Syaikh Siti Jenar

Syaikh Siti Jenar atau Syaikh Lemah Abang cukup popular di dalam cerita-cerita walisongo, dia sangat dikenal terutama oleh kaum abangan di Jawa. Syaikh Siti Jenar ini berseberangan jalan dengan para wali lainnya, karena dia ini meninggalkan ijma’,qiyas, dalil Al Qur’an dan hadits. Para ahli (peneliti) sejarah walisongo menyimpulkan bahwa paham-paham ajaran Syaikh Siti Jenar menjadi ajaran zindiq, gerakan politik yang menentang atau melemahkan kekuasaan dan potensi kaum muslimin yang dipimpin oleh walisongo. Agama Budha dan golongan lainnya tidak rela melihat Majapahit jatuh. Hal ini terlhat dalam naskah kumpulan Dr.Rinkes, yang membuktikan sikap ingin mempertahankan agama lama (Hindu dan Buhdha) pada Siti Jenar dan murid-muridnya. Bahkan menurut peneliti Dr.H.Kreamer, ajaran Siti Jenar ini berhubungan dengan panteisme dan ateisme. Seringkali dari balik pikiran panteisme berkedok istilah islam, dan berbuat seolah-olah ajaran islam. Terasa adanya polemik tajam yang menyerang islam secara diam-diam, dalam bentuk kegemaran mendurhakai dan melawan Islam. Hal ini tersembunyi dalam batin kebanyakan orang jawa (pada saat itu), misalnya dalam “Babad Kediri” disebutkan bahwa semua itu berasal dari paham agama Budha.

Kalau walisongo berpendapat, bahwa tak mungkin mencapai butir-butir mutiara di dasar lautan tanpa menggunakan perahu, sebagaimana mereka berpendapat tak mungkin mencapai maqam tertinggi (makrifat) tanpa melalui maqam terendah (syariat). Namun Siti Jenar dengan ajaran-ajarannya hendak membuang, bahkan keluar dari syariat, yakni kemurtadan. Siti Jenar mengajarkan ilmu sasahidan (ilmu persaksian) yang berpaham mistis, yang dilukiskan sebagai ilmu bidangat, yakni ilmu bid’ah (culas, mengada-ada) bertentangan dengan Al Qur’an. Sasahidan adalah kependekan dari Syahadah Muta’awwilah (La ilaha illa huwa)., dalam ajaran ini diri pribadi itulah wujud yang abadi dan uluhiyahnya (men-Tuhan), biasanya diistilahkan “Ora ana Pangeran anging Angsun” (Tidak ada Tuhan kecuali Aku). Istilah ini adalah kutipan QS. Tha Ha : 14, lengkapnya ayat ini berbunyi “Innani anallahu la ilaha illa ana fa’buduni” (Sesungguhnya Aku adalah Allah, tiada Tuhan selain Aku, maka sembahlah Aku). Identifikasi Aku (Tuhan) dalam ayat ini diterjemahkan langsung dengan gesang kita pribadi atau hidup kita sendiri. Allah adalah Badan Ingsun (badan saya), Muhammad adalah Cahya Ingsun (cahaya saya). Sholat dan dzikir menurut Siti Jenar bukan perintah Allah, tetapi semata keluar dari dasar kesimpulan yang dibuat manusia. Setiap tarikan nafas merupakan sholat untuk diri sendiri, yang berarti juga untuk Tuhan semata, karena itu manusia boleh menjadikan ibadah sholat sendiri sebagai isyarat atau sindiran saja.

Siti jenar memang suka bermain takwil ayat-ayat Al Qur’an. Misalnya pada ayat “Hayyun da’imun la yamutu adaban (hidup kekal tidak mati selamanya) dijadikan sandaran pendapat, bahwa di dunia ini orang bukan hidup, tetapi mati. Di dunia tidaklah abadi, sedang dalam mati itulah orang sedang hidup, karena sesudah itu akan ada kekekalan di akherat. Dr.Zoetmulder,PJ (dalam bukunya Pantheisme en Monisme in de Javaansche Soeloek Literatuur, Widya Pustaka, hal.346-347) mengemukakan syair-syair ajaran yang diberikan oleh Siti Jenar sendiri saat bertemu dengan Kebo Kenongo. Melalui syair itulah terlihat jelas bahwa ajaran Siti Jenar itu dinilai mulhid (atheis) dan mengandung wihdatul adyan (penyatuan segala agama). Ajaran tersebut dapat membawa seseorang kepada kekafiran dan mengingkari adanya Allah, adanya akherat, hari pembalasan, surga dan neraka. Surga dan neraka menurut Siti Jenar tidak lain hanyalah kebahagiaan dan kesengsaraan di dunia ini saja. Masih menurut Dr.Zoetmulder, dalam bidang moral, ajaraan Siti Jenar amat menyimpang dari kaidah akhlaq pada umumnya. Ajarannya terlihat sangat tidak bermoral, anarkhis dan merusak tatanan masyarakat. Ajaran tersebut tidak lain adalah praktek upacara agama Budha Bhairawa, yaitu agama Budha yang mengalami sinkretisasi dengan unsur-unsur asli Indonesia, Jawa dann Cina. Bermula dari paham dan praktek keagamaan yang dimodifikasi dan diberi label kedok Islam lengkap dengan pengucapan lafal Arab. Maka terciptalah tata cara ibadah, kaedah moral syariat yang bersifat amoral, anarkhis dan zindiq. Lebih khusus lagi dalam bidang seksual sangat bebas, tidak ada haram dan batal. Meskipun bukan suami istri. Mereka boleh saja sesukanya mengadakan hubungan intim di luar nikah.

Atas dasar pertimbangan akibat buruk dan menyeleweng yang ditimbulkan Siti Jenar itu, maka walisongo dalam salah satu sidangnya memutuskan akan halalnya darah Siti Jenar untuk dijatuhi hukum qishash. Walisongo memutuskan, bahwa Siti Jenar adalah ahli bid’ah, sesat dan murtad, pengikut Jabariyah dengan kesesatan yang nyata. Bahkan dalam primbon “Babad Tanah Jawa, karya Poerworedjo” disebutkan, bahwa selain Jabariyah , Siti Jenar juga Qadariyah, yang mengaku dirinya adalah tuhan, dan akal budi yang suci juga tuhan dan nabi. Kemudiaan walisongo mengirim dua orang utusan untuk mengundang Siti Jenar guna memusyawarahkan masalah ‘ngelmu’. Ketika dua utusan ini sampai di hadapan Siti Jenar, mereka memperoleh tanggapan yang menunjukkan bahwa Siti Jenar bersikap menentang terhadap walisongo, bahkan dia menunjukkan pula bagaimana ajaran-ajarannya. Siti Jenar bertanya kepada kedua utusan tersebut :”Mereka (walisongo) menyebut dirinya apa dalam undangan tersebut ?”. “Syaikh Lemah Abang”, kata utusan.

Maka Siti Jenar menjawab :”Syaikh Lemah Abang tidak ada disini,yang ada adalah

Pangeran sejati (Allah)”. Dengan kesal kedua utusan itu kembali dengan tangan hampa tanpa Siti Jenar ikut serta. Ketika mendengar laporan tersebut, bukan main marahnya Sunan Giri (salah satu dari walisongo), tetapi masih dapat disabarkan oleh para wali lainnya. Lalu kembali beliau menyuruh kedua utusan itu untuk mengundang “Pangeran Sejati” itu. Utusan tiba di hadapan Siti Jenar dan menyampaikan undangan bagi “Pangeran Sejati”. Dipanggil dengan sebutan itu Siti Jenar menyarankan agar kedua utusan kembali ke Giri, karena pada panggilan itu tidak ada sebutan Pangeran Sejati, yang ada hanya Syaikh Lemah Abang. Utusan kembali lagi dengan tangan hampa dan kesal. Sesampai di Giri, utusan disuruh kembali mengundang kedatangan Pangeran Sejati” alias Syaikh Lemah Abang. Dengan panggilan diri seperti itu, barulah Syaikh Lemah Abang mau memenuhi undangan Sunan Giri atas nama walisongo itu. Setelah walisongo berkumpul semua, maka terjadi perdebatan sengit. Setelah nyata dan yakin bahwa Siti Jenar telah tersesat dalam bid’ah, maka walisongo berusaha menginsyafkan. Siti jenar diajak kembali ke jalan sunnah dan meninggalkan bid’ah. Tetapi ajakan itu justru ditolak. (lihat : Langgam Asmaradana, pupuh XXXII, bait 2220-21, Walisana).

Dinyatakan, Siti Jenar berkata, bahwa walisongo tidak usah berpanjang lebar bicara, dia itu adalah Allah, bergelar Prabu Satmata. Mendengar jawaban itu, maka perdebatan menemui jalan buntu. Sunan Giri memberikan peringatan terakhir dengan pernyataan bahwa bila Siti Jenar tidak mau bertobat, maka akan ditimbang dengan hukuman syariat. Dalam syariat terdapat ketetapan bagi orang yang mengaku dirinya Allah, yaitu darahnya halal, dibunuh dan dikisas. Mendengar peringatan ini, Siti Jenar justru meradang dan menantang walisongo hingga kembali terjadi perdebatan, bahkan lebih sengit. Namun meskipun segala upaya telah ditempuh walisongo untuk menginsyafkan Siti Jenar agar tidak mengaku sebagai Allah, tapi Siti Jenar tdk pernah bergeming dari pendiriannya. Akhirnya sidang walisongo sepakat untuk menetapkan hukuman kisas bagi Siti Jenar berdasarkan pertimbangan dan dasar hukum yang pernah terjadi pada zaman rasulullah saw.

Meski hukum kisas telah diputuskan, namun pelaksanaannya masih ditunda sampai berdirinya pemerintahan atau kerajaraan Islam di Demak. Menurut walisongo, masalah eksekusi hukuman mati sebagai perkara pidana adalah hak penguasa Negara Islam yang sah, bukan hak perorangan. Maka setelah walisongo berhasil mendirikan kerajaan Demak, dipanggillah Siti Jenar ke sidang walisongo. Walisongo sebagai tim hakim dan jaksa yang mendapat kuasa dari kerajaan atau sultan, berhadapan dengan Syaikh Lemah Abang sebagai terdakwa. Dalam sidang pengadilan ini, sekali lagi Sunan Giri memeriksa bagimana sikap dan pendapat Siti Jenar, masihkan dia berbuat bid’ah dan syirik dengan mendakwahkan diri sebagai Allah, atau sudah berubah dan bertobat. Rupanya pendirian Siti Jenar tetap sebagaimana semula, tidak berubah sedikit pun. Akibatnya Siti Jenar mengalami nasib menyedihkan, dia bersama 7 muridnya dikisas oleh walisongo. Eksekusi dilakukan tanpa ada penjara atau siksaan, tetapi langsung sekali pancung, terpisah antara kepala dari badan.

(sumber : Mengislamkan Tanah Jawa – Telaah Atas Metode Dakwah Walisongo, Widji Saksono, cet.III, sya’ban 1416H/1996M, penerbit Mizan)

note : artikel di atas telah dimuat dalam Labbaik, edisi : 023/th.02/Jumada Al Awwal-Jumada Al Tsani 1427H/2006

About these ads

3 Balasan ke Syaikh Siti Jenar

  1. OMEN mengatakan:

    ceritanya dapat sumber dari mana mas????kok banyak nagarangnya ya……..

  2. labbaik mengatakan:

    Maaf, artikel di atas bukan cerita, melainkan sebuah karya ilmiah yang diambil dari sebuah buku program doktoral, silahklan melihat pada footnote di bawah setiap artikel, insya Allah selalu akan dicantumkan Labbaik sumber pengambilan datanya.

    Dibawah artikel berjudul “Syaikh Siti Jenar” tersebut telah Labbaik cantumkan sumbernyadari buku Mengislamkan Tanah Jawa – Telaah Atas Metode Dakwah Walisongo, Widji Saksono, cet.III, sya’ban 1416H/1996M, penerbit Mizan)

  3. amongraga mahardika mengatakan:

    Syekh Siti Jenar
    (829-923 H/1348-1439
    C/1426-1517 M), memiliki
    banyak nama : San Ali
    (nama kecil pemberian
    orangtua angkatnya,
    bukan Hasan Ali Anshar
    seperti banyak ditulis
    orang); Syekh ‘Abdul
    Jalil (nama yg diperoleh
    di Malaka, setelah
    menjadi ulama penyebar
    Islam di sana); Syekh
    Jabaranta (nama yg
    dikenal di Palembang,
    Sumatera dan daratan
    Malaka); Prabu Satmata
    (Gusti yg nampak oleh
    mata; nama yg muncul
    dari keadaan kasyf atau
    mabuk spiritual; juga
    nama yg diperkenalkan
    kepada murid dan
    pengikutnya); Syekh
    Lemah Abang atau
    Lemah Bang (gelar yg
    diberikan masyarakat
    Lemah Abang, suatu
    komunitas dan kampung
    model yg dipelopori
    Syekh Siti Jenar;
    melawan hegemoni
    kerajaan. Wajar jika
    orang Cirebon tidak
    mengenal nama Syekh
    Siti Jenar, sebab di
    Cirebon nama yg populer
    adalah Syekh Lemah
    Abang); Syekh Siti Jenar
    (nama filosofis yg
    mengambarkan
    ajarannya tentang
    sangkan-paran, bahwa
    manusia secara biologis
    hanya diciptakan dari
    sekedar tanah merah
    dan selebihnya adalah
    roh Allah; juga nama yg
    dilekatkan oleh Sunan
    Bonang ketika
    memperkenalkannya
    kepada Dewan Wali,
    pada kehadirannya di
    Jawa Tengah/Demak;
    juga nama Babad
    Cirebon); Syekh Nurjati
    atau Pangran Panjunan
    atau Sunan Sasmita
    (nama dalam Babad
    Cirebon, S.Z.
    Hadisutjipto); Syekh Siti
    Bang, serta Syekh Siti
    Brit; Syekh Siti Luhung
    (nama-nama yg
    diberikan masyarakat
    Jawa Tengahan); Sunan
    Kajenar (dalam sastra
    Islam-Jawa versi
    Surakarta baru, era
    R.Ng. Ranggawarsita
    [1802-1873]); Syekh Wali
    Lanang Sejati; Syekh Jati
    Mulya; dan Syekh
    Sunyata Jatimurti
    Susuhunan ing Lemah
    Abang.
    Siti Jenar lebih
    menunjukkan sebagai
    simbolisme ajaran utama
    Syekh Siti Jenar yakni
    ilmu kasampurnan, ilmu
    sangkan-paran ing
    dumadi, asal muasal
    kejadian manusia,
    secara biologis
    diciptakan dari tanah
    merah saja yg berfungsi
    sebagai wadah (tempat)
    persemayaman roh
    selama di dunia ini.
    Sehingga jasad manusia
    tidak kekal akan
    membusuk kembali
    ketanah. Selebihnya
    adalah roh Allah, yg
    setelah kemusnaan
    raganya akan menyatu
    kembali dengan
    keabadian. Ia di sebut
    manungsa sebagai
    bentuk “manunggaling
    rasa” (menyatu rasa
    ke dalam Tuhan).
    Dan karena surga serta
    neraka itu adalah untuk
    derajad fisik maka
    keberadaan surga dan
    neraka adalah di dunia
    ini, sesuai pernyataan
    populer bahwa dunia
    adalah penjara bagi
    orang mukmin. Menurut
    Syekh Siti Jenar, dunia
    adalah neraka bagi
    orang yg menyatu-padu
    dgn Tuhan. Setelah
    meninggal ia terbebas
    dari belenggu wadag-
    nya dan bebas bersatu
    dgn Tuhan. Di dunia
    manunggalnya hamba
    dgn Tuhan sering
    terhalang oleh badan
    biologis yg disertai
    nafsu-nafsunya. Itulah
    inti makna nama Syekh
    Siti Jenar.
    Asal Usul Syekh Siti Jenar
    Syekh Siti Jenar lahir
    sekitar tahun 829
    H/1348 C/1426 M (Serat
    She Siti Jenar Ki
    Sasrawijaya; Atja,
    Purwaka Tjaruban
    Nagari (Sedjarah
    Muladjadi Keradjan
    Tjirebon), Ikatan
    Karyawan Museum,
    Jakarta, 1972; P.S.
    Sulendraningrat,
    Purwaka Tjaruban
    Nagari, Bhatara, Jakarta,
    1972; H. Boedenani,
    Sejarah Sriwijaya,
    Terate, Bandung, 1976;
    Agus Sunyoto, Suluk
    Abdul Jalil Perjalanan
    Rohani Syaikh Syekh Siti
    Jenar dan Sang
    Pembaharu, LkiS,
    yogyakarta, 2003-2004;
    Sartono Kartodirjo dkk,
    [i]Sejarah Nasional
    Indonesia, Depdikbud,
    Jakarta, 1976; Babad
    Banten; Olthof, W.L.,
    Babad Tanah Djawi. In
    Proza Javaansche
    Geschiedenis, ‘s-
    Gravenhage, M.Nijhoff,
    1941; raffles, Th.S., The
    History of Java, 2 vol,
    1817), dilingkungan
    Pakuwuan Caruban,
    pusat kota Caruban
    larang waktu itu, yg
    sekarang lebih dikenal
    sebagai Astana japura,
    sebelah tenggara
    Cirebon. Suatu
    lingkungan yg multi-
    etnis, multi-bahasa dan
    sebagai titik temu
    kebudayaan serta
    peradaban berbagai
    suku.
    Selama ini, silsilah Syekh
    Siti Jenar masih sangat
    kabur. Kekurangjelasan
    asal-usul ini juga sama
    dgn kegelapan tahun
    kehidupan Syekh Siti
    Jenar sebagai manusia
    sejarah.
    Pengaburan tentang
    silsilah, keluarga dan
    ajaran Beliau yg
    dilakukan oleh penguasa
    muslim pada abad ke-16
    hingga akhir abad ke-17.
    Penguasa merasa perlu
    untuk “mengubur”
    segala yg berbau Syekh
    Siti Jenar akibat
    popularitasnya di
    masyarakat yg
    mengalahkan dewan
    ulama serta ajaran resmi
    yg diakui Kerajaan Islam
    waktu itu. Hal ini
    kemudian menjadi latar
    belakang munculnya
    kisah bahwa Syekh Siti
    Jenar berasal dari
    cacing.
    Dalam sebuah naskah
    klasik, cerita yg masih
    sangat populer tersebut
    dibantah secara tegas,
    “Wondene kacariyos
    yen Lemahbang punika
    asal saking cacing,
    punika ded, sajatosipun
    inggih pancen manungsa
    darah alit kemawon,
    griya ing dhusun
    Lemahbang.” [Adapun
    diceritakan kalau
    Lemahbang (Syekh Siti
    Jenar) itu berasal dari
    cacing, itu salah.
    Sebenarnya ia memang
    manusia berdarah kecil
    saja (rakyat jelata),
    bertempat tinggal di
    desa Lemah Abang]
    …..
    Jadi Syekh Siti Jenar
    adalah manusia lumrah
    hanya memang ia walau
    berasal dari kalangan
    bangsawan setelah
    kembali ke Jawa
    menempuh hidup
    sebagai petani, yg saat
    itu, dipandang sebagai
    rakyat kecil oleh
    struktur budaya Jawa,
    disamping sebagai wali
    penyebar Islam di Tanah
    Jawa.
    Syekh Siti Jenar yg
    memiliki nama kecil San
    Ali dan kemudian dikenal
    sebagai Syekh ‘Abdul
    Jalil adalah putra
    seorang ulama asal
    Malaka, Syekh Datuk
    Shaleh bin Syekh ‘Isa
    ‘Alawi bin Ahmadsyah
    Jamaludin Husain bin
    Syekh ‘Abdullah
    Khannuddin bin Syekh
    Sayid ‘Abdul Malikal-
    Qazam. Maulana
    ‘Abdullah Khannuddin
    adalah putra Syekh
    ‘Abdul Malik atau
    Asamat Khan. Nama
    terakhir ini adalah
    seorang Syekh kalangan
    ‘Alawi kesohor di
    Ahmadabad, India, yg
    berasal dari
    Handramaut. Qazam
    adalah sebuah distrik
    berdekatan dgn kota
    Tarim di Hadramaut.
    Syekh ‘Abdul Malik
    adalah putra Syekh
    ‘Alawi, salah satu
    keluarga utama
    keturunan ulama
    terkenal Syekh ‘Isa al-
    Muhajir al-Bashari
    al-‘Alawi, yg semua
    keturunannya
    bertebaran ke berbagai
    pelosok dunia,
    menyiarkan agama Islam.
    Syekh ‘Abdul Malik
    adalah penyebar agama
    Islam yg bersama
    keluarganya pindah dari
    Tarim ke India. Jika
    diurut keatas, silsilah
    Syekh Siti Jenar
    berpuncak pada
    Sayidina Husain bin ‘Ali
    bin Abi Thalib, menantu
    Rasulullah. Dari silsilah yg
    ada, diketahui pula
    bahwa ada dua kakek
    buyutnya yg menjadi
    mursyid thariqah
    Syathariyah di Gujarat
    yg sangat dihormati,
    yakni Syekh Abdullah
    Khannuddin dan Syekh
    Ahmadsyah Jalaluddin.
    Ahmadsyah Jalaluddin
    setelah dewasa pindah
    ke Kamboja dan menjadi
    penyebar agama Islam di
    sana.
    Adapun Syekh Maulana
    ‘sa atau Syekh Datuk
    ‘Isa putra Syekh
    Ahmadsyah kemudian
    bermukim di Malaka.
    Syekh Maulana ‘Isa
    memiliki dua orang putra,
    yaitu Syekh Datuk
    Ahamad dan Syekh
    Datuk Shaleh. Ayah
    Syekh Siti Jenar adalah
    Syekh Datuk Shaleh
    adalah ulama sunni asal
    Malaka yg kemudian
    menetap di Cirebon
    karena ancaman politik
    di Kesultanan Malaka yg
    sedang dilanda kemelut
    kekuasaan pada akhir
    tahun 1424 M, masa
    transisi kekuasaan
    Sultan Muhammad
    Iskandar Syah kepada
    Sultan Mudzaffar Syah.
    Sumber-sumber Malaka
    dan Palembang
    menyebut nama Syekh
    Siti Jenar dgn sebutan
    Syekh Jabaranta dan
    Syekh ‘Abdul Jalil.
    Pada akhir tahun 1425,
    Syekh Datuk Shaleh
    beserta istrinya sampai
    di Cirebon dan saat itu,
    Syekh Siti Jenar masih
    berada dalam
    kandungan ibunya 3
    bulan. Di Tanah Caruban
    ini, sambil berdagang
    Syekh Datuk Shaleh
    memperkuat
    penyebaran Islam yg
    sudah beberapa lama
    tersiar di seantero bumi
    Caruban, besama-sama
    dgn ulama kenamaan
    Syekh Datuk Kahfi, putra
    Syehk Datuk Ahmad.
    Namun, baru dua bulan di
    Caruban, pada tahun
    awal tahun 1426, Syekh
    Datuk Shaleh wafat.
    Sejak itulah San Ali atau
    Syekh Siti Jenar kecil
    diasuh oleh Ki Danusela
    serta penasihatnya, Ki
    Samadullah atau
    Pangeran
    Walangsungsang yg
    sedang nyantri di
    Cirebon, dibawah
    asuhan Syekh datuk
    Kahfi.
    Jadi walaupun San Ali
    adalah keturunan ulama
    Malaka, dan lebih jauh
    lagi keturunan Arab,
    namun sejak kecil
    lingkungan hidupnya
    adalah kultur Cirebon yg
    saat itu menjadi sebuah
    kota multikultur,
    heterogen dan sebagai
    basis antarlintas
    perdagangan dunia
    waktu itu.
    Saat itu Cirebon dgn
    Padepokan Giri Amparan
    Jatinya yg diasuh oleh
    seorang ulama asal
    Makkah dan Malaka,
    Syekh Datuk Kahfi, telah
    mampu menjadi salah
    satu pusat pengajaran
    Islam, dalam bidang fiqih
    dan ilmu ‘alat, serta
    tasawuf. Sampai usia 20
    tahun, San Ali
    mempelajari berbagai
    bidang agama Islam dgn
    sepenuh hati, disertai
    dgn pendidikan otodidak
    bidang spiritual.
    Padepokan Giri Amparan
    Jati
    Setelah diasuh oleh Ki
    Danusela samapai usia 5
    tahun, pada sekitar
    tahun 1431 M, Syekh Siti
    Jenar kecil (San Ali)
    diserahkan kepada
    Syekh Datuk Kahfi,
    pengasuh Pedepokan
    Giri Amparan Jati, agar
    dididik agama Islam yg
    berpusat di Cirebon oleh
    Kerajaan Sunda di sebut
    sebagai musu(h) alit
    [musuh halus] .
    Di Padepokan Giri
    Amparan Jati ini, San Ali
    menyelesaikan berbagai
    pelajaran keagamaan,
    terutama nahwu,
    sharaf, balaghah, ilmu
    tafsir, musthalah hadist,
    ushul fiqih dan manthiq.
    Ia menjadi santri
    generasi kedua. Sedang
    yg akan menjadi santri
    generasi ketiga adalah
    Syarif Hidayatullah atau
    Sunan Gunung Jati.
    Syarif Hidayatullah baru
    datang ke Cirebon,
    bersamaan dgn
    pulangnya Syekh Siti
    Jenar dari
    perantauannya di Timur
    Tengah sekitar tahun
    1463, dalam status
    sebagai siswa
    Padepokan Giri Amparan
    Jati, dgn usia sekitar 17-
    an tahun.
    Pada tahun 1446 M,
    setelah 15 tahun penuh
    menimba ilmu di
    Padepokan Amparan Jati,
    ia bertekad untuk keluar
    pondok dan mulai
    berniat untuk mendalami
    kerohanian (sufi).
    Sebagai titik pijaknya, ia
    bertekad untuk mencari
    “sangkan-paran”
    dirinya.
    Tujuan pertmanya
    adalah Pajajaran yg
    dipenuhi oleh para
    pertapa dan ahli hikmah
    Hindu-Budha. Di
    Pajajaran, Syekh Siti
    Jenar mempelajari kitab
    Catur Viphala warisan
    Prabu Kertawijaya
    Majapahit. Inti dari kitab
    Catur Viphala ini
    mencakup empat pokok
    laku utama.
    Pertama, nihsprha,
    adalah suatu keadaan di
    mana tidak adal lagi
    sesuatu yg ingin dicapai
    manusia. Kedua, nirhana,
    yaitu seseorang tidak
    lagi merasakan memiliki
    badan dan karenanya
    tidak ada lagi tujuan.
    Ketiga, niskala adalah
    proses rohani tinggi,
    “bersatu” dan
    melebur (fana’) dgn Dia
    Yang Hampa, Dia Yang
    Tak Terbayangkan, Tak
    Terpikirkan, Tak
    Terbandingkan.
    Sehingga dalam kondisi
    (hal) ini, “aku”
    menyatu dgn “Aku”.
    Dan keempat, sebagai
    kesudahan dari niskala
    adalah nirasraya, suatu
    keadaan jiwa yg
    meninggalkan niskala
    dan melebur ke Parama-
    Laukika (fana’ fi al-
    fana’), yakni dimensi
    tertinggi yg bebas dari
    segala bentuk keadaan,
    tak mempunyai ciri-ciri
    dan mengatasi “Aku”.
    Dari Pajajaran San Ali
    melanjutkan
    pengembaraannya
    menuju Palembang,
    menemui Aria Damar,
    seorang adipati,
    sekaligus pengamal sufi-
    kebatinan, santri
    Maulana Ibrahim
    Samarkandi. Pada masa
    tuanya, Aria Damar
    bermukim di tepi sungai
    Ogan, Kampung
    Pedamaran.
    Diperkirakan Syekh Siti
    Jenar berguru kepada
    Aria Damar antara tahun
    1448-1450 M. bersama
    Aria Abdillah ini, San Ali
    mempelajari
    pengetahuan tentang
    hakikat ketunggalan
    alam semesta yg
    dijabarkan dari konsep
    “nurun ‘ala
    nur” (cahaya Maha
    Cahaya), atau yg
    kemudian dikenal
    sebagai kosmologi
    emanasi.
    Dari Palembang, San Ali
    melanjutkan perjalanan
    ke Malaka dan banyak
    bergaul dgn para
    bangsawan suku Tamil
    maupun Malayu. Dari
    hubungan baiknya itu,
    membawa San Ali untuk
    memasuki dunia bisnis
    dgn menjadi saudagar
    emas dan barang
    kelontong. Pergaulan di
    dunia bisnis tsb
    dimanfaatkan oleh San
    Ali untuk mempelajari
    berbagai karakter nafsu
    manusia, sekaligus untuk
    menguji laku zuhudnya
    ditengah gelimang harta.
    Selain menjadi saudagar,
    Syekh Siti jenar juga
    menyiarkan agama Islam
    yg oleh masyarakat
    setempat diberi gelar
    Syekh jabaranta. Di
    Malaka ini pula, ia
    bertemu dgn Datuk
    Musa, putra Syekh Datuk
    Ahmad. Dari uwaknya ini,
    Syekh Datuk Ahmad, San
    Ali dianugerahi nama
    keluarga dan nama ke-
    ulama-an Syekh Datuk
    ‘Abdul Jalil.
    Dari perenungannya
    mengenai dunia nafsu
    manusia, hal ini
    membawa Syekh Siti
    Jenar menuai
    keberhasilan
    menaklukkan tujuh
    hijab, yg menjadi
    penghalang utama
    pendakian rohani
    seorang salik (pencari
    kebenaran). Tujuh hijab
    itu adalah lembah kasal
    (kemalasan naluri dan
    rohani manusia); jurang
    futur (nafsu menelan
    makhluk/orang lain);
    gurun malal (sikap
    mudah berputus asa
    dalam menempuh jalan
    rohani); gurun
    riya’ (bangga rohani);
    rimba sum’ah (pamer
    rohani); samudera
    ‘ujub (kesombongan
    intelektual dan
    kesombongan ragawi);
    dan benteng hajbun
    (penghalang akal dan
    nurani).
    Pencerahan Rohani di
    Baghdad
    Setelah mengetahui
    bahwa dirinya
    merupakan salah satu
    dari keluarga besar ahlul
    bait (keturunan
    Rasulullah), Syekh Siti
    Jenar semakin memiliki
    keinginan kuat segera
    pergi ke Timur Tengah
    terutama pusat kota
    suci Makkah.
    Dalam perjalanan ini, dari
    pembicaraan mengenai
    hakikat sufi bersama
    ulama Malaka asal
    Baghdad Ahmad al-
    Mubasyarah al-Tawalud
    di sepanjang perjalanan.
    Syekh Siti Jenar mampu
    menyimpan satu
    perbendaharaan baru,
    bagi perjalanan
    rohaninya yaitu “ke-
    Esaan af’al Allah”,
    yakni kesadaran bahwa
    setiap gerak dan segala
    peristiwa yg tergelar di
    alam semesta ini, baik yg
    terlihat maupun yg tidak
    terlihat pada hakikatnya
    adalah af’al Allah. Ini
    menambah
    semangatnya untuk
    mengetahui dan
    merasakan langsung
    bagaimana af’al Allah
    itu optimal bekerja
    dalam dirinya.
    Inilah pangkal
    pandangan yg
    dikemudian hari
    memunculkan tuduhan
    dari Dewan Wali, bahwa
    Syekh Siti Jenar
    menganut paham
    Jabariyah. Padahal
    bukan itu pemahaman yg
    dialami dan dirasakan
    Syekh Siti Jenar. Bukan
    pada dimensi perbuatan
    alam atau manusianya
    sebagai tolak titik
    pandang akan tetapi
    justru perbuatan Allah
    melalui iradah dan
    quradah-NYA yg bekerja
    melalui diri manusia,
    sebagai khalifah-NYA di
    alam lahir. Ia juga sampai
    pada suatu kesadaran
    bahwa semua yg
    nampak ada dan memiliki
    nama, pada hakikatnya
    hanya memiliki satu
    sumber nama, yakni Dia
    Yang Wujud dari segala
    yg maujud.
    Sesampainya di
    Baghdad, ia menumpang
    di rumah keluarga besar
    Ahmad al-Tawalud.
    Disinilah cakrawala
    pengetahuan sufinya
    diasah tajam. Sebab di
    keluarga al-Tawalud
    tersedia banyak kitab-
    kitab ma’rifat dari
    para sufi kenamaan.
    Semua kitab itu adalah
    peninggalan kakek al-
    Tawalud, Syekh ‘Abdul
    Mubdi’ al-Baghdadi. Di
    Irak ini pula, Syekh Siti
    Jenar bersentuhan dgn
    paham Syi’ah
    Ja’fariyyah, yg di kenal
    sebagai madzhab ahl al-
    bayt.
    Syekh Siti Jenar
    membaca dan
    mempelajari dgn Baik
    tradisi sufi dari al-
    Thawasinnya al-Hallaj
    (858-922), al-Bushtamii
    (w.874), Kitab al-Shidq-
    nya al-Kharaj (w.899),
    Kitab al-Ta’aruf al-
    Kalabadzi (w.995),
    Risalah-nya al-Qusyairi
    (w.1074), futuhat al-
    Makkiyah dan Fushush
    al-Hikam-nya Ibnu
    ‘Arabi (1165-1240),
    Ihya’ Ulum al-Din dan
    kitab-kitab tasawuf al-
    Ghazali (w.1111), dan al-
    Jili (w.1428). secara
    kebetulan periode al-jili
    meninggal, Syekh Siti
    Jenar sudah berusia dua
    tahun. Sehingga saat itu
    pemikiran-permikiran al-
    Jili, merupakan hal yg
    masih sangat baru bagi
    komunitas Islam
    Indonesia.
    Dan sebenarnya Syekh
    Siti Jenar-lah yg pertama
    kali mengusung gagasan
    al-Hallaj dan terutama
    al-Jili ke Jawa.
    Sementara itu para wali
    anggota Dewan Wali
    menyebarluaskan
    ajaran Islam syar’i
    madzhabi yg ketat.
    Sebagian memang
    mengajarkan tasawuf,
    namun tasawuf
    tarekati, yg
    kebanyakkan beralur
    pada paham Imam
    Ghazali. Sayangnya,
    Syekh Siti Jenar tidak
    banyak menuliskan
    ajaran-ajarannya
    karena kesibukannya
    menyebarkan gagasan
    melalui lisan ke berbagai
    pelosok Tanah Jawa.
    Dalam catatan sastra
    suluk Jawa hanya ada 3
    kitab karya Syekh Siti
    Jenar; Talmisan,
    Musakhaf (al-
    Mukasysyaf) dan Balal
    Mubarak. Masyarakat yg
    dibangunnya nanti
    dikenal sebagai
    komunitas Lemah Abang.
    Dari sekian banyak kitab
    sufi yg dibaca dan
    dipahaminya, yg paling
    berkesan pada Syekh
    Siti Jenar adalah kitab
    Haqiqat al-Haqa’iq, al-
    Manazil al-Alahiyah dan
    al-Insan al-Kamil fi
    Ma’rifat al-Awakhiri
    wa al-Awamil (Manusia
    Sempurna dalam
    Pengetahuan tenatang
    sesuatu yg pertama dan
    terakhir). Ketiga kitab
    tersebut, semuanya
    adalah puncak dari
    ulama sufi Syekh
    ‘Abdul Karim al-Jili.
    Terutama kitab al-Insan
    al-Kamil, Syekh Siti Jenar
    kelak sekembalinya ke
    Jawa menyebarkan
    ajaran dan pandangan
    mengenai ilmu sangkan-
    paran sebagai titik
    pangkal paham
    kemanuggalannya.
    Konsep-konsep pamor,
    jumbuh dan manunggal
    dalam teologi-sufi Syekh
    Siti Jenar dipengaruhi
    oleh paham-paham
    puncak mistik al-Hallaj
    dan al-Jili, disamping itu
    karena proses pencarian
    spiritualnya yg memiliki
    ujung pemahaman yg
    mirip dgn secara
    praktis/’amali-al-Hallaj;
    dan secara filosofis mirip
    dgn al-Jili dan Ibnu
    ‘Arabi.
    Syekh Siti Jenar menilai
    bahwa ungkapan-
    ungkapan yg digunakan
    al-Jili sangat sederhana,
    lugas, gampang dipahami
    namun tetap mendalam.
    Yg terpenting, memiliki
    banyak kemiripan dgn
    pengalaman rohani yg
    sudah dilewatkannya,
    serta yg akan
    ditempuhnya. Pada
    akhirnya nanti,
    sekembalinya ke Tanah
    Jawa, pengaruh ketiga
    kitab itu akan nampak
    nyata, dalam berbagai
    ungkapan mistik, ajaran
    serta khotbah-
    khotbahnya, yg banyak
    memunculkan
    guncangan-guncangan
    keagamaan dan politik di
    Jawa.
    Syekh Siti Jenar banyak
    meluangkan waktu
    mengikuti dan
    mendengarkan konser-
    konser musik sufi yg
    digelar diberbagai
    sama’ khana. Sama’
    khana adalah rumah-
    rumah tempat para sufi
    mendengarkan musik
    spiritual dan
    membiarkan dirinya
    hanyut dalam ekstase
    (wajd). Sama’ khana
    mulai bertumbuhan di
    Baghdad sejak abad
    ke-9 (Schimmel; 1986,
    hlm. 185). Pada masa itu
    grup musik sufi yg
    terkenal adalah al-
    Qawwal dgn penyanyi
    sufinya ‘Abdul Warid
    al-Wajd.
    Berbagai pengalaman
    spiritual dilaluinya di
    Baghdad sampai pada
    tingkatan fawa’id
    (memancarnya potensi
    pemahaman roh karena
    hijab yg
    menyelubunginya telah
    tersingkap. Dgn ini
    seseorang akan menjadi
    berbeda dgn umumnya
    manusia); dan
    lawami’ (mengejawantahnya
    cahaya rohani akibat
    tersingkapnya
    fawa’id), tajaliyat
    melalui Roh al-haqq dan
    zawaid (terlimpahnya
    cahaya Ilahi ke dalam
    kalbu yg membuat
    seluruh rohaninya
    tercerahkan). Ia
    mengalami berbagai
    kasyf dan berbagai
    penyingkapan hijab dari
    nafsu-nafsunya. Disinilah
    Syekh Siti Jenar
    mendapatkan
    kenyataan memadukan
    pengalaman sufi dari
    kitab-kitab al-Hallaj, Ibnu
    ‘Arabi dan al-Jili.
    Bahkan setiap kali ia
    melantunkan dzikir
    dikedalaman lubuk
    hatinya dgn sendirinya ia
    merasakan denting
    dzikir dan menangkap
    suara dzikir yg berbunyi
    aneh, Subhani, alhamdu
    li, la ilaha illa ana wa ana
    al-akbar, fa’budni
    (mahasuci aku, segala
    puji untukku, tiada
    tuhan selain aku, maha
    besar aku, sembahlah
    aku). Walaupun
    telinganya
    mendengarkan orang di
    sekitarnya membaca
    dzikir Subhana Allah, al-
    hamduli Allahi, la ilaha illa
    Allah, Allahu Akbar,
    fa’buduhu, namun
    suara yg di dengar lubuk
    hatinya adalah dzikir
    nafsi, sebagai cerminan
    hasil man ‘arafa
    bafsahu faqad ‘arafa
    Rabbahu tersebut.
    Sampai di sini, Syekh Siti
    Jenar semakin
    memahami makna hadist
    Rasulullah “al-Insan
    sirri wa ana
    sirruhu” (Manusia
    adalah Rahasia-Ku dan
    Aku adalah rahasianya).
    Sebenarnya inti ajaran
    Syekh Siti Jenar sama
    dgn ajaran sufi ‘Abdul
    Qadir al-Jilani (w.1165),
    Ibnu ‘Arabi
    (560/1165-638-1240),
    Ma’ruf al-Karkhi, dan
    al-Jili. Hanya saja ketiga
    tokoh tsb mengalami
    nasib yg baik dalam
    artian, ajarannya tidak
    dipolitisasi, sehingga
    dalam kehidupannya di
    dunia tidak pernah
    mengalami intimidasi dan
    kekerasan sebagai
    korban politik dan
    menemui akhir hayat
    secara biasa.
    Ingsun, Allah dan
    Kemanunggalan (Syekh
    Siti Jenar)
    SATU
    “Sabda sukma, adhep
    idhep Allah, kang
    anembah Allah, kang
    sinembah
    Allah, kang murba
    amisesa.”
    Pernyataan Syekh Siti
    Jenar diatas secara garis
    besarnya adalah:
    “Pernyataan roh yg
    bertemu-hadapan dgn
    Allah, yg menyembah
    Allah, yg disembah Allah,
    yg meliputi segala
    sesuatu.”
    Ini adalah salah satu
    sumber pengetahuan
    ajaran Syekh Siti Jenar
    yg maksudnya adalah
    sukma (roh di kedalaman
    jiwa) sebagai pusat
    kalam (pembicaraan dan
    ajaran). Hal itu
    diakibatkan karena di
    kedalaman roh batin
    manusia tersedia cermin
    yg disebut mir’ah al-
    haya’ (cermin yg
    memalukan). Bagi orang
    yg sudah bisa
    mengendalikan hawa
    nafsunya serta
    mencapai fana’ cermin
    tersebut akan muncul,
    yg menampakkan
    kediriannya dengan
    segala perbuatan
    tercelanya. Jika ini telah
    terbuka maka tirai-tirai
    Rohani juga akan
    tersingkap, sehingga
    kesejatian dirinya
    beradu-adu (adhep
    idhep), “aku ini kau,
    tapi kau aku”.
    Maka jadilah dia yg
    menyembah sekaligus yg
    disembah, sehingga
    dirinya sebagai kawula-
    Gusti memiliki
    wewenang murba
    amisesa, memberi
    keputusan apapun
    tentang dirinya,
    menyatu iradah dan
    kodrat kawula-Gusti.
    DUA
    “Hidup itu bersifat baru
    dan dilengkapi dengan
    pancaindera.
    Pancaindera ini
    merupakan barang
    pinjaman, yg jika sudah
    diminta oleh yg
    empunya, akan menjadi
    tanah dan membusuk,
    hancur lebur bersifat
    najis. Oleh karena itu
    pancaindera tidak dapat
    dipakai sebagai
    pedoman hidup. Demikian
    pula budi, pikiran, angan-
    angan dan kesadaran,
    berasal dari
    pancaindera, tidak dapat
    dipakai sebagai
    pegangan hidup. Akal
    dapat menjadi gila, sedih,
    bingung, lupa tidur dan
    seringkali tidak jujur.
    Akal itu pula yg siang
    malam mengajak dengki,
    bahkan merusak
    kebahagiaan orang lain.
    Dengki dapat pula
    menuju perbuatan jahat,
    menimbulkan
    kesombongan, untuk
    akhirnya jatuh dalam
    lembah kenistaan,
    sehingga menodai nama
    dan citranya. Kalau
    sudah sampai
    sedemikian jauhnya,
    baru orang menyesalkan
    perbuatannya.”
    Menurut Syekh Siti
    Jenar, baik pancaindera
    maupun perangkat akal
    tidak dapat dijadikan
    pegangan dan pedoman
    hidup. Sebab semua itu
    bersifat baru, bukan
    azali. Satu-satunya yg
    bisa dijadikan gondhelan
    dan gandhulan hanyalah
    Zat Wajibul Maulanan,
    Zat Yang Maha
    Melindungi. Pancaindera
    adalah pintu nafsu dan
    akal adalah pintu bagi
    ego. Semuanya harus
    ditundukkan di bawah
    Zat Yang Wajib
    memimpin.
    Karena hanya Dialah yg
    menunjukkan semua
    budi baik. Jadi
    pancaindera harus
    dibimbing oleh budi dan
    budi dipimpin oleh Sang
    Penguasa Budi atau
    Yang Maha Budi.
    Sedangkan Yang Maha
    Budi itu tidak terikat
    dalam jeratan dan
    jebakan nama tertentu.
    Sebab nama bukanlah
    hakikat. Nama itu bisa
    Allah, Hyang Widi, Hyang
    Manon, Sang Wajibul
    Maulana dan
    sebagainya. Semua itu
    produk akal, sehingga
    nama tidak perlu
    disembah. Jebakan nama
    dalam syari’at justru
    malah merendahkan
    nama-NYA.
    TIGA
    “Apakah tidak tahu
    bahwa penampilan
    bentuk daging, urat,
    tulang, sunsum, bisa
    rusak dan bagaimana
    cara Anda
    memperbaikinya?
    Biarpun bersembahyang
    seribu kali setiap harinya
    akhirnya mati juga.
    Meskipun badan Anda,
    Anda tutupi akhirnya
    menjadi debu juga.
    Tetapi jika penampilan
    bentuknya seperti
    Tuhan, Apakah para Wali
    dapat membawa Pulang
    dagingnya, saya rasa
    tidak dapat. Alam
    semesta ini baru. Tuhan
    tidak akan membentuk
    dunia ini dua kali dan
    juga tidak akan
    membuat tatanan batu,
    dalilnya layabtakiru
    hilamuhdil yg artinya
    tidak membuat sesuatu
    wujud lagi tentang
    terjadinya alam semesta
    sesudah dia membuat
    dunia.”
    Dari pernyataan itu
    nampak Syekh Siti Jenar
    memandang alam
    makrokosmos sama
    dengan mikrokosmos
    (manusia). Kedua hal
    tersebut merupakan
    barang baru ciptaan
    Tuhan yg sama-sama
    akan mengalami
    kerusakan atau tidak
    kekal.
    Pada sisi lain,
    pernyataan Syekh Siti
    Jenar tsb mempunyai
    muatan makna
    pernyataan sufistik,
    “Barangsiapa
    mengenal dirinya, maka
    ia pasti mengenal
    Tuhannya.” Sebab bagi
    Syekh Siti Jenar manusia
    yg utuh dalam jiwa
    raganya merupakan
    wadag bagi penyanda,
    termasuk penyanda
    alam semesta. Itulah
    sebabnya pengelolaan
    alam semesta menjadi
    tanggungjawab
    manusia.
    Maka mikrokosmos
    manusia, tidak lain
    adalah Blueprint dan
    gambaran adanya jagat
    besar termasuk
    semesta.
    Baginya Manusia terdiri
    dari jiwa dan raga yg
    intinya ialah jiwa
    sebagai penjelmaan
    dzat Tuhan (Sang
    Pribadi). Sedangkan raga
    adalah bentuk luar dari
    jiwa yg dilengkapi
    pancaindera, berbagai
    organ tubuh seperti
    daging, otot, darah dan
    tulang. Semua aspek
    keragaan atau
    ketubuhan adalah
    barang pinjaman yg
    suatu saat setelah
    manusia terlepas dari
    pengalaman kematian di
    dunia ini, akan kembali
    berubah menjadi tanah.
    Sedangkan rohnya yg
    menjadi tajalli Ilahi,
    manunggal ke dalam
    keabadian dengan Allah.
    EMPAT
    “Segala sesuatu yg
    terjadi di alam semesta
    ini pada hakikatnya
    adalah af’al
    (perbuatan) Allah.
    Berbagai hal yg dinilai
    baik maupun buruk pada
    hakikatnya adalah dari
    Allah juga. Jadi keliru dan
    sesat pandangan yg
    mengatakan bahwa yg
    baik dari Allah dan yg
    buruk dari selain Allah.”
    “…Af’al Allah harus
    dipahami dari dalam dan
    dari luar diri. Saat
    manusia menggoreskan
    pena misalnya, di situ lah
    terjadi perpaduan dua
    kemampuan kodrati yg
    dipancarkan oleh Allah
    kepada makhluk-NYA,
    yakni kemampuan
    kodrati gerak pena. Di
    situlah berlaku dalil
    “Wa Allahu khalaqakum
    wa ma ta’malun
    (Qs.Ash-Shaffat:96)”,
    yg maknanya Allah yg
    menciptakan engkau
    dan segala apa yg
    engkau perbuat. Di sini
    terkandung makna
    mubasyarah. Perbuatan
    yg terlahir dari itu
    disebut al-tawallud.
    Misalnya saya melempar
    batu. Batu yg terlempar
    dari tangan saya itu
    adalah berdasarkan
    kemampuan kodrati
    gerak tangan saya. Di
    situ berlaku dalil “Wa
    ma ramaita idz ramaita
    walakinna Allaha rama
    (Qs.Al-Anfal:17)”,
    maksudnya bukanlah
    engkau yg melempar,
    melainkan Allah jua yg
    melempar ketika engkau
    melempar. Namun pada
    hakikatnya antara
    mubasyarah dan al-
    tawallud hakikatnya
    satu, yakni af’al Allah
    sehingga berlaku dalil la
    haula wa la quwwata illa
    bi Allahi al-‘aliyi
    al-‘adzimi. Rosulullah
    bersabda “La
    tataharraku dzarratun
    illa bi idzni Allahi”, yg
    maksudnya tidak akan
    bergerak satu dzarah
    pun melainkan atas idzin
    Allah.”
    Eksistensi manusia yg
    manunggal ini akan
    nampak lebih jelas
    peranannya, dimana
    manusia tidak lain adalah
    ke-Esa-an dalam af’al
    Allah. Tentu ke-Esa-an
    bukan sekedar af’al,
    sebab af’al digerakkan
    oleh dzat. Sehingga
    af’al yg menyatu
    menunjukkan adanya
    ke-Esa-an dzat, kemana
    af’al itu dipancarkan.
    LIMA
    “Di dunia ini kita
    merupakan mayat-
    mayat yg cepat juga
    akan menjadi busuk dan
    bercampur tanah.
    Ketahuilah juga apa yg
    dinamakan kawula-Gusti
    tidak berkaitan dgn
    seorang manusia biasa
    seperti yg lain-lain.
    Kawula dan Gusti itu
    sudah ada dalam diriku,
    siang dan malam tidak
    dapat memisahkan diriku
    dari mereka. Tetapi
    hanya untuk saat ini
    nama kawula-Gusti itu
    berlaku, yakni selama
    saya mati. Nanti, kalau
    saya sudah hidup lagi,
    Gusti dan kawula lenyap,
    yg tinggal hanya hidupku
    sendiri, ketentraman
    langgeng dalam ADA
    sendiri. Bila kau belum
    menyadari kebenaran
    kata-kataku maka dgn
    tepat dapat dikatakan,
    bahwa kau masih
    terbenam dalam masa
    kematian. Di sini memang
    terdapat banyak
    hiburan aneka warna.
    Lebih banyak lagi hal-hal
    yg menimbulkan hawa
    nafsu. Tetapi kau tidak
    melihat, bahwa itu
    hanya akibat
    pancaindera. Itu hanya
    impian yg sama sekali
    tidak mengandung
    kebenaran dan sebentar
    lagi akan cepat lenyap.
    Gilalah orang yg terikat
    padanya. Saya tidak
    merasa tertarik, tak sudi
    tersesat dalam kerajaan
    kematian. Satu-satunya
    yg kuusahakan, ialah
    kembali kepada
    kehidupan.”
    Syekh Siti Jenar
    menyatakan dgn tegas
    bahwa dirinya sebagai
    Tuhan, ia memiliki hidup
    dan Ada dalam dirinya
    sendiri, serta menjadi
    Pangeran bagi seluruh isi
    dunia. Sehingga
    didapatkan konsistensi
    antara keyakinan hati,
    pengalaman keagamaan,
    dan sikap perilaku
    dzahirnya. Juga
    ditekankan satu hal yg
    selalu tampil dalam
    setiap ajaran Syekh Siti
    Jenar. Yakni pendapat
    bahwa manusia selama
    masih berada di dunia ini
    sebetulnya mati, baru
    sesudah ia dibebaskan
    dari dunia ini, akan
    dialami kehidupan sejati.
    Kehidupan ini
    sebenarnya kematian
    ketika manusia
    dilahirkan. Badan hanya
    sesosok mayat karena
    ditakdirkan untuk sirna.
    (bandingkan dengan
    Zoetmulder; 364). Dunia
    ini adalah alam kubur,
    dimana roh suci terjerat
    badan wadag yg
    dipenuhi oleh berbagai
    goda-nikmat yg
    menguburkan
    kebenaran sejati dan
    berusaha menguburkan
    kesadaran Ingsun Sejati.
    Semoga yg ini
    bermanfaat dalam
    kepasrahan yg tidak
    bisa dipikir dgn Akal tapi
    dengan Hati yang sulit
    mengungkapkan rasa
    Cinta itu secara Tulus….
    Walaupun rasa Cinta itu
    sulit diungkapkan dgn
    bahasa kita yg sangat
    terbatas
    ini…..amin….amin.
    Surga dan Negara Syekh
    Siti Jenar
    “anal jannatu wa nara
    katannalr al anna”,
    sering digunakan oleh
    Syekh Siti Jenar dalam
    menjelaskan hakikat
    surga dan neraka.
    Penulisan yg benar
    nampaknya adalah
    “inna al-janatu wa al-
    naru qath’un ‘an al-
    ana” (Sesungguhnya
    keberadaan surga dan
    neraka itu telah nyata
    adanya sejak sekarang
    atau di dunia ini).
    Sesungguhnya, menurut
    ajaran Islam pun, surga
    dan neraka itu tidaklah
    kekal. Yang menganggap
    kekal surga dan neraka
    itu adalah kalangan
    awam. Sesungguhnya
    mereka berdua wajib
    rusak dan binasa. Bagi
    Syekh Siti Jenar, surga
    atau neraka bukanlah
    tempat tertentu untuk
    memberikan pembalasan
    baik dan buruknya
    manusia. Surga neraka
    adalah perasaan roh di
    dunia, sebagai akibat
    dari keadaan dirinya yg
    belum dapat menyatu-
    tunggal dgn Allah. Sebab
    bagi manusia yg sudah
    memiliki ilmu
    kasampurnan, jelas
    bahwa ketika mengalami
    kematian dan melalui
    pintunya, ia kembali
    kepada Hidup Yang
    Agung, hidup yang tan
    kena kinaya ngapa
    (hidup sempurna abadi
    sebagai Sang Hidup).
    Yaitu sebagai puncak
    cita-cita dan tujuan
    manusia. Jadi, karena
    surga dan neraka itu
    ternyata juga makhluk,
    maka surga dan neraka
    tidaklah kekal, dan juga
    bukanlah tempat
    kembalinya manusia
    yang sesungguhnya.
    Sebab tidak mungkin
    makhluk akan kembali
    kepada makhluk, kecuali
    karena keadaan yang
    belum sempurna
    hidupnya. Oleh al-
    Qur’an sudah
    ditegaskan bahwa
    tempat kembalinya
    manusia hanya Allah,
    yang tidak lain adalah
    proses kemanunggalan
    ……ilaihi raji’un, ilaihi
    al-mashir………
    Puasa dan Haji Syekh Siti
    Jenar
    “Syahadat, shalat dan
    puasa itu, sesuatu yang
    tidak diinginkan, jadi
    tidak perlu. Adapun
    zakat dan naik haji ke
    Makah, itu semua omong
    kosong (palson kabeh).
    Itu seluruhnya
    kedurjanaan budi,
    penipuan terhadap
    sesama manusia. Orang-
    orang dungu yg
    menuruti aulia, karena
    diberi harapan surga di
    kelak kemudian hari, itu
    sesungguhnya
    keduanya orang yang
    tidak tahu. Lain halnya
    dengan saya, Siti
    Jenar.”
    “Tiada pernah saya
    menuruti perintah budi,
    bersujud-sujud di mesjid
    mengenakan jubah,
    pahalanya besok saja,
    bila dahi sudah menjadi
    tebal, kepala
    berbelulang.
    Sesungguhnya hal ini
    idak masuk akal! Di dunia
    ini semua manusia
    adalah sama. Mereka
    semua mengalami suka-
    duka, menderita sakit
    dan duka nestapa, tiada
    beda satu dengan yang
    lain. Oleh karena itu
    saya, Siti Jenar, hanya
    setia pada satu hal saja,
    yaitu Gusti Zat
    Maulana.”
    Syekh Siti jenar
    menyebutkan bahwa
    syariat yang diajarkan
    para wali adalah
    “omong kosong
    belaka”, atau “wes
    palson kabeh”(sudah
    tidak ada yang asli).
    Tentu istilah ini sangat
    amat berbeda dengan
    anggapan orang selama
    ini, yang menyatakan
    bahwa Syekh Siti Jenar
    menolak syari’at Islam.
    Yang ditolak adalah
    reduksi atas syari’at
    tersebut. Syekh Siti
    Jenar menggunakan
    istilah “iku wes palson
    kabeh”, yg artinya
    “itu sudah dipalsukan
    atau dibuat palsu
    semua.” Tentu ini
    berbeda pengertiannya
    dengan kata “iku palsu
    kabeh” atau “itu
    palsu semua.” Jadi yang
    dikehendaki Syekh Siti
    Jenar adalah penekanan
    bahwa syari’at Islam
    pada masa Walisanga
    telah mengalami
    perubahan dan
    pergeseran makna
    dalam pengertian
    syari’at itu. Semuanya
    hanya menjadi
    formalitas belaka.
    Sehingga manfaat
    melaksanakan syariat
    menjadi hilang. Bahkan
    menjadi mudharat
    karena pertentangan
    yang muncul dari aplikasi
    formal syariat tsb.
    Bagi Syekh Siti Jenar,
    syariat bukan hanya
    pengakuan dan
    pelaksanaan, namun
    berupa penyaksian atau
    kesaksian. Ini berarti
    dalam pelaksanaan
    syariat harus ada unsur
    pengalaman spiritual.
    Nah, bila suatu ibadah
    telah menjadi palsu,
    tidak dapat dipegangi
    dan hanya untuk
    membohongi orang lain,
    maka semuanya
    merupakan keburukan di
    bumi.
    Apalagi sudah tidak
    menjadi sarana bagi
    kesejahteraan hidup
    manusia. Ditambah lagi,
    justru syariat hanya
    menjadi alat legitimasi
    kekuasaan (seperti
    sekarang ini juga). Yang
    mengajarkan syari’at
    juga tidak lagi
    memahami makna dan
    manfaat syari’at itu,
    dan tidak memiliki
    kemampuan
    mengajarkan aplikasi
    syari’at yg hidup dan
    berdaya guna. Sehingga
    syari’at menjadi
    hampa makna dan
    menambah gersangnya
    kehidupan rohani
    manusia.
    Nah, yg dikritik Syekh
    Siti Jenar adalah shalat
    yg sudah kehilangan
    makna dan tujuannya
    itu. Shalat haruslah
    merupakan praktek
    nyata bagi kehidupan.
    Yakni shalat sebagai
    bentuk ibadah yg sesuai
    dgn bentuk profesi
    kehidupannya. Orang yg
    melakukan profesinya
    secara benar, karena
    Allah, maka hakikatnya
    ia telah melaksanakan
    shalat sejati, shalat yg
    sebenarnya. Orientasi
    kepada yang Maha
    Benar dan selalu
    berupaya mewujudkan
    Manunggaling Kawula
    Gusti, termasuk dalam
    karya, karsa-cipta itulah
    shalat yg sesungguhnya.
    Makna Ihsan
    “Itulah yang dianggap
    Syekh Siti Jenar Hyang
    Widi. Ia berbuat baik dan
    menyembah atas
    kehendak-NYA. Tekad
    lahiriahnya dihapus.
    Tingkah lakunya mirip
    dengan pendapat yg ia
    lahirkan. Ia
    berketetapan hati untuk
    berkiblat dan setia,
    teguh dalam
    pendiriannya, kukuh
    menyucikan diri dari
    segala yg kotor, untuk
    sampai menemui ajalnya
    tidak menyembah
    kepada budi dan cipta.
    Syekh Siti Jenar
    berpendapat dan
    menggangap dirinya
    bersifat Muhammad,
    yaitu sifat rasul yg
    sejati, sifat Muhammad
    yg kudus.”
    “Gusti Zat Maulana.
    Dialah yg luhur dan
    sangat sakti, yg
    berkuasa maha besar,
    lagipula memiliki dua
    puluh sifat, kuasa atas
    kehendak-NYA. Dialah yg
    maha kuasa, pangkal
    mula segala ilmu, maha
    mulia, maha indah, maha
    sempurna, maha kuasa,
    rupa warna-NYA tanpa
    cacat seperti hamba-
    NYA. Di dalam raga
    manusia Ia tiada nampak.
    Ia sangat sakti
    menguasai segala yg
    terjadi dan menjelajahi
    seluruh alam semesta,
    Ngidraloka”.
    Dua kutipan di atas
    adalah aplikasi dari
    teologi Ihsan menurut
    Syekh Siti Jenar, bahwa
    sifatullah merupakan
    sifatun-nafs. Ihsan
    sebagaimana ditegaskan
    oleh Nabi dalam salah
    satu hadistnya (Sahih
    Bukhari, I;6), beribadah
    karena Allah dgn kondisi
    si ‘Abid dalam keadaan
    menyaksikan (melihat
    langsung) langsung
    adanya si Ma’bud.
    Hanya sikap inilah yg
    akan mampu membentuk
    kepribadian yg kokoh-
    kuat, istiqamah, sabar
    dan tidak mudah
    menyerah dalam
    menyerukan kebenaran.
    Sebab Syekh Siti Jenar
    merasa, hanya Sang
    Wujud yg mendapatkan
    haq untuk dilayani,
    bukan selain-NYA.
    Sehingga, dgn kata lain,
    Ihsan dalam aplikasinya
    atas pernyataan
    Rasulullah adalah
    membumikan sifatullah
    dan sifatu-Muhammad
    menjadi sifat pribadi.
    Dengan memiliki sifat
    Muhammad itulah, ia
    akan mampu berdiri
    kokoh menyerukan
    ajarannya dan
    memaklumkan
    pengalamannya dalam
    “menyaksikan
    langsung” ada-NYA
    Allah. “Persaksian
    langsung” itulah terjadi
    dalam proses
    manunggal.
    “Hyang Widi, wujud yg
    tak nampak oleh mata,
    mirip dengan ia sendiri,
    sifat-sifatnya
    mempunyai wujud,
    seperti penampakan
    raga yg tiada tampak.
    Warnanya
    melambangkan
    keselamatan, tetapi
    tanpa cahaya atau teja,
    halus, lurus terus-
    menerus,
    menggambarkan
    kenyataan tiada
    berdusta, ibaratnya
    kekal tiada bermula,
    sifat dahulu yg
    meniadakan permulaan,
    karena asal dari diri
    pribadi.”
    Ihsan berasal dari
    kondisi hati yg bersih.
    Dan hati yg bersih adalah
    pangkal serta cermin
    seluruh eksistensi
    manusia di bumi.
    Keihsanan melahirkan
    ketegasan sikap dan
    menentang ketundukan
    membabi-buta kepada
    makhluk. Ukuran
    ketundukan hati adalah
    Allah atau Sang Pribadi.
    Oelh karena itu, sesama
    manusia dan makhluk
    saling memiliki
    kemerdekaan dan
    kebebasan diri. Dan
    kebebasan serta
    kemerdekaan itu
    sifatnya pasti membawa
    kepada kemajuan dan
    peradaban manusia,
    serta tatanan
    masyarakat yg baik,
    sebab diletakkan atas
    landasan Ke-Ilahian
    manusia. Penjajahan
    atas eksistensi manusia
    lain hakikatnya adalah
    bentuk dari
    ketidaktahuan manusia
    akan Hyang Widhi…Allah
    (seperti Rosul sering
    sekali mengatakan
    bahwa “Sesungguhnya
    mereka tidak
    mengerti”).
    Karena buta terhadap
    Allah Yang Maha Hadir
    bagi manusia itulah,
    maka manusia sering
    membabi-buta
    merampas kemanusiaan
    orang lain. Dan hal ini
    sangat ditentang oleh
    Syekh Siti Jenar.
    Termasuk upaya
    sakralisasi kekuasaan
    Kerajaan Demak dan
    Sultannya, bagi Syekh
    Siti Jenar harus
    ditentang, sebab akan
    menjadi akibat
    tergerusnya ke-Ilahian
    ke dalam kedzaliman
    manusia yang
    mengatasnamakan
    hamba Allah yg shalih
    dan mengatasnamakan
    demi penegakan
    syari’at Islam.
    Pribadi adalah pancara
    roh, sebagai tajalli atau
    pengejawantahan
    Tuhan. Dan itu hanya
    terwujud dengan proses
    wujudiyah, Manuggaling
    Kawula-Gusti, sebagai
    puncak dan substansi
    tauhid. Maka manusia
    merupakan wujud dari
    sifat dan dzat Hyang
    Widi itu sendiri. Dengan
    manusia yg manunggal
    itulah maka akan
    menjadikan
    keselamatan yg nyata
    bukan keselamatan dan
    ketentraman atau
    kesejahteraan yg dibuat
    oleh rekayasa manusia,
    berdasarkan ukurannya
    sendiri. Namun
    keselamatan itu adalah
    efek bagi terejawantah-
    NYA Allah melalui
    kehadiran manusia.
    Sehingga proses
    terjadinya keselamatan
    dan kesejahteraan
    manusia berlangsung
    secara natural
    (sunnatullah), bukan
    karena hasil sublimasi
    manusia, baik melalui
    kebijakan ekonomi,
    politik, rekayasa sosial
    dan semacamnya
    sebagaimana selama ini
    terjadi. Maka dapat
    diketahui bahwa teologi
    Manuggaling Kawula
    Gusti adalah teologi bumi
    yg lahir dengan
    sendirinya sebagai
    sunnatullah. Sehingga
    ketika manusia
    mengaplikasikannya,
    akan menghasilkan
    manfaat yg natural juga
    dan tentu pelecehan
    serta perbudakan
    kemanusiaan tidak akan
    terjadi, sifat merasa
    ingin menguasai, sifat
    ingin mencari
    kekuasaan,
    memperebutkan sesama
    manusia tidak akan
    terjadi. Dan tentu saja
    pertentangan antar
    manusia sebagai akibat
    perbedaan paham
    keagamaan, perbedaan
    agama dan sejenisnya
    juga pasti tidak akan
    terjadi.
    Tafsir Kisah Musa dan
    Khidir (Syekh Siti Jenar)
    “Sesungguhnya, Khidir
    AS bukanlah sosok lain
    yg terpisah sama sekali
    dari keberadaan
    manusia rohani. Apa yg
    disaksikan sebagai
    tanah menjorok dgn
    lautan di sebelah kanan
    dan kiri itu bukanlah
    suatu tempat yg berada
    di luar diri manusia.
    Tanah itulah yg disebut
    perbatasan (barzakh).
    Dua lautan itu adalah
    Lautan Makna (bahr al-
    ma’na), perlambang
    alam tidak kasatmata
    (‘alam al-ghaib) dan
    lautan Jisim (bahr al-
    ajsam), perlambang alam
    kasatmata (‘alam asy-
    syahadat).”
    “Sedangkan kawanan
    udang adalah
    perlambang para pencari
    Kebenaran yg sudah
    berenang di perbatasan
    alam kasatmata san
    alam tidak kasatmata.
    Kawanan udang
    perlambang para
    penempuh jalan rohani
    (salik) yg benar-benar
    bertujuan mencari
    Kebenaran. Sementara
    itu, kawanan udang yg
    berenang di lautan
    sebelah kiri, di antara
    batu-batu, merupakan
    perlambang para salik yg
    penuh diliputi hasrat-
    hasrat dan pamrih-
    pamrih duniawi.”
    “Sesungguhnya,
    peristiwa yg dialami Nabi
    Musa AS dgn Khidir AS,
    sebagaimana termaktub
    di dalam Al-Qur’an Al-
    Karim, bukanlah hanya
    peristiwa sejarah
    seorang manusia
    bertemu manusia lain. Ia
    adalah peristiwa
    perjalanan rohani yg
    berlangsung di dalam diri
    Nabi Musa AS sendiri.
    Sebagaimana yg telah
    saya jelaskan, yg
    disebut dua lautan di
    dalam Al-Qur’an tidak
    lain dan tidak bukan
    adalah Lautan Makna
    (bahr al-ma’na) dan
    Lautan Jisim (bahr al-
    ajsam). Kedua lautan itu
    dipisahkan oleh wilayah
    perbatasan atau sekat
    (barzakh).”
    “Ikan dan lautan dalam
    kisah Qur’ani itu
    merupakan perlambang
    dunia kasatmata
    (‘alam asy-syahadat)
    yg berbeda dengan
    wilayah perbatasan yg
    berdampingan dgn dunia
    gaib (‘alam al-ghaib).
    Maksudnya, jika saat itu
    Nabi Musa AS melihat
    ikan dan kehidupan yg
    melingkupi ikan tersebut
    dari tempatnya berdiri,
    yaitu di wilayah
    perbatasan antara dua
    lautan, maka Nabi Musa
    AS akan melihat sang
    ikan berenang di dalalm
    alamnya, yaiu lautan.
    Jika saat itu Nabi Musa
    AS mencermati maka ia
    akan dapat
    menyaksikan bahwa
    sang ikan yg berenang
    itu dapat melihat segala
    sesuatu di dalam lautan,
    kecuali air
    (dilambangkan manusia
    juga sama). Maknanya,
    sang ikan hidup di dalam
    air dan sekaligus di
    dalam tubuh ikan ada air,
    tetapi ia tidak bisa
    melihat iar dan tidak
    sadar jika dirinya hidup
    di dalam air. Itulah
    sebabnya, ikan tidak
    dapat hidup tanpa air yg
    meliputi bagian luar dan
    bagian dalam tubuhnya.
    Di mana pun ikan berada,
    ia akan selalu diliputi air
    yg tak bisa dilihatnya.”
    “Sementara itu,
    seandainya sang ikan di
    dalam lautan melihat
    Nabi Musa AS dari
    tempat hidupnya di
    dalam air lautan maka
    sang ikan akan berkata
    bahwa Musa AS di dalam
    dunia-yang diliputi udara
    kosong-dapat
    menyaksikan segala
    sesuatu, kecuali udara
    kosong yg meliputinya
    itu. Maknanya, Nabi
    Musa AS hidup di dalam
    liputan udara kosong yg
    ada di luar maupun di
    dalam tubuhnya, tetapi
    ia tidak bisa melihat
    udara kosong dan tidak
    sadar jika dirinya hidup
    di dalam udara kosong.
    Itu sebabnya, Nabi Musa
    AS tidak dapat hidup
    tanpa udara kosong yg
    meliputi bagian luar dan
    dalam tubuhnya. Di mana
    pun Nabi Musa AS
    berada, ia akan selalu
    diliputi udara kosong yg
    tidak bisa dilihatnya.”
    “Sesungguhnya,
    pemuda (al-fata) yg
    mendampingi Nabi Musa
    AS dan membawakan
    bekal makanan adalah
    perlambang dari
    terbukanya pintu alam
    tidak kasatmata.
    Sesungguhnya, dibalik
    keberadaan pemuda (al-
    fata) itu tersembunyi
    hakikat sang Pembuka
    (al-Fattah). Sebab, hijab
    gaib yg menyelubungi
    manusia dari Kebenaran
    sejati tidak akan bisa
    dibuka tanpa kehendak
    Dia, sang Pembuka (al-
    Fattah). Itu sebabnya,
    saat Nabi Musa AS
    bertemu dgn Khidir AS,
    pemuda (al-fata) itu
    disebut-sebut lagi
    karena ia sejatinya
    merupakan perlambang
    keterbukaan hijab
    ghaib.”
    “Adapun bekal
    makanan yg berupa ikan
    adalah perlambang
    pahala perbuatan baik
    (al-‘amal ash-shalih) yg
    hanya berguna untuk
    bekal menuju ke Taman
    Surgawi (al-jannah).
    Namun, bagi pencari
    Kebenaran sejati, pahala
    perbuatan baik itu
    justru mempertebal
    gumpalan kabut penutup
    hati (ghain). Itu
    sebabnya, sang pemuda
    mengaku dibuat lupa
    oleh setan hingga ikan
    bekalnya masuk ke
    dalam lautan.”
    “Andaikata saat itu
    Nabi Musa AS
    memerintahkan si
    pemuda untuk mencari
    bekal yg lain, apalagi
    sampai memburu bekal
    ikan yg telah masuk ke
    dalam laut, niscaya Nabi
    Musa AS dan si pemuda
    tentu akan masuk ke
    Lautan Jisim (bahr al-
    ajsam) kembali. Dan, jika
    itu terjadi maka setan
    berhasil memperdaya
    Nabi Musa AS.”
    “Ternyata, Nabi Musa
    AS tidak peduli dgn bekal
    itu. Ia justru
    menyatakan bahwa
    tempat di mana ikan itu
    melompat ke lautan
    adalah tempat yg
    dicarinya sehingga
    tersingkaplah gumpalan
    kabut ghain dari
    kesadaran Nabi Musa AS.
    Saat itulah purnama
    rohani zawa’id
    berkilau dan Nabi Musa
    AS dapat melihat Khidir
    AS, hamba yg dilimpahi
    rahmat dan kasih
    sayang (rahmah al-
    khashshah) yg
    memancar dari citra ar-
    Rahman dan ar-Rahim
    dan Ilmu Ilahi (ilm ladunni)
    yg memancar dari Sang
    Pengetahuan (al-Alim).”
    “Anugerah Ilahi
    dilimpahkan kepada
    Khidir AS karena dia
    merupakan hamba-NYA
    yg telah mereguk Air
    Kehidupan (ma’ al-
    hayat) yg memancar dari
    Sang Hidup (al-Hayy). Itu
    sebabnya, barang siapa
    di antara manusia yg
    berhasil bertemu Khidir
    AS di tengah wilayah
    perbatasan antara dua
    lautan, sesungguhnya
    manusia itu telah
    menyaksikan
    pengejawantahan Sang
    Hidup (al-Hayy), Sang
    Penyayang (ar-Rahim).
    Dan, sesungguhnya
    Khidir AS itu tidak lain
    dan idak bukan adalah
    ar-roh al-idhafi, cahaya
    hijau terang yg
    tersembunyi di dalam diri
    manusia, “Sang
    Penuntun” anak
    keturunan Adam AS ke
    jalan Kebenaran Sejati.
    Dialah penuntun dan
    penunjuk (mursyid)
    sejati ke jalan
    Kebenaran (al-Haqq). Dia
    sang mursyid adalah
    pengejawantahan yang
    Maha Menunjuki (as –
    Rasyid).”
    “Demikianlah, saat
    sang salik melihat Khidir
    AS sesungguhnya ia
    telah menyaksikan ar-
    roh al-idhafi, mursyid
    sejati di dalam diri
    manusia sendiri. Saat ia
    menyaksikan kawanan
    udang di lautan sebelah
    kanan, sesungguhnya ia
    telah menyaksikan
    Lautan Makna (bahr-al-
    ma’na) yg merupakan
    hamparan permukaan
    Lautan Wujud (bahr al-
    wujud). Namun, jika
    terputus penglihatan
    batiin (bashirab) itu pada
    titik ini, berarti
    perjalanan menusia itu
    menuju ke Kebenaran
    Sejati masih akan
    berlanjut.”
    Sesungguhnya,
    perjalanan rohani
    menuju Kebenaran
    Sejati penuh diliputi
    tanda kebesaran Ilahi yg
    hanya bisa diungkapkan
    dalam bahasa
    perlambang.
    Sesungguhnya, masing-
    masing menusia akan
    mengalami pengalaman
    rohani yg berbeda
    sesuai pemahamannya
    dalam menangkap
    kebenaran demi
    kebenaran. Yang jelas,
    pengalaman yg akan
    manusia alami tidak
    selalu mirip dgn
    pengalaman yg dialami
    Nabi Musa AS.”
    “Setelah berada di
    wilayah perbatasan,
    Khidir AS dan Nabi Musa
    AS digambarkan
    melanjutkan perjalanan
    memasuki Lautan
    Makna, yaitu alam tidak
    kasatmata. Mereka
    kemudian digambarkan
    menumpang perahu.
    Sesungguhnya, perahu
    yg mereka gunakan
    untuk menyeberang itu
    adalah perlambang dari
    wahana (syari’ah) yg
    lazimnya digunakan oleh
    kalangan awam untuk
    mencari ikan, yakni
    perlambang perbuatan
    baik (al ‘amal ash-
    shalih). Padahal,
    perjalanan mengarungi
    Lautan Makna menuju
    Kebenaran Sejati adalah
    perjalanan yg sangat
    pribadi menuju Lautan
    Wujud. Itulah sebabnya,
    perahu (syari’ah) itu
    harus dilubangi agar air
    dari Lautan Makna
    masuk ke dalam perahu
    dan penumpang perahu
    mengenal hakikat air yg
    mengalir dari lubang
    tersebut.”
    “Setelah penumpang
    perahu mengenal air yg
    mengalir dari lubang
    maka ia akan menjadi
    sadar bahwa lewat
    lubang itulah
    sesungguhnya ia akan
    bisa masuk ke dalam
    Lautan Makna yg
    merupakan permukaan
    Lautan Wujud.
    Andaikata perahu itu
    tidak dilubangi, dan
    kemudian perahu
    diteruskan berlayar,
    maka perahu itu tentu
    akan dirampas oleh Sang
    Maha Raja (malik al-
    Mulki) sehingga
    penumpangnya akan
    menjadi tawanan. Jika
    sudah demikian, maka
    untuk selamanya sang
    penumpang perahu tidak
    bisa melanjutkan
    perjalanan menuju Dia,
    Yang Maha Ada (al-
    Wujud), yg bersemayam
    di segenap penjuru
    hamparan Lautan
    Wujud. Penumpang
    perahu itu mengalami
    nasib seperti
    penumpang perahu yg
    lain, yakni akan dijadikan
    hamba sahaya oleh Sang
    Maha Raja. Bahkan, jika
    Sang Maha Raja
    menyukai hamba
    sahaya-NYA itu maka ia
    akan diangkat sebagai
    penghuni Taman
    (jannah) indah yg
    merupakan
    pengejawantahan Yang
    Maha Indah (al Jamal).”
    “Adapun Atas
    Pernyataan kenapa
    wahana (syariah) harus
    dilubangi dan tidak lagi
    digunakan dalam
    perjalanan menembus
    alam ghaib manuju Dia?
    Dapat dijelaskan sebagai
    berikut.”
    “Sebab, wahana
    adalah kendaraan bagi
    manusia yg hidup di alam
    kasatmata untuk
    pedoman menuju ke
    Taman Surgawi.
    Sedangkan alam tidak
    kasatmata adalah alam
    yg tidak jelas batas-
    batasnya. Alam yg tidak
    bisa dinalar karena
    segala kekuatan akal
    manusia mengikat itu
    tidak bisa berijtihad
    untuk menetapkan
    hukum yg berlaku di
    alam gaib. Itu sebabnya,
    Khidir AS melarang Nabi
    Musa AS bertanya
    sesuatu dgn akalnya
    dalam perjalanan
    tersebut. Dan, apa yg
    disaksikan Nabi Musa AS
    terdapat perbuatan yg
    dilakukan Khidir AS
    benar-benar
    bertentangan dgn
    hukum suci (syari’at)
    dan akal sehat yg
    berlaku di dunia, yakni
    melubangi perahu tanpa
    alasan, membunuh
    seorang anak kecil tak
    bersalah dan
    menegakkan tembok
    runtuh tanpa upah.”
    “Namun jika wahana
    (syari’ah) tidak lagi
    bisa dijadikan petunjuk,
    sebenarnya
    pedomannya tetaplah
    sama, yaitu Kitabullah
    dan Sunnah Rasul. Tetapi
    pemahamannya bukan
    dgn akal (‘aql)
    melainkan dgn dzauq,
    yaitu cita rasa rohani.
    Inilah yg disebut cara
    (thariqah). Di sini, sang
    salik selain harus
    berjuang keras juga
    harus pasrah kepada
    kehendak-NYA. Sebab,
    telah termaktub dalam
    dalil araftu rabbi bi rabbi
    bahwa kita hanya
    mengenal Dia dgn Dia.
    Maksudnya jika Tuhan
    tidak berkehendak kita
    mengenal-NYA maka kita
    pun tidak akan bisa
    mengenal-NYA. Dan, kita
    mengenal-NYA pun maka
    hanya melalui Dia
    (walaupun kita tidak
    mau tetapi semua telah
    kehendak-NYA). Itu
    sebabnya, di alam tidak
    kasatmata yg tidak jelas
    batas dan tanda-
    tandanya itu kita tidak
    dapat berbuat sesuatu
    kecuali pasrah
    seutuhnya dan
    mengharap limpahan
    rahmat dan hidayah-
    NYA.”
    “Tentang makna di
    balik kisah Khidir AS
    membunuh seorang
    anak (ghulam) dapat
    saya jelaskan sebagai
    berikut.”
    “Anak adalah
    perlambang keakuan
    kerdil yg kekanak-
    kanakan. Kedewasaan
    rohani seorang yg teguh
    imannya bisa runtuh
    akibat terseret cinta
    kepada keakuan kerdil
    yg kekanak-kanakan
    tersebut. Itu sebabnya,
    keakuan kerdil y
    kekanak-kanakan itu
    harus dibunuh agar
    kedewasaan rohani
    tidak terganggu.”
    “Sesungguhnya, di
    dalam perjalanan rohani
    menuju Kebenaran
    Sejati selalu terjadi
    keadaan di mana
    keakuan kerdil yg
    kekank-kanakan
    (ghulam) dari salik
    cenderung mengikari
    kehambaan dirinya
    terhadap Cahaya Yang
    Terpuji (Nur Muhammad)
    sebagai akibat ia belum
    fana ke dalam Sang
    Rasul (fana fi rasul).
    Ghulam cenderung
    durhaka dan ingkar
    terhadap kehambaan
    kepada Sang Rasul. Jika
    keakuan yg kerdil dan
    kekanak-kanakan itu
    dibunuh maka akan lahir
    ghulam yg lebih baik dan
    lebih diberbakti yg
    melihat dengan mata
    batin bahwa dia
    sesungguhnya adalah
    “hamba” dari Sang
    Rasul, pengejawantahan
    Cahaya Yang Terpuji
    (Nur Muhammad).”
    “Sesungguhnya,
    keakuan kerdil yg
    kekanak-kanakan
    adalah perlambang dari
    keberadaan nafsu
    manusia yg cenderung
    durhaka dan ingkar
    terhadap Sumbernya.
    Sedangkan ghulam yg
    baik dan berbakti
    merupakan perlambang
    dari keberadaan roh
    manusia yg cenderung
    setia dan berbakti
    kepada Sumbernya. Dan
    sesungguhnya,
    perbuatan Khidir AS itu
    adalah perlambang yg
    sama saat Nabi Ibrahim
    AS akan menyembelih
    Nabi Ismail AS
    ‘Pembuhunan’ itu
    adalah perlambang
    puncak dari keimanan
    mereka yg beriman
    (mu’min).”
    “Adapun dinding yg
    ditinggikan Khidir AS
    adalah perlambang
    Sekat Tertinggi (al
    barzakh al ‘a’la) yg
    disebut juga dgn Hijab
    Yang Maha Pemurah
    (hajib ar-Rahman).
    Dinding itu adalah
    pengejawantahan Yang
    Maha Luhur (al-Jalil).
    Lantaran itu, dinding
    tersebut dinamakan
    Dinding al-Jalal (al jidar
    al-Jalal), yg dibawahnya
    tersimpan Khazanah
    Perbendaharaan (Tahta
    al-Kanz) yg ingin
    diketahui.”
    “Sedangkan dua anak
    yatim (ghulamaini
    yatimaini) pewaris
    dinding itu adalah
    perlambang jati diri Nabi
    Musa AS, yg
    keberadaannya
    terbentuk atas jasad
    ragwi (al-basyar) dan
    rohani (roh). Kegandaan
    jati diri manusia itu baru
    tersingkap jika
    seseorang sudah berada
    dalam keadaan tidak
    memiliki apa-apa (muflis),
    terkucil sendiri (mufrad)
    dan telah berada di
    dalam waktu tak
    berwaktu (ibn al-waqt).
    Dua anak yatim itu
    adalah perlambang
    gambaran Nabi Musa AS
    dan bayangannya di
    depan Cermin
    Memalukan (al-mir’ah
    al-haya’I).”
    “Adapun gambaran
    tentang ‘ayah yg
    salih’ dari kedua anak
    yatim, yakni ayah yg
    mewariskan Khazanah
    Perbendaharaan , adalah
    perlambang diri dari Abu
    halih, Sang Pembuka
    Hikmah (al-hikmah al-
    futuhiyyah), yakni
    pengejawantahan Sang
    Pembuka. Dengan
    demikian apa yg telah
    dialami Nabi Musa AS
    dalam perjalanan
    bersama Khidir AS (QS.
    Al-Kahfi : 60-82) menurut
    penafsiran adalah
    perjalanan rohani Nabi
    Musa AS ke dalam dirinya
    sendiri yg penuh dgn
    perlambang (isyarat).”
    “Memang Nabi Musa AS
    lahir hanya satu. Namun,
    keberadaan jati dirinya
    sesungguhnya adalah
    dua, yaitu pertama
    keberadaan sebagai al-
    basyar ‘anak’ Adam
    AS yg berasal dari anasir
    tanah yg tercipta; dan
    keberadaannya sebagai
    roh ‘anak’ Cahaya
    Yang Terpuji (Nur
    Muhammad) yg berasal
    dari tiupan (nafakhtu)
    Cahaya di Atas Cahaya
    (Nurun ‘ala Nurin).
    Maksudnya, sebagai al-
    basyar, keberadaan
    jasad ragawi nabi Musa
    AS berasal dari Yang
    Mencipta (al-Kha-liq).”
    “Sehingga tidak akan
    pernah terjadi
    perseteruan dalam
    memperebutkan
    Khazanah
    Perbendaharaan
    warisan ayahnya yg
    shalih. Sebab, saat
    keduanya berdiri
    berhadap-hadapan di
    depan Dinding al-jalal (al-
    jidar al-Jalal) dan
    mendapati dinding itu
    runtuh maka saat itu yg
    ada hanya satu anak
    yatim. Maksudnya, saat
    itu keberadaan al-
    basyar ‘anak’ Adam
    AS akan terserap ke
    dalam roh ‘anak’ Nur
    Muhammad. Saat itulah
    sang anak sadar bahwa
    ia sejatinya berasal dari
    Cahaya di Atas cahaya
    (Nurun ‘ala Nurin) yg
    merupakan pancaran
    dari Khazanah
    Perbendaharaan.
    Sesungguhnya, hal
    semacam itu tidak bisa
    diuraikan dgn kaidah-
    kaidah nalar manusia
    karena akan membawa
    kesesatan. Jadi, harus
    dijalani dan dialami
    sendiri sebagai sebuah
    pengalaman pribadi.”

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: