Hidayah Allah Dari Buku Islam

Mei 9, 2007

THERESIA DELLI SUJARMINI nama saya. Lahir di Gunung Kidul, 7 Mei 1981. Saya terlahir dari keluarga non-Islam yang fanatik. Karena orang tua saya, Bapak Herominus Samino dan Ibu Lusia Jumini, adalah aktifis agama yang saya anut waktu itu, sehingga orang tua saya pun mendidik saya secara fanatik pula.

Waktu saya kelas 1 SMU, saya sempat merasa ragu, bimbang dengan agama yang saya anut. Dan itu membuat saya jarang pergi ke tempat ibadah. Jarangnya saya ke tempat ibadah ini, membuat orang tua marah pada saya. Tapi anehnya, kemarahan orang tua tidak pernah saya pedulikan. Bahkan, hal tersebut membuat saya semakin malas beribadah. Sempat suatu waktu, saya kembali membaca Al Kitab dan mempelajarinya dengan sungguh-sungguh. Dengan alasan untuk lebih meyakinkan akan kebenaran agama yang saya anut. Dan saya pun mulai aktif lagi ke tempat ibadah. Karena saya menganggap keraguan serta kebimbangan yang saya alami saat ini karena saya jauh dari Tuhan. Tapi, bukan ketenangan yang saya dapatkan. Justru keraguan dan kebimbangan itu semakin bertambah, dan itu membuat saya mengalami kegoncangan hati.

Saya sangat suka membaca. Buku apapun sering saya baca. Dan untuk mengisi kegelisahan serta kegoncangan hati saya, saya sering pergi ke Shopping Centre hanya untuk membaca buku-buku. Shopping Centre adalah Pusat buku terlengkap di Yogyakarta. Dan secara tidak sengaja, tiba-tiba saya tertarik pada buku-buku agama Islam. Dan secara diam-diam, tanpa sepengetahuan orang tua, saya pun mulai mempelajari Islam lewat buku-buku yang saya beli di shopping Centre. Di Shopping Centre, saya sering bertemu dengan Atin teman sekolah saya. Ia seorang muslimah yang taat. Dan itu saya ketahui dari pakaiannya yang selalu menutupi kepala (Jilbab) dan seringnya saya melihat Atin Shalat.

Ada sesuatu yang membuat saya tertarik dari gerakan-gerakan shalat Atin. Ya, gerakan-gerakan shalat Atin menunjukkan sebuah kepasrahan dan penyembahan yang sungguh-sungguh dari seorang makhluk kepada penciptaNya, Atin kepada Tuhannya. Dari situ saya mulai giat lagi membaca tentang keislaman. Atas bantuan Atin pula saya bisa memahami sedikit demi sedikit tentang Islam. Dan Subhanallah, Buku-buku tentang Islam yang saya baca ternyata dapat menjawab semua persoalan yang saya hadapi dan dapat pula menenangkan kegelisahan serta kegoncangan hati saya.

Buku-buku Islam yang saya baca, sangat mempengaruhi keadaan hati saya. Lalu timbullah keinginan saya untuk memeluk Islam. Dan hal itu saya utarakan pada Atin. Atin tidak langsung menyambut keinginan saya tersebut selain menyarankan saya untuk lebih banyak lagi membaca tentang Islam. Agar lebih yakin katanya. Dan ak hirnya Atin mengajak saya ke Perpustakaan Mabullir milik Bapak H.Dauzan Farouk di daerah Kauman. Karena menurut Atin buku-buku tentang Islam sangat lengkap di Perpustakaan tersebut. Kami berkenalan dengan Pak Dauzan pemilik perpustakaan tersebut. Dan Alhamdulillah pak Dauzan sangat antusias membantu saya. Dan Beliau pula yang sengaja menyediakan buku-buku tentang Islam untuk saya baca serta membimbing dan membina saya. Berkat pembinaan dan bimbingan serta buku-buku yang disediakan Pak Dauzan, alhamdulillah keyakinan saya untuk memeluk agama Islam pun semakin kuat.

Dan pada tanggal 6 Agustus 2001, saya berikrar dengan mengucapkan dua kalimah syahadat di Masjid Gedhe Yogyakarta, yaitu dihadapan Ketua Takmir Masjidnya, Drs. H. Marwazi NZ yang di saksikan oleh Pak Dauzan dan Pak Rahman Kusuma MA. Dan subhanallah, perasaan yang mengganjal selama ini pun sirna.
Saya berusaha untuk menyembunyikan keislaman saya pada keluarga. Tapi akhirnya orang tua mengetahui juga. Dan mereka sangat marah dan kecewa pada saya. Sampai pada akhirnya, mereka tak mau mengakui saya lagi sebagai anaknya dan mengusir saya dari rumah. Dengan berat hati, sayapun pergi dari rumah. Namun, Alhamdulillah Allah memberi kekuatan pada saya. Kecintaan saya pada Islam, mengalahkan rasa cinta saya pada keluarga yang selama ini memanjakan saya. Berat memang, tapi apa boleh buat, konsekuensi berat harus saya ambil. Saya pun akhirnya menum pang di rumah nenek di Pati. Satu bulan saya di sana. Karena merasa tidak kera san, saya pun pamit untuk pergi ke Lamongan ke tempat teman saya. Dan Alhamdulillah keluarga teman saya di Lamongan sangat baik pada saya. Mereka orang-orang yang taat pada Islam. Oleh karena itu mereka mengajari saya mengaji. Sehingga banyak hal yang saya dapatkan dari mereka.

Karena malu terlalu lama menumpang, akhirnya saya pamit untuk pulang ke Yogyakarta. Di Yogyakarta, saya ikut Pak Dauzan Farouk mengelola perpustakaan Mabulir. Subhanallah, pak Dauzan yang baik mengangkat saya sebagai anaknya. Pak Dauzan yang baik, tidak pernah berhenti membantu saya. Beliau sering mengajak saya untuk mengikuti kajian tentang keislaman di berbagai Majelis Ta’lim. Saya kembali belajar mengaji kepada beliau. Dan alhamdulillah sedikit demi sedikit, saya su dah mulai bisa membaca Alquran. Semoga Allah membalas kebaikan Pak Dauzan.
[Sumber : Tabloid MQ EDISI 12/TH.II/APRIL 2002]

http://www.kotasantri.com/modules.php?

Membalas Kekasaran Musuh dengan Permohonan Ampunan
Dari Abi Abdirrahman Abdillah ibni Mas’ud ra berkata, “Seolah aku masih melihat Rasulullah SAW tengah menceritakan seorang nabi di antara para nabi shalawatuhu wa salamuhu alaihim yang dipukul oleh kaumnya hingga berdarah. Nabi itu lalu menyeka darah dari wajahnya seraya berdoa, “Ya Allah, ampunilah kaumku, karena mereka tidak tahu”". (HR. Muttafaqun ‘alaihi)

keterangan
1. Kisah tentang kesabaran para nabi dalam menanggung siksaan ketika menyampaikan dakwah kepada manusia.
2. Di antara akhlaq nabi adalah menjawab kejahilan dengan permohonan ampun dan toleransi
3. Anjuran untuk tidak meladeni kekasaran orang jahil dengan tindakan yang seper ti mereka lakukan. -
[Sumber : Shahih Bukhari, Darussalaam (CD)]

http://www.eramuslim.com/hd/hn/49/12966,1,v.html

note : artikel di atas telah dimuat dalam Labbaik edisi no.016/th.02/Jumada Al Thani-Rajab 1426H/2006M


ISLAM KOK NDAK EKSTREM ?

Mei 9, 2007

Yang bahaya dan ditakuti oleh penguasa bumi ini bukan Kaum Muslimin atau Ummat Islam. Yang kuat dan hebat juga bukan Ummat Islam. Tidak ada yang perlu ditakuti dari Ummat Islam. Biarpun Israel hanya sekabupaten yang bertetangga dengan sepropinsi negara-negara Islam, si kabupaten bisa berbuat apa saja.
Jangankan sekedar mengurung Yasser Arafat di dalam metoda Khondaq, jangankan sekedar mengancam dan mengebom Masjidil Aqsha, sedangkan kalaupun Ka’bah di Mekah dan Masjid Nabawi di duduki oleh kumpulan pasukan-pasukan penguasa dunia – akan tidak banyak yang bisa diperbuat oleh Ummat Islam.

Ummat Islam di timur tengah hidup dalam negara-negara suku yang secara ideologis dan sosiologis menyalahi prinsip universalisme (rahmatan lil’alamin) yang merupakan inti ajaran Rasulullah Muhammad saw.
Ada kerajaan suku Arab Saudi, kerajaan suku Yordan, Kuwait, dlsb. Para khotib Jum’at selalu menyatakan rasa syukur “Kita panjatkan puja dan puji kepada junjungan kita Nabi Besar Muhammad saw, yang telah membawa kita dari alam jahiliyah menuju alam nur yang terang benderang…”.
Kalimat itu belum selesai, karena di ekornya masih ada anak kalimat, “….kemudian sesudah Muhammad tiada, kita kembali ke dunia jahiliyah”.

Ummat Islam Indonesia yang jumlahnya terbesar di dunia juga terbagi dalam berbagai suku dengan fanatisme, kebanggaan dan egosentrismenya masing-masing.
Ada suku NU, suku Muhammadiyah, suku darul Arqam, suku PKB dan sub-sukunya, suku PPP dan sub-sukunya, suku PBB, PK dan banyak lagi. Firman Allah “syu’ub wa qaba-il” itu bukan hanya bermakna genekologis atau antropologis – tetapi juga melebar ke berbagai segmentasi sosial yang jumlahnya tak terbilang.
Bahkan di dalam suku-suku Ummat Islam terdapat pula sub-suku Yahudi, Nasrani, Sekuler, Kebatinan dan macam-macam lagi – sekurang-kurangnya dalam cara pandang dan pola sikap kesejarahannya.

Sungguh mengasyikkan isi dunia ini, dan Ummat Islam di muka bumi seluruhnya atau khusus di Indonesia, dengan modal dasar kebanggaan suku – tidaklah akan mampu berbuat banyak kepada kekuatan-kekuatan di luar dirinya. Jika kekuatan di luar mereka memusuhinya, Ummat Islam akan kalah, dan jika kekuatan di luar dirinya itu bersahabat dengannya – Ummat Islam akan lebih kalah lagi.
Dan kalau terhadap persepsi saya ini Ummat Islam marah, maka menjadi terbukti bahwa ternyata keadaan mental dan budaya Ummat Islam jauh lebih parah dibanding yang tergambar dalam uraian ini.

Yang ditakuti oleh dunia, sekali lagi, bukanlah Ummat Islam, melainkan kebenaran nilai-nilai Islam. Oleh karena itu nanti zaman demi zaman akan berlalu, dan jika Ummat Islam dimusuhi, lantas mereka ada yang melawan, ada yang tidak melawan dan bahkan banyak yang justru menjadi alat untuk memusuhi Islam sendiri meskipun si alat ini naik haji 19 kali dan dikenal sebagai tokoh Islam – maka para penguasa dunia itu tidak akan bisa dikalahkan oleh Ummat Islam, melainkan akan dieliminir dan ditaklukkan secara ridho oleh nilai-nilai Islam sendiri yang tumbuh diam-diam dari dalam diri mereka sendiri.

Anda tidak perlu percaya pada kata-kata saya ini tetapi juga sebaiknya tak usah tidak percaya, daripada kelak Anda mundur isin untuk mengakuinya. Sebagaimana kepada sorga dan neraka Anda tidak saya tuntut untuk percaya, tetapi sebaiknya juga tak usah repot-repot tak percaya – supaya kelak kalau ada sorga beneran Anda tidak malu-malu kucing untuk mendaftar masuk ke dalamnya.

Sekarang para penguasa dunia silahkan berbuat semaunya kepada Ummat Islam. Ummat Islam bisa dibunuh, ditembaki, dimusnahkan dengan tidak terlalu sukar karena dari segala segi maintenance peperangan, Ummat Islam kalah mutlak. Tetapi yang tak bisa diapa-apakan adalah nilai Islam. Sebab kandungan nilai Islam tidak bisa di tembak atau dibom. Nilai Islam terletak di lubuk hati setiap orang yang memusuhinya.

Jadi kalau, umpamanya, Anda ingin menangkap saya, memenjarakan saya, membunuh saya, memberangus pekerjaan sosial saya, mengucilkan saya, menghancurkan eksisten si saya, membuang saya, membakar nama saya, menginjak-injak harga diri saya, menendang kepala saya, bahkan melabuh abu bakaran mayat saya di pantai selatan – sedikitpun Anda tidak akan mendapatkan kesulitan. Sebab saya sangat lemah. Tetapi yang tidak akan terbunuh adalah keyakinan yang saya jalani, sebab keyakinan itu juga berdomisili di dalam diri Anda sendiri.***

Nilai Islam sangat ditakuti eksistensinya oleh para penguasa dunia, tetapi Ummat Islam atau Kaum Muslimin amat diperlukan oleh mereka. Para penguasa dunia sangat membutuhkan Ummat Islam, tidak akan membiarkan Ummat Islam kelaparan, tidak membiarkan Ummat Islam kehilangan tokoh serta penampilan formalnya. NU, Muhammadiyah, MUI atau apa saja, harus terus ada, jangan sampai tidak ada. Kalau Ummat Islam sampai mengalami busung lapar dan musnah, itu akan merugikan para penguasa dunia, karena dengan demikian mereka tidak punya partner untuk menjalankan dialektika kekuasaan. Ummat Islam harus tetap eksis di muka bumi, sebab penguasa dunia membutuhkan budak dan orang-orang jajahan. Budak jangan sampai ndak makan dan loyo, sebab kalau loyo ndak bisa diperintah-perintah. Kalau kelaparan tidak enak ditempelengi. Ummat Islam dibutuhkan keberadaannya oleh penguasa dunia, dan manfaat keberadaan Ummat Islam adalah untuk proses penghancuran dan pelenyapan nilai-nilai Islam itu sendiri. Ummat Islam dipelihara, digurui, diajari, dididik untuk memiliki cara berpikir, cara bersikap dan cara hidup yang menghancurkan nilai-nilai Islam. Dan itu gampang dilaksanakan : kiai-kiai, ulama-ulama, cendekiawan muslim, mahasiswa islam, jurnalis, budayawan seniman, warga ormas keislaman, anak-anak muda Islam dll – sangat gampang digiring menjadi pegawai penghancur nilai-nilai Islam.

Ummat Islam harus dipelihara keberadaannya, sebab mereka yang sangat effektif untuk mempermalukan nilai-nilai Islam. Kalau ada kelompok Muslimin yang membangun kesejukan, kebersamaan, demokratisasi, egaliterisasi, defeodalisasi, menegakkan cinta kasih sosial – jangan diberi ruang di pemberitaan media massa dan peta opinion making – sebab mereka ini kontra-produktif untuk proses mempermalukan nilai-nilai Islam. Yang dibutuhkan oleh penguasa dunia adalah Muslim Ekstrem, radikal , ngamukan, berkepala batu, bodoh, terbelakang, suka mengancam, hobi mengasah pedang.

Rumus baku di kampus, media massa dan internet adalah “Islam harus ekstrem”. Mosok Islam ndak ekstrem. Islam ekstrem adalah Islam ideal bagi para penguasa dunia, sebab memang itulah senjata bumerang paling ampuh untuk mengeliminir ketakutan mereka terhadap kebenaran nilai Islam. Untuk menciptakan muslim ekstrem, maka harus dilaksanakan sejumlah kecurangan opini dan ketidakadilan di bidang-bidang politik, hukum, ekonomi dan kebudayaan. Kalau orang disakiti terus menerus, pasti lama-lama ia akan menjadi keras dan gampang dipancing untuk mengamuk.

Di setiap segmen sosial, di tempat kerja, di lingkungan birokrasi, di kampus, di kampung dan di manapun saja – harus terus menerus diciptakan pencitraan bahwa orang Islam itu suka menindas. Orang Islam itu mayoritas yang kejam. Meskipun kalangan Islam yang ditindas tapi opini yang dibangun harus sebaliknya.
Kalau ternyata dipancing-pancing dan dijelek-jelekkan kok orang-orang Islam itu masih saja bersabar, bersikap lembut dan merangkulkan kemesraan pluralisme – maka harus pada momentum-momentum yang berkala dan berirama harus diciptakan skenario seakan-akan ada tokoh ekstremis teroris – umpamanya Abu Bakar Baasyir — yang diupayakan untuk dihardik terus menerus di media massa, dicari-carikan pasal untuk menangkap dan menghukumnya.*****

(dari : Pustaka Digital Emha Ainun Nadjib)
http://www.padhangmbulan.com/modules.php?
note : artikel di atas telah dimuat dalam Labbaik, edisi : 017/th.02/Rajab-Sya’ban 1426H/2006M