Sunan Kali Jogo Bertapa di Sungai ?

 

Pertanyaan :

Pengertian dari syari’at, ma’rifat dan hakikat itu apa sih pak Ustadz ?. Kalau Sunan Kali Jogo itu termasuk yang mana, kalau diceritanyakan dia bertapa di sungai berhari-hari apa dia tidak sholat waktu melakukan pertapaan itu ?. Apakah Nabi Muhammad SAW juga melakukan itu semua ? Kalau pak Ustadz tidak keberatan tolong dijelaskan, dari pada saya salah menilai pengertian-pengertian tersebut kan lebih baik tanya sama yang lebih tahu. Terima kasih Wassalam – Hendriyatno

Jawaban :

Assalamu ‘alaikum Wr.Wb.

Bismillah, Washshaltu Wassalamu ‘ala Rasulillah, Waba’du.

Yang anda sampaikan itu hanya sebuah versi cerita. Tidak ada bukti kongkret yang bisa dipertanggung-jawabkan tentang kebenaran cerita demikian. Sebab kalau kita jujur dengan sejarah, sosok para wali tentulah tidak demikian. Anda bisa bayangkan kalau sosok para wali itu adalah para penyebar agama, tidak mungkin kalau mereka adalah pelaku tapa. Sebab bertapa itu perbuatan syirik yang dikutuk Allah SWT. Bagaimana mungkin para penyebar agama Islam justru mempraktekkan syirik ? Tentu ini adalah sebuah pendekatan yang ingin merusak sejarah Islam di negeri ini. Bila memang benar para wali tukang bertapa, maka di negeri kita saat ini mungkin tidak ada agama Islam, melainkan sebuah negeri dukun yang dipenuhi tukang sihir.

Buya HAMKA dalam salah satu makalahnya tentang sejarah masuknya Islam ke negeri ini menyebutkan bahwa seorang shahabat Rasulullah SAW pernah singgah di negeri ini, yaitu Yazid bin Muawiyah. Kalau para penyebar dakwah Islam di negeri ini sampai sekelas seorang shahabat Nabi, tentu bisa kita bayangkan bahwa penyebaran Islam di negeri ini memang betul-betul sejalan dengan ajaran Islam yang asli. Tidak mungkin para penyebar Islam justru mengajarkan nilai-nilai dan praktek kemusyrikan. Apalagi setelah Islam tersebar di negeri ini, lalu berdirilah pusat-pusat kerajaan Islam yang menerapkan hukum Islam. Maka apa yang dilakukan para penyebar Islam tentu bukan sesuatu yang main-main, sehingga bisa sampai mendirikan kesultanan Islam yang berbentuk sebuah negara berdaulat. Kalau sosok mereka digambarkan lebih mendekati tokoh dunia persilatan atau sosok dengan beragam ilmu kedigdayaan, ini hanyalah fantasi para pendongeng yang kehabisan cerita. Sama sekali tidak ada bukti yang menguatkan hal demikian.

Bahkan para ahli sejarah menyatakan bahwa makna kata WALI bukanlah diambil dari istilah Waliyullah atau orang-orang yang ‘dekat’ kepada Allah. Tetapi wali disini bermakna pemimpin. Seperti yang kita kenal di masa sekarang ini dengan istilah wali kota. Wali Songo adalah para pemimpin wilayah teritorial. Bisa dianalogikan sebagai pemimpin daerah atau gubernur. Pusat kekuasaannya adalah negara Islam Demak. Makna ‘songo’ secara harfiyah adalah sembilan. Kemungkinan pada masa itu ada sembilan wilayah/propinsi. Ada juga yang mengatakan sembilan itu sebagai ungkapan banyaknya wilayah dan tidak harus hanya sembilan wilayah. Yang jelas mereka adalah para penyebar aqidah Islam, lalu setelah berdiri negara Islam, mereka menjadi pemimpin negeri itu. Tentunya tujuan pendirian negara Islam di tanah Jawa tidak lain adalah untuk menerapkan syariat Islam.

Sungguh sangat disayangkan, latar belakang sejarah peng-Islaman negeri kita yang sebenarnya yang sedemikian indah harus dikorbankan menjadi cerita khayal yang penuh dengan nuansa mistis, prahara atau rimba persilatan yang menjadi komoditas jualannya pembuat cerita film yang tidak bertanggung jawab. Menjadi tugas kita untuk membersihkan sejarah penyebaran Islam di negeri ini. Kita butuh peran para ahli sejarah yang berfikrah Islam untuk membersihkan gambaran suram tentang Islam di negeri ini. Wallahu a’lam bishshawab. Wassalamu ‘alaikum Wr. Wb.

(Diasuh oleh Ust. Ahmad Sarwat, Lc.)

 

http://www.eramoslem.com/ks/us/48/12626,1,v.html

note : artikel di atas telah dimuat dalam Labbaik, edisi : 023/th.02/Jumada Al Awwal-Jumada Al Tsani 1427H/2006M

About these ads

55 Balasan ke Sunan Kali Jogo Bertapa di Sungai ?

  1. bahrul ulum mengatakan:

    pak ustad mungkin anda harus lebih banyak belajar tentang etnografi dan antropologi islam di indonesia, anda belajar islam di mesir dan jauh dari kesejarahan islam di indonesia

    • Tri Sunu Anwar mengatakan:

      Ngapunten,,,,biasanya orang jawa itu lebih cenderung ke tingkah laku, adat dan kesopanan. Tidak berani mengkafirkan seseorang dan lebih baik diam. Dan menurut saya kisah sunan kali jogo itu sebenarnya adalah makna kiasan saja, mengapa sunan kali jogo itu menunggu tongkat yg ada di sungai yg bermakna kita sebagai manusia harus bersabar dalam menjalani hidup ini dan menjaga iman kita dengan penuh keiklasan. ” Neng di siro neng kono ono Alloh” ,,,,Eleng lan waspodo,,,,,insayaalloh ngoten ….

    • Bachtiar mengatakan:

      Saudara bahrul ulum anda cendrung melihat nilai mistisnya yaitu petapaan dengan tongkat ketimbang nilai sejarah pesebaran agama islam saat itu jadi anda mengambil kesimpulan atas dasar satu cerita bukan atas dasar sariat islam

  2. panglima mengatakan:

    bagaimana pula dgn Nabi Muhammad s.a.w berulang alik ke gua Iraq.

  3. Assalamu,alaikum,wr.wb.
    Solawat atas nabi kita Muhammad Saw sepanjang masa,beserta para sahabat dan keluarganya,juga para pengikutnya sampai akhir zaman.. sekedar berbagi rasa cinta saya yang teranmat besar kepada para muslimin dan terutama kepada baginda nabi Besar Muhammad Saw serta para Waliyullah, sunan kali jaga yg bernama RM.Sahid termasuk wali yang dengan ketaatannya kepada sang guru (S.Bonang) dan ketawadluan serta kedermawanannya hingga Allah Swt memberinya karamah, sdr ku bahrul ulum.. ustad yg di cintai Allah ini benar, beliau tak berani mengatakan hal yg tdk di fahaminya yg tidak bersumber sesuai dgn ilmu yg beliau miliki, Sunan Kali jaga tidak melakukan tapa, melainkan menjalankan amanah dari sang guru yg menyuruhnya menjaga tongkatnya di tepi sungai, takdir Allah menyebabkan sang guru lupa bahwa telah menyuruh S.Kali jaga hingga berbulan bulan lamanya, oleh karena ke takdziman S.Kali Jaga thd sang gurulah Allah Swt mengangkat beliau menjadi seorang wali, silahkan baca cerita babad tanah jawa tentang perkembangan islam di tanah air. jadi menurut saya kita kembali kepada Ayat Al-Qur’an yg dipakai para wali songo dlm menyebarkan agama Islam. yg Artinya : Ajaklah orang orang ke jalan Tuhan mu Allah, dengan hikmah dan penyampaian yang baik, dan apabila ada perselisihan selesaikanlah dengan bijaksana”

    dan kita juga dilarang Allah Swt untuk mempersoalkan keturunan dan membangga banggakannya, yg terbaik adalah adalah menjadi yang terbaik.. dan bangga akan kebanggaan saudaranya…

    sesudahnya saya hamba Allah yg dloif dan fakir memohon maaf apabila ada kata2 yg tdk berkenan dan masih banyak kekurangan, terimalah salam hormat dan persaudaraan dari saya untuk saudaraku sesama muslim…

    wass,wr,wb

  4. sukses untuk Labbaik…

    • apeng mengatakan:

      ya betul dan benar bahwa S.kali jaga memang disuruh gurunya untuk menunggu tongkat . tapi disitu S.kali jaga tdk hanya sekedar menunggu tongkat , S.kali jaga melaksanakan salat bukan tapa, yg sudah di bekali oleh Gurunya ,sebelum melaksanakan salat sunan sudah di buka wadah,kunci apes, dan mempunyai pakaian atau ayat suci Allah, guru S.kali jaga tdk mudah menyuruh muridnya hanya menunggu tongkat itu hanya simbul, semua yang dilakukan guru dan murid itu perintah Allah,,maaf bila anda belum faham kembalilah mengkaji / menggali iqro , jangalah islam kita rusak oleh dalil dan hadiz yg tdk tau dalamnya.. klo kalian tau isi dalamnya iqro tdk akan sanggup menjadi imam ato pemimpin…thx

      • ADIB,KHABIBI @YAHOO,COM mengatakan:

        Kalau ilmu kewalian adalah tasawuf semua , ilmu hakikat dan makrifat tidak di ajarkan kepada santri santri waktu itu,mereka cuma di ajarkan syareat saja,karena dikhawatirkan banyak di salahgunakan,karena menyampaikan suatu ajaran tidak semua orang bisa,karena SDM masyarakat waktu ada sunan kalijogo masih rendah,yang pinter pinter di bimbing khusus untuk tasawuf,karena ilmu kesucian dari Nabi Muhammad SAW,bukan cuma sholat 5 waktu dan puasa saja,karna ilmu itu ilmu lauduni dari Alooh Langsung

  5. Damarulan mengatakan:

    Sdr Panglima anda slh besar bila persepsi anda mengenai Beliau Nabi Muhammad yg berulang alik ke gua yg anda maksud, atau prjalanan yaitu isrok mikrat Beliau, yg mmbuat anda br agumentasi bhwa Beliau memiliki ilmu kdigdayaan sprti halnya org2 jawa masa kini. Naudzubillah, Nabi adalah seorg pemimpin yg mulia, pembawa agama islam yg fitrah, jauh dari ajaran musyrik, kekuatan dan mukjizat nabi adalah semata2 dr Allah dan bkn atas hasil tapa atau puasa. Jadi anda harus bisa bedakan antara mukjizat para Nabi dan ilmu2 bid’ah yg dibuat2 para ahli bid’ah.

  6. end mengatakan:

    para wali yg bisa masuk jawa timur hanya sunan kali jogo, sebelum semua agama masuk di tanah jawa orang jawa dah punya keyakinan, makanya para nabi diturunkan di arap, karena pada waktu itu orang arap bejat semua mungkin sampai sekarang banyak nabi di indonesia cukup 9 wali.

  7. wisnu saputro,SE mengatakan:

    assalammu’alaikum tad” mohon maaf ikut komentar dikit, ente mang bertujuan baik. bicara akidah tooooooooooooooop markotoplah…..” tapi ente lupa arti dari dari kepasrahan seorang hamba kepada Sang Khalik” (MpuNYa)ente lupa rukun iman? salah satunya iman kepada yang Ghaib alias kaga pake OTAK!! pakenya perasaan” nah kalo perasaan agak tersinggung ane mohon maaf lagi dehhhh… wassalam….

  8. nugroho mengatakan:

    assalamualaikum,,,sodara2ku semua. tidak usah bingung dgn kata2 “tapa” karena jika diperpanjang justru menimbulkan kekisruhan antar sesama kita. biar bagaimana kita pasti melihat adanya perbedaan pendapat karena diantara kita bertolak dari ilmu pengetahuan yg di gali oleh masing2 yg tentunya berbeda dan melihat masalah ini dari sudut pandang yg berlainan…pada intinya hanya ada satu pedoman yg sangat mudah di cerna yaitu SEMUA AMAL PERBUATAN TERGANTUNG PADA NIATNYA…maka dari itu perlu kita renungkan sudah benar kah niat kita dalam mencari Ridho Alloh SWT.
    Wassalam,,,

  9. Imam Syafii mengatakan:

    Maf Ustadz ya, saya ada coretan sedikit, dari pada anda menyikapi, sedangkan Ilmu anda masih terbatas, saya sarankan mending gak usah di komentari, cukup diam aja, udah cukup, dari pada menimbulkan kontrafersi, perbedaan pendapat itu emang indah jika dirasa, dan tergantung kita aja bisa ndak kita menyikapinya, dan saya kira pendapat anda berbeda dari orang lain, dan anda seakan menyalahkan orang lain, seolah yang membuat sejarah yang bersalah menyimpangkan sejarah. emang c kita gak melihat secara kenyataan kejadian saat itu, dan cerita itu bisa di tambah dan bisa aja dikurangi, namanya aja mulut. jadi saya harap jika ada pernyataan yang di rasa anda kurang paham betul, mending nggak usah di jawab, diam aja itu lebih baik kok.

  10. Lesta Comp mengatakan:

    alkhamdulillah…saya sudah di kasih tau dikit tentang sunan kali jogo..yg mempermaslahkan tentang kata “bertapa” monggo

  11. alexs mengatakan:

    pak kiai..anda mnjelaskn aja g yakin..masih ada kata kemungkinan.. intropeksi Lah… !

  12. nier mengatakan:

    untuk semua kaum muslimin..sebenarnya kita tidak perlu mempermasalahkan pertapaan sunan kalijaga. Tapa sunan kalijaga adalah urusan teknis munajad beliau kepada sang pencipta, yang hanya bisa diterjemahkan oleh sang pelaku, lagian setiap orang punya kemampuan untuk itu. jadi tidak heran kan?? dan tapa bukan punya dukun aja, tapa itu berasal dari Tafakkur(berfikir akan kebesaran dan Kekuasaan Allah) orang jawa bilang Topo (Bhs indonesia TAPA/BERTAPA)
    jadi gasah ribet soal itu..mau tapa kek mau ndak suka-suka ok??

  13. Wong Aneh mengatakan:

    memang kalo seorang yg masih fasih dan tekun belajar rata rata masih sebatas sebagai ahli kitab. bisanya cuma membaca , mencari literatur sana sini untuk bahan pembanding dan bahan kotbah, tapiiii, adakah diantara kalian sudah melaksanakan perintah dari Allah sang pencipta kita semua ini?. Janganlah berpikir sholat membaca alquran memahami itu adalah sudah cukup, karena melaksanakan KANDUNGAN yg terera di Alquran inilah yg diwajibkanNya alias BERTAKWA. ALQURAN BERISI PETUNJUK untuk kehidupan manusia. namanya petunjuk KALO HANYA DIBACA SAJA BAHKAN DIHAPAL,gak ada artinya sama sekali, cuma akhirnya dipake untuk Ndalil dan bangga banggaan serta menyalahkan orang lain. ya itulah ciri orang yg masih sebatas sebagai Ahli kitab, yg belum ber Iman apalagi BerTakwa. yang masih mengikuti akal, Perasaan dan Napsunya sendiri, tanpa pernah mendengarkan bahasa Kolbunya masing masing, krn kolbu inilah yg bisa menerima petunjuk dan perintah dari Allah. sedang Akal ,perasaan dan Napsu kita ini sangat dekat dan mudah di profokatori Iblis. sadarlah saudaraku semua, mari kita renungkan apa yg telah Allah berikan dan kita nikmati selama ini sebenarnya untuk apa dan apakah sudah sesui dengan yg dikehendakiNYA ?. Ilmu Allah itu sejuk, damai dan penuh kasih sayang. bukan saling menghancurkan ciptaaNYA. Perintah Allah bukan diturunkan kepada para nabi saja(wahyu), tapi kita pun bisa menerima Perintah dan petunjuk dari Allah kalu menggunakan bahasa kolbu.Perintah Allah kadang tidak masuk Akal dan tatanan manusia.

  14. Kidang Soklat mengatakan:

    Ass.Wr.Wb.
    Untuk Saudara-Saudaraku sesama muslim,hendaknya tidaklah usah saling menyalahkan satu sama lain, apalagi saling menjatuhkan,menganggap dirinya paling benar…….Tidak ada gunanya….Sadarlah iblis selalu mengincar kita dari mana-mana layaknya kotoran dirubung oleh lalat.Iblis adalah lalatnya sedangkan kotoran adalah diri kita termasuk nafsu kita…………
    Setiap orang diharuskan selalu waspada saat beribadah kepada Allah…………………
    Saya akan mencoba menambahkan keterangan sedikit mengenai persoalan diatas, mengenai apa yang ditanyakan oleh saudara Hendriyatno di atas kepada Ust. Ahmad Sarwat, Lc.
    1. Mengenai Ma’rifat, Hakekat,Tarekat dan Syari’at
    Mengapa Jibril mengucapkan “bacalah” empat kali ? kok tidak satu kali saja ?
    Ma’rifat, Hakekat,Tarekat dan Syari’at, Insya Allah, merupakan tingkatan keilmuan yang dimaksud oleh Jibril. Syari’at merupakan bagian yang sempurna bagi makhluk.Mengapa ? Saat Allah menciptakan makhlukNya, hanya mengucap KUN FA YAKUN. Secara ujud,makhluk itu tercipta ( ma’rifat=meripat=mata atau dapat dilihat oleh mata manusia biasa) lalu Allah bertanya mengenai HAKEKAT dari penciptaan makhluk tersebut kepada makhluk tersebut.Setelah benar maka makhluk tersebut beribadah sesuai dengan takaran makhluk tersebut(Tarekat).Adapun Syari’at merupakan bagian terakhir dan terlengkap karena disana ada akal fikiran dan hati nurani (istilah umum ). Makhluk-makhluk lain tidak dapat menjangkaunya. Disebut syari’at,Insya Allah, berisi dengan berbagai syarat yang harus dipenuhi termasuk memahami sifat 20 Allah SWT.Contoh, untuk menghadap Allah yang suci maka manusia harus mensucikan dirinya,dsb. Hal ini tidak dapat dilakukan oleh makhluk lain kecuali Malaikat ( babakan suci ). Untuk babakan lain seperti ilmu pengetahuan,malaikat tidak dapat melakukannya
    2.Kalau Sunan Kali Jogo itu termasuk yang mana ?
    Berdasarkan keterangan diatas,Beliau tentu saja ada di bagian syari’at karena beliau juga manusia seperti halnya Rasulullah Muhammad.
    3.Kalau diceritakan dia bertapa di sungai berhari-hari apa dia tidak sholat waktu melakukan pertapaan itu ?
    Sebelum menjawab pertanyaan diatas, alangkah baiknya kita merenungkan jawaban atas pertanyaan berikut,yaitu :
    “Selama di gua,apakah pemuda-pemuda yang terjebak didalamnya “sholat” ? ( AL KAHFI )
    Sunan Kalijogo adalah salah satu “Pegawai Allah” yang penuh dengan “teka-teki” yang ujung-ujungnya Beliau berharap bahwa akhirnya hanya Allah-lah tujuannya.”Kalijogo” bukan berarti “Penjaga Kali” ataupun “Tapa di pinggir Kali” atau apapun istilahnya. Beliau sering membuat perumpamaan (sanepan-Bahasa jawa), makanya dapat disimpulkan bahwa nama Beliau ( kalijogo )juga merupakan SANEPAN. Sanepan tersebut adalah KALImat e Allah JOGO en.Beliau menunggui tongkat dari Sunan Bonang adalah sekedar bentuk rasa hormat Beliau kepada Sunan Bonang, calon guru Beliau.Intinya,Insya Allah,Beliau tidak menunggui tongkat Sunan Bonang dipinggir kali.Insya Allah karena keteguhan hati dan kepatuhan Beliau terhadap Sunan Bonang, Beliau ditidurkan oleh Allah seperti yang terjadi pada pemuda-pemuda di AL KAHFI
    4.Apakah Nabi Muhammad SAW juga melakukan itu semua ?
    Pertanyaan ini kurang jelas sehingga saya tidak dapat membantu menjawabnya.
    Kesimpulan saya :
    Banyak orang setelah membaca literatur atau buku atau sejenisnya mengenai Sunan Kalijogo, satu sisi tentu kagum akan karomah Beliau dan akhirnya membawa rasa penasaran.
    Saran saya:
    Hendaknya kita tidak perlu kaget atau kagum ada yang aneh-aneh di dunia ini karena Allah Maha Besar. Sehingga apa saja dapat terjadi di jagad ini. Apalagi dengan kacamata mata kita yang terbatas ini……Kita tidak usah mengupas atau menganalisa sesuatu diluar kemampuan kita ( sirullah ). Lebih baik kita gunakan waktu kita sebanyak mungkin untuk beribadah kepada Allah. Kalau Dia berkehendak,tentu kita akan diberiNya pengetahuan atau apapun yang kita inginkan.Amin

  15. erlan wm mengatakan:

    mendngan kita samina waaqtona saja.

  16. Kajung van vert mengatakan:

    setuju @Imam Syafe dkk.
    Ilmu dan pengetahuan Manusia terbatas begitu pula catatan dongeng atau sejarah bisa berubah rubah sesuai kebutuhan.
    Biarkan soal Sunan Kalidjogo ini kita terima sebagai sejarah/dongeng Budaya Jawa yang HARUS KITA HARGAI, KITA SIMPAN DAN LESTARIKAN. Lain tidak.

  17. Assabiqi mengatakan:

    Sunan KaliJogo Oh Sunan Kali Jogo beliau adalah yg termsuk AL ULAMA’ WAROTSATUL AMBIYA’ slah satu Pewaris Risalah Nabi Muhammad SAW sudah mampukah qt tuk benar2 LILLAHI TA’ALA dlm AGAMA sprti beliau Sunan Kalijogo

  18. endro mengatakan:

    sunsan kali jogo sakti karena pernah belajar bisa sakti dan yang pasti doa beliau dikabulkan .tanpa izin tuhan mustahil sakti.berarti WALI SAKTI sangat mungkin.buktinya tiang mesjid demak terbuat dari sempalan kayu.. hayo bgmn caranya… anehkan..

  19. Balance mengatakan:

    Ass.. Wr.Wb ga perlu menyalahkan antra kita saudara islam,itu semua tindakan yg membuat antra saudara islam itu hancur kt cb cermati aja sejarahnya.. Hnya allah yg tau semua,mungkin ada salah pemahaman tntng arti tapa snn.Kalijaga, yg sy tau dr berbagai sumber sblm mnjadi wali allah/mnjdi murid snan.Bonang sng sunan kalijaga adalah seorang yg digdaya dan sakti dan islam(ssudah minggat krna diusir) jg,mungkin krna keada’an wkt itulah dy keluar dri keluarganya dan sampai ktemu dngn snan bonang,krna patuh dan keta’atannya menunggu bakal gurunya hngga bertahun2 tanpa ia sadari(ingt ksah ashabul kahfi) hngga smpailah dy ketaraf sng wali. Brsmbung..

  20. ratamsingh mengatakan:

    jangankan, kta…, para tabi’in aja bnyak perbedaan mnyikpi khdupan Rasulullah…, Biarlah sunan kli jogo dll, mewarnai dakwah di negri ini, dan smga Allah menerima amal beliau semua…, namun Allah ‘pemilik semua manusia’ telah menetapkan Muhammad SAW, sebgai suri tauladan yg baik dan rahmatan lil’alamin…, bukan yg lain, Jadi ayo kta sma2 mempelajari lgi bagaimana kehidupan Rasulullah SAW, ‘man akhya sunnati faman akhabbani, man akhabbni kaana ma’iya fil jannah’ barang siapa menghidupkan sunnahku maka dia cinta kpadku, brang siapa cnta kpdaku, mka akan brsmku di dlm surga’…

  21. wawan agstn mengatakan:

    jgn bilang kl sunan kalijogo thu seorang wali penunggu kali, tp beliau adlh seorang utusan Allah yg patuh n taat thdp sang calon guru…
    Begitu bsr pengorbanan sang wali, yg blm apa2 jadi guru udah bgt bsr pengabdian ny, apalagi kl uda jd guru ny, pst bsr bgt lh pengorbanan ny…
    SUBHANALLAH…

  22. ki jogo-jogo mengatakan:

    inge inget ..prbedaan pendapat sumonggo mawon (silahkan) tp jangan saling mencaci ,semakin kita berseteru dalam kejahilan semakin bersorak musuh-musuh islam,Rosululloh saw tdk prnah mengajarkan pd kita untuk mencaci,merendahkan,apalagi mengkafirkan sesama muslim hatta orang non muslim yg tidak mengganggu kita,mari kita berusaha mencontoh panutan kita Nabi Muhammad saw didalam meyikapi setiap persoalan.

  23. Hamdan mengatakan:

    Saya mau mencoba mengomentari pertanyaan tentang tapanya sunan kalijogo,.
    Pada saat itu Sang Sunan bukan bertapa, akan tetapi Sunan Kalijogo yang kala itu belum memeluk Islam Ingin belajar Agama Islam Dari pendahulunya ( Sunan Ampel ). Kemanapun Sunan Ampel Pergi Di kejar Oleh Sunan Kalijogo Yang kala itu Belum menjadi Sunan (Raden Mas Syahid )Sang Guru tidak serta merta mau mengajarkan ilmu Agama kepada RM Syahid, Dengan alasan Sang RM Syahid tidak bersungguh2 dalam mempelajari Agama Islam. Maka Dibuktikanlah Kesungguhan Sang Raden Dengan Menjaga Tongkat Sang guru Yang kala itu ditancapkan di pinggir kali. Sampai sekembalinya sang guru.Akhirnya sang guru baru mengajarkan ilmu Agama Islam kepada sang Raden karena kesungguhannya. Gitu lho. Akhirnya sang Raden berganti nama menjadi Sunan Kalijogo.Karena keteguhannya dibuktikan dengan menjaga tongkat sang guru di pinggir kali.

  24. supriadi mengatakan:

    pak USTADZ ini orang nya FANATIK bnget . . . .
    g boleh gtu ,pak . . . . .

    anda mungkin hnya ahli kitab saja ….yg hafal isi buku

    BELAJAR lage ,pak ……
    jagan terlalu kayak isi BUKU

  25. sepuluh mengatakan:

    semua benar.
    yg salah yg berdebat dan saling menyalahkan.

  26. Yudi darksaint mengatakan:

    Saya setuju dngn pesan kidang soklat aja dech…

  27. Yudi darksaint mengatakan:

    Maaf saudara saudara seiman dan sebangsa…bukan masuk saya untuk menggurui…menurut hemat saya yg bodoh ini,tidak ada yg salah tentang argumen kita di sini,saya sangat berkesan dngn komentar” yg beragam ini…perbedan itu adalah anugrah dari Allah swt..bukan untuk di jadikan perselisihan,

    apa yg di ucapkan oleh pak ustad adalah sesuai dngn ilmu yg di dapat,dan tidak mungkin di mengeluarkan argumen seperti yg kita kehendaki…

    Dan tentang sunan kali jaga boleh kita benarkan dya bertapa,tp ingat dya melakukan tapa sesudah atw sebelum masuk islam,kan masih blum jelas tuch…
    Dan sunan kali jogo sendiri adalah penyebar agama islam yg menyesuaikan dngn kultur budaya…taktik untuk mengambil simpati untuk mengenalkan kepada masyarakat islam,bagaimana jika simpati tidak di raih oleh para wali jika ingin menyebarkan agama..mungkin tapa yg di lakukan bs jadi bagian dari kultur,dan dngn keyakinan tidak melupakan tugasnya(sholat).

    Apa yg dilakukan oleh para wali Allah dengan penuh keyakinan saya berkata pastilah untuk mengenalkan Agama Allah swt.
    Biarlah Allah yg memutuskan benar atw salah,karna Dia Allah yg maha Tahu.kita manusia tempat salah dan dosa,semoga di akhirat nanti kita mendapatkan syafaatNya.amien.

    Seperti kata pesan Junjungan kita muhammad saw,jika ingin selamat dunia dan akhirat,berpeganglah teguh pada kitab kita dan Hadist..

  28. MULYO mengatakan:

    Sunan Bonang agar tidak terpeleset dan jatuh (selamat)maka beliau menggunakan “teken/tongkat”. Selamat di mana ? di dunia dan akhirat. Apa tekennya ? agama Islam. Nah Sunan Kalijogo sudah cukup lama dan mampu menjaga “teken” itu, artinya sesuai dengan perintah Sunan Bonang, tetap istiqomah dalam menjalankan syariat Islam, demikian khusuknya ibarat sampai badannya ditumbuhi rumput dan sampai berlumut tidak menggoyahkan tekadnya. Jadi masa percobaan yang diberikan oleh Sunan Bonang dapat dilaksanakan dengan cumlaude. Sang Sunan kang wus “asoca batara” tan samar andulu marang siswane, mula tanpa tida tida anggone angrengkuh nganti kasok kabeh ilmune marang sang siswadi. Tradisine wong jawa seneng aweh weruh lan kawruh kalebu anggone nuturake sejarah utawa kedadeyan kanti basa sing ora terang terangan. Mula miturut pangrasaku sejatine ya kaya sing tak aturake ing nduwur. Iki panemu pribadi mula nyumanggake kagem para maos.Sesambungan ngenani wong iku bisa sakti utawa ora, wakita apa ora senajan ora ana kabar apa nabi utawa sahabat iku sakti/wakita apa ora (para sahabat rata2 syahid / tedhas ing gegaman/ ora sakti) nanging rasa2ne (aku urung tahu weruh/ketemu dewe wong sakti/waskita)yen pancen kenceng panyuwune marang Allah sarana taqwa lan njaga kesucian, insyaallah dikabulake. Murni tanpa bantuan jin lan sak bangsane. Lagi2 ini juga pendapat pribadi. Gak usah dibantah, ning yen ana sedulur sing nate weruh tulung aku dicritani. Matur nuwun
    Wassalam

  29. habib mustofa mengatakan:

    asslmkm… sebuah kata yg menjadi persoalan, “WALI”,.. wali secara umum adl orang yg mewakili, wali kelas, wali hakim, wali murid,,dll.. jadi bisa dikatakan bahwa yg namanya WALI SONGO adl wakil. dalam artian mereka adalah para ‘ulama yg menjadi penerus para Nabi untuk berdakwah. tidak menutup kemungkinan para Wali songo juga memiliki kelebihan-2 di luar nalar manusia biasa. masih banyak kok ulama yg memiliki kelebihan2 itu,. contoh saja Syeikh Abdul Qadir al-Jaelani… Allah SWT Maha Kuasa, bisa saja kan kal Allah SWT mmberikan kelebihan2 (karomah) itu kpd Wali songo?? Why Not??

  30. Hamba alloh mengatakan:

    sekedar mengingatkan saudara-saudaraku,kembali ke Alqur-an dan hadist,kajilah Alqur-an, cermati inti dan isinya.disitu berisikan tentang sejarah,perintah, dan larangan-larangan Alloh swt..singkatnya apa yang kita jalani dalam kehidupan sehari-hari haruslah sama dengan apa yang diajarkan dan dicontohkan rosululloh saw.itu yang terpenting.Masalah sunan kali jogo janganlah diperdebatkan kalau kita belum tau persis.BELIAU adalah sosok wali yang amat bijaksana,dan mulia,dan beliaulah yang sudah menyempurnakan dan memadukan kebudayaan jawa islam, sehingga kita mengenal adanya tahlil,1-7 hari,40hari,dan seterusnya jika ada keluarga yang meninggal dunia,dan msh banyak yang lainnya yang tidak kita temukan pada kebudayaan arab.Dan semua itu bukanlah dikarang atau didapat dengan logika belaka, melainkan lewat mengheningkan cipta menghadap sang kuasa dan minta petunjuknya.Beliau sangat berjasa dalam penyebaran islam dijawa khususnya dan di indonesia pada umumnya.Saudara-saudaraku banyak yang pintar,tapi maaf saya bilang pintar belum tentu mengerti.mengerti dalam hal ini kita harus mengerti dan merasakan tentang apa yang kita ucapkan sebelum kita lontarkan.Salah satu rukun iman adalah percaya adanya gaib.Karna itu kalau kita belum faham dan buktikan antara gaib dan nyata janganlah kita merasa paling benar dan paling pintar, Sebab pintar belum tentu mengerti.Jadi lebih baik kita lebih banyak koreksi diri kita sendiri dan lebih banyak belajar tentang hidup dan kehidupan didunia ini, agar kelak tidak tersesat jalan atau lebih jelasnya bisa mati dijalan alloh,yaitu jalan yang diridhoi-NYA.Pesan yang saya sampaikan setelah kita sudah bisa menjalani hidup sesuai ajaran rosul dan iklas menerima semua ujian-ujian alloh didunia,kita bisa belajar mencoba mengalami/mengetahui sendiri kehidupan gaib setelah mati.setelah kita sudah sampai pada tingkatan itu maka saudaraku semua akan lebih mengerti dan bukan hanya pintar.Itulah yang pada waktu itu dilakukan Sunan Kalijogo,sehingga Beliau bisa mengajarkan banyak hal tentang hidup dan kehidupan setelah mati. Bukan hanya katanya dan katanya. Kita bisa melakukannya asal kita mampu.Tidak ada yang mustahil didunia ini kalau alloh mengijinkan.Sekali lagi lebih baik kita banyak-banyak ightifar mohon ampun kepada alloh, dan lebih banyak koreksi diri sendiri.Derajat kita di mata Alloh hanya Alloh yang tau…wassalam…

  31. indra mengatakan:

    Ni ustat mang pinter ngeles…
    Orang yg gak mau hargai sejarah tu jg busuk…
    persetan ma omongan ni ustat.
    yg intinya cm mau menghina sejarah bangsa khususnya jawa….
    tai loe ustat…

  32. wong demak mengatakan:

    ustad yg aneh, gak faham sejarah wali 9 kok jadi ustad, jadi wali aja pak, wali murid

  33. alif bumi mengatakan:

    B issmillahhirochmannirochim………… Assyalamu`allaikum wr Ta`alla wb .., sebelumnya kami mohon ampun maaf . Kmi ini org bodoh tdak mmiliki ilmu ………………………………… kami pngen mengetahui byk org mengatkn setan2. MN sich HG nmmya setan itu. P.ustat? ???????????mna yg dktakn itu sholat Dan mna itu yg dktakn sembhayng? ?????????? Apa. Perberaanya antra smbhayang Dan sholat ??? Mohon penkelasanya Guam uztad/tuan guru.

  34. rosone rogo mengatakan:

    rausah susah miker sejarah sg pnting piye awak,e iso ibadah trus oleh safaate gusti allah,syukur munggah swargo yen neroko ojo yora pak/buk,,

  35. raka mengatakan:

    semua memang cerita ,tapi itu pun nyata bagi kitaq dalam menempuh islam oleh gurunya ,sunan kali jaga di suruh oleh gurunya ,bertapadalam melakuakn bertapa beliau belum masuk islam , dan merupakan seorang raden sahit yang masih arogan,dengan perjalanan untuk mencari islam beliau membersihkan diri dan fikirannya ,dengan bertapa dan meninggalkan ,urusan materi dan untuk menyadari kesalahan melihat kebelakang .beliau dengan cara yang di ajarkan gurunya ,dan saat itu beliau belum mengerti sekali ajaran islam ,kawan ingatkah kita bahwa nabi kita juga pertama kali menerima wahyu di dalam gua ,ingat apa nama gua itu ,gua hiraq apa yang dilakuakan nabi kita di dalam semua tidak tahu tapi nyata beliau mendapatkan whyu didalam gua karena percaya dan berdoa kepada allah swt ,hanya untuk di ingat bahwa kita tau semua itu kita wajib berttanya dan belajar mengerti kepada yang lebih bisa di atas langit ada langit

  36. Tri Sunu Anwar mengatakan:

    Ngapunten,,,,biasanya orang jawa itu lebih cenderung ke tingkah laku, adat dan kesopanan. Tidak berani mengkafirkan seseorang dan lebih baik diam. Dan menurut saya kisah sunan kali jogo itu sebenarnya adalah makna kiasan saja, mengapa sunan kali jogo itu menunggu tongkat yg ada di sungai yg bermakna kita sebagai manusia harus bersabar dalam menjalani hidup ini dan menjaga iman kita dengan penuh keiklasan. ” Neng di siro neng kono ono Alloh” ,,,,Eleng lan waspodo,,,,,insayaalloh ngoten ….
    Balas

  37. abdigalangnusantara@yahoo.co.id mengatakan:

    Ass Wr Wb,tidak usah memperdebatkan bagaimana Sunan Kalijogo mendapat Hidayah dan Karomah Alloh,bagaimana kita menyiapkan diri kita supaya roh kita diterima Alloh SWT dan mendapat syafa’at Nani Muhammad SAW.(berkaca pada diri kita….sudah pantaskah kita dihadapanNya0

  38. ajay banyuwangen mengatakan:

    Sudalah kalian ga usah berdebat untuk benar2an soal sejarah.bukankah para wali mewariskan pada kita ajaran yang dibawa oleh junjungan kita nabi muhammad?yang menjadi pertanyaan kita masing2,sudah kuatkah iman kita?sudah benarkah sholat kita?sudah ihklaskah puasa dan zakat kita?

  39. mujiburrohman mengatakan:

    ass.wr.wb…bg pra pengomen….klo blum tau ilmu hikmah mendingan diam aja…pa lg pnganut logika susah u/ menjlaskanya…

  40. Bambang mengatakan:

    Asslmkm pak ustadz. Klo bleh saya tolong di terangkan masalah bertapa itu musrik, dan tlng cantumkan sklian hadist dan artinya. Trims wsslm.

  41. Ndezzo Teo mengatakan:

    kalo merasa belum tau ya cari tau kepada orang yg sudah tau kalo belum tau ya jangan sok tau cari tau dulu kalo sudah dapat tau berilah tau atau kasih tau orang yang belum tau supaya sama sama tau ….dan jangan saling caci dan maki atau acuh hayo.. semua mari kita belajar bersama supaya kita semua tau dan lbih tau…. bahwa baginda rosulullah nabi muhammad saw iku sopo dan kanjeng sunan kali jogo iku sopo hayo podo2 sinau ben sama sama tau pisss

  42. toto mengatakan:

    Salamualaikum, maaf sebelum rosul mendapatkan wahyu, beliu selalu melakukan hkolwat yang disertai puasa dan ini dilakukan tanpa melakukan sholat syariat ini dilakukan beberapa hari atau butuh waktu boleh dikata mengorbankan waktu hanya untuk mendpatkan wahyu tersebut mengingat pada waktu itu umatnya yg kacau artinya hal ini dilakukan sebagai bukti bahwa puasa bukanlah hal yang main-main begiitu pula para wali sebagai bukti ketaatan pada gurunya mereka akan melakukan apa saja sebagaimana apa yang diperintahkan gurunya seperti sunan kalijaga diperintahkan untuk menunggu kali selama 3 tahun, dan karena taatnya beliau pun memenuhinya hingga gurunya, sunan bonang datang membangunkannya. Saya pikir itu adalah cara guru ma’rifat mendidik muridnya, sehingga tau mereka akan taat apa tidak meski dalam kepahitan. karena orang yang taat pada syariatnya belum tentu taat pada kebaikan untuk sesama nda percaya lihat saja para koruptor… mereka rajin solat, mampak alim ehhhh ternyata…. penuh tanda tanya

  43. kurnia mengatakan:

    belajar dari ALQURAN dan HADIST…TIRU NABI MUHAMMAD SAW…dan PARA SAHABAT…TABIIN, TABIUT TABIIN dalam BERAMAL…INSYA ALLOH SELAMAT.

  44. okta mengatakan:

    pelajarilah ayat-ayat al quran n terjemahannya. krn khdpn yg lalu n dmasa yg akan dtg trgmbr di al quran.

  45. Tavip Piyanto WN mengatakan:

    Hahaha…pendapat Pak Ustad diatas dangkal sekali…siapa yang menyatakan bahwa perbuatan BERTAPA itu adalah perbuatan SYIRIK…??? dan Kalau BERTAPANYA untuk mendekatkan diri pada Allah SWT apakah itu hal yang syirik….??? Terus siapa yang menyatakan bahwa kata Wali itu adalah Seorang Pemimpin…?? Yang benar Kata wali berasal dari bahasa Arab, waliyullah, orang yang dicintai Allah –alias “kekasih” Tuhan……sedangkan bertapa = Bertawasul = Bertafakur…itu bukan PERBUATAN SYIRIK….ada beberapa literatur yang menyatakan bahwa Para Wali Songo sering melakukan perbuatan BERTAPA = BERTAWASUL = BERTAFAKUR (Meminta Petunjuk dan atau Mendekatkan diri) kepada Allah SWT. Sunan Giri juga pernah Bertapa = Bertafakur = Bertawasul selama 40 hari ( SELAMA 40 hari, Raden Paku bertafakur di sebuah gua. Ia bersimpuh, meminta petunjuk Allah SWT, ingin mendirikan pesantren. Di tengah hening malam, pesan ayahnya, Syekh Maulana Ishak, kembali terngiang: ”Kelak, bila tiba masanya, dirikanlah pesantren di Gresik.” Pesan yang tak terlalu sulit, sebetulnya.Tapi, ia diminta mencari tanah yang sama persis dengan tanah dalam sebuah bungkusan ini. Selesai bertafakur, Raden Paku berangkat mengembara. Di sebuah perbukitan di Desa Sidomukti, Kebomas, ia kemudian mendirikan Pesantren Giri. Sejak itu pula Raden Paku dikenal sebagai Sunan Giri. Dalam bahasa Sansekerta, ”giri” berarti gunung…. (https://www.facebook.com/notes/wali-songo/sepenggal-cerita-wali-songo-maulana-malik-ibrahim/37894669927) apakah dgn demikian beliau berlaku SYIRIK…??? DANGKAL sekali Penilaian itu….

  46. Tavip Piyanto WN mengatakan:

    Ternyata Tawassul Itu Bukan Syirik, Para Sahabat Nabi dan Para Ulama Terbukti Bertawassul
    ======================
    Oleh: Ustadz Abu Hilya
    Dengan adanya beberapa contoh Para Sahabat dan orang-orang Sholih Dalam Bertawassul, maka ini menunjukkan sebagian bukti sekaligus menjadi dalil praktek tawassul yang dilakukan oleh mayoritas kaum muslimin di dunia. Tawassul sama-sekali bukan amalan syirik sebagaimana yang dituduhkan oleh kaum anti Tawasul yang mengkalim dirinnya sebagai penegak tauhid.
    Ngomong-ngomong kalau anda disuruh memilih siapa yang lebih benar, apakah para Sahabat dan ulama yang bertawassul sebagaimana yang akan kami nukilkan di bawah ini, atau pendapat kaum anti tawassul yang merasa sebagai penegak tauhid yang berarti pula secara otomatis berefek memfitnah para Sahabat dan ulama sebagai orang-orang musyrik? Pilihan terserah anda.
    1. Nabi Adam Bertawassul Dengan Perantara Nabi Muhammad
    Berdo’a dengan metode tawassul (menggunakan perantara) sebenarnya telah dipraktekkan oleh manusia pertama, yakni Nabi Adam ‘alaihis salam.
    Dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Imam Al Hakim yang sanadnya bersambung sampai kepada Umar Ibn Khotthob, Rosululloh shollallohu ‘alaihi wasallam bersabda : ”Ketika Adam melakukan kesalahan, ia berdo’a ; “Ya Alloh, Aku mohon kepada-Mu dengan haknya Muhammad agar Engkau mengampuniku.”
    Alloh berkata; ‘Wahai Adam bagaimana engkau mengenal Muhammad padahal Aku belum menciptakanya ?”
    “Wahai Tuhanku, ketika Engkau menciptakanku dengan kekuatan-Mu dan Engkau tiupkan nyawa pada tubuhku dari roh-Mu, maka aku tengadahkan kepalaku lalu aku melihat di kaki-kaki ‘Arsy terdapat tulisan “Laa Ilaha illalloh Muhammadur Rosululloh”, maka saya yakin Engkau tidak menyandarkan pada nama-Mu kecuali nama makhluk yang paling Engkau cintai,” jawab Adam.
    “Benar kamu wahai Adam, Muhammad adalah makhluk yang paling Aku cintai. Berdo’alah kepada-Ku dengan haknya Muhammad, maka Aku ampuni kamu. Seandainya tanpa Muhammad, Aku tidak akan menciptakanmu.” lanjut Alloh. (Imam Al Hakim menilainya sebagai hadits shohih)
    Hadits di atas diriwayatkan pula oleh Imam Al Baihaqi dalam kitabnya Dalaailun Nubuwwah, sedang beliau berkomitment untuk tidak meriwayatkan hadits palsu sebagaimana beliau sampaikan dalam muqoddimah kitabnya. Imam As Suyuthi juga meriwayatkannya dalam kitab Al Khoshoishun Nabawiyyah, dan beliau juga mengkategorikan sebagai hadits shohih.
    As Syaikh Ibnu Taimiyah juga menyebutkan hadits serupa dari jalur Maisaroh :

    رَوَى أَبُو الْفَرَجِ اِبْنُ الْجَوْزِي بِسَنَدِهِ إِلَى مَيْسَرَةَ قَالَ قُلْتُ : يَا رَسُولَ اللهِ مَتَى كُنْت نَبِيًّا ؟ قَالَ لَمَّا خَلَقَ اللهُ الْأَرْضَ وَاسْتَوَى إلَى السَّمَاءِ فَسَوَّاهُنَّ سَبْعَ سَمَوَاتٍ وَخَلَقَ الْعَرْشَ : كَتَبَ عَلَى سَاقِ الْعَرْشِ مُحَمَّدٌ رَسُولُ اللهِ خَاتَمُ الْأَنْبِيَاءِ وَخَلَقَ اللهُ الْجَنَّةَ الَّتِي أَسْكَنَهَا آدَمَ وَحَوَّاءَ فَكَتَبَ اسْمِي عَلَى الْأَبْوَابِ وَالْأَوْرَاقِ وَالْقِبَابِ وَالْخِيَامِ وَآدَمُ بَيْنَ الرُّوحِ وَالْجَسَدِ فَلَمَّا أَحْيَاهُ اللهُ تَعَالَىنَظَرَ إلَى الْعَرْشِ فَرَأَى اسْمِي فَأَخْبَرَهُ اللهُ أَنَّهُ سَيِّدُ وَلَدِك فَلَمَّا غَرَّهُمَا الشَّيْطَانُ تَابَا وَاسْتَشْفَعَا بِاسْمِي إلَيْهِ
    Abul Faroj Ibnu Al Jauzi meriwayatkan dengan sanad sampai kepada Maisaroh, ia berkata,: “Saya bertanya; “Wahai Rosululloh, kapan engkau menjadi Nabi?”
    Nabi menjawab : “Ketika Alloh menciptakan bumi dan naik ke atas langit dan menyempurnakannya menjadi tujuh langit, dan menciptakan ‘Arsy maka Alloh menulis di atas kaki ‘Arsy “Muhammad Rosululloh Khootamul Anbiyaa’.” Dan Alloh menciptakan sorga yang ditempati oleh Adam dan Hawwaa’. Lalu Dia menulis namaku pada pintu, daun, kubah dan kemah. Saat itu kondisi Adam berada antara ruh dan jasad. Ketika Alloh menghidupkan Adam, ia memandang ‘arsy dan melihat namaku. Lalu Alloh menginformasikan kepadanya bahwa Muhammad (yang tercatat pada ‘arsy) adalah junjungan keturunanmu. Ketika Adam dan Hawwa’ terpedaya oleh syetan, keduanya bertaubat dan memohon syafa’at kepada-Nya dengan namaku.”
    وَرَوَى أَبُوْ نُعَيْم اَلْحَافِظُ فِي كِتَابِ دَلَائِلِ النُّبُوَّةِ وَمِنْ طَرِيْقِ الشَيْخِ أَبِي الْفَرَجِ حَدَّثَنَا سُلَيْمَانُ بْنُ أَحْمَدَ حَدَّثَنَا أَحْمَدُ بْنُ رَشِيْدٍ حَدَّثَنَا أَحْمَدُ بْنُ سَعِيْد اَلْفِهْرِي حَدَّثَنَا عَبْدُ اللهِ بْنُ إِسْمَاعِيْلَ الْمَدَنِي عَنْ عَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِ زَيْدِ بْنِ أَسْلَمَ عَنْ أَبِيْهِ عَنْ عُمَرَ بْنِ الْخَطَّابِ قَالَ : قَالَ رَسُوْلُ اللهِ لَمَّا أَصَابَ آدَمُ الْخَطِيْئَةَ رَفَعَ رَأْسَهُ فَقَالَ : يَارَبِّ! بِحَقِّ مُحَمَّدٍ إِلَّا غَفَرْتَ لِي ، فَأَوْحَى إِلَيْهِ : وَمَا مُحَمَّدٌ وَمَنْ مُحَمَّدٌ ؟ فَقَالَ : يَا رَبِّ ! إِنَّكَ لَمَّا أَتْمَمْتَخَلْقِي رَفَعْتُ رَأْسِي إِلَى عَرْشِكَ فَإِذًا عَلَيْهِ مَكْتُوْبٌ : لآ إِلَهَ إِلَّا اللهُ مُحَمَّدٌ رَّسُوْلُ اللهِ ، فَعَلِمْتُ أَنَّهُ أَكْرَمُ خَلْقِكَ عَلَيْكَ إِذْ قَرَنْتَ اسْمَهُ مَعَ اِسْمِكَ ، فَقَالَ : نَعَمْ ، قَدْ غَفَرْتُ لَكَ ، وَهُوَ آخِرُ الْأَنْبِيَاءِ مِنْ ذُرِّيَّتِكَ ،وَلَوْلَاهُ مَاخَلَقْتُكَ)فَهَذَا الْحَدِيْثُ يُؤَيِّدُ الَّذِي قَبْلَهُ ، وَهُمَا كَالتَّفْسِيْرِ لِلْأَحَادِيْثِ الصَّحِيْحَةِ .اهـ من الفتاوى
    Al-Hafidh Abu Nu’aim meriwayatkan dalam kitab Dalaailun Nubuwwah dan melalui jalur Syaikh Abil Faroj. Menceritakan kepadaku Sulaiman ibn Ahmad, menceritakan kepadaku Ahmad ibn Rosyid, menceritakan kepadaku Ahmad ibn Sa’id al-Fihri, menceritakan kepadaku Abdulloh ibn Ismail al-Madani dari Abdurrohman ibn Yazid ibn Aslam dari ayahnya dari ‘Umar bin Khotthob, ia berkata :
    Rosululloh bersabda: “Ketika Adam melakukan kesalahan, ia mengangkat kepalanya dan berdo’a; “Wahai Tuhanku, dengan hak Muhammad, mohon Engkau ampuni aku,”.
    Alloh bertanya melauli wahyu kepada Adam, “Apa dan siapakah Muhammad?”
    Nabi Adam menjawab : “Ya Tuhanku, ketika Engkau menyempurnakan penciptaanku, aku mendongakkan kepalaku ke arah ‘arsy-Mu dan ternyata di sana tertera tulisan “Laa Ilaaha illalloh Muhammadur Rosululloh”. Jadi saya tahu bahwa Muhammad adalah makhluk Engkau yang paling mulia di sisi-Mu. Karena Engkau merangkai namanya dengan namaMu,”
    “Betul,” jawab Alloh, “Aku telah mengampunimu, dan Muhammad adalah Nabi terakhir dari keturunanmu. Jika tanpa dia, Aku tidak akan menciptakanmu.”
    Ibnu Taimiyah berkata : Hadits ini menguatkan hadits sebelumnya, dan kedua-nya seperti tafsir atas beberapa hadits shohih. (Majmu’ Al Fatawa, vol. II, hlm. 151)
    2. Tawassul Dengan Nabi Ketika Beliau Masih Hidup
    Berdo’a dengan metode tawassul juga telah diajarkan oleh Rosululloh shollallohu ‘alaihi wa sallam, diantara sahabat yang berdo’a dengan cara tawassul adalah kisah dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Imam Al Hakim dan Imam At Tirmidzi.
    ‘Utsman bin Hunaif mengisahkan bahwa pada suatu ketika ada seorang lelaki buta mengadu kepada Rosululloh shollallohu ‘alaihi wa sallam, ia berkata kepada Rosululloh :
    يَا رَسُولَ اللهِ إِنَّهُ لَيْسَ لِي قَائِدٌ وَقَدْشَقَّ عليَّ ، فَقَالَ رَسُولُ اللهِ :اِئْتِ الْمِيْضأةَ فَتَوَضَّأْ ثُمَّ صَلِّ رَكْعَتَيْنِ ثُمَّ قَالَ اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ وَأَتَوَجَّهُ إِلَيْكَ بِنَبِيِّكَ نَبِيِّ الرَّحْمَةِ يَا مُحَمَّدُ إِنِّي أَتَوَجَّهُ بِكَ إِلَى رَبِّكَ فَيُجْلِي لِي عَنْ بَصَرِي ، اللَّهُمَّ شَفِّعْهُ فِيَّوَشَفِّعْنِي فِي نَفْسِي ، قَالَ عُثْمَانُ : فَوَاللهِ مَا تَفَرَّقْنَاوَلَا طَالَ بِنَا الْحَدِيْثُ حَتَّى دَخَلَ الرَّجُلُ وَكَأَنَّهُ لَمْ يَكُنْ بِهِ ضَرَرٌ
    “Ya Rosulalloh, sungguh saya tidak memiliki penuntun dan saya merasa berat,” kata laki-laki buta tersebut.
    Kemudian Rosululloh memerintahkan : “Pergilah ke tempat wudhu dan berwu-dhulah, kemudian sholatlah dua roakaat.”
    Selanjutnya laki-laki tersebut berdo’a : “Ya Alloh, sungguh saya memohon kepada-Mu dan bertawassul kepada-Mu dengan Nabi-Mu Muhammad, Nabi rohmat. Wahai Muhammad saya bertawassul denganmu kepada Tuhanmu agar Dia menyembuhkan pandanganku. Ya Alloh, terimalah syafa’atnya untukku dan terimalah syafaatku untuk diriku.”
    Utsman (yang meriwayatkan hadits) berkata : “Maka demi Alloh, kami belum bubar dan belum lama obrolan selesai, sampai lelaki buta itu masuk seolah ia belum pernah mengalami kebutaan.”
    Imam Al Hakim meriwayatkan hadits diatas dalam Al Mustadrok, dan beliau berkata bahwa hadits tersebut shohih, sedang Imam At Tirmidzi menilai hadits diatas sebagai hadits hasan shohih yang ghorib.
    Perlu dicatat, bahwa dalam redaksi hadits tersebut tidak terdapat keterangan bahwa Rosululloh mendo’akan laki-laki tersebut, Rosululloh hanya menyuruhnya berwudhu, kemudian sholat dua roka’at dan mengajari berdo’a sebagaimana dalam hadits diatas.

    3. Tawassul Dengan Nabi Sesudah Wafatnya Beliau

    a. Utsman bin Hunaif Mengajarkan Tawassul
    Dalam riwayat Imam At Thobaroni, sahabat ‘Utsman bin Hunaif menuturkan sebuah kisah yang berkaitan dengan hadits diatas:
    أَنَّ رَجُلاً كَانَ يَخْتَلِفُ إِلَى عُثْمَانَ بْنِ عَفَّانَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ فِي حَاجَةٍ لَهُ ، وَكَانَ عُثْمَانُ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ لَا يَلْتَفِتُ إِلَيْهِ وَلَا يَنْظُرُ فِي حَاجَتِهِ ، فَلَقِيَ الرَّجُلُ عُثْمَانَبْنَ حُنَيْفٍ فَشَكَا ذَلِكَ إِلَيْهِ ، فَقَالَ لَهُ عُثْمَانُ بْنُ حُنَيْفٍ : اِئْتِ الْمِيْضأةَ فَتَوَضَّأْ ثُمَّ ائْتِ الْمَسْجِدَ فَصَلِّ فيه رَكْعَتَيْنِ ثُمَّ قُلْ :اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ وَأَتَوَجَّهُ إِلَيْكَ بِنَبِيِّنَا نَبِيِّ الرَّحْمَةِ يَا مُحَمَّدُ إِنِّي أَتَوَجَّهُ بِكَ إِلَى رَبِّكَ فَيَقْضِي حَاجَتِي . وَتَذْكُرُ حَاجَتَكَ. فَانْطَلَقَ الرَّجُلُ فَصَنَعَ مَا قَالَ لَهُ ، ثُمَّ أَتَى بَابَ عُثْمَانَ فَجَاءَ الْبَوَّابُ حَتَّىأَخَذَ بِيَدِهِ فَأَدْخَلَهُ عَلَى عُثْمَانَفَأَجْلَسَهُ مَعَهُ عَلَى الطَّنْفَسَةِ وَقَالَ : مَا حَاجَتُكَ ؟فَذَكَرَ حَاجَتَهُ فَقَضَاهَا لَهُ ، ثُمَّ قَالَ: مَا ذَكَرْتَ حَاجَتَكَ حَتَّى كَانَتْ هَذِهِ السَّاعَةُ ثُمَّ قَالَ: مَا كَانَتْ لَكَ حَاجَةٌ فَائْتِنَا ، ثُمَّ إِنَّ الرَّجُلَ لَمَّا خَرَجَ مِنْ عِنْدِه لَقِيَ عُثْمَانَبْنَ حُنَيْفٍ وَقَالَ لَهُ : جَزَاكَ اللهُ خَيْراً مَا كَانَ يَنْظُرُ فِي حَاجَتِي وَلَا يَلْتَفِتُ إِلَيَّحَتَّى كَلَّمْتَهُ فِيَّ ، فَقَالَ عُثْمَانُبْنُ حُنَيْفٍ: وَاللهِ مَا كَلَّمْتُهُ ، وَلَكِنْ شَهِدْتُ رَسُوْلَاللهِ وَأَتَاهُ رَجُلٌ ضَرِيْرٌ فَشَكَا إِلَيْهِ ذِهَابَ بَصَرِهِ ، فَقَالَ لَهُ النَّبِيُّ :أَوَ تَصْبِرُ ؟ فَقَالَ يَا رَسُولَ اللهِ إِنَّهُ لَيْسَ لِي قَائِدٌ وَقَدْشَقَّ عليَّ ، فَقَالَ لَهُ النَّبِي :اِئْتِ الْمِيْضأةَ فَتَوَضَّأْ ثُمَّ صَلِّ رَكْعَتَيْنِ ثُمَّ ادْعُ بِهَذِهِ الدَّعَوَاتِ ،فَقَالَ عُثْمَانُبْنُ حُنَيْفٍ: فَوَاللهِ مَا تَفَرَّقْنَاوَلَا طَالَ بِنَا الْحَدِيْثَ حَتَّى دَخَلَ الرَّجُلُ وَكَأَنَّهُ لَمْ يَكُنْ بِهِ ضَرَرٌ قَطُّ
    bahwasannya pada masa pemerintahan Kholifah ‘Utsman bin ‘Affan, Seorang lelaki berulang-ulang datang kepada ‘Utsman ibn ‘Affan untuk keperluannya. ‘Utsman sendiri tidak pernah menoleh kepadanya dan tidak mempedulikan keperluannya. Lalu lelaki itu bertemu dengan ‘Utsman ibn Hunaif. Kepada Utsman ibn Hunaif ia mengadukan sikap Utsman ibn ‘Affan kepadanya.
    ‘Utsman bin Hunaif menyuruh laki-laki tersebut : “Pergilah ke tempat wudlu, lalu masuklah ke masjid untuk sholat dua raka’at. Kemudian bacalah doa’ : Ya Alloh sungguh saya memohon kepada-Mu bertawassul kepada-Mu dengan Nabi-Mu Muhammad, Nabi rahmat. Wahai Muhammad, saya menghadap kepada Tuhanmu denganmu. Maka kabulkanlah keperluanku. ” Dan sebutkanlah keperluanmu.
    Lelaki itu pun pergi melaksanakan saran dari Utsman ibn Hunaif. Kemudian ia datang menuju pintu gerbang Utsman ibn Affan yang langsung disambut oleh penjaga pintu. Dengan memegang tangannya, sang penjaga langsung memasukkannya menemui Utsman ibn Affan. Kholifah (Utsman Ibn Affan) kemudian mempersilahkan keduanya duduk di atas permadani bersama dirinya. “Apa keperluanmu?” tanya Kholifah. Lelaki itu pun menyebutkan keperluannya, kemudian Kholifah memenuhinya. “Engkau tidak pernah menyebutkan keperluanmu hingga tiba saat ini.” kata Utsman, “Jika kapan-kapan ada keperluan datanglah kepada saya,” lanjut Utsman Ibn Affan.
    Setelah keluar, lelaki itu berjumpa dengan Utsman ibn Hunaif dan menyapanya, ia mengira sebelum dirinya bertemu Kholifah, terlebih dahulu ‘Utsman bin Hunaif telah menemui sang Kholifah guna menyampaikan hajatnya, akan tetapi ‘Utsman bin Hunaif menolak prasangka leleki tersebut, dan berkata : “Demi Alloh, saya tidak pernah berbicara dengan Utsman ibn Affan. Namun aku menyaksikan Rosululloh didatangi seorang lelaki buta yang mengadukan matanya yang buta. “Adakah kamu mau bersabar?” kata Nabi. “Wahai Rosululloh, saya tidak memiliki penuntun dan saya merasa kerepotan,”katanya. Maka Nabi berkata padanya : “Datanglah ke tempat wudlu’ lalu berwudlu’lah kemudian sholatlah dua roka’at. Sesudahnya bacalah do’a ini.” Utsman ibn Hunaif berkata: “Maka demi Alloh, kami belum bubar dan belum lama obrolan selesai, akhirnya lelaki buta itu masuk seolah ia belum pernah mengalami kebutaan.” (HR. At Thobaroni.) Setelah menyebut hadits ini At Thobaroni berkomentar, “Status hadits ini shohih.”

    b. Umar Ibn Khotthob Bertawassul Dengan Paman Nabi
    Pada masa pemerintahan Amirul Mukminin Umar Ibn Khotthhob -rodhiyallohu ‘anhu- penduduk Madinah dilanda paceklik, kemudian Umar Ibn Khotthob memohon kepada Alloh agar diturunkan hujan, dan redaksi do’a yang diucapkan oleh Umar Ibn Khotthob sebagaimana dalam hadits yang diriwayat-kan oleh Imam Bukhori dengan sanad yang bersambung sampai pada Anas bin Malik adalah :
    اللَّهُمَّ إِنَّا كُنَّا نَتَوَسَّلُ إِلَيْكَ بِنَبِيِّنَا فَتَسْقِينَا وَإِنَّا نَتَوَسَّلُ إِلَيْكَ بِعَمِّ نَبِيِّنَا فَاسْقِنَا
    “Ya Alloh sesungguhnya kami pernah bertawassul pada-Mu dengan perantara Nabi kami, maka Engkau turunkan hujan pada kami, dan sekarang kami bertawassul pada-Mu dengan perantara paman Nabi kami maka turunkanlah hujan pada kami “.
    Setelah itu mereka dituruni hujan. (HR. Al Bukhori)
    Sayyid Muhammad Ibn Alwi Al Maliki menjelaskan dalam kitabnya Mafaahim Yajibu An Tushohhah ; bahwasannya ‘Umar Ibn Khotthob -rodhiyallohu ‘anhu- bertawassul dengan wasilah Abbas Ibn Abdil Muttholib -rodhiyallohu ‘anhu- karena kedudukannya sebagai paman Nabi, dengan demikian Umar Ibnu Khotthob hakekatnya bertawassul dengan Nabi shollallohu ‘alaihi wasallam dengan cara paling baik.
    Ibnu Abi Syaibah juga meriwayatkan dengan sanad yang shohih sampai kepada Malik Ad Dari (penjaga gudang pada masa pemerintahan Umar Ibn Khotthob) tentang praktek tawassul yang dilakukan oleh seorang sahabat untuk tujuan yang sama, yakni meminta hujan.

    أَصَابَ النَّاسَ قَحْطٌ فِي زَمَنِ عُمَرَ فَجَاءَ رَجُلٌ إِلَى قَبْرِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ يَا رَسُوْلَ اللهِ اِسْتَسْقِ لِاُمَّتِكَ فَإِنَّهُمْ قَدْ هَلَكُوْا فَأُتِيَ الرَّجُلُ فِي الْمَنَامِ فَقِيْلَلَهُ اِئْتِ عُمَرَ
    Pada masa pemerintahan Umar Ibn Khotthob penduduk Madinah dilanda paceklik, seorang sahabat (bernama Bilal bin Harits Al Muzani sebagaimana riwayat dari Saif) datang ke pusara Rosululloh shollallohu ‘alaihi wasallam, ia berkata :“Ya Rosulalloh, mintakanlah hujan untuk ummatmu, sungguh mereka telah mengalami kerusakan.”
    Kemudian lelaki tersebut didatangi (Rosululloh) dalam mimpinya dan dikatakan padanya : “Datangilah Umar ! “ (Fathul Bari, vol. 4, hal. 496)
    Kisah tawassulnya Bilal bin Harits tersebut, disebutkan lebih lengkap oleh Ibnu Katsir dalam kitabnya Al Bidayah Wan Nihayah.

    أَصَابَ النَّاسَ قَحْطٌ فِي زَمَنِ عُمَرَ فَجَاءَ رَجُلٌ إِلَى قَبْرِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ يَا رَسُوْلَ اللهِ اِسْتَسْقِ لِاُمَّتِكَ فَإِنَّهُمْ قَدْ هَلَكُوْا فَأَتَاهُ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي الْمَنَامِ فَقَالَ:اِئْتِ عُمَرَ فَأَقْرِئْهُ مِنِّي السَّلَامَ وَأَخْبِرْهُمْ أَنَّهُمْ مُسْقَوْنَ، وَقُلْ لَهُ: عَلَيْكَ بِالْكَيِّسْ اَلْكَيِّسَ. فَأَتَى الرَّجُلُ فَأَخْبَرَ عُمَرَ ، فَقَالَ : يَارَبِّ ! مَا آلُو إِلَّا مَا عَجزْتُ عَنْهُ .
    Pada masa pemerintahan Umar Ibn Khotthob penduduk Madinah dilanda paceklik, seorang sahabat (bernama Bilal bin Harits Al Muzani sebagaimana riwayat dari Saif) datang ke pusara Rosululloh shollallohu ‘alaihi wasallam, ia berkata :“Ya Rosulalloh, mintakanlah hujan untuk ummatmu, sungguh mereka telah mengalami kerusakan.”
    Kemudian Bilal bin Harits di datangi Rosululloh shollallohu ‘alaihi wasallam dalam mimpinya, beliau bersabda : “Datangilah Umar, sampaikan salam dariku kepadanya, kabarkan kepada penduduk bahwa mereka akan diberi hujan, dan katakan kepada Umar: “Tetaplah engkau sebagai orang yang pintar !”
    Selanjutnya Bilal bin Harits mendatangi Umar dan menceritakan apa yang dialaminya, Umar pun merespon dengan berdo’a: “Ya Tuhanku, saya tidak menyia-nyiakan kecuali terhadap sesuatu yang saya tidak mampu untuk mengerjakannya.” (Al Bidayah Wan Nihayah, vol. I, hal. 91)
    Seandainya apa yang dilakukan oleh Bilal bin Harits Al Muzani tersebut termasuk perbuatan syirik, niscaya Umar Ibn Khotthob –rodhiyallohu ‘anhu- sudah pasti memperingatkannya, akan tetapi faktanya tidak demikian.

    c. Tawassul Dengan Pusara Nabi
    Al Imam Al Hafidh Ad Darimi menuturkan sebuah hadits yang sanadnya bersambung sampai kepada Abul Jauza’ Aus Ibn Abdillah, ia berkata :
    قُحِطَ أَهْلُ الْمَدِيْنَةِ قَحْطاً شَدِيْداً فَشَكَوْا إِلَى عَائِشَةَ، فقَالَتْ : أُنْظُرُوا قَبْرَ النَّبِيّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَاجْعَلُوا مِنْهُ كُوًّا إِلى السًّمَاءِ حَتَّى لَايَكُوْنَ بَيْنَهُ وَبَيْنَ السًّمَاءِ سَقْفٌ ، قَالَ:فَفَعَلُوا، فَمُطِرْنَا مَطَراً حَتَّى نَبَتَ الْعشْبُ وَسَمِنَتْ الْإِبِلُ (تَفَتَّقَتْ مِنَ الشَّحْمِ فَسُمِيَ عَامُ الفَتْقِ ،وَمَعْنَى كُوًّا أي نَافِذَة).
    Penduduk Madinah mengalami paceklik hebat. Kemudian mereka mengadu kepada ‘Aisyah (istri Rosululloh).“Lihatlah kuburan Nabi shollallohu ‘alaihi wasallam dan buatlah lubang dari tempat itu menghadap ke atas hingga tidak ada penghalang antara kuburan dan langit,” perintah ‘Aisyah.
    Abul Jauzaa’ berkata; “Lalu mereka melaksanakan perintah ‘Aisyah. Kemudian hujan turun kepada kami hingga rumput tumbuh dan unta menjadi gemuk (lalu tahun tersebut disebut tahun gemuk).” (HR. Ad Darimi dalam Sunan)
    Pembuatan lubang di lokasi kuburan Nabi shollallohu ‘alaihi wasallam, tidak melihat dari aspek sebuah kuburan, tapi dilihat dari aspek bahwa kuburan itu memuat jasad makhluk paling mulia dan kekasih Alloh. Jadi, kuburan itu menjadi mulia sebab kedekatan agung ini, karenanya kuburan tersebut berhak mendapat keistimewaan yang mulia.
    Perlu dicatat, meskipun hadits diatas dinyatakan sebagai hadits mauquf, atau sebatas opini Sayyidah ‘Aisyah –rodhiyallohu ‘anha-, akan tetapi beliau adalah wanita yang mendapat bimbingan langsung dari Rosululloh shollallohu ‘alaihi wasallam dan beliau bukanlah orang yang tidak mengetahui makna syirik atau perbuatan yang bisa menyebabkan syirik, terlebih tindakan beliau dilaku-kan di tengah-tengah para Ulama dari kalangan para sahabat di kota Madinah.

    d. Kisah Al ‘Utbiy
    Al Imam Al Hafidh Ibnu Katsir ketika menjelaskan firman Alloh :
    وَلَوْ أَنَّهُمْ إِذْ ظَلَمُوا أَنْفُسَهُمْ جَاءُوكَ فَاسْتَغْفَرُوا اللهَ وَاسْتَغْفَرَ لَهُمُ الرَّسُولُ لَوَجَدُوا اللهَ تَوَّابًا رَحِيمًا
    “Sesungguhnya jikalau mereka ketika menganiaya dirinya, datang kepadamu, lalu memohon ampun kepada Alloh, dan Rosulpun memohonkan ampun untuk mereka, tentulah mereka mendapati Alloh Maha Penerima Taubat lagi Maha Penyayang.” (QS, An Nisaa : 64)

    Beliau menuturkan kisah seorang A’robi sebagai berikut :

    عنالعُتْبي، قال: كُنْتُ جَالِساً عِنْدَ قَبْرِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، فَجَاءَ أَعْرَابِيّ فَقَالَ: اَلسَّلاَمُ عَلَيْكَ يَا رَسُوْلَ اللهِ، سَمِعْتُ اللهَ يَقُوْلُ: { وَلَوْ أَنَّهُمْ إِذْ ظَلَمُوا أَنْفُسَهُمْ جَاءُوكَ فَاسْتَغْفَرُوا اللهَ وَاسْتَغْفَرَ لَهُمُ الرَّسُولُ لَوَجَدُوا اللهَ تَوَّابًا رَحِيمًا } وَقَدْ جِئْتُكَ مُسْتَغْفِراً لِذَنْبِي مُسْتَشْفِعًا بِكَ إِلَى رَبِّي ثُمَّ أَنْشَأَ يَقُوْلُ:
    Al ‘Utbi (seorang sahabat) bercerita : Suatu ketika saya sedang duduk di samping kuburan Nabi shollallohu ‘alaihi wasallam. Lalu datanglah seorang A’robi (penduduk pedalaman Arab) kepadanya, kemudian A’robi tersebut berkata : “Assalamu’alaika, wahai Rosulalloh, saya telah mendengar Allah berfirman : “Sesungguhnya jikalau mereka ketika menganiaya dirinya, datang kepadamu, lalu memohon ampun kepada Alloh, dan Rosulpun memohonkan ampun untuk mereka, tentulah mereka mendapati Alloh Maha Penerima Taubat lagi Maha Penyayang.” (QS, An Nisaa : 64)
    Dan saya datang kepadamu seraya memohon ampun atas dosaku dan memohon syafaat denganmu kepada Tuhanku.”
    Selanjutnya A’robi tersebut mengumandangkan bait-bait syair :

    يَا خَيْرَ مَنْ دُفِنَتْ بِالْقَاعِ أَعْظُمُهُ … فَطَابَ مِنْ طِيْبِهِنَّ الْقَاعُ وَالْأَكَمُ …
    نَفْسِي الْفِدَاءُ لِقَبْرٍ أَنْتَ سَاكِنُهُ … فِيْهِ الْعَفَافُ وَفِيْهِ الْجُوْدُ وَاْلكَرَمُ …
    ثُمَّ انْصَرَفَ الْأَعْرَابِيُّ فَغَلَبَتْنِي عَيْنِي، فَرَأَيْتُ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي النَّوْمِ فَقَالَ: يَا عُتْبِى، اِلْحَقْ الْأَعْرَابِيَّ فَبَشِّرْهُ أَنَّ اللهَ قَدْ غَفَرَ لَهُ
    Wahai orang yang tulang belulangnya dikubur di tanah datar…
    Berkat keharumannya, tanah rata dan bukit semerbak mewangi…
    Diriku jadi tebusan untuk kuburan yang engkau tinggal di dalamnya…
    Di dalam kuburmu terdapat sifat bersih dan kedermawanan…

    Kemudian A’robi tadi pergi. Setelah kepergiannya saya (Al ‘Utbi) tertidur dan bermimpi bertemu Nabi shollallohu ‘alaihi wasallam, beliau berkata: “Kejarlah si A’robi dan berilah kabar gembira bahwa Allah telah mengampuni dosanya.” (Tafsir Ibnu Katsir, vol. 2, hal. 347)

    Kisah ini dituturkan pula oleh :

    - Al Hafizh An Nawawi dalam kitabnya yang populer Al Adzkaar, hal. 206. Juga dalam Al Majmu’ Syarah Al Muhadzdzab, vol. 8 hal, 274.

    - Syaikh Abu Muhammad Ibnu Qudamah juga meriwayatkannya dalam kitabnya Al Mughni vol III hlm. 556.

    - Syaikh Abul Faroj ibnu Qudamah dalam kitabnya As Syarhul Kabir vol. 3 hlm. 495

    - Syaikh Manshur ibn Yunus Al Bahuti dalam kitabnya yang dikenal dengan nama Kasysyaaful Qinaa’ yang notabene salah satu kitab paling populer dalam madzhab Hanbali vol. V hlm. 30 juga mengutip kisah dalam hadits di atas.

    Kisah dengan tema serupa juga dituturkan oleh Imam Al Qurthubi -yang merupakan pilar para Mufassirin (para ulama ahli tafsir)- sebagai berikut :
    رَوَى أَبُو صَادِقٍ عَنْ عَلِيٍّ قَالَ: قَدِمَ عَلَيْنَا أَعْرَابِيٌّ بَعْدَ مَا دَفَنَّا رَسُوْلَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِثَلَاثَةِ أَيَّامٍ، فَرَمَى بِنَفْسِهِ عَلَى قَبْرِ رَسُوْلِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَحْثًا عَلَى رَأْسِهِ مِنْ تُرَابِهِ؛ فَقَالَ: قُلْتَ يَا رَسُوْلَ اللهِ فَسَمِعْنَا قَوْلَكَ، وَوَعَيْتُ عَنِ اللهِ فَوَعَيْنَا عَنْكَ، وَكَانَ فِيْمَا أَنْزَلَ اللهُ عَلَيْكَ {وَلَوْ أَنَّهُمْ إِذْ ظَلَمُوا أَنْفُسَهُمْ} اَلْآيَةَ، وَقَدْ ظَلَمْتُ نَفْسِي وَجِئْتُكَتَسْتَغْفِرَ لِي. فَنُوْدِيَ مِنَ الْقَبْرِ أَنَّهُ قَدْ غُفِرَ لَكَ.
    Abu Shodiq meriwayatkan dari Ali, ia berkata: “Tiga hari setelah kami mengubur Rosululloh shollallohu ‘alaihi wasallam, datang kepadaku seorang a’robi. Ia merebahkan tubuhnya pada kuburan Rosululloh -shollallohu ‘alaihi wasallam- dan menabur-naburkan tanah kuburan di atas kepalanya sambil berkata: “Engkau mengatakan, wahai Rosululloh!, maka kami mendengar sabdamu dan hafal apa yang dari Alloh dan darimu. Dan salah satu ayat yang turun kepadamu adalah: “Sesungguhnya jikalau mereka ketika menganiaya dirinya, datang kepadamu, lalu memohon ampun kepada Alloh, dan Rosulpun memohonkan ampun untuk mereka, tentulah mereka mendapati Alloh Maha Penerima Taubat lagi Maha Penyayang.” (QS, An Nisaa : 64) Saya telah berbuat dzolim kepada diriku sendiri dan saya datang kepadamu untuk memohonkan ampunan untukku.” Kemudian dari arah kubur muncul suara : “Sesungguhnya engkau telah mendapat ampunan.” (Tafsir Al Qurthubi vol.V hlm. 265)
    Apapun status kisah diatas, baik ia masuk kategori shohih ataupun dho’if, yang pasti para Ulama telah banyak yang menuturkannya, jika perbuatan si A’robi tersebut dianggap syirik, maka kami bertanya ; Adakah para ulama di atas telah menuturkan kisah yang dapat mendorong pada perbuatan syirik tanpa menyebutkan status hukumnya? Dan bahkan menjadikannya sebagai penguat penjelasannya…. Bagi kami itu hal yang tidak mungkin, mengingat hal itu justru akan menghilangkan kredibilitas karya-karya mereka.
    e. Tawassul Dengan Nabi Disaat Sakit Dan Mengalami Musibah
    عَنِ الْهَيْثَمِ بْنِ خَنَسٍ قَالَ : كُنَّا عِنْدَ عَبْدِ اللهِ بْنِ عُمَرَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُمَا فَخَدِرَتْ رِجْلُهُ فَقَالَ لَهُ رَجُلٌ : أُذْكُرْ أَحَبَّ النَّاسِ إِلَيْكَ ، فَقَالَ : يَا مُحَمَّدُ ، فَكَأَنَّمَا نُشِطَ مِنْ عِقَالٍ .
    Dari Al Haitsam ibn Khonas, ia berkata, “Saya berada bersama Abdulloh Ibn Umar -rodhiyallohu ‘anhuma-. Lalu kaki Abdulloh mengalami kram.
    “Sebutlah orang yang paling kamu cintai !,” saran seorang lelaki kepadanya. “Yaa Muhammad,” ucap Abdulloh. Maka seolah-olah ia terlepas dari ikatan.
    وَعَنْ مُجَاهِدٍ قَالَ : خَدِرَتْ رِجْلُ رَجُلٍ عِنْدَ اِبْنِ عَبَّاسٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُمَا ، فَقَالَ لَهُ اِبْنُ عَبَّاسٍ: أُذْكُرْ أَحَبَّ النَّاسِ إِلَيْكَ ، فَقَالَ: مُحَمَّدٌ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ، فَذَهَبَ خِدْرُهُ.
    Dari Mujahid, ia berkata; “Seorang lelaki yang berada dekat Ibnu Abbas -rodhiyallohu ‘anhuma- mengalami kram pada kakinya. “Sebutkan nama orang yang paling kamu cintai,” kata Ibnu Abbas kepadanya.
    Lalu lelaki itu menyebut nama Muhammad shollallohu ‘alaihi wasallam, dan akhirnya hilanglah rasa sakit akibat kram pada kakinya.
    Hadits diatas disebutkan oleh Ibnu Taimiyyah dalam kitabnya Al Kalimut Thoyyib hlm. 165. Tawassul menggunakan ungkapan “Ya Muhammad” adalah tawassul dalam bentuk panggilan.
    Beberapa contoh diatas adalah sebagian kecil dari bukti-bukti sekaligus menjadi dalil praktek tawassul mayoritas kaum muslimin di dunia.
    (https://www.facebook.com/1.Juta.Orang.Menolak.Wahabi/posts/571974932862153)

  47. SUWUNG mengatakan:

    ORANG ARIF ITU KALU MENJELASKAN SESUATU SELALU DENGAN KATA MUNGKIN… KENAPA??? KARENA IA TAKUT MENDAHULUI ALLAH… KARENA HANYA ALLAH YANG MAHA TAU… DAN IA BERSANDAR PAD ALLAH SEMOGA YANG DIUCAPKANX SESUAI DENGAN KEHENDAK ALLAH… YANG TIDAK SEPENDAPAT MONGGO SILAHKAN JALANKAN YANG MNURUT KEYAKINAN ANDA ITU BENAR… DAN YANG SETUJU…. MONGGO DIPERDALAM LAGI… KAREN A ILMU ALLAH ITU MAHA LUAS DAN DAN DALAM…… ALLAH MELARANG KITA SALING MEMPEROLOK DARI SATU GOLONGAN DENGAN GOLONGAN LAIN…. DAN LARANGAN INI ADA DI DALAM AL-QUR’AN TAPI MOHON MAAF SAYA LUPA AYAT BERAPA PADA SURAT APA… KARENA HAMBA LEMAH DALAM MENGHAFAL… ALLAHU ALAM…

  48. yanto mengatakan:

    Ahmad Sarwat atau siapapun tolong kalau kasih pendapat yang Obyektif jangan mudah menghilangkan sejarah tentang Wali Songo. Kamu gak layak dg jawabanmu. Kamu sok timur tengah, kasih jawaban bukan atas sejarah dan mitologi tapi atas dasar mulutmu sendiri. Dari jawabanmu kamu sdh tampak sombong dan egomu. Aku panggil KAMU karena kamu memang gak layak jadu Ustad. Kamu jadi KOBOY JALANAN saja

  49. al faqiiiir mengatakan:

    salam persaudaraan dari saya yg faqir, ust …. anda harus belajar ilmu haqiqotul ahmadiyah – haqiqotul muhammadiyah – haqiqotul anbiyaa warrusul – haqiqotu khotmul auliyaa il maktuum – haqiqotul auliyaa, klw semua itu sudah anda pelajari baru saya akn berguru pada anda.

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d blogger menyukai ini: