lembah Samenage di Pasema dan Lembah Wet, Walesi, Walaik, Hetigima, Hepuba, Maima, Seima, Kurima, Tangma, Heageima, kira-kira 20.000 penutur.
    4. Organisasi Sosial dan Kepemimpinan
    Orang Balim harus hidup dalam relasi serasi dengan sesama, alam sekitar dan leluhur. Manusia dengan keseluruhan kosmosnya saling berintegrasi, saling menghidupi. Manusia dengan alam sekitarnya dan denga leluhur dipandang sebagai satu keseluruhan yang saling menghidupi dan bersifat rohani serta jasmani. Manusia merupakan bagian dari alam, saudara semua makhluk sehingga ia dapat menemukan tempat yang sesungguhnya didunianya. Dengan demikian hidupnya baru berarti jika ia berada dengan sesama leluhurnya dan alam sekitar.
    Sistem relasi antara sesama manusia berfungsi menuruti dua prinsip utama, yakni :
    1). Prinsip garis keturunan secara biologis atau geneologis;
    2). Menurut prinsip organisasi sosial
    Namun relasi dapat diperluas secara tak terbatas sampai ada relasi suku atau belahan/paro/moiety/suku. Hal ini di sebabkan karena setiap anggota masyarakat menyatakan keanggotaannya sesuai pengalaman kenyataan hidup dimana ia menjadi anggota suatu kelmpok.
    Masyarakat Baliem Selatan dari masing-masing perkampungan adalah suatu gugusan desa-desa atau kesatuan wilayah dengan pola kekerabatan menjadi terikat satu sama lain dan membedakan diri satu sama lain berdasarkan masing-masing gugusan kelompok tempat tinggalnya. Masing-masing kelompok terdiri dari dua moety (belahan) yang diatur dalam pola perkawinan secara teratur.
    Dua belahan moety adalah memungkinkan kedua bela pihak saling melindungi, menghidupi dan berkembang dalam pola perkawinan yang teratur bersifat patriarki. Hal ini diungkapkan dalam ungkapan sehari-hari dalam sapaan diantara mereka seperti : “Nahgosa (mamaku), neak (anakku)”. Ungkapan demikian ini diucapkan sesama lelaki yang artinya mamaku, anakku yang adalah sapaan umum terhadap perempuan. Makna ungkapan seperti ini mengandaikan; tanpamu aku tiada, dan akupun tiada tanpamu atau tanpaku engkau tiada. Engkau penyebab keberadaanku. Suatu pola hubungan kekerabatan yang erat dan saling menghidupi, bagi keberlangsungan etnisitas mereka..
    Demikian pula lambang lingkaran (termasuk honai yang bulat) dan bahkan pembentukan konsensus maupun pernyataan konsensus yang dinyatakan dalam posisi duduk atau menari dalam bentuk lingkaran, menyatakan keinginan mempertahankan kebersamaan sosial mereka, dengan contoh menjelaskan sikap kekeluargaan dan kebersamaan serta kesetiakawanan sosial yang sangat mereka junjung tinggi.
    Mungkin kesetiakawanan soaial ini merupakan hasil rekayasa sosial beberapa ribu tahun yang lalu, waktu prajurit Wita yang hanya berpanah dan bertombak serta hidup dari perang, bertemu dengan manusia petani Waya di Maima. Pertemuan ini merupakan awal dari suatu hidup sosial bari Wita-Waya sebagai dua belahan/moiety dengan pelarangan pernikahan intern belahan/moiety dari apa yang kini menyebut diri suku atau orang Balim…(sic).
    Relasi belahan/Moiety disebut Wita dan Waya serta merupakan relasi yang cukup luas. Klen suku dalam masyarakat Balim terbagi dalam kedua belahan Wita-Waya tersebut. Misalnya belahan Wita terdiri dari suku Asso, Lagowan, Kosay, Wuka, Lani, Wetipo, Marian, Mulait, Kuresi. Belahan Waya terdiri dari suku: Lokobal, Matuan , Heiman, Huby, Hilapok, Wetapo, Sorabut, Hisage, Doga, Hurukalek.
    Relasi antara kedua belahan lebih tampak dalam perkawinan eksogami dan larangan perkawinan intern klen dari belahan sama. Relasi belahan tampak juga dalam penyelenggaraan ritual dan pesta ewe ako/ mawe/ pesta babi sebagai punjak perayaan dalam kehidupan orang Balim.
    5.1. Keluarga Luas Verilokal
    Kelompok kekerabatan yang terkecil dalam masyarakat orang Dani adalah suatu kelompok virilokal. Karena poligini banyak dilakukan, (Kepala suku Ukumearik Asso pernah memperisteri 50 wanita dalam hidupnya) dan karena (umumnya) seorang pria sering beristerikan 4-5 orang (wanita), maka keluarga-keluarga luas orang Dani tak jarang benar-benar ‘luas’.
    5.2. Klen Kecil
    Dalam tipologi Koentjaraningrat (1994), yang dimaksud dengan klen kecil adalah kelompok kekerabatan yang lebih besar daripada keluarga luas adalah kelompok yang menganggap dirinya seketurunan seorang nenek moyang yang jaraknya kurang lebih 4-5 angkatan keatas. Nama nenek moyang itu biasanya masih diingat, dan warga kelompok biasanya masih mengenal atau mengetahui semua keturunan nenek moyang itu, baik yang hidup maupun yang sidah meninggal.
    Orang Dani menyebut kelompok kekerabatan seperti itu Nyukuloak, (yang arti sebenarnya adalah ‘kepala’, ‘hulu, ‘asal’), dan istilah ilmiahnya adalah ‘klen kecil’. Suatu kelompok seperti itu biasanya tersebar di dalam beberapa perkampungan, tetapi terbatas pada suatu daerah tertentu. Dalam tradisi Suku Dani Balim, agaknya kelompok kekerabatan klan ini yang terpenting dan paling utama.
    5.3. Klen Besar
    Kelompok kerabat yang lebih besar daripada klen kecil adalah klen besar (Nyukuluak). Nenek moyang mereka sudah tidak dikenal lagi, karena jaraknya sudah terlampau jauh. Para warga kelompok kekerabatan klen besar hanya mengetahui bahwa mereka adalah warga Nyukuluak tertentu, karena adat dan kewargaannya juga diperolehnya secara patrilineal.
    Jumlah warga klen besar orang Dani kadang-kadang beratus-ratus, bahkan beberapa ribu jiwa, yang tinggal tersebar di daerah yang lebh luas daripada daerah klen kecil, sehingga para warganya seringkali sudah tidak saling mengenal. Menurut laporan H. L. Peters (1965), klen-klen orang Dani tidak menampakkan ciri-ciri totemisme, yaitu adat untuk berjatidiri dengan lambang binatang atau tumbuh-tumbuhan, walaupun dalam laporan Wirz mengenai penduduk Lembah Swart adat itu ada.
    Namun sesungguhnya totemisme itu tetap ada di Lembah Balim Selatan. Dalam clan, adat bahwa marga tertentu dengan lambang hewan atau burung dan tumbuhan tertentu sebagai bagian yang tak terpisahkan, bahkan mereka menganggap bahwa hewan tertentu adalah seketurunan, karena itu pantangan memakannya atau sekedar membunuh.
    5.4. Paroh Masyarakat
    Akhirnya perlu kita sebutkan disini suatu bentuk kelompok kekerabatan orang Dani yang lebih besar lagi, yaitu kesatuan sosial yang terdiri dari gabungan berbagai clan, yang dalam bahasa Dani disebut Nyukuluak Ewe, yaitu Wita dan Waya (sic). Dalam perhitungan Koentjaraningrat (1994), diseluruh Lembah Balim ada dari dua Ewe Nyukuluak Wita dan Waya. Dalam Wita 23 dan Waya 26 buah klen. Namun perhitungan ini belum menunjukkan keseluruhan penduduk Lembah Balim yang kenyataannnya sangat banyak dalam keanggotaan Nyukuluak Ewe, sehingga jumlahnya lebih banyak dari perhitungan ini.
    Orang Balim cenderung menganggap sesama mereka memiliki derajat dan martabat yang sama. Pandangan demikian mempengaruhi penilaiannya terhadap orang yang datang dari luar kelompok mereka. Orang Balim tidak membuat klasifikasi ataupun stratifikasi sosial ataupun menjadikan stratifikasi pemimpin mereka.
    Budaya Orang Dani, Baliem Selatan adalah suatu budaya yang berorientasi pada masa lalu. Orang Dani, Baliem Selatan senantiasa, dan selalu ingin mewujudkan masa lalu nenek moyang pada masa kekiniannya adalah suatu usaha senantiasa dan terus-menerus tanpa henti.
    Manusia Baliem Selatan memandang dirinya adalah manusia sejati (superior). Masing-masing klen menganggap dirinyalah yang asli tanpa memandang selainnya inferior (rendah). Karena itu Orang Dani Baliem Selatan tidak ada sikap ketundukan ataupun membudak pada orang lain selain dirinya.
    Dr. H.L. Peters yang menulis disertasinya mengenai kebudayaan Balim berjudul “Some observation of the social and religious life of a Dani-Group” (1975) dalam salah satu kunjungan selama enam bulan di Balim, berkesan bahwa “biasanya orang Balim mengurus hidupnya sendiri dengan baik dalam bermacam-macam situasi. Mereka menyelenggarakan pesta-pesta raya dan menjamu ratusan tamu secara tertib. Penampilan asli orang Balim pada umumnya menunjukkan bahwa mereka tahu harga diri. Dalam cara hidup mereka tidak tampak sikap membudak atau menundukkan kepala kepada orang lain atau siapapun juga. Mereka lebih sering mengambil inisiatif sendiri dan tidak mengenal struktur-struktur yang ditata rapi dan harus menantikan perintah dari atas”.
    Seorang Kepala Suku adalah orang yang berani dalam memimpin pertempuran perang suku dan mampu memimpin warganya dalam keadaan sulit.Sehingga kepemimpinannya adalah hasil prestasi sendiri. Seorang kepala suku sebagai pemimpin bukan karena warisan. Karena itu seorang Pemimpin Suku Dani Baliem Selatan, sebagai kepala suku, orang besar adalah jika terdapat hal-hal berikut ini untuk dapat menaikkan bintang nama kepemimpinannya sebagai pemimpin adalah : Pengakuan akan keberaniannya memimpin perang suku, berani mengambil keputusan dalam keadaan sulit, kualitas pembicaraan yang baik/kepandaian berdiplomasi, bersikap lemah lembut kepada semua orang besar kecil, dan selalu tahu segala soal.
    Tapi keberanian berperang dan ketepatan mengambil keputusan dalam kesulitan, adalah kepribadian paripurna (par exelence) seorang pemimpin dalam tipologi masyarakat suku Dani Baliem Selatan. Seorang Pemimpin Jayawijaya, Suku Dani Baliem Selatan adalah seseorang yang memimpin pesta adat di Honay dan memiliki hubungan yang luas dimasyarakat.
    Seorang pemimpin Jayawijaya adalah orang yang tidak memandang orang lain rendah. Tapi menghormati semua orang tanpa memadang usia dan jenis kelamin, suku, marga dan menerima tamu dengan layak. Pemimpin Suku Dani adalah seseorang yang mengaku dirinya kepu, (orang biasa) dan dengan warga suku lainnya tidak merendahkan. Tidak membanggakan dirinya sebagai orang besar. Tapi dapat bergaul baik dengan semua lapisan masyarakat. Dapat dimintakan jasanya dan dikunjungi waktu kapan saja. Memberikan miliknya yang berharga dan bernilai dimasyarakat.
    Hampir semua pemimpin Balim menghendaki agar anak-anak mereka kelak menjadi pemimpin/Kainc. Anak-anak kainc lebih berpeluang menjadi kainc, sebab sejak kecil mereka sudah lebih awal mempelajari dan terlibat dalam upacara adat yang dipimpin para kainc, yang meliputi transaksi politik, ekonomi dan sosial budaya yang dilakukan orang tua mereka.
    Dalam masyarakat orang Dani seorang pemimpin adalah orang yang memiliki kewibawaan dan kekuasaan yang sangat besar, sehingga ia dijadikan teladan oleh sebahagian besar warga masyarakatnya. Pergantian pemimpin tidak dilakukan berdsarkan adat istiadat resmi, atau pernyataan-pernyataan secara resmi…
    Pengangkatan kainc terjadi bukan karena warisan, tetapi karena (berdasarkan) keterampilan dan kelebihan serta prestasi yang mesti diekspresikan dalam bentuk keberanian berperang sebagai pemimpin pasukan, serta banyaknya membunuh musuh (dalam perang suku antar konfederasi). Faktor ini juga turut memberi kepercayaan atau menaikkan’bintangnya’, misalnya Ukumearik Asso dari Hetigima yang bukan keturunan kainc, tetapi menjadi kepala suku besar (konfederasi) karena prestasi yang dicapai selama mengembangkan kepemimpinan ia masih remaja hingga dewasa ia senantiasa berani tampil di medan perang.
    Tidak ada syarat-syarat resmi untuk menjadi pemimpin, maka segala hal yang dapat menyebabkan orang untuk memperoleh pengaruh yang luas dapat kita masukkan kedalam syarat-syarat untuk menjadi tokoh kainc dalam masyarakat Dani. Oleh karena itu kepandaiaan bercocok tanam, berburu, berbicara, berdiplomasi, sifat ramah, murah hati, dan kekuatan fisik serta keberaniaan untuk berperang, dapat disebut sebagai syarat-syarat untuk menjadi pemimpin.
    Syarat-syarat lain yang diberikan oleh Stefanus Ngadimin (1993 : 81), bahwa : “Kainc dapat berarti kuat, cakap, dermawan, pemberani, terhormat, kaya, baik hati, berwibawa, ataupun berpengaruh. Kainc diakui setelah ia dapat menunjukkan bukti-bukti kelebihan dan kemampuannya yang dapat dilihat dan dirasakan oleh suatu kekuatan yang memaksakan kehendak terhadap warga masyarakatnya”.
    5. Religi dan Perubahan Budaya
    Sejarah Kebudayaan Adat Suku Dani Baliem Selatan, adalah salah satu aspek budaya dari budaya-budaya Papua. Namun sejak awal penting disampaikan bahwa konsepsi religi Balim Selatan khususnya dan Jayawi Jaya umumnya bersifat tertutup dan rahasia bagi orang lain.
    Tidak ada pretensi bahwa; Religi Suku Dani, Palim Selatan, adalah satu-satunya pandangan dari religi-religi dalam kebudayaaan Palim, Jayawi Jaya, kecuali hanya salah satunya. Sebab Bangsa Papua yang memiliki hampir 240, diantara 558 bahasa diseluruh Indonesia, (H. Myron Bromley; 1994), tentu memiliki keragaman suku dan budaya yang antara satu dan lainnya bisa berbeda. Karena setiap pandangan manusia selalu dan selamanya pandangan partial, tidak comprehenshif sekaligus. Hal ini menyangkut unsur subyektivitas, tempat dan waktu, yang selalu dan selamanya relatif. Berarti Sejarah religi Suku Dani Palim Selatan yang diangkat disini mengandaikan relativitas pandangan manusia.
    Namun semua ahli yang meneliti tentang agama suku-suku di Fasifik dan Papua (Jan Buelars; 1987), menunjukkan bahwa keseluruhan suku bangsa Papua dalam mithologi keagamaannya menganggap mereka berasal dari dalam Goa. Demikian juga konsepsi Suku Dani, Palim Selatan bahwa manusia pertama muncul dari daerah Maima. Sebahagian menyebut manusia pertama keluar dari lubang di daerah Seima, ada juga yang menyebut di Wesagaput dan Orang Kurulu menyebut dari Goa di daerahnya. Masing-masing sub-suku juga menganggap bahwa daerahnyalah yang merupakan tempat asal usul manusia pertama muncul di Lembah Balim.
    Menurut Suku Dani Lembah Palim Selatan, asal mula kejadian manusia berasal dari Seima, bagi orang Kurima, dari Maima bagi orang yang daerahnya dari Maima, Hitigima, Hepuba, Megapura (Sinata), Walesi, dan Walaik. Tapi ada juga yang mengatakan bahwa tempat itu adalah Wesagaput, dekat muara sungai Uwe dan Balim, demikian umumnya lokasi dikenal orang-orang Suku Dani Palim Selatan.
    Perbedaan hanya dalam soal tempat. Karena masing-masing suku mengakui asal daerahnyalah asal mula manusia muncul. Kecuali perbedaan terletak pada lokasi, moeity (marga), clan, konfederasi dan aliansi perang suku.
    H. M. Bromley (1993), yang mengutip dari hasil pengamatan Robert. N. Bella, menunjukkan bahwa, Religi dibedakan dari agama. Religi menekankan bentuk hubungan dengan obyek diluar diri manusia. Obyek bersifat polyteis (satu Ilahi Tertinggi diatas ilahi lain), bersifat lokal dan tidak berdasarkan wahyu tertulis (intuisi). Sebaliknya agama lebih ditekankan pada bentuk hubungan satu Ilahi Tertinggi (moneteisme), bersifat universal dan berdasarkan wahyu tertulis serta teruji dalam sejarah yang panjang. Pandangan religi orang Balim diarahkan ke masa lampau sampai pada zaman pra existensi dunia dan manusia.
    Dengan demikian religi menurut konsep orang Balim adalah religi ketergantungan dengan obyek diluar dirinya (yang Kuasa, Yang Ilahi, Yang Kudus, Realitas Mutlak) dan juga relasi denga masyarakat dan linkungannya (Myron Bromley, 1991:3).
    a). Mithology Asal Mula Kejadian Manusia
    Manusia awal muncul dimuara sungai antara Palim dan Eagec-ima. Nama tempat itu adalah Wesapot (dekat muara sempit sungai Palim/arus air deras). Tempat itu kini ditutupi oleh sungai Eagec-Ima (Eagenyma). “Wesapot”, yang artinya; “dibelakang keramat”, “rahasia”, dari ada. Terdiri dari dua kata yaitu : Wesa = “keramat/rahasia/tabu/tidak boleh”. Apot = “dibelakang”, “tertutup (rahasia)”. Jadi Wesapot artinya; “dibelakang semua (rahasia) dari ada”.
    Tatkala manusia mula-mula muncul dari lubang itu, manusia yang paling pertama keluar menepati dan menguasai area lokasi daerah ini. Manusia tidak sendirian keluar dari lubang Goa itu. Setiap clan keluar dari lubang itu bersama dengan beberapa hewan. Tapi berturut-turut dengan berbagai jenis hewan dan binatang semuanya keluar lewat lubang Goa itu. Masing-masing clan keluar dengan membawa simbol-simbol tertentu dari hewan maupun tumbuhan.
    Tapi manusia yang paling belakang keluar orangnya beda. Karena warna kulitnya putih, orangnya tinggi sekali, karena dia lain sendiri maka dia dibunuh, dan bagian potongan-potongannya itu yang sampai kini masih tersimpan di sejumlah Honai Adat di seluruh Lembah Balim/Palim. Orang yang dibunuh itu namanya Naruekut. Tempat ini, Wesapot, kini masih ada sisa-sisa jejak manusia awal itu.
    Bukti-bukti berupa simbol tentang jejak sejarah kejadian manusia mana kini dapat disaksikan berupa pohon yang digunakannya sebagai tangga untuk naik kelangit untuk selama-lamanya, honai keramat, dimana bagian potongan disimpan oleh masing-masing clan bersama simbol-simbol berupa batu hitam.
    Menurut Miron Bromly, simbol Matahari dan Bulan terkait erat dengan benda sakral yang hinggi kini disimpan didalam lemari (ka’kok), honai pria. Benda yang disimpan didalam lemari honay pria adalah berupa batu hitam, sejenis dengan axe (batu hitam) namanya tugi/hareken.
    Batu jenis ini pada masa lalu dapat pula dibentuk menjadi kampak, mahar perkawinan dan kematian. Dalam bahasa Dani batu serupa ini disebut dengan nama “Ye Eken”. Tapi Ye Eken berbeda dengan Hareken sebagai simbol kekeramatan yang padanya bergantung segala pandangan baik-buruk, kesuburan dan satu-satunya benda yang dihadirkan dan diarahkan dari semua aktivitas hidup dan kehidupan manusia Baliem.
    Hareken dapat pula disebut dengan nama tugi/tugieken. Nama ini arti sebernarnya terkait dengan nama manusia awal. Manusia awal yang dianggap sebagai “Tuhan” dalam religi manusia Baliem Selatan itu adalah asal nenek moyang yang telah pergi naik kelangit. Manusia asal itu kini menjadi matahari dan menerangi manusia di bumi. Maka matahari ada hubungannya dengan benda keramat yang disimpan di Honay keramat pria. Honay tempat dimana terdapat benda “Tugi atau Hareken” dinamakan dengan “kanekala atau tugiaila”.
    “Hareken” terdiri dari dua kata yakni “Har’”= Engkau Yang Maha. “Eken” = Inti/Pusat. Jadi hareken adalah “Pusat dari Engkau yang Maha Mengatasi/Maha Melampaui dari semua yang ada”. Tapi pengertian lain dari terjemahan “Hareken/Tugieken” sebagaimana dalam buku Kebudayan Jayawijaya; Myron Bromly, menerjemahkan pengertian “Hareken/Tugi-Eken” agak lain atau sama dengan; Pengertian “Wesapot” “dibelakang rahasia”.
    Jadi, “dibelakang dari ada” atau “Hareken” adalah “sesuatu dibalik dari ada”. Hal ini dapat di ungkapkan dengan kalimat dalam bahasa Baliem Selatan sebagai berikut : “Yimeke Timeke Timeke Ero Pakiat Atukenen” artinya: “Sumber segala sumber berasal. Maka “Kaneka atau Tugi-Eken” adalah yang dimaksudkan dengan “sumber segala sumber segala sesuatu berasal”.
    Pandangan demikian didapati dalam budaya atau religi Suku Dani Baliem Selatan. Ketika awal mula manusia muncul dimuka bumi, di daerah Wesapot/Maima, (daerah ini bagian dari Kecamatan Hitigima, (12 km2 dari kota Wamena arah Selatan).
    Lokasi manusia keluar tempatnya persis dimuara sungai Eagec-Ima. Kerahasiaan tempat dan lokasi ini pantangan untuk diketahui lain clan-nya, sebagaimana diakui Astrid S. Susanto-Sunario (1993), yaitu adat masyarakat Baliem atau Parim, sebenarnya dirahasiakan terhadap orang luar dan jelas tidak boleh diketahui oleh warga perempuan (Parim) , juga termasuk sesama warga Suku Dani Baliem yang bukan clan murni geneologis sendiri yang bersifat patrilineal pantangan disampaikan.
    Dari berbagai sumber informasi clan Asso dari moiety Asso-Wetipo, menunjukkan bahwa yang menerima mandat dan memelihara tempat-tempat keramat itu adalah suku Asso dari dalam moiety Asso-Wetipo di Wesapot. Namun clan yang disubut pertama lebih banyak penulis dapatkan ceritera tentang mithologi asal muasal kejadian manusia ini. Dalam tradisi Palim Selatan dalam clan terdiri dari dua moiety/parohan yang dalam budaya Jayawiajaya boleh melakukan perkawinan yakni moiety Asso dan Wetipo, digabung menjadi satu dan disebut dengan Assotipo.
    Orang-orang Assotipo menuturkan kepada penulis bahwa manusia pertama keluar dari dalam Goa, persis di muara sungai Eagec. Tempat itu kini sejak semula ditutupi dan dialiri oleh sungai Eagec. Sungai Eagec, “dipanggil” oleh manusia pertama. Manusia pertama adalah orang yang muncul atau keluar dari dalam Goa. Karena malu dia memanggil sungai Eagec agar mengaliri (menutupi), Goa tempat dimana manusia pertama muncul. Ditempat itu asal muasal manusia keluar dan kini tersebar seluruh dipermukaan bumi.
    Ada kesan penulis bahwa sejarah konsepsi manusia Jawaijaya penuh dengan perlambangan, termasuk ceritera mythology asal kejadian manusia Suku Dani Lembah Paliem Selatan, ini.
    b). Modernisasi
    Modernisasi pada dirinya mengandung pengertian pembaharuan yang meliputi seluruh aspek kehidupan, pergantian cara poduksi, pikiran dan perasaan yang mengarah kepada hal-hal yang baru: nilai-nilai/norma-norma sosial, pola-pola perilaku, organisasi, lembaga-lembaga kemasyarakatan, lapisan-lapisan dalam masyarakat, kekuasaan dan wewenang serta interaksi sosial dan seterusnya untuk suatu kehidupann yang lebih baik dan lebih layak.
    Modernisasi merupakan proses sistematik. Modernisasi melibatkan perubahan pada hampir segala aspek tingkah laku sosial, termasuk didalamnya industrialisasi, urbanisasi, sekularisasi, sentralisasi dan sebagainya. Dalam rangka mencapai status modern, struktur dan nilai-nilai tradisional secara total harus diganti dengan seperangkat sruktur dan nilai-nilai modern. Untuk hal ini, Huntington, menyatakan, bahwa teori modernisasi melihat ‘modern’ dan ‘tradisional’ sebagai dua konsep yang pada dasarnya bertentangan (asimetris).
    Karena itu ahli sejarah dunia Marshall Hodgson lebih cenderung tidak menamakan zaman mutakhir umat manusia yang dikuasai oleh ilmu pengetahuan dan teknologi ini sebagai ‘Zaman’ Modern’-karena konotasi perkataan ‘modern’ yang selalu positif- melainkan ‘Zaman Teknik’ (Teknik Age) dengan konotasi yang netral, dapat baik dan dapat pula buruk. Karena kenetralan ‘Zaman Teknik’ itu maka peran etika amat penting. Bahkan Roger Garaudy (Muallaf, nama syahadatnya, Muhammad Nuruddin), menyebut zaman teknik sebagai ‘agama piranti’ ; Yakni suatu zaman yang didominasi oleh piranti, teknik atau instrumen, dan sedikit sekali menjawab apa sebenarnya tujuan intrinsik dari semua itu. Piranti, teknik, dan instrumen menjadi tujuan dalam dirinya sendiri sehingga menguasai hidup manusia dan menjadi agama baru.
    Sampai bulan April 1954, waktu beberapa orang pendeta Nasrani dari Amerika Serikat dari organasasi penyiaran agama Cristian and Missionary Alliance (disingkat CAMA) tiba, orang Palim masih hdup terpencil dari dunia luar. Mereka pada waktu itu masih menggunakan alat batu yang sama bentuknya seperti oleh para ahli prasejarah diperkirakan berasal dari kala Neolitik, sehingga mereka seakan-akan masih berada dalam Zaman Batu Neolitik. Para pendeta itu kemudian beberapa pusat penyiaran agam di bagian selatan Lembah Balim di daerah konfederasi Asso-Lokobal/Asso-Wetipo (sic). Dengan kehadiran para pendeta itu sebahagian orang Dani tiba-tiba dihadapkan pada dunia luar yang diwakili orang-orang bule, yang cara hdupnya dilengkapi peralatan yang serba modern, dari yang berukuran kecil yang dipakai sehari-hari, sampai pesawat terbang, yang mereka gunakan sebagai alat transportasi untuk keluar masuk daerah Lembah Balim.
    Kontak dengan dunia luar menjadi lebih merata ketika pemerintah Belanda dalam tahun 1956 mendirikan pos pemerintah di Wamena, yang dilengkapi dengan lapangan terbang yang dapat didarati pesawat-pesawat sebesar Dakota dan ketika organisasi penyiaran agama Katolik Minnebriders Fransiskanan membuka pusat kegiatannya di Wamena dua tahun kemudian.
    Sebagaimana dikemukakan sebelumnya bahwa kontak awal suku Dani di Balim terjadi pada tahun 1926, dengan kedatangan expedisi ilmiah Steerling. Proses modernisasi pada masyarakat Balim telah terjadi menurut tahapan kurun waktu, sebagai berikut :
    1). Masa kontak expedisi Steerling pada tahun 1926;
    2). Masa kontak budaya pada tahun 1954-1962.
    Kontak modernisasi disini lebih pada budaya material (kapak, pembukaan pos-pos pemerintah/missi serta pembukaan jalan-jalan raya (zaman pemerintahan kolonial Belanda).
    3). Masa integrasi pada tahun 1963-1969.
    Pada masa ini Suku Dani terintegrasi kedalam negara RI melalui Penpres 1 tahun 1963 dan pada tanggal 16 September 1969 dengan peristiwa Pepera.
    4). Masa awal pembangunan pada tahun 1970-1974.
    Pada masa ini pembangunan belum banyak tampak, banyak sekolah dibuka, komunikasi cukup lancar, perumahan dikota Wamena makin bertambah, pos-pos di kecamatan dan jalan-jalan raya dibangun, rumah sakit dan seterusnya.
    5). Masa Adaptasi pada tahun 1975-1981 Pada masa ini banyak pendekatan pembangunan dilakukan sebagai adaptasi sosial-budaya, Pemerintah Desa dibentuk menurut UU Mendagri No. 5 Thn 1974, kursus pelopor pembangunan desa dibuka (KPPD) sebagai tempat pengkaderan dari wakil tiap desa yang dibentuk. Proses pembangunan diterima baik dalam bernahasa Indonesia yang baik dan banyak hal mengalami penyesuaian dan perubahan.
    6.). Masa transisi pada tahun 1982- sampai sekarang
    Sebgaimana pada umumnya daerah Pegunungan Tengah Papua, dalam tahun 1980-1990 awal, Suku Dani, banyak di jumpai kaum prianya mengenakan busana Koteka dan rumbai bagi wanitanya. Dikota kini tidak banyak dijumpai, namun daerah-daerah yang masih terisolasi dan jauh dari pusat pemerintahan banyak terdapat penduduknya yang masih mengenakan Koteka sebagai lambang ketertinggalan dan keterbelakangan.

    Usaha moderinisasi baru dilakukan oleh oleh aparat militer Indonesia seperti dalam operasi task force oleh Gubernur Aqub Zaenal pada tahun 1970-an awal. Tapi dalam pengertian sesungguhnya usaha modernisasi dilakukan oleh Missionaris dan pemerintah Indonesia.
    c). Agama
    Pada mulanya Missionaris Kristen dari Amerika dan Katolik dari Belanda tidak sanggup mengajak suku Dani Palim/Balim dari Konfederasi Asso-Lokowal dan Asso-Wetipo, untuk menganut agama yang mereka bawa. Suku Dani Balim Selatan walaupun pada awalnya menerima kehadiran orang Barat, tapi sikapnya agak takut-takut, karena menurut mereka orang Barat persis Mokat (setan), yaitu arwah orang Dani yang telah meninggal , dan muncul kembali semacam reinkarnasi.
    Orang Lembah Balim mulai mendengar injil yang disampaikan beberapa orang utusan injil CAMA dan beberapa orang Me yang datang kesana dalam bulan April 1954. Salah satu utusan injil orang Me yang pertama pergi ke Balim mengabarkan injil di Balim ialah : Elisa Gobay.
    Missi agama yang pertama muncul Lembah Balim, Wamena Kabupaten Jayawi Jaya tempatnya di Hitigima, di daerah Konfederasi Asso-Lokobal/Asso-Wetipo, pada bulan April tahun 1954, oleh beberapa pendeta Nasrani (Kristen Protestan) dari Amerika Serikat dari Organisasi penyiaran Agama Cristian and Missionary Alliance (CAMA). Kemudian disusul organisasi penyiaran agama Katolik Minnebroeders Franciscanen membuka pusat kegiatannya di Wamena atau Woma di wilayah konfederasi Lagowan-Matuan dua tahun 1956 dan di Hebupa distrik Asso-Lokobal.
    Mula-mula kehadiran dua agama besar yang dibawah pertama oleh para Missionarisnya tidak menarik perhatian Suku Dani Lembah Balim Selatan. Sampai dengan tahun 1970-an tidak satupun penduduk pribumi memeluk agama. Bahkan sikap mereka menolak habis-habisan.
    Orang Balim menurut Dr. Benny Giay, (1998), tidak serta merta menerima agama Kristen yang di bawa utusan injil. “Berbeda dengan orang Dani Barat, orang Dani di Lembah Balim menolak injil selama bertahun-tahun. Penerimaan Injil di Lembah Balim tidak terjadi secara cepat, tetapi bertahap. Baru akhir tahun 1970-an orang Dani Lembah Balim mulai menerima kabar gembira”.
    Dan terakhir pada masa integrasi Papua kedalam negara RI, bersamaan itupula agama Islam di perkenalkan kepada Suku Dani di Lembah Balim tepatnya di daerah Megapura antara tahun 1963-1969 di wilayah Konfederasi antara Asso-Lokobal, Wuka-Wetapo dan Lani-Wetapo.
    Pengaruh Islam secara luas diseluruh pelosok daerah propinsi Irian Jaya dan dengan semua kelompok suku di daerah ini dalam hidup sehari-hari dalam semua bidang kehidupan, baru mulai dirasakan setelah Irian Jaya berintegrasi menjadi bagian dari Republik Indonesia awal tahun 1960-an.
    Pada umumnya Suku Dani hingga dewasa ini masih menghayati nilai-nilai lama mereka sebagai agama. Animisme cukup dominan saat-saat ini hingga tahun yang akan datang ini, mengingat sangat lambatnya proses modernisasi atau transpormasi nilai-nilai baru, terutama pembangunan oleh pemerintah dan perubahan oleh semua pihak.
    d). Pendidikan
    Pada awalnya orang tua kalangan suku Dani Asso-Wetipo dan Asso-Lokowal menolak menyekolahkan anak-anak mereka di sekolah yang disediakan oleh para missioris, hal demikian dihadapi oleh perintah Indonesia pasca integrasi. Dalam hal pendidikan maupun agama, pada mulanya para kepala suku menolak ajaran agama maupun menolak anaknya untuk disekolahkan.
    Lembaga pendidikan atau sekolah-sekolah yang dibangun para missionaris Barat dan Pemerintah Indonesia tidak menarik minat Suku Dani di Balim Selatan. Namun secara bertahap baru ada anak Suku Dani mulai dididik dan sekaligus di Baptis. Putra Balim yang telah menjadi sarjana dan sarjana muda antara lain adalah David Huby, Simeon Itlay, Benny Hilapok, Agus Alua, Bartol Paragaye, Bonafasius Huby, Alpius Wetipo, Tobias Itlay, Damianus Wetapo, Dominicus Lokobal, Benny Huby, Vincent, Jelela Wetipo, Tadius Mulait dan lain-lain.
    Saat ini deretan intelektual pertama Papua adalah hasil godokan para missionaris, misalnya; Benny Giay, Sofyan Nyoman, (Protestan), Agus Alue Alua, David Huby [Bupati Kab. Jayawi Jaya, tahun 1999-1996], Niko Asso-Lokowal (Katolik).
    B. Sejarah Islam Suku Dani Palim Selatan
    1. Muslim Palim Wamena

    Dalam berbagai laporan para ahli dan seminar-seminar menunjukkan bahwa sebelum agama-agama besar lainnya datang ke Papua Islam sudah lebih awal masuk ke Papua. Sebagaimana hal ini di laporkan seorang antropolog Papua Dr. J. R. Mansoben (1997) : ‘Agama besar pertama yang masuk ke Irian Jaya (Papua) adalah Islam. Agama Islam masuk di Irian Jaya yaitu didaerah Kepulauan Raja Ampat dan daerah Fak-Fak berasal dari Kepulauan Maluku dan disebarkan melalui hubungan perdagangan yang terjadi diantara kedua daerah tersebut’. Menurut Van der Leeder (1980, 22), agama Islam masuk di kepulauan Raja Ampat pengaruh dari kesultanan Tidore tidak lama sesudah agama tersebut masuk di Maluku pada abad ke 13.
    Maka tidaklah mengherankan bila, ‘kedatangan Missionaris Kristen pertama justeru diantar oleh Muballiqh Islam dari Kerajaan Tidore pada tanggal 5 Pebruari 1855 disebuah Pulau Kecil Mansinam diperaiaran Manokwari. Dua Missionaris dari Jerman itu adalah C. W. Ottow dan G. J. Geissler’.
    Pengaruh Islam secara luas diseluruh pelosok daerah Propinsi Irian Jaya dan dengan semua kelompok suku di daerah ini dalam hidup sehari-hari dalam semua bidang kehidupan, baru mulai dirasakan setelah Irian Jaya berintegrasi menjadi bagian dari Republik Indonesia awal tahun 1060-an.
    Dalam akhir tahun 1960-an akhir di kota Wamena datang penduduk transmigrasi dari Jawa dan para perantau (urban asal Indonesia Timur, terutama orang Bugis, Buton, Makasar dan Madura atau Jawa Timur. Perkenalan agama Islam Suku Dani di Wamena dalam masa ini melalui interaksi sosial dan perdagangan antara para pendatang dan penduduk asli.
    Dengan demikian, maka interaksi Agama Islam dikalangan Suku Dani Jayawi Jaya, terjadi pasca integrasi dengan Indonesia pada dekade 1960-an, melalui guru-guru dan transmigran dari Pulau Jawa di daerah Megapura (Sinata).
    Kemudian secara lebih intensif melalui para urban dari Indonesia Timur, Suku Dani Palim Tengah dan Palim Selatan dari Moiety : Asso-Lokowal Asso-Wetipo, Lani-Wetapo, Wuka-wetapo, Wuka-Hubi, Lagowan-Matuan dan Walesi, memeluk agama Islam. Dari sejumlah saksi mengatakan bahwa Esogalib Lokowal adalah orang paling pertama dari Palim Selatan yang masuk agama Islam. Kemudian Harun Asso (dari Hitigima/Wesapot), Yasa Asso (dari Hepuba/Wiaima), Horopalek Lokowal, Musa Asso (dari Megapura/Sinata), Donatus Lani (dari Lanitapo).
    Dalam tahun 1960-an akhir didaerah Megapura, Hitigima/Wesapot, Hepuba, Woma, Pugima dan Walesi (kini di Walesi clan Asso-Yelipele seluruh warganya 100% beragama Islam) adalah daerah pertama yang berinteraksi dengan Orang Muslim dari berbagai daerah Nusantara.
    Muhammad Ali Wetipo, misalnya; dari konfederasi Asso-Lokowal dari daerah Hepuba masuk Agama Islam melalui orang Pendatang di Kota Wamena dalam tahun 1967 dan datang sekolah di Panti Asuhan Muhammadiyyah AB-Pura Jayapura.
    Demikian sama halnya dengan Ilham Walelo dan Abdul Mu’in Itlay dari Pugima, dalam tahun 1969 mereka sekolah di Panti Asuhan Muhammadiyah, AB-pura Jayapura sampai tamat dari sekolah ini dalam tahun 1979, kemudian melanjutkan studynya di IAIN Jakarta (kini UIN).

    2. Muslim Walesi
    Berbeda dengan daerah lain di Lembah Balim, di Walesi Pada tahun 1975 Merasugun Asso, Firdaus Asso dan Muhammad Ali Asso, adalah generasi pertama yang paling awal masuk islam dan mengembangkannya menjadi besar sampai dewasa ini. Karena diikuti oleh semua kalangan pemuda dari Konfederasi Asso-Yelipele Walesi misalnya; Nyasuok Asso, Walekmeke Asso, Nyapalogo Kuan, Wurusugi Lani, Heletok Yelipele, Aropeimake Yaleget, dan Udin Asso, sehingga memiliki pengaruh sangat besar eksistensi Islam dan Muslim Jayawi Jaya hingga kini.

    Namun ada juga yang masuk Islam melalui perkenalan dengan kalangan militer Indonesia yang datang bertugas di Kodim Jayawi Jaya, Misalnya Aipon Asso, (Kepala Suku Besar). Keislaman Aipon Asso dalam tahun 1976 dan mendapat dukungan dari seorang militer berpangkat Kolonel bernama Muhammad Thohir.

    Kegiatan organisasi khusus yang melakukan da’wah islamiyyah kala itu belum ada di Lembah Balim Jayawi Jaya. Setelah orang-orang dari Walesi masuk Islam tahun 1975 secara serentak dalam jumlah besar mulai diorganisir oleh Islamic Centre.

    3. Kisah Islam Merasugun dari Walesi

    Yang paling awal memeluk agama Islam dan memperjuangkankannya menjadi besar adalah Merasun Asso (berikutnya hanya ditulis Merasugun). Konon kisahnya; melalui hubungan perdagangan. Merasugun yang kala itu ingin mencari kayu bakar di hutan untuk ditukarkan dengan nasi. Merasugun kemudian mengajak dua anak muda yaitu Firdaus Asso dan Ali Asso dari kampung Walesi, 6 km arah selatan dari Kota Wamena dalam tahun 1975.

    Merasugun kira-kira berusia 45 tahun dan dua anak muda yakni Firdaus Asso,dan Muhammad Ali Asso, keduanya kira-kira berusia 15 tahun kala itu, adalah generasi pertama yang mula-mula masuk Islam serta mengembangkan Islam di Walesi.

    Selanjutnya Merasugun, Firdaus Asso dan Ali Asso, membawa kayu bakar untuk barter dengan nasi kepada seorang pendatang asal Madura (konon saat itu anggota Dewan Tk. II Jayawijaya), yang sebelumnya sudah berkenalan dengan Merasugun.. Dari pertama pertemuan hingga pertemuan ketiga mereka sudah saling akrab. Kedatangan Merasugun dan dua anak muda kali ketiga, persis waktu shalat dhuhur tiba. Maka mereka disuruh tunggu sebentar karena pembeli kayu yang beragama Islam itu ingin shalat dahulu.

    Merasugun memperhatikan apa yang dilakukan kenalannya. Pembeli kayu itu melakukan gerakan yang sebelumnya asing bagi Merasugun yaitu sholat dan berdo’a dengan gerakan khusyu’. Merasugun bergumam dengan perasaan agak keheranan, kepada dua anak muda yang mendapinginya dalam bahasa Balim berkomentar demikian : “O..oh.yire esilam meke”!, artinya “Oh, ini orang Islam”!

    Dikampungnya Merasugun sebelumnya pernah mendengar kabar bahwa Agama Islam adalah agama yang tidak boleh makan daging babi, (satu-satunya hewan ternak paling utama di Lembah Balim). Bahkan Merasugun sering mendengar issu bahwa kehadiran orang-orang pendatang Muslim yang tidak makan daging babi, akan memusnahkan semua babi di Lembah Balim, (dalam agama Islam, memakan gading Babi hukumnya diharamkan /tidak boleh).

    Walaupun sebelumnnya isu bahaya agama Islam sering didengar, Merasugun menyuruh Firdaus Asso dan Ali Asso masuk agama islam, dan belajar melakukan “misa Islam” , (maksudnya sholat). Karena menurutnya orang Muslim Madura itu baik, tidak seperti diisukan orang-orang dikampungnya .

    Karena itu Merasugun menyuruh, dua anak muda itu masuk Islam dan belajar “misa Islam”. Lalu katanya; “Kalian boleh masuk Agama Islam karena orang ini baik”! Keinginan dan usulan Merasugun disetujui dua anak yang masih keponakannya itu.
    Keinginan dan usul Merasugun diterjemahkan dan disampaikan oleh Firdaus Asso dan mereka bertiga bertekad mau masuk Agama Islam, tapi orang Madura itu keberatan karena alasannya takut ada tuduhan islamisasi. Tapi kekhawatiran itu disanggah oleh Merasugun dengan mengatakan bahwa sebelumnya dirinya tidak menganut agama apapun dan itu adalah keinginan hatinya dan dua anak keponakannya. Dialog tersebut diterjemahkan oleh Firdaus Asso, yang sudah lancar berbahasa Indonesia.

    Sejenak Orang Madura yang belum dikenal namanya hingga kini itu berfikir, lalu menatap wajah ketiga orang yang masih lugu dan masih mengenakan koteka itu. Dan katanya; “Boleh, tapi kamu harus menutup Aurat!”, Segera ia kekamar dan memberikan serta memakaikan Merasugun celana tanpa menanggalkan koteka yang sedang dikenakan. Selanjutnya Muslim Madura itu sampaikan niat tiga orang Suku Dani dari Walesi ini kepada tokoh muslim lain yang ada di sekitar kota Wamena.

    Pada Minggu berikutnya Merasugun, Ali Asso, dan Firdaus Asso disuruh datang pada hari Jum’at. Dan secara resmi disyahadatkan ba’dah jum’at di masjid Baiturrahman Wamena yang disaksikan oleh jama’ah sholat jum’at. Minggu-minggu selanjutnya Merasugun, Firdaus Asso dan Ali Asso (dua pemuda ini kelak pejuang Islam setelah sepeninggal Merasugun tahun yang wafat tahun 1978), selalu datang ikut sholat Jum’at, dengan tiap pagi jalan kaki turun-naik gunung sekitar 6 km dari Walesi ke Wamena Kota.

    a). Perjuangan Merasugun Asso

    Merasugun tidak lama sesudah masuk Agama Islam meminta agar dibangunkan “Gereja Islam”, (maksudnya, Masjid), di kampungnya di Walesi sekaligus Sekolah Islam agar anak-anaknya dari clan Assolipele Walesi bisa sekolah. Untuk maksud ini Merasugun menyediakan tanah wakaf serta menyiapkan batu, kayu, pasir di kampungnya.

    Usulan ini segera disetujui oleh beberapa orang muslim yang datang di Wamena sebagai Petugas pemerintah sipil maupun militer seperti Pak Paijen dari Dinas Agama, Pak Thohir dari Kodim, dan Abu Yamin dari Polres Jayawijaya. Karena itu, sebelum kalau ingin dibangunkan Masjid dan Madrasah di Walesi, Merasugun harus datang membantu bekerja mengangkat batu dan mengumpulkan pasir dari Kali Uwe karena Masjid Raya Baiturahman Kota Wamena saat itu sedang dibangun.

    Syarat ini disetujui oleh Merasugun, berikutnya Merasugun, Ali dan Firdaus Asso pulang ke Walesi dan mengundang segera tenaga kerja kepada Nyasuok Asso, Nyapalogo Kuan, Aropemake Yaleget, Wurusugi Lani, Udin Asso dan Walekmeke Asso, untuk mengeruk galian batu dan pasir di sekitar Kota Wamena, dari Kali Uwe. Keenam orang nama tersebut kelak menjadi pemeluk Agama Islam dari Walesi gelombang kedua.

    b). Dokter Mulya Tarmidzi Mengkhitan

    Suatu ketika dalam tahun 1978 seorang dokter Kolonel Angkatan Laut 10 dari Hamadi, Jayapura Propinsi Papua, diundang ceramah datang ke Kabupaten Jayawijaya, untuk memberikan ceramah, yang tempatnya di gedung bioskop kota Wamena. Oleh sebab itu Merasugun dan warga lainnya dari Walesi yang muallaf diundang datang mendengarkan ceramah.

    Penceramah yang tidak lain adalah Dokter Kolonel H. Muhammad Mulya Tarmidzi itu selesai ceramah sampai sekitar jam sebelas malam. Selanjutnya ia menginap di Hotel Balim. Kira-kira pada jam 12 tengah malam Merasugun, Firdaus Asso, Nyapalogo Kuan, Nyasuok Asso dan Ali Asso, Aropemake Yaleget, Udin Asso dan Wurusugi Lani datang mengetuk pintu kamar Dokter Mulya menginap dengan mengucap salam khas muslim yakni; : “Assaiamu’ataikum”! Walaupun sudah tengah malam karena mendengar ucapan salam khas Muslim, Dokter Mulya Tarmidzi, berani membukakan pintu.

    Dan ternyata salam itu berasal dari orang-orang yang masih mengenakan koteka ini adalah orang yang tadi dilihatnya di gedung Bioskop. Dia sebelumnya menduga mereka bukan muslim, karena Merasugun dan rombangan lainnya masih mengenakan Holim/Koteka, (kecuali Firdaus Asso sudah mengenakan celana pendek). Dan dia menganggap bahwa mereka mungkin pas lagi lewat atau memang sekedar mencari makanan dalam acara ceramah itu.

    Tatkala dipersilahkan duduk diruang tamu di hotel oleh Dokter Mulya Tarmidzi, Merasugun menyampaikan maksud dan tujuan kedatangannya dengan beberapa pemuda dari Walesi. Setelah minta maaf karena datang ditengah malam. Lalu Merasugun menyampaikan beberapa usulan yaitu :
    1). Permohonan dukungan agar di kampungnya segera dibangunkan “Gereja Islam”.
    2). Anak-anak dari Walesi kelak menjadi pintar seperti dokter Mulya untuk itu perlu disekolahkan di Jayapura
    3). Agar di Walesi di bangunkan Madrasah

    Semua usulan diterima dan disetujui secara baik dan kepada Merasugun dijanjikan oleh dokter Mulia Tarmidzi, bahwa nanti akan diusahakan secara bertahap dengan mengkoordinasikan usulan Merasugun, kepada orang-orang Muslim lain terlebih dahulu.

    Dalam kesempatan itu sejumlah usul dan keinginan Merasugun semua disampaikan dalam bahasa Wamena kepada Dokter Muhammad Mulya Tarmidzi, yang kemudian diterjemahkan kedalam bahasa Indonesia oleh Firdaus Asso yang sudah sekolah di SD Inpres, Megapura sehingga sudah lancar berbahasa Indonesia.

    Selanjuntnya semua usul secara baik disetujui oleh Dokter Kolonel Haji Muhammad Mulya Tarmidzi dan untuk mendukung keinginan Merasugun ini segera dibentuk Islamic Centre yang pengurusnya dari pejabat pemda. Esok harinya dibantu oleh tenaga kesehatan dari Rumah Sakit Kota Wamena; Letnan Kolonel Muhammad Mulya Tarmidzi, segera menyunat (khitan) 8 orang pertama yang masuk Agama Islam itu untuk menyempurakan syahdatnya; kira-kira demikian hemat Kolonel yang juga Dokter dan Ahli Agama Islam itu.
    Pada bulan berikutanya dalam tahun 1978, anak-anak dari Walesi sebanyak 5 orang (termasuk Firdaus Asso dan Muhammad Ali Asso) di kirim ke Jayapura dan dititipkan kepada beberapa orang pejabat muslim sebagai orang tua asuhnya.

    Demikian sudah harapan dan cita-cita Merasugun terkabul agar anak-anak dari Walesi untuk disekolahkan diluar Wamena. “Agar kelak ada yang menjadi seperti Dokter Mulya Tarmidzi,” demikian usul Merasugun yang diterjemahkan oleh Firdaus Asso.

    Usulan paling penting diantaranya yang diusulkan oleh Merasugun adalah kontruksi bangunan model Pondok Pesantren Model di Jawa yang membuat decak kagum. Dokter Kolonel Muhammad Mulya Tarmidzi, mengingat Merasugun belum penah tahu kalau yang diusulkannya itu adalah persis sama model kontruksi dan sistem bangunan lingkungan Pondok Pesantren yang biasa ada di Pulau Jawa.

    Kemudian 20 orang dalam bulan berikutnya dikirim dan diasuh oleh beberapa Orang Tua Asuh di kota Jayapura. Ongkos pengiriman semua ditanggung oleh Haji Saddiq Ismail, (kala itu Sadiq Ismail menjabat Kabulog Propinsi Irian Jaya) yang selanjutnya membentuk Kasub Dolog Jayawijaya guna mempermudah menyampaikan bantauan logistik dan bantuan material lainnya karena di Walesi segera akan dibangun Masjid dan Madrasah sesuai keinginan dan usulan Merasugun dulu.

    Guna memperlancar transportasi dan memudahkan pengangkutan material bangunan Masjid dan Madrasah Walesi, Ir. Haji Azhari Romuson, Kepala PU Propinsi Papua segera membangun jalan Walesi-Wamena sekitar 6 Km. Bisa dibayangkan semua usulan Merasugun dulu sejak Dokter Kolonel Angkatan Laut Muhammad Mulya Tarmidzi, Haji Saddiq Ismail SH Kadolog Propinsi, dan Ir. Haji Azhari Romusan dari PU Propinsi adalah cukup besar perannya perkembangan Islam lebih lanjut di Walesi.

    Bertepatan dengan 20 anak Walesi yang dipimpin Firdaus Asso datang sekolah di Jayapura untuk melanjutkan pendidikannya disekolah Muhammadiyah dan Madrasah Ibtidaiyyah di Ibukota Propinsi Papua. Dua Kepala Suku Perang yang Berani dari Clan Assolipele secara resmi disyahatkan oleh Kolonel Thahir, di Wamena. Kolonel Thahir adalah Pendatang dari Bugis dan Tentara yang saat itu bertugas di Kodim Jayawijaya.

    “Sesungguhnya kita adalah milik Alloh SWT, dan akan dikembalikan kehadirat-Nya kapan saja dikehendaki-Nya”, “sebagaimana juga Dia memberikan hidayah kepada siapa yang di kehendaki-Nya”, dan akhimya pada tahun 1980 Merasugun telah dipanggil kehadirat Alloh SWT, dengan meninggalkan semua usulan da’wahnya yang belum tuntas, yakni obsesinya mewujudkan kompleks Islamic Centre terutama Masjid dan Madrasah.

    Dua tahun sepeninggal Merasugun pada tahun 1982 bangunan sekolah (Madrasah Ibtidaiyah) dan masjid selesai. Untuk menghormati atas jasa-jasa semangat perjuangan Merasugun, maka nama Madrasahnya diabadikan menjadi Madrasah Ibtidaiyyah Merasugun Asso Walesi.

    Maka seterusnya Pemuda Firdaus Asso menyusul dipanggil Alloh SWT untuk selamanya pada tahun 1984 di Jayapura. Firdaus Asso yang sangat berjasa dan berperan besar mengembangkan Islam dikalangan suku pribumi di Walesi, sesudah Merasugun. Dia menyusul kepergian Merasugun setelah dua tahun dalam usia yang sangat muda dan produktif yakni 25 tahun.

    4. Perkembangan Islam Masa Kini

    a). Muslim Wamena

    Dari sejak tahun 1960-an akhir sampai tahun 1970-an awal, di kota Wamena Kabupaten Jayawijaya banyak datang penduduk pindahan dari Jawa (Transmigrasi), dan para perantau asal Indonesia Timur, terutama orang Madura, Bugis, Buton dan Makasar. Pengenalan Agama Islam lebih intensif dengan Suku Dani di Wamena Kabupaten Jayawijaya melalui interaksi dalam masa ini, terutama perdagangan system barter antara para muhajirin pendatang dan penduduk lokal yang berbusana koteka.

    Proses percepatan da’wah di Jayawijaya juga sangat di dukung oleh kehadiran militer yang beragama Islam yang bertugas dalam tahun 1960-an akhir di Kota Wamena. Penduduk yang lebih awal masuk Islam menuturkan bahwa Islamisasi sepenuhnya didukung secara individu dari Muslim yang kebetulan anggota Militert yang bertugas di Sinata (kini Megapura, 4 km selatan dari Kota Wamena).

    Organisasi da’wah baru didirikan guna lebih menunjang psoses da’wah, seperti Islamic center, YAPIS, Panti Asuhan Muhammadiyah dan akhir-akhir ini juga Hidayatullah dan NU di Wamena giat melakukan da’wah dikalangan pribumi Muslim Suku Dani di Wamena.

    b). Muallaf di Walesi

    Di kota Wamena arah selatan 6 km kini terdapat penduduk pribumi yang penduduknya beragama Islam sejak lama. Walesi adalah pusat Islam (Islamic Centre), bagi pengembangan Islam dari kalangan penduduk asli. Guru-guru (ustadz), sejak awal didatangkan dari Fak-Fak yang sejak lebih dulu muslim dari abad ke 16 di selatan kepala Burung Papua. Kini di walesi terdapat sebuah Pondok-Pesantren Al-Istiqomah Merasugun Asso, Madrasah Ibtidaiyah, rumah guru 4 buah, masjid 12×12 dan sebuah puskesmas. Walesi sebagai Islamic Centre telah menampung anak-anak Suku Dani dari 12 kampung yang masyarakatnya baragama Islam.

    Masyarakat Muslim Jayawijaya terdiri dari 12 kampung yang penduduknya telah lama menganut Agama Islam pada tahun 1960-an akhir pasca integrasi. Kampung-kampung itu adalah Htigima, Air garam, Okilik, Apenas, Ibele, Araboda, Jagara, Megapura, Pasema, Mapenduma, Kurulu dan Pugima. Jumlah penganut Islam di Wamena kabupaten Jayawijaya kira-kira 12 ribu jiwa, dari 400 ribu jiwa seluruh penduduk Jayawijaya, namun angka yang lebih tepatjumlah pemeluk Islam belum diperoleh secara pasti.

    c). Anak-Anak Muallaf

    Anak-anak Muallaf adalah kelompak potensial proses Islamisasi di Kabupaten Jayawijaya, mengingat semua agama besar yang kini hadir di Papua khususnya di Pegunungan Tengah, umumnya tidak mampu merubah pola kehidupan lama masyarakat tradisional Papua yang memiliki religi lama yang berorientasi masa lampau.

    Kalangan Birokrat Muslim yang menjabat sebagai Ketua Islamic Centre menyadari ini, maka secara periode mengirim anak-anak muallaf dari Suku Dani, dikirim belajar pertama di Panti Asuhan Muhammadiyah AB Jayapura dan Madarasah Ibtidaiyyah YAPIS di Ibu kota Jayapura dalam tahun 1972 sebanyak 20 orang anak.

    Dalam tahun 1980 ada 2 orang anak Suku Dani datang belajar di Universitas Muhammadiyah Jogjakarta. Sedang lulusan Madrasah Ibtidaiyyah Merasugun Asso Walesi sebanyak 4 orang pertama didatangkan ke pondok pesantren Al-Mukhlisin, dan Darul Falah, Bogor. Kini dari anak-anak ini ada yang menempuh pendidikan di berbagai universitas Islam Bogor (Ibnu Kholdun), UMJ dan UIN Ciputat
    Saat ini tiga orang dari Walesi menempuh S2 konsentrasi di study Islam dan Otonomi Khusus UMJ Ciputat Jakarta. Dua orang lain lagi di UM Jogjakarta dan UIN di kota yang sama.

    Jumlah seluruhnya anak-anak Muallaf asal Suku Dani dari Papua kini tersebar di berbagai kota study di Pulau Jawa dan mayoritas di Ciputat berjumlah 21 orang. Sedang anak-anak Muallaf yang belajar di pondok pesantren sebanyak 45 orang yang sudah terdata. Jumlah ini tidak termasuk anak-anak yang dibawa koordinasi Ustadz Aliyuddin sejak tahun 1990-an awal berkisar 700 orang dari seluruh Papua.

    d). Pengiriman anak-anak Suku Dani Pondok Pesantren

    Sejak tahun 1980 anak-anak muslimah dari kalangan Muallaf Dari Kabupaten Jayawijaya, sudah mengirim sebagai peserta MTQ (Musabaqoh Tilawatil Qur’an dan tomba Qosidah tingkat Nasional mewakili Propinsi Irianjaya (kini Papua). Mereka mempunyai bakat dan potensi yang sama dengan anak-anak prianya. Namun yang menjadi masalah adaiah tradisi yang menyebabkan Orang Tua Suku Dani tidak dapat membiarkan anak- anak perempuan mereka pergi jauh.

    Dampak dari kurangnya kesadaran Orang Tua Suku Dani di Wamena saat ini adalah mengawinkan anak-anak usia sekolah yang masih belasan tahun dikawinkan. Contoh kasus beberapa kali terjadi adalah saat orang tua mengawinkan anak-anak perempuan masih muda dengan pria yang usianya lebih tua, menyebabkan mereka kawin lari justeru bukan pria dengan seagama, tapi dengan pria yang seusianya yang beragama Kristen.

    Ada tiga kasus anak-anak muslimah asal Dari Walesi yang kini menjadi murtad (keluar kawin dan menjadi Kristen), padahal mereka adalah pembaca Al-Qur’an yang sangat bagus dengan suara merdu. Peserta Musabaqoh Tiiawatil Qu’an (MTQ) di Jogjakarta asal Papua dalam tingkat Nasional kini sudah murtad dan hidup dengan bersuamikan Pria Kristen.

    Sampai dewasa ini dari 20 anak perempuan muslimah Suku Dani belajar di SMU Yapis Wamena. Dari Wamena Muslim, kaum perempuannya belum ada yang belajar keluar sebagaimana umumnya anak letakinya. Mereka kini banyak belajar agama di Pesantren Al-Istiqomah Walesi dan beberapa orang melanjutkan tingakat lanjutan (SMP/SMU) di YAPIS Wamena akan menghadapi nasib pendahulu-pendahulu mereka ini berarti poroses pemurtadan juga.

    C. Sejarah Perkawinan Hukum Adat

    1. Perkawinan

    Bagi Masyarakat Dani, perkawinan adalah ikatan di antara seorang laki-laki dengan
    perempuan untuk menjadi suami istri. Ikatan dalam perkawinan tersebut bersifat sosial, karena seluruh anggota keluarga besar ikut terlibat,

  4. Muslim Papua mengatakan:

    1. Muslim Palim Wamena Papua

    Dalam berbagai laporan para ahli dan seminar-seminar menunjukkan bahwa sebelum agama-agama besar lainnya datang ke Papua Islam sudah lebih awal masuk ke Papua. Sebagaimana hal ini di laporkan seorang antropolog Papua Dr. J. R. Mansoben (1997) : ‘Agama besar pertama yang masuk ke Irian Jaya (Papua) adalah Islam. Agama Islam masuk di Irian Jaya yaitu didaerah Kepulauan Raja Ampat dan daerah Fak-Fak berasal dari Kepulauan Maluku dan disebarkan melalui hubungan perdagangan yang terjadi diantara kedua daerah tersebut’. Menurut Van der Leeder (1980, 22), agama Islam masuk di kepulauan Raja Ampat pengaruh dari kesultanan Tidore tidak lama sesudah agama tersebut masuk di Maluku pada abad ke 13.

    Maka tidaklah mengherankan bila, ‘kedatangan Missionaris Kristen pertama justeru diantar oleh Muballiqh Islam dari Kerajaan Tidore pada tanggal 5 Pebruari 1855 disebuah Pulau Kecil Mansinam diperaiaran Manokwari. Dua Missionaris dari Jerman itu adalah C. W. Ottow dan G. J. Geissler’.

    Pengaruh Islam secara luas diseluruh pelosok daerah Propinsi Irian Jaya dan dengan semua kelompok suku di daerah ini dalam hidup sehari-hari dalam semua bidang kehidupan, baru mulai dirasakan setelah Irian Jaya berintegrasi menjadi bagian dari Republik Indonesia awal tahun 1060-an.

    Dalam akhir tahun 1960-an akhir di kota Wamena datang penduduk transmigrasi dari Jawa dan para perantau (urban asal Indonesia Timur, terutama orang Bugis, Buton, Makasar dan Madura atau Jawa Timur. Perkenalan agama Islam Suku Dani di Wamena dalam masa ini melalui interaksi sosial dan perdagangan antara para pendatang dan penduduk asli.

    Dengan demikian, maka interaksi Agama Islam dikalangan Suku Dani Jayawi Jaya, terjadi pasca integrasi dengan Indonesia pada dekade 1960-an, melalui guru-guru dan transmigran dari Pulau Jawa di daerah Megapura (Sinata).

    Kemudian secara lebih intensif melalui para urban dari Indonesia Timur, Suku Dani Palim Tengah dan Palim Selatan dari Moiety : Asso-Lokowal Asso-Wetipo, Lani-Wetapo, Wuka-wetapo, Wuka-Hubi, Lagowan-Matuan dan Walesi, memeluk agama Islam. Dari sejumlah saksi mengatakan bahwa Esogalib Lokowal adalah orang paling pertama dari Palim Selatan yang masuk agama Islam. Kemudian Harun Asso (dari Hitigima/Wesapot), Yasa Asso (dari Hepuba/Wiaima), Horopalek Lokowal, Musa Asso (dari Megapura/Sinata), Donatus Lani (dari Lanitapo).

    Dalam tahun 1960-an akhir didaerah Megapura, Hitigima/Wesapot, Hepuba, Woma, Pugima dan Walesi (kini di Walesi clan Asso-Yelipele seluruh warganya 100% beragama Islam) adalah daerah pertama yang berinteraksi dengan Orang Muslim dari berbagai daerah Nusantara.

    Muhammad Ali Wetipo, misalnya; dari konfederasi Asso-Lokowal dari daerah Hepuba masuk Agama Islam melalui orang Pendatang di Kota Wamena dalam tahun 1967 dan datang sekolah di Panti Asuhan Muhammadiyyah AB-Pura Jayapura.

    Demikian sama halnya dengan Ilham Walelo dan Abdul Mu’in Itlay dari Pugima, dalam tahun 1969 mereka sekolah di Panti Asuhan Muhammadiyah, AB-pura Jayapura sampai tamat dari sekolah ini dalam tahun 1979, kemudian melanjutkan studynya di IAIN Jakarta (kini UIN).

    2. Muslim Walesi

    Berbeda dengan daerah lain di Lembah Balim, di Walesi Pada tahun 1975 Merasugun Asso, Firdaus Asso dan Muhammad Ali Asso, adalah generasi pertama yang paling awal masuk islam dan mengembangkannya menjadi besar sampai dewasa ini. Karena diikuti oleh semua kalangan pemuda dari Konfederasi Asso-Yelipele Walesi misalnya; Nyasuok Asso, Walekmeke Asso, Nyapalogo Kuan, Wurusugi Lani, Heletok Yelipele, Aropeimake Yaleget, dan Udin Asso, sehingga memiliki pengaruh sangat besar eksistensi Islam dan Muslim Jayawi Jaya hingga kini.

    Namun ada juga yang masuk Islam melalui perkenalan dengan kalangan militer Indonesia yang datang bertugas di Kodim Jayawi Jaya, Misalnya Aipon Asso, (Kepala Suku Besar). Keislaman Aipon Asso dalam tahun 1976 dan mendapat dukungan dari seorang militer berpangkat Kolonel bernama Muhammad Thohir.

    Kegiatan organisasi khusus yang melakukan da’wah islamiyyah kala itu belum ada di Lembah Balim Jayawi Jaya. Setelah orang-orang dari Walesi masuk Islam tahun 1975 secara serentak dalam jumlah besar mulai diorganisir oleh Islamic Centre.

    3. Kisah Islam Merasugun dari Walesi

    Yang paling awal memeluk agama Islam dan memperjuangkankannya menjadi besar adalah Merasun Asso (berikutnya hanya ditulis Merasugun). Konon kisahnya; melalui hubungan perdagangan. Merasugun yang kala itu ingin mencari kayu bakar di hutan untuk ditukarkan dengan nasi. Merasugun kemudian mengajak dua anak muda yaitu Firdaus Asso dan Ali Asso dari kampung Walesi, 6 km arah selatan dari Kota Wamena dalam tahun 1975.

    Merasugun kira-kira berusia 45 tahun dan dua anak muda yakni Firdaus Asso,dan Muhammad Ali Asso, keduanya kira-kira berusia 15 tahun kala itu, adalah generasi pertama yang mula-mula masuk Islam serta mengembangkan Islam di Walesi.

    Selanjutnya Merasugun, Firdaus Asso dan Ali Asso, membawa kayu bakar untuk barter dengan nasi kepada seorang pendatang asal Madura (konon saat itu anggota Dewan Tk. II Jayawijaya), yang sebelumnya sudah berkenalan dengan Merasugun.. Dari pertama pertemuan hingga pertemuan ketiga mereka sudah saling akrab. Kedatangan Merasugun dan dua anak muda kali ketiga, persis waktu shalat dhuhur tiba. Maka mereka disuruh tunggu sebentar karena pembeli kayu yang beragama Islam itu ingin shalat dahulu.

    Merasugun memperhatikan apa yang dilakukan kenalannya. Pembeli kayu itu melakukan gerakan yang sebelumnya asing bagi Merasugun yaitu sholat dan berdo’a dengan gerakan khusyu’. Merasugun bergumam dengan perasaan agak keheranan, kepada dua anak muda yang mendapinginya dalam bahasa Balim berkomentar demikian : “O..oh.yire esilam meke”!, artinya “Oh, ini orang Islam”!

    Dikampungnya Merasugun sebelumnya pernah mendengar kabar bahwa Agama Islam adalah agama yang tidak boleh makan daging babi, (satu-satunya hewan ternak paling utama di Lembah Balim). Bahkan Merasugun sering mendengar issu bahwa kehadiran orang-orang pendatang Muslim yang tidak makan daging babi, akan memusnahkan semua babi di Lembah Balim, (dalam agama Islam, memakan gading Babi hukumnya diharamkan /tidak boleh).

    Walaupun sebelumnnya isu bahaya agama Islam sering didengar, Merasugun menyuruh Firdaus Asso dan Ali Asso masuk agama islam, dan belajar melakukan “misa Islam” , (maksudnya sholat). Karena menurutnya orang Muslim Madura itu baik, tidak seperti diisukan orang-orang dikampungnya .

    Karena itu Merasugun menyuruh, dua anak muda itu masuk Islam dan belajar “misa Islam”. Lalu katanya; “Kalian boleh masuk Agama Islam karena orang ini baik”! Keinginan dan usulan Merasugun disetujui dua anak yang masih keponakannya itu.
    Keinginan dan usul Merasugun diterjemahkan dan disampaikan oleh Firdaus Asso dan mereka bertiga bertekad mau masuk Agama Islam, tapi orang Madura itu keberatan karena alasannya takut ada tuduhan islamisasi. Tapi kekhawatiran itu disanggah oleh Merasugun dengan mengatakan bahwa sebelumnya dirinya tidak menganut agama apapun dan itu adalah keinginan hatinya dan dua anak keponakannya. Dialog tersebut diterjemahkan oleh Firdaus Asso, yang sudah lancar berbahasa Indonesia.

    Sejenak Orang Madura yang belum dikenal namanya hingga kini itu berfikir, lalu menatap wajah ketiga orang yang masih lugu dan masih mengenakan koteka itu. Dan katanya; “Boleh, tapi kamu harus menutup Aurat!”, Segera ia kekamar dan memberikan serta memakaikan Merasugun celana tanpa menanggalkan koteka yang sedang dikenakan. Selanjutnya Muslim Madura itu sampaikan niat tiga orang Suku Dani dari Walesi ini kepada tokoh muslim lain yang ada di sekitar kota Wamena.

    Pada Minggu berikutnya Merasugun, Ali Asso, dan Firdaus Asso disuruh datang pada hari Jum’at. Dan secara resmi disyahadatkan ba’dah jum’at di masjid Baiturrahman Wamena yang disaksikan oleh jama’ah sholat jum’at. Minggu-minggu selanjutnya Merasugun, Firdaus Asso dan Ali Asso (dua pemuda ini kelak pejuang Islam setelah sepeninggal Merasugun tahun yang wafat tahun 1978), selalu datang ikut sholat Jum’at, dengan tiap pagi jalan kaki turun-naik gunung sekitar 6 km dari Walesi ke Wamena Kota.

    a). Perjuangan Merasugun Asso

    Merasugun tidak lama sesudah masuk Agama Islam meminta agar dibangunkan “Gereja Islam”, (maksudnya, Masjid), di kampungnya di Walesi sekaligus Sekolah Islam agar anak-anaknya dari clan Assolipele Walesi bisa sekolah. Untuk maksud ini Merasugun menyediakan tanah wakaf serta menyiapkan batu, kayu, pasir di kampungnya.

    Usulan ini segera disetujui oleh beberapa orang muslim yang datang di Wamena sebagai Petugas pemerintah sipil maupun militer seperti Pak Paijen dari Dinas Agama, Pak Thohir dari Kodim, dan Abu Yamin dari Polres Jayawijaya. Karena itu, sebelum kalau ingin dibangunkan Masjid dan Madrasah di Walesi, Merasugun harus datang membantu bekerja mengangkat batu dan mengumpulkan pasir dari Kali Uwe karena Masjid Raya Baiturahman Kota Wamena saat itu sedang dibangun.

    Syarat ini disetujui oleh Merasugun, berikutnya Merasugun, Ali dan Firdaus Asso pulang ke Walesi dan mengundang segera tenaga kerja kepada Nyasuok Asso, Nyapalogo Kuan, Aropemake Yaleget, Wurusugi Lani, Udin Asso dan Walekmeke Asso, untuk mengeruk galian batu dan pasir di sekitar Kota Wamena, dari Kali Uwe. Keenam orang nama tersebut kelak menjadi pemeluk Agama Islam dari Walesi gelombang kedua.

    b). Dokter Mulya Tarmidzi Mengkhitan

    Suatu ketika dalam tahun 1978 seorang dokter Kolonel Angkatan Laut 10 dari Hamadi, Jayapura Propinsi Papua, diundang ceramah datang ke Kabupaten Jayawijaya, untuk memberikan ceramah, yang tempatnya di gedung bioskop kota Wamena. Oleh sebab itu Merasugun dan warga lainnya dari Walesi yang muallaf diundang datang mendengarkan ceramah.

    Penceramah yang tidak lain adalah Dokter Kolonel H. Muhammad Mulya Tarmidzi itu selesai ceramah sampai sekitar jam sebelas malam. Selanjutnya ia menginap di Hotel Balim. Kira-kira pada jam 12 tengah malam Merasugun, Firdaus Asso, Nyapalogo Kuan, Nyasuok Asso dan Ali Asso, Aropemake Yaleget, Udin Asso dan Wurusugi Lani datang mengetuk pintu kamar Dokter Mulya menginap dengan mengucap salam khas muslim yakni; : “Assaiamu’ataikum”! Walaupun sudah tengah malam karena mendengar ucapan salam khas Muslim, Dokter Mulya Tarmidzi, berani membukakan pintu.

    Dan ternyata salam itu berasal dari orang-orang yang masih mengenakan koteka ini adalah orang yang tadi dilihatnya di gedung Bioskop. Dia sebelumnya menduga mereka bukan muslim, karena Merasugun dan rombangan lainnya masih mengenakan Holim/Koteka, (kecuali Firdaus Asso sudah mengenakan celana pendek). Dan dia menganggap bahwa mereka mungkin pas lagi lewat atau memang sekedar mencari makanan dalam acara ceramah itu.

    Tatkala dipersilahkan duduk diruang tamu di hotel oleh Dokter Mulya Tarmidzi, Merasugun menyampaikan maksud dan tujuan kedatangannya dengan beberapa pemuda dari Walesi. Setelah minta maaf karena datang ditengah malam. Lalu Merasugun menyampaikan beberapa usulan yaitu :
    1). Permohonan dukungan agar di kampungnya segera dibangunkan “Gereja Islam”.
    2). Anak-anak dari Walesi kelak menjadi pintar seperti dokter Mulya untuk itu perlu disekolahkan di Jayapura
    3). Agar di Walesi di bangunkan Madrasah

    Semua usulan diterima dan disetujui secara baik dan kepada Merasugun dijanjikan oleh dokter Mulia Tarmidzi, bahwa nanti akan diusahakan secara bertahap dengan mengkoordinasikan usulan Merasugun, kepada orang-orang Muslim lain terlebih dahulu.

    Dalam kesempatan itu sejumlah usul dan keinginan Merasugun semua disampaikan dalam bahasa Wamena kepada Dokter Muhammad Mulya Tarmidzi, yang kemudian diterjemahkan kedalam bahasa Indonesia oleh Firdaus Asso yang sudah sekolah di SD Inpres, Megapura sehingga sudah lancar berbahasa Indonesia.

    Selanjuntnya semua usul secara baik disetujui oleh Dokter Kolonel Haji Muhammad Mulya Tarmidzi dan untuk mendukung keinginan Merasugun ini segera dibentuk Islamic Centre yang pengurusnya dari pejabat pemda. Esok harinya dibantu oleh tenaga kesehatan dari Rumah Sakit Kota Wamena; Letnan Kolonel Muhammad Mulya Tarmidzi, segera menyunat (khitan) 8 orang pertama yang masuk Agama Islam itu untuk menyempurakan syahdatnya; kira-kira demikian hemat Kolonel yang juga Dokter dan Ahli Agama Islam itu.

    Pada bulan berikutanya dalam tahun 1978, anak-anak dari Walesi sebanyak 5 orang (termasuk Firdaus Asso dan Muhammad Ali Asso) di kirim ke Jayapura dan dititipkan kepada beberapa orang pejabat muslim sebagai orang tua asuhnya.

    Demikian sudah harapan dan cita-cita Merasugun terkabul agar anak-anak dari Walesi untuk disekolahkan diluar Wamena. “Agar kelak ada yang menjadi seperti Dokter Mulya Tarmidzi,” demikian usul Merasugun yang diterjemahkan oleh Firdaus Asso.

    Usulan paling penting diantaranya yang diusulkan oleh Merasugun adalah kontruksi bangunan model Pondok Pesantren Model di Jawa yang membuat decak kagum. Dokter Kolonel Muhammad Mulya Tarmidzi, mengingat Merasugun belum penah tahu kalau yang diusulkannya itu adalah persis sama model kontruksi dan sistem bangunan lingkungan Pondok Pesantren yang biasa ada di Pulau Jawa.

    Kemudian 20 orang dalam bulan berikutnya dikirim dan diasuh oleh beberapa Orang Tua Asuh di kota Jayapura. Ongkos pengiriman semua ditanggung oleh Haji Saddiq Ismail, (kala itu Sadiq Ismail menjabat Kabulog Propinsi Irian Jaya) yang selanjutnya membentuk Kasub Dolog Jayawijaya guna mempermudah menyampaikan bantauan logistik dan bantuan material lainnya karena di Walesi segera akan dibangun Masjid dan Madrasah sesuai keinginan dan usulan Merasugun dulu.

    Guna memperlancar transportasi dan memudahkan pengangkutan material bangunan Masjid dan Madrasah Walesi, Ir. Haji Azhari Romuson, Kepala PU Propinsi Papua segera membangun jalan Walesi-Wamena sekitar 6 Km. Bisa dibayangkan semua usulan Merasugun dulu sejak Dokter Kolonel Angkatan Laut Muhammad Mulya Tarmidzi, Haji Saddiq Ismail SH Kadolog Propinsi, dan Ir. Haji Azhari Romusan dari PU Propinsi adalah cukup besar perannya perkembangan Islam lebih lanjut di Walesi.

    Bertepatan dengan 20 anak Walesi yang dipimpin Firdaus Asso datang sekolah di Jayapura untuk melanjutkan pendidikannya disekolah Muhammadiyah dan Madrasah Ibtidaiyyah di Ibukota Propinsi Papua. Dua Kepala Suku Perang yang Berani dari Clan Assolipele secara resmi disyahatkan oleh Kolonel Thahir, di Wamena. Kolonel Thahir adalah Pendatang dari Bugis dan Tentara yang saat itu bertugas di Kodim Jayawijaya.

    “Sesungguhnya kita adalah milik Alloh SWT, dan akan dikembalikan kehadirat-Nya kapan saja dikehendaki-Nya”, “sebagaimana juga Dia memberikan hidayah kepada siapa yang di kehendaki-Nya”, dan akhimya pada tahun 1980 Merasugun telah dipanggil kehadirat Alloh SWT, dengan meninggalkan semua usulan da’wahnya yang belum tuntas, yakni obsesinya mewujudkan kompleks Islamic Centre terutama Masjid dan Madrasah.

    Dua tahun sepeninggal Merasugun pada tahun 1982 bangunan sekolah (Madrasah Ibtidaiyah) dan masjid selesai. Untuk menghormati atas jasa-jasa semangat perjuangan Merasugun, maka nama Madrasahnya diabadikan menjadi Madrasah Ibtidaiyyah Merasugun Asso Walesi.

    Maka seterusnya Pemuda Firdaus Asso menyusul dipanggil Alloh SWT untuk selamanya pada tahun 1984 di Jayapura. Firdaus Asso yang sangat berjasa dan berperan besar mengembangkan Islam dikalangan suku pribumi di Walesi, sesudah Merasugun. Dia menyusul kepergian Merasugun setelah dua tahun dalam usia yang sangat muda dan produktif yakni 25 tahun.

    4. Perkembangan Islam Masa Kini

    a). Muslim Wamena

    Dari sejak tahun 1960-an akhir sampai tahun 1970-an awal, di kota Wamena Kabupaten Jayawijaya banyak datang penduduk pindahan dari Jawa (Transmigrasi), dan para perantau asal Indonesia Timur, terutama orang Madura, Bugis, Buton dan Makasar. Pengenalan Agama Islam lebih intensif dengan Suku Dani di Wamena Kabupaten Jayawijaya melalui interaksi dalam masa ini, terutama perdagangan system barter antara para muhajirin pendatang dan penduduk lokal yang berbusana koteka.

    Proses percepatan da’wah di Jayawijaya juga sangat di dukung oleh kehadiran militer yang beragama Islam yang bertugas dalam tahun 1960-an akhir di Kota Wamena. Penduduk yang lebih awal masuk Islam menuturkan bahwa Islamisasi sepenuhnya didukung secara individu dari Muslim yang kebetulan anggota Militert yang bertugas di Sinata (kini Megapura, 4 km selatan dari Kota Wamena).

    Organisasi da’wah baru didirikan guna lebih menunjang psoses da’wah, seperti Islamic center, YAPIS, Panti Asuhan Muhammadiyah dan akhir-akhir ini juga Hidayatullah dan NU di Wamena giat melakukan da’wah dikalangan pribumi Muslim Suku Dani di Wamena.

    b). Muallaf di Walesi

    Di kota Wamena arah selatan 6 km kini terdapat penduduk pribumi yang penduduknya beragama Islam sejak lama. Walesi adalah pusat Islam (Islamic Centre), bagi pengembangan Islam dari kalangan penduduk asli. Guru-guru (ustadz), sejak awal didatangkan dari Fak-Fak yang sejak lebih dulu muslim dari abad ke 16 di selatan kepala Burung Papua. Kini di walesi terdapat sebuah Pondok-Pesantren Al-Istiqomah Merasugun Asso, Madrasah Ibtidaiyah, rumah guru 4 buah, masjid 12×12 dan sebuah puskesmas. Walesi sebagai Islamic Centre telah menampung anak-anak Suku Dani dari 12 kampung yang masyarakatnya baragama Islam.

    Masyarakat Muslim Jayawijaya terdiri dari 12 kampung yang penduduknya telah lama menganut Agama Islam pada tahun 1960-an akhir pasca integrasi. Kampung-kampung itu adalah Htigima, Air garam, Okilik, Apenas, Ibele, Araboda, Jagara, Megapura, Pasema, Mapenduma, Kurulu dan Pugima. Jumlah penganut Islam di Wamena kabupaten Jayawijaya kira-kira 12 ribu jiwa, dari 400 ribu jiwa seluruh penduduk Jayawijaya, namun angka yang lebih tepatjumlah pemeluk Islam belum diperoleh secara pasti.

    c). Anak-Anak Muallaf

    Anak-anak Muallaf adalah kelompak potensial proses Islamisasi di Kabupaten Jayawijaya, mengingat semua agama besar yang kini hadir di Papua khususnya di Pegunungan Tengah, umumnya tidak mampu merubah pola kehidupan lama masyarakat tradisional Papua yang memiliki religi lama yang berorientasi masa lampau.

    Kalangan Birokrat Muslim yang menjabat sebagai Ketua Islamic Centre menyadari ini, maka secara periode mengirim anak-anak muallaf dari Suku Dani, dikirim belajar pertama di Panti Asuhan Muhammadiyah AB Jayapura dan Madarasah Ibtidaiyyah YAPIS di Ibu kota Jayapura dalam tahun 1972 sebanyak 20 orang anak.

    Dalam tahun 1980 ada 2 orang anak Suku Dani datang belajar di Universitas Muhammadiyah Jogjakarta. Sedang lulusan Madrasah Ibtidaiyyah Merasugun Asso Walesi sebanyak 4 orang pertama didatangkan ke pondok pesantren Al-Mukhlisin, dan Darul Falah, Bogor. Kini dari anak-anak ini ada yang menempuh pendidikan di berbagai universitas Islam Bogor (Ibnu Kholdun), UMJ dan UIN Ciputat
    Saat ini tiga orang dari Walesi menempuh S2 konsentrasi di study Islam dan Otonomi Khusus UMJ Ciputat Jakarta. Dua orang lain lagi di UM Jogjakarta dan UIN di kota yang sama.

    Jumlah seluruhnya anak-anak Muallaf asal Suku Dani dari Papua kini tersebar di berbagai kota study di Pulau Jawa dan mayoritas di Ciputat berjumlah 21 orang. Sedang anak-anak Muallaf yang belajar di pondok pesantren sebanyak 45 orang yang sudah terdata. Jumlah ini tidak termasuk anak-anak yang dibawa koordinasi Ustadz Aliyuddin sejak tahun 1990-an awal berkisar 700 orang dari seluruh Papua.

    d). Pengiriman anak-anak Suku Dani Pondok Pesantren

    Sejak tahun 1980 anak-anak muslimah dari kalangan Muallaf Dari Kabupaten Jayawijaya, sudah mengirim sebagai peserta MTQ (Musabaqoh Tilawatil Qur’an dan tomba Qosidah tingkat Nasional mewakili Propinsi Irianjaya (kini Papua). Mereka mempunyai bakat dan potensi yang sama dengan anak-anak prianya. Namun yang menjadi masalah adaiah tradisi yang menyebabkan Orang Tua Suku Dani tidak dapat membiarkan anak- anak perempuan mereka pergi jauh.

    Dampak dari kurangnya kesadaran Orang Tua Suku Dani di Wamena saat ini adalah mengawinkan anak-anak usia sekolah yang masih belasan tahun dikawinkan. Contoh kasus beberapa kali terjadi adalah saat orang tua mengawinkan anak-anak perempuan masih muda dengan pria yang usianya lebih tua, menyebabkan mereka kawin lari justeru bukan pria dengan seagama, tapi dengan pria yang seusianya yang beragama Kristen.

    Ada tiga kasus anak-anak muslimah asal Dari Walesi yang kini menjadi murtad (keluar kawin dan menjadi Kristen), padahal mereka adalah pembaca Al-Qur’an yang sangat bagus dengan suara merdu. Peserta Musabaqoh Tiiawatil Qu’an (MTQ) di Jogjakarta asal Papua dalam tingkat Nasional kini sudah murtad dan hidup dengan bersuamikan Pria Kristen.

    Sampai dewasa ini dari 20 anak perempuan muslimah Suku Dani belajar di SMU Yapis Wamena. Dari Wamena Muslim, kaum perempuannya belum ada yang belajar keluar sebagaimana umumnya anak letakinya. Mereka kini banyak belajar agama di Pesantren Al-Istiqomah Walesi dan beberapa orang melanjutkan tingakat lanjutan (SMP/SMU) di YAPIS Wamena akan menghadapi nasib pendahulu-pendahulu mereka ini berarti poroses pemurtadan juga.

  5. labbaik mengatakan:

    Subhanallah, Allahu akbar.

    Terima kasih banyak atas segala informasi Sdr.Muslim Papua , data yang amat berharga telah saudara berikan kepada Labbaik, insya Allah pada penerbitan edisi akan datang Labbaik akan menerbitkan tulisan dari saudara ini. Harapan kami, semoga saudara bisa terus membantu Labbaik dalam memperkaya data perihal perkembangan islam di Papua. Semoga segala usaha amal ibadah saudara diterima di sisi Allah SWT, dan semoga saudara senantiasa dalam bimbingan dan perlindungan-Nya. Amin

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d blogger menyukai ini: