Karya Dakwah Walisongo

Mei 1, 2007

Ada beberapa aspek khusus yang penting untuk ditinjau ulang agar hikmah kehadiran walisongo dapat lebih dimengerti dalam konteks lebih luas. Aspek tersebut antara lain adalah masalah keimanan, takwa, akhlaq dan amalan, penilaian sunnah dan bid’ah, ajaran dan sumber dakwahnya, serta sukses dan ekses keberadaannya.

Dengan tinjauan itu, kita dihadapkan pada rangkaian pertanyaan tentang ‘apakah iman dan takwa ini terdapat teguh di hati sanubari mereka untuk dapat dijadikan alasan bahwa walisongo memang memenuhi syarat Al Qur’an dan hadits yang diperlukaan bagi seorang wali ?’. ‘Adakah keimanan dan takwa ini menghiasi diri pribadi mereka, sehingga cukup alasan bahwa kegigihan dakwah mereka itu betul-betul merupakan hidayah, karomah atau malah istidraj ?’. ‘adakah ajaran-ajaran, madrasah, madzab, aliran pikiran mereka termasuk sunni atau malah bid’ah ?’. ‘Sesuai dgn tuntunan kitabullah & sunnah rasul, serta teladan salafush sholeh dan ijma’ mereka ?’. ‘Apakah kehadiran mereka termasuk sukses atau malah menimbulkan ekses ?.

Al Qur’an surat Yunus (110) ; 62-63 memberi ta’rif atau definisi dan syarat-syarat wali-wali Allah, adalah orang-orang yang tidak takut, dan tidak berduka cita, yaitu orang-orang beriman dan bertakwa kepada Allah. Kriteria yang dijabarkan pada ayat ini agaknya telah terpenuhi. Berita dan bukti sebagai saksi sejarah telah terpenuhinya syarat itu diantaranya adalah Masjid Agung Demak, dengan masjid itu membuktikan bahwa mereka ittiba’ (mengikuti) sunnah rasulullah sebagaimana dalam pendirian masjid Quba sebagai langkah pertama sebelum langkah berikutnya dilaksanakan. Ditinjau dari kitabullah, masjid tersebut tidak lain adalah lambang bakti dan takwa kepada Allah SWT. Dalam surat At Taubah (9) : 18 dinyatakan, bahwa hanya orang-orang yang beriman kepada Allah dan hari kemudian sajalah yang memakmurkan masjid Allah, serta tetap mendirikan sholat, menunaikan zakat dan tidak takut (kepada siapapun) selain kepada Allah. Dan dalam ayat 108 surat yang sama dinyatakan, bahwa masjid yang didirikan atas dasar takwa sejak hari pertama adalah lebih patut bagi kita untuk sholat di dalamnya. Di dalamnya ada orang-orang yang ingin membersihkan diri. Dan Allah menyertai orang-orang yang bersih. Dalam kebisuannya, masjid Demak warisan mereka menjadi saksi atas ketak waan walisongo. Di samping itu, ucapan Sunan Kalijaga kepada Adipati Pandanarang ketika ia memohon berguru ilmu agama mengisyaratkan pula pancaran takwa dan bakti wali ini kepada Ilahi. Sunan Kalijaga berkata lembut,”Saya minta empat tanda bukti bahwa tuan betul-betul berniat berguru kepadaku, yakni : ibadahlah selama hidupmu, tegakkan iman, Islamkan (dakwahkan) penduduk Semarang, dirikan Jama’ah Islamiyah, ajak umat mendirikan sholat dengan bedug dan langgar (surau). Adapun syarat ke empat, zakatlah tuan dengan ikhlas. Itulah kewajiban bagi si kaya..”.

Adapun berkenaan dengan ‘pradondi ing kiblat’ (perbedaan pendapat antar para wali tentang arah kiblat) saat mendirikan masjid Demak, dapat dijelaskan sebagaimana keterangan yang diberikan oleh Prof.Tahir Abdul Mu’in (penulis ‘Ikhtisar Tau hid’), “Masalah pradondi itu jangan ditakwilkan secara jauh dulu selama masih ada tafsir yang lebih mendekati. Kita menafsirkan, bahwa pradondi kiblat yang dimaksud memang benar kiblat arah sholat. Perbedaan pendapat mengenai arah kiblat itu mengisyaratkan ketelitian para wali berpegang pada ketentuan syari’ah. Tentu walisongo, terutama Sunan Giri yang masyhur dan terbukti sebagai ahli ilmu falak itu hendak memberi teladan mutasyaddid (serius) dalam perkara syariat. Sebab jika tidak begitu, tentu dengan ilmu yang dimiliki mudah saja menetapkan arah kiblat. Mereka berdebat masalah arah kiblat adalah contoh ketelitian dan sikap hati-hati. Prof.Mu’in berpendapat, masjid dan kiblat terdapat qarinah (bahan perenungan) yang lebih dekat untuk ditafsirkan daripada ditakwilkan, bahwa yang diperdebatkan oleh para wali itu adalah ‘kiblat majazi’ (Negara Islam). Kalau pun hendak ditakwilkan, kata Prof.Mu’in, bukan pada soal kiblatnya, tetapi cerita ‘ana kang ngoyog mangetan, sawiji datan rembag, masjid ingoyoq mangidul, daredah rembaging wuntat’. Ada yg menggeser masjid itu ke arah timur, yg satu tiada sepakat, lalu menggeser ke arah selatan, demikian seterusnya). Cukup itu saja yg harus ditakwilkan. Yakni, bahwa masjid disitu bukan berarti masjid hakiki, melain kan masjid yang belum jadi, masjid fidz dzinni (abstraksi) di saat masih dalam ide (gagasan) atau masih berupa maket.

Dengan takwil ini maka masuk akal bahwa masjid yang masih berupa maket itu menjadi bahan geser-geseran para wali untuk menghadapkan masjid ke arah kilbat. Lagi pula dengan takwil seperti ini tidak perlu diributkan lagi masalah perbedaan waktu yang disebutkan dalam ‘Babad Demak’ yang menyatakan bahwa masjid itu selesai dibangun pada tahun ‘lawang trus gunaning janma’ (1399 th.saka), sedang dalam piagam masjid itu sendiri dinyatakan berdiri pada 1428 th.saka. Dengan takwil gaya Prof.Mu’in, itu bukan suatu yang aneh atau mustahil, karena maksudnya adalah pada 1399 th.saka yg jadi baru maketnya, sedang pada 1428 th.saka (29 tahun kemudian) adalah masjid yang sebenarnya sudah berdiri.

Dalam ‘Walisana’ (IV : 5-7) disebutkan, bahwa ada tiga orang calon walisongo, yaitu : Raden Rahmat, Raden Santri Ali, dan Raden Alim Abu Hurairah. Ketiganya ini saat melihat tarian Bedaya Serimpi yang dimainkan seorang wanita cantik saja sudah ber-ta’awudz (berlindung kepada Allah dari segala godaan Syetan), dan mesti dijauhi. Inilah gambaran akhlaq yang tercermin, padahal mereka baru tercatat sebagai calon walisongo. Maka bisa dibayangkan bagaimana akhalaq para wali itu.

Sunan Giri adalah wali raja yang kaya raya, namun dalam tindakan kesehariannya terlihat sekali kalau beliau amat tawakal, sabar, wara’, pemurah, ramah, dan masih banyak lagi akhlaqnya yang mulia. Sunan Kalijaga, lantaran suka mendalang wayang dan topeng (meskipun untuk tujuan dakwah), oleh para wali yang lain dinyatakan ‘ngetokaken’ (memamerkan) maksiat. Hal ini menunjukkan betapa telitinya para wali itu dalam menjaga akhlaq mulia.

Dalam hal ini, bila digunakan ukuran takwa sebagaimana disebut oleh Ibnu Taimiyah *), (sang pelopor kebangkitan pemikiran Kaum Muslim pada umumnya, dan kaum sufi pada khususnya ke pangkalan tauhid), maka kita menyaksikan bagaima gigih dan lurusnya Sunan Bonang dalam memberantas bid’ah. Hal itu terlihat dari sikap para wali ketika menghadapi penyelewengan Siti Jenaar yang zindiq dan syirik, karena ibahiyah, mulhid dan panteismenya itu.

Sedangkan tindakan amar ma’ruf nahi munkar dapat dinilai dari kesabaran, ketabahan serta ketelitian mereka dlm berjuang hendak menegakkan Negara Islam di Demak. Sikap ini juga terlihat pada peristiwa futuhat (ekspansi) penyebaran Islam ke daerah Jawa Timur. Dengan sangat terpaksa mereka menggunakan senjata melawan Sapit Urang Ranggaprana dan Raden Brawijaya VII. Peraang itu dipimpin langsung oleh Sunan Ngudung dan Sunan Kudus. Demikian pula ketika Sunan Gunung Jati dalam dakwahnya terpaksa berjihad melawan kerajaan hindu Pajajaran. Dalam semua perang ini tidak lain yang dapat dinyatakan terhadap mereka kecuali, bahwa walisongo benar-benar diilhami ruh Islam sepanjang ukuran pembaharu revolusioner Ibnu Taimiyah.

Sunan Bonang cukup mewakili sebagai gambaran apa saja yang diajarkan oleh walisongo, maka dengan membaca tulisan-tulisan beliau dalam Primbon I dan II, dapat ditetapkan bahwa walisongo termasuk ahlus sunnah yang dengan tegas dan konsekuen menentang bid’ah (culas, mengada-ada, tak sesuai sumber Islam). Mereka bergerak dalam barisan mujahid di bawah panji Al Ghazali dan Abu Syalimi demi tegaknya tasawuf sunni dan terhapusnya tasawuf bid’ah. Dengan berpedoman “Ihya Ulumuddin” karya Imam Ghazali, walisongo itu bermaksud menghidupkaan kembali agama Islam yg hampir mati di Nusantara ini. Mereka ikut memadukan tasawuf mistik dengan fiqih syara’ dalam suatu perpaduan yang selaras. Alasannya, kalau langsung masuk pelajaran tasawuf, bukan dimulai dari belajar fiqih, besar kemungkinan umat akan menjadi zindiq, karena mendekati Allah dengan meninggalkan fiqqih atau syariat dengan tidak memperhatikan tasawuf, hanya otak yang dipenuhi oleh kajian perkara halal-haram, sedang jiwa tetap kosong dan kasar. Perbuatan yang makruh dikerjakan karena hanya dinilai makruf hukumnya, sedang yang sunnah disia-siakan hanya karena dinilai sunnah hukumnya.

*) Ibnu Taimiyah antara lain berpendapat, bahwa seorang sufi adalah orang yg sangat giat menegakkan kebenaran. Tengah malam sholat tahajjud, siang hari mencari nafkah. Bila negara dalam keadaan bahaya oleh serangan musuh, ia bersedia masuk dalam barisan tentara, menempati posisi sesuai ketentuan komando. (Hamka “Mengembalikan Tasawuf ke Pangkalannya”)

Walisongo dalam perjuangannya berhasrat mengakhiri perselisihan hebat antara ulama fiqih dengan ulama sufi. Hal ini tercermin dari kitab Primbon I dan II yang ternyata sarat muatan fiqihnya. Dalam kitab tersebut dibahas antara lain tentang thaharah (bersuci), niyyat (niat), syahadat (persaksian), sholat, zakat, bahkan dalam bab haji dapat ditelusuri bahwa Sunan Kudus adalah amirul hajj. Dijelaskan pula mengenai masalah munakahat (pernikahan), beserta lembaga-lembaga sosialnya, penyusunan aturan perdata/adat-istiadat dalam keluarga dan sebagainya yang meliputi soal dan pasal-pasal tentang khitbah (peminangan); nikah-talak-rujuk; pembentukan usrah (unit keluarga) dan adapt-istiadat termasuk hadhanah (pengasuhan), perwalian, pengawasan serta fara’idh (hukum waris).

Kedua primbon tersebut memuat pula bab mu’amalah, antara lain mencakup jual-beli, perdagangan, perserikatan. Juga ada tentang tholabul ilmi (menuntut ilmu), jinayat dan siyasah (kriminal dan politik). Tak lupa pula tentang haid, qishas (kisas), ta’dzir termasuk perkara zina dan aniaya, ‘aqdiyah (hukum kontrak sosial) dan imamah (kepemimpinan), khilafah (sistim penyelenggaraan pemerintahan), jihad (perang keagamaan), kompetisi dan panahan, janji dan nadzar, perbudakan, perburuhan, penyembelihan, aqiqah, makan-makanan, masalah bid’ah, dll.

Tasawuf dibahas dengan perincian tentang ilmu jiwa seperti konsep tentang kebahagiaan, akhlaq. Dibahas pula mengenai nasalah tentang, estetika (keindahan), metafisika dan hubungan Tuhan dengan manusia. Ilmu kalam dibahas pula, baik secara umum maupun khusus. Tentang Allah disertai rangkaian pembahasan terhadap Al Qur’an, Rasul, Hari Akhir, Qadha’ dan Qadar.

Adapun sehubungan dengan tasawuf, pembahasannya meliputi ilmu jiwa dan konsep tentang kebahagiaan, akhlaq. Termasuk pula masalah estetika, metafisika dan hubungan Tuhan dengan manusia, dunia yang fana, ittihad, ittishal serta kasysyaf. Dilengkapi juga dengan pembahasan mengenai hulul dan wihdatul wujud. Soal tarekat, suluk, maqamat mencakup tema-tema mujahadah (berjuang sungguh-sungguh meniti jalan mendekat kepada Allah SWT), muhasabah (mawas diri),muraqabah (pendekatan diri), musyahadah (persaksian), syariat, hakikat, zuhud dan makrifat. Juga tentang tawakal, wara’ serta karomah.

Islamisasi masyarakat Jawa khususnya dan Indonesia bagian timur pada umumnya dapat dikatakan sebagian besar karena hasil dakwah dan perjuangan walisongo. Mustahil kiranya walisongo itu akan sukses dalam dakwah kalau sekiranya mereka tidak berbudi luhur, halus, lemah lembut & berhati ramah serta penyayang ummatnya sebagaimana dituntunkan Allah melalui rasul-Nya (kepada segenap kaum muslim) dalam QS. 3 : 159, yang artinya ,”Karena rahmat Allah jua engkau bersikap lemah lembut terhadap mereka, sekiranya engkau berlaku keras lagi berhati kasar, tentu mereka menjauhkan diri darimu. Maka maafkanlah mereka dan mohonkan ampun bagi mereka, dan bermusyawarahlah dengan mereka dalam suatu urusan. Maka apabila kamu telah membulatkan tekad, bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah menyukai orang yang bertawakal kepada-Nya”.

Dalam Primbon Sunan Bonang yang cukup lengkap, telah mencakup pula masalah fiqih , tauhid dan tasawuf. Secara ringkas dapat dipahami, bahwa primbon itu telah di awali dengan basmalah, diikuti hamdallah, kemudian sholawat, maka penulis menerangkan maksud ditulisnya primbon, yakni menjelaskan masalah Ushul Suluk (meliputi ushuluddin, tauhid, tarekat, dan tasawuf), menurut ajaran-ajaran yang terdapat dalam kitab-kitab sunni Ihya’ dan Tamhid. Primbon itu mengajak sidang pembacanya kepada tauhid, sembari mencegah dari perbuatan syirik.

Dengan berpangkal pada dua kalimat syahadat, Sunan Bonang menguraikan ajaran-ajarannya, dengan menitik beratkan masalah ushul suluk menurut pemikiran Al Ghazali dan Abu Syakur As-Salimi. Jadi ushul suluk merupakan suatu gabungan uraian ushuluddin dan tasawuf atau tauhid ‘mistik’ yg masih dalam batasan ahlus sunnah wal jama’ah. Materi pembahasannya dengan kajian tentang Allah (Dzat, sifat dan Af’al-Nya), tentang hubungan manusia dan Allah. Tentang ru’yat Allah ditambah tanbih. Tanbih ini maksudnya sebagai peringatan agar senantiasa berbuat amal sholeh, dan berpegang teguh kepada syariat Allah.

Berikut ini sedikit kutipan primbon karya Sunan Bonang tersebut :

pa“Bismillaahir rahmaanir rahim. Wabihi nasta’inu, Al hamdu lillaahi robbil ‘alamiin. Washsholatu ‘ala rasulihi Muhammadin wa ashhabihi ajma’in … Nyan punika caritane Seh Al-Bari; tatkalanira apitutur dateng mitranira kabeh, kang pinitutu raken wirasaning ushul suluk, wedaling carita saking kitab Ihya’ ‘Ulumuddin (Al Ghazali) lan saking Tamhid antukira Seh Al-Bari (Syeikh Al Barri). Amemet ing tingkahing sisimpenaning Nabi Wali Mu’min kabeh. Mangka akecap Seh Al Bari, kang sinalametaken dening Pangerane, mitraningsun ! Sira kabeh den sami angimanaken wirasaning ashul suluk ing kawruhuna yen sira Pangeran asipat saja Sukma Maha Suci tunggalira tan ana padanira, kang Maha Luhur, mitraningsun !. Den sami amiarsaha, sampun sira sak malih, den sami aneguhaken, sampun sira gingsir idepira. Iki silapale tingkahing anakeni ing Pangeran. Asyhadu anla ilaha illallah wahdahu la syarikalahu, wa asyhadu anna muhammadan rasulullah …”

Pembahasan Sunan Bonang tentang Allah meliputi pendirian mengenai ajaran tauhid dan Ketuhanan yang benar, sesungguhnya sekedar merupakan terjemahan bebas kitab Ihya’ ‘Ulumuddin dan Tamhid ke dalam bahasa Jawa Tengahan. Dikemukakan pula bagaimana ajaran yang sesat tentang tauhid dan Ketuhanan. Ajaran sesat itu menurut Sunan Bonang akan mengakibatkan orang yang menganutnya menjadi kafir. Pembahasan terhadap kedua tema ini diutarakan dengan meliputi persoalan ma’rifat Dzat Allah , sifat Allah dan Af’al Allah. Menurut beliau, ajaran tauhid dan Ketuhanan yang salah dan mendapat julukan wong sasar (sesat), kafir, kufur, kufur ing patang madzab (kufur menurut empat madzab), dll. Disebutkan ada dua belas macam, yang termasuk sesat, data tersebut diambil Sunan Bonang dari Abdul Wahid Ibn Makiyyah.

Di dalam primbon itu pula terbukti, bahwa walisongo memasukkan ajaran-ajaran “manunggaling kawula-Gusti (bersatunya antara manusia dgn Tuhan), bathiniyah, karomaniyah, mutangi’ah (mu’tazilah), ‘Arabiyah (bersumber dari Ibnu Arabi penulis Futuhat Al Makiyyah dicurigai sebagai penyebar ajaran panteisme/wihdatul wujud) dll, sebagai ajaran sesat dan bertentangan dengan ushul suluk (tasawuf). “Iku Kupur ! (itu kufur !)”, kata Sunan Bonang.

Dari kitab tersebut terbukti Sunan Bonang telah bersungguh-sungguh untuk memelihara dua pilar utama dalam aqidah, yakni Pertama : Pengakuan akan Allah sebagai Khaliq Maha Esa dan Maha Mandiri sebagai dzat yang penuh kebebasan dan kekuasaan (asa tauhid). Kedua : pengakuan tentang adanya hak kemerdekaan bagi manusia sebagai pribadi yang utuh (hurriyah al syakhshiyyah al insaniyah). Dengan tegas Sunan Bonang menyatakan, bahwa Allah dan manusia sebagai dua kenyataan atau wujud yang masing-masing berdiri sendiri sebagai pribadi, tak mungkin lebur jadi satu.

Setelah uraian aqidah itu selesai, Sunan Bonang menutup primbonnya dengan satu tanbih agar sesama muslim saling bantu-membantu dalam suasana cita kasih, dan selalu menjauhkan diri dari kesesatan bid’ah. Hal itu terbukti dalam satu satu kalimatnya “ E,mitraingsun ! Karana sira iki apapasihana sami-saminira Islam, lan mitranira kang asih ing sira lan anyegaha sira ing dalalah lan bid’ah”.

Lalu beliau menyinggung pula masalah ru’yat Allah (melihat Tuhan), hal ini terlihat dari pernyataan “E, rijal ! tegesing ru’yat iku : Aningali ing Pangeran ing akherat lan mata kapala ing dunya lan mata ati”. (Wahai Ummat, arti ru’yat itu : melihat Allah di akherat dengan mata kepala, adapun di dunia melihatnya dengan hati”). Allah itu baru bisa dilihat saat di akherat, karena di akheratlah dica painya kesempurnaan penglihatan).

Tanbih dalam primbon tersebut mengisyaratkan , bahwa Sunan Bonang benar-benar menggolongkan dirinya dalam barisan ahlus sunnah wal jama’ah, yaitu di samping mengutamakan soal-soal batin, seperti tasawuf, mistik dan akhlaq, beliau juga tidak melalaikan soal-soal lahiriah seperti syariat.

Primbon itu ditutup dengan kalimat “tammat carita cinitra kang pekerti pangera ning Sunan Bonang”, yang artinya “tamat sudah cerita buah karya Sunan Bonang”.

(sumber : Mengislamkan Tanah Jawa – Telaah Atas Metode Dakwah Walisongo, Widji Saksono, cet.III, sya’ban 1416H/1996M, penerbit Mizan)

note : artikel di atas telah dimuat dalam Labbaik, edisi : 023/th.02/Jumada Al Awwal-Jumada Al Tsani 1427H/2006M


Keorganisasian dan Sarana Dakwah Walisongo

Mei 1, 2007

 

Kalau berita tentang walisongo dikumpulkan dan dipelajari, misalnya yang terda pat dalam “Walisana” dan dari primbon milik Bp.KHR.Moh.Adnan, maka didapat suatu kesimpulan, bahwa semua wali (kecuali Siti Jenar) merupakan organisasi, mirip sebuah kabinet dengan tugas khusus mengislamkan masyarakat Jawa. Karena setiap wali ternyata telah diberi tugas sendiri-sendiri. Sunan Ampel misalnya, bertugas menyusun aturan-aturan syariat Islam. Sunan Gresik mengubah pola dan motif batik, lurik dan perlengkapan kuda. Sunan Maja Agung menyempurnakan masakan, makanan, usaha dan peralatan pertanian serta barang pecah belah. Sunan Gunung Jati memperbaiki doa mantra (pengobatan batin), firasat, jampi-jampi (pengobatan lahir) dan hal-hal yang berkenaan dengan urusan pembukaan hutan, transmigrasi atau pun pembangunan desa baru. Sunan Giri menyusun peraturaan-peraturan tata kerajaan, tata istana, aturan protokoler kerajaan Jawa, mengubah perhitungan bulan, tahun, windu, masa dan memulai pembuatan kertas. Sunan Bonang menciptakan serba-serbi gamelan, lagu dan nyanyian. Sunan Drajat mengubah bentuk rumah, alat angkut (tandu, joli, dll). Sunan Kalijaga berkreasi pada lagu, langgam, nyanyian, serta gending sebagaimana Sunan Bonang. Sunan Kudus mengubah bentuk persenjataan, peralatan pertukangan besi dan emas, serta menciptakan pedoman pengadilan dan perundang-undangan yang berlaku bagi orang Jawa.

Para wali ini merupakan satu kesatuan, terbukti kesembilan wali itu sering berjumpa dan mengadakan rapat merundingkan berbagai hal sehubungan dengan tugas dan perjuangannya. Lebih jelas lagi, dalam kitab “Walisana” diberitakan tentang maksud berkumpulnya para wali itu antara lain merundingkan soal-soal agama, dan Sunan Giri sebagai ketuanya. Di samping itu, diselenggrakan pula forum berkumpul untuk membahas masalah politik. Para wali ini memiliki sifat yang teratur, tertentu dan kontinyu. Dari “Walisana” dapat dikumpulkan adanya fungsi masing-masing wali, yaitu Sunan Ampel sebagai guru ketua, Sunan Giri sebagai jaksa kepala, Sunan Ngudung dan Sunan Kudus sebagai panglima, Sunan Bonang untuk urusan keagamaan, Sunan Kalijaga sebagai diplomat. Relevan dengan kondisi ini, ternyata walisongo berada dalam suatu pimpinan dan susunan kekuasaan. Hal ini dapat dilihat dari beberapa peristiwa, bahwa ketika Sunan Ampel masih hidup, beliaulah yang dituakan oleh para wali dan diakui pula bahwa beliau berfungsi sebagai pimpinan atas seluruh masyarakat Islam (di Jawa) ketika itu. Setelah Sunan Ampel wafat, kepemimpinan atas walisongo dan masyarakat Islam itu ganti dipegang oleh Sunan Giri dan Sunan Bonang dengan pembagian kekuasaan yang terperinci.

Walisongo telah bekerja keras, teratur dan tanpa pamrih. Sebagaimana pernah di ucapkan oleh Sunan Kalijaga di hadapan Adipati Pandanarang. Dalam ucapan tersebut terasa sekali sikap dan perasaan ikhlas, tidak mengharap imbalan apa pun, sepenuhnya lillahi ta’ala dalam perjuangan menegakkan agama Islam. Hal ini selaras dengan ketulusan nabi Nuh as. sebagaimana disebut dalam (QS. Hud (11) : 29., yang artinya ,” Dan (dia berkata) :”Wahai kaumku, aku tiada meminta harta benda kepada kamu (sebagai upah) bagi seruanku, upahku hanyalah dari Allah..”.

Melihat nama-nama walisongo tetap tersimpan di hati dan terus dikenang, meski telah lama hilang dari pandangan mata, tidak mustahil kalau wali-wali itu memang ulama dan mukhlis sebagaimana penyifatan yang diberikan oleh Ali ra. tentang ulama yang lestari di hati ummat :”Para ulama adalah permata, tak berlalu waktu tanpa kemilaunya yang abadi, jejaknya selalu membekas di hati”. Ulama yang dikehendaki beliau adalah para juru dakwah sekaligus ulama ‘amilin, sebab memang hanya da’i yang sepi dari pamrih duniawi yang meresap merasuk nasehat dan bekas-bekasnya di hati ummat. Hanya hati yang dapat bertemu dengan hati.

Di samping forum walisongo secara efektif sebagai suatu organisasi dan sarana dakwah, para wali menggunakan alat (baik yang bersifat psikologis maupun material). Dalam dakwahnya, terbukti bahwa mereka tidak melupakan faktor dan gejala-gejala psikologis. Segi psikologis ini mereka perhatian dan mereka manfaatkan guna menyiasati masyarakat yang mejadi sasaran dakwah. Patut dicatat, Syaikh Ali Mahfudz dalam bab Ushulud Dakwah menyatakan, bahwa menurut tuntunan rasul, dakwah harus dibina di atas empat dasar pokok , yakni :

Al Huluj Balaghah (alasan yang tepat), Al Asalibul Hakimah (susunan kata yang bijak dan penuh hikmah), Al Adabus Samiyah (sopan santun yang mulia), dan As Siyasatul Hakimah (siasat yang bijak). Terbukti dakwah yang disampaikan walisongo juga dibina menurut tuntunan rasul. Bahwa di samping mendasarkan argumen secara rasional, mudah diterima akal dan juga dengan prinsip emosional bersesuaian dengan cita-cita manusia, yakni mengetuk hati. Maka tidak jarang pula para wali itu mendasarkan pelakanaan dakwahnya dengan unik, yaitu dengan dalil argumentasi aksiomatik yang secara otomatis sangat jitu. Misalnya para wali melakukan kisas atas Syiakh Siti Jenar yang sangat bid’ah, musyrik, ibahiyah, absurd, dan sangat berbahaya bagi usaha pengislaman rakyat yang masih sangat muallaf ) baru saja menerima islam) dan mudah diselewengkan itu, para wali mengubur jenazah Siti Jenar begitu rahasia, sampai-sampai Sultan Demak sendiri tidak tahu hal ihwal yang sebenarnya. Jenazah itu kemudian diganti dengan bangkai anjig yang kurus, merah, kudisan dan menjijikan, bangkai tersebut diletakkan dalam keranda. Hal ini berguna sebagai tamsil, peringatan atas diri sultan dan juga bagi masyarakat awam yg sangat menaruh perhatian dan tertarik kepada ajaran Siti Jenar. Maksud dari penggantian bangkai anjing itu, agar masyarakat menyimpul sendiri, hingga membenarkan ajaran walisongo, dan membenci ajaran Siti Jenar, itulah akibatya bila mengikuti ajaran Siti Jenar. Itulah laknat yg akan terjadi bila mengikuti kesesatan.

Demikianlah para wali itu berhasil menarik publik ke arah pemahaman sunni,dan menjauhkn ajaran bid’iy dan sesat. Sukses ini terjadi secara merata di dalam wilayah daerah kerajaan Demak. Bahkan para wali telah berhasil mempengaruhi Sultan Demak, sehingga menggantungkan “jenazah Siti Jenar” itu di perempataan jalan yang ramai. Maklumat ini disertaai ancaman lengkap ibarat nasib malang yang akan menimpa dan menjadi bagian bagi setiap orang yang berani menghina agama dan berlaku bid’ah seperti Siti Jenar. Nasib yang malang dan hina itu adalah di dunia akan dipidana oleh raja dengan hukum kisas dan di akherat kelak akan mendapat kehinaan dari Allah SWT dijadikan anjing kurus kudisan, dan bukan manusia lagi, karena berani-beraninya menyekutukan Tuhan. Inilah suatu dosa syirik yang tak terampunkan dan tak tertobatkan.

Sebagai bukti-bukti uslub yang bijaksana terlihat dalam pelaksanaan dakwahnya, walisongo menciptakan lambang-lambang, simbol, rumus, dan semboyan yang dapat menarik orang ke dalam Islam. Mereka ciptakan kidung-kidung sebagai nyanyian agama, mereka ubah mantra-mantra dan do’a sesuai agama Islam, yang mana harus di awali dengan basmallah dan diakhiri dengan illa’. Para wali itu juga memasyara katkan ungkapan interjeksi untuk peristiwa penting, mendadak atau mengharukan, misalnya lafadz “La ilaha illallah” dibaca senantiasa supaya hidup bahagia dunia akherat. Atau “Inna lillaahi wa inna ilaihi roji’un” sebagai bacaan saat-saat kecewa, kehilangan, kesusahan, dan kematian. “La hawla wala quwwata illa billahil ‘aliyil ‘adizm “ bila ada tindak laku yang tidak baik. Sesuai dengan tuntunan bagi seorang juru dakwah, para wali memiliki adab sopan santun yang tinggi. Adab santun dan prestise diri tampaknya memang sangat dijaga para wali. Karena memperhatikan prestise diri inilah rupanya, maka mereka berhasil menjadi sangat bergengsi, sehingga tercipta husnudzon (kesan yang baik) dari masyarakat. Masyarakat tidak mempersoalkan panjang lebar lagi dakwah mereka, tetapi selalu membuka jiwanya untuk menerima dengan baik semua ucapan dan dakwah para wali, karena mereka percaya kepada apa yang dibawa para wali. Gengsi/prestise mereka peroleh dengan jalan-jalan mulia. Terhadap khawas (khusus spt raja, adipati, dsb) mereka pakaikan adab sopan santun yg berpatutan bagi orang-orang terhormat), ditetapkan demikian, mengingat riwayat misalnya Raden Rahmat (Sunan Ampel) dan kawan-kawan menghadap Adipati Arya Damar di Palembang, dan ketika mereka menghadap Prabu Brawijaya di Majapahit. Dalam peristiwa tersebut beliau berperilaku sangat sopan, halus tutur kata, manis budi dan tetap tawadu’.

Wallahu ‘alam.

(sumber : Mengislamkan Tanah Jawa – Telaah Atas Metode Dakwah Walisongo, Widji Saksono, cet.III, sya’ban 1416H/1996M, pen.Mizan)

note : artikel di atas telah dimuat dalam Labbaik, edisi : 023/th.02/Jumada Al Awwal-Jumada Al Tsani 1427H/2006M

 


Metode Dakwah Walisongo

Mei 1, 2007

 

Secara konseptual metode dakwah walisongo biasa disebut dgn istilah ”Mau’izatul hasanah wa mujahadah billati hiya ahsan.” Metode ini biasa digunakan untuk tokoh-tokoh khusus (pemimpin), misalnya para bupati, adipati, para raja, maupun para tokoh-tokoh masyarakat setempat. Dasar metode ini adalah QS An-Nahl (16) : 125, yang artinya :”Serulah (manusia) kepada jalan Tuhan-mu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik. Sesungguhnya Tuhanmu Dialah yang lebih mengetahui tentang siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan Dia-lah yang lebih mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk”.

Para tokoh khusus itu diperlakukan secara personal, dihubungi secara istimewa. Kepada mereka diberikan keterangan, pemahaman tentang islam, peringatan-peringatan secara lemah lembut, tukar pikiran dari hati ke hati dan penuh toleransi. Ini yang dimaksud Mau’izatul Hasanah. Namun apabila cara tersebut belum juga berhasil, barulah menggunakan cara berikutnya, yakni Al Mujadalah billati hiya ihsan.

Cara kedua ini diterapkan kepada tokoh yang secara terus terang menunjukkan sikap kurang setuju terhadap islam. Rangkain cara ini bisa dilihat ketika Raden Rahmat atau Sunan Ampel dan kawan-kawan berdakwah kepada Arya Damar dari Palembang. Berkat keramahan dan kebijakan Raden Rahmat, maka Arya Damar kemudian masuk islam bersama istrinya. Dan tak lama kemudian diikuti pula oleh hampir segenap anak negerinya.

Demikian pula halnya ketika beliau berdakwah terhadap Prabu Brawijaya. Ketika mendengar wejangan yang demikian bagus dari Sunan Ampel, sesunggunya terasa sulit bagi Prabu Brawijaya untuk menolak. Tapi karena beliau berkedudukan sebagai raja, tentu banyak pertimbangan yang membuatnya tidak mudah begitu saja menerima pendapat orang lain, terutama dalam hal keagamaan. Meski repot mengelak, akhir nya beliau menolak secara halus, dengan alasan bahwa sebagai raja dia terikat adat kebiasaan kerajaan dan tradisi rakyatnya tidak bisa diabaikan begitu saja.

Namun lain halnya dengan sang permaisuri yang tidak mempunyai beban berat. Prabu tidak keberataan bila permaisuri memang berkehendak masuk Islam.

Metode seperti ini digunakan pula oleh Sunan Kalijaga ketika berdakwah kepada Adipati Pandanarang di Semarang. Pada mulanya terjadi perdebatan seru, dan perdebatan itu berakhir dengan tunduknya Adipati untuk masuk Islam. Ia sangat terkesan dengan anjuran Sunan Kalijaga tentang peri kesopanan (akhlaq). Bahkan saking tertariknya dengan Sunan Kalijaga, maka dia rela mengorbankan pangkat dan keduniaan, harta dan keluarganya demi menuruti syarat-syarat yang diajukan Sunan Kalijaga agar dapat diteriama sebagai murid untuk berguru ilmu keislaman.

Lain halnya dengan Sunan Kudus. Beliau ini berdakwah dengan lembunya yang dihias istimewa. Diberitakan bahwa Sunan Kudus pernah mengikat seekor lembu di halaman masjid, sehingga masyarakat yang ketika itu masih memeluk agama Hindu datang berduyun-duyun menyaksikan lembu yang diperlakukan istimewa itu. Setelah mereka datang berkerumun di sekitar masjid, Sunan Kudus lalu menyampaikan dakwahnya. Cara ini sangat praktis dan strategis. Seperti diketahui, lembu merupakan binatang ke ramat bagi umat Hidu. Menyaksikan bahwa lembu tidak dihinakan oleh Sunan Kudus,

terbitlah niat dan simpati masyarakat penganut Hindu. Berangkat dari titik perhatian inilah masyarakat kemudian berhasil diislamkan.

Metode tadarruj atau tarbiyatul ummah dipergunakan sebagai proses pengelompokan yang disesuaikan dengan tahap pendidikan ummat. Agar ajaran islam dapat dengan mudah dimengerti dan dilaksanakan oleh masyarakat secara merata. Maka tampaklah metode yang ditempuh walisongo didasarkan pada pokok pikiran ‘li kulli maqam maqat’, yakni memperhatikan bahwa setiap jenjang dan bakat ada tingkat, bidang materi dan kurikulumnya. Begitu pula saat menyampaikan ajaran fiqih yang ditujukan terutama bagi masyarakat awam dengan jalan pesantren dan melalui lembaga sosial.

Metode lembaga ssosial melalui pendidikan sosial atau usaha kemasyarakatan diupa yakan agar ajaran-ajaran islam bersiat praktis (mudah diterapkan) dapat menjadi tradisi yang memungkinkan terciptanya adat islami dan bersifat normatif. Dengan begitu diharapkan ajaran islam secara sadar atau tidak sadar masyarakaat telah menjalankan ajaran serta amalan yang islami, karena memang sudah menjadi adat istiadat. Misalnya, menjadikan masjid sebagai lembaga pendidikan, merayakan upacara kelahiran, pernikahan, kematian, khitanan, dll.

Sesuai karakter yang termuat di dalamnya, maka ilmu kalam atau tauhid disampaikan sebagai taklim (pengajaran) melaliu pesantren. Sedang penyampaiannya kepada masyarakat ditempuh melalui cerita-cerita wayang. Untuk keperluan itu, maka diciptakan lakon Dewa Ruci, Jimaat Kalima Sada, dan dikarang pula buku-buku bacaan umum, misalnya Kitab Ambiyo (kitab Al Anbiyaa), berisi kisah para nabi.

Selanjutnya ilmu tasawuf, yang oleh Sunan Bonang disebut sebagai ilmu suluk. Ilmu ini di sampaikan melalui wirid, yaitu pengajaran dengan wejangan, tertutup dan sangat ekslusif. Tempat dan waktunya ditentukan. Ilmu ini hanya disediakan untuk orang-orang tertentu yg sudah memiliki dasar yang diperlukan untuk laku tasawuf. Ketentuan ini di samping atas suatu kelaziman karena tasawuf merupakan ilmu lanjut yang dengan sendirinya menuntut suatu ilmu dasar, juga demi menjaga salah paham, salah pengertian dan salah penggunaan terhadap ilmu ini. Contoh masalah ini adalah ketika Raden Fatah menyatakaan keinginan untuk berguru kepada Sunan Ampel, maka Raden Fatah ditanya lebih dulu apakah sudah memiliki dasar. Dan karena ternyata Raden Fatah memilikinya, maka tidak diharuskan masuk pondok pesantren, tetapi langsung ditempatkan dalam kelompok wirid, Raden Fatah memang telah memiliki dasar ilmu yang dibawanya sejak dari Palembang.

Metode lainnya adalah kaderisasi dan penyebaran juru dakwah ke berbagai daerah. Tempat yang dituju adalah daerah-daerah yang sama sekali kosong penghuni atau kosong pengaruh islamnya. Sunan Kalijaga mengkader Kyai Gede Adipati Pandanarang untuk berhijrah ke Tembayat dan mengislamkan masyarakat di daerah tersebut dan sekitarnya, hingga kemudian Pandanarang dikenal sebagai Sunan Tembayat.

Sunan Kalijaga juga mengutus Ki Cakrajaya dari Purworejo dan setelah berhasil mengislamkan daerah tersebut, maka dianjurkan pindah ke daerah Lowanu, dan terus mengalami keberhasilan dalam penyebaran islam. Adaapun Sunan Ampel memerintahkan Raden Fatah berhijrah ke hutan Bintara, membuka hutan tersebut dan membuat kota baru, dan sekaligus mengimami masyarakat yang akan terbentuk nantinya. Ternyata Bintara ini berkembang hingga menjadi Demak, basis perjuangan Islam pada tahun-tahun berikutnya. Selain itu Sunan Ampel juga mengirim utusan (mubaligh) kepada raja-raja, misalnya Sayyid Ya’qub (Syaikh Wali Lanang) dikirim ke Blambangan untuk mengislamkan Prabu Satmudha. Sedang Khalifah Kusen (Husain) ke Madura untuk mengislamkan Arya Lembupeteng, dan lain-lain.

Mengamati metode dakwah walisongo ini berikut bukti-buktinya, maka tidak berlebihan bila dikatakan, bahwa walisongo telah meneladani metode dakwah sebagaimana pernah dilakukan oleh rasulullah saw. Wallahu ‘alam.

(sumber : Mengislamkan Tanah Jawa – Telaah Atas Metode Dakwah Walisongo, Widji Saksono, cet.III, sya’ban 1416H/1996M, pen.Mizan)

Aliran Kebatinan

Kata kebatinan diambil dari kata bahasa Arab bathana, yang artinya batin atau dalam atau bagian dalam, yaitu lawan kata luar, atau bagian luar. Kata tersebut dipinjam oleh sebuah aliran yang menamakan dirinya Bathiniyah atau aliran kebatinan. Karena dalam melaksa nakan ritual keagamaan hanya cukup di batin saja, atau cukup eling (ingat) saja tanpa gerakan tertentu. Bila ditinjau dari berbagai aspek baik kitab sucinya, ajarannya, cara ibadahnya, kepercayaan, dan lain-lainnya , maka tampak jelas bahwa aliran kebatinan atau yang lebih dikenal kejawen atau islam abangan, bukanlah suatu agama dan bukan pula bagian dari agama Islam. Hanya saja namanya yang mendompleng kata-kata Islam. Dimana mereka menyebutnya dengan sebutan Islam abangan, Islam kejawen, Islam kebatinan, Islam murni, Islam Hak, Islam kuring (Sunda), dan lain-lainnya, yang pada umumnya dengan embel-embel islam. Namun justru ajarannya memojokkan Islam.

Aliran kebatinan tidak lebih hanyalah merupakan paguyuban atau organisasi yang terdiri atas beberapa manusia yang mengadopsi suatu kepercayaan yang bersifat ruhaniah dan meditasisme yg berujung untuk mendapatkan suatu ketenangan jiwa atau ketenangan batin, dari hasil embrio asimilasi akhlak berbagai ajaran agama, seperti Islam, Hindu, dan Budha. Jenis aliran kebatinan ini dikenal dengan sebutan aliran kepercayaan. Di masa sebelum perang kemerdekaan RI, jumlahnya sangat sedikit, namun mulai membengkak jumlahnya setelah Indonesia merdeka yaitu antara tahun 1950-1975M. Nama aliran inipun berbeda-beda, seperti: Ngelmu Sejati, Islam Murni, Islam Hak, Islam Kejawen, Agama Kuring, dll.

(Sumber : Mengenal Aliran-Aliran Islam dan Ciri-Ciri Ajarannya oleh Drs. Muhammad Sufyan Raji Abdullah, Lc telah diterbitkan oleh penerbit LPPI Riyadhus Shalihin, Jakarta)

http://lintau.com/modules.php?name=News&file=article&sid=760

note : artikel di atas telah dimuat dalam Labbaik, edisi : 023/th.02/Jumada Al Awwal-Jumada Al Tsani 1427H/2006M


Sunan Kali Jogo Bertapa di Sungai ?

Mei 1, 2007

 

Pertanyaan :

Pengertian dari syari’at, ma’rifat dan hakikat itu apa sih pak Ustadz ?. Kalau Sunan Kali Jogo itu termasuk yang mana, kalau diceritanyakan dia bertapa di sungai berhari-hari apa dia tidak sholat waktu melakukan pertapaan itu ?. Apakah Nabi Muhammad SAW juga melakukan itu semua ? Kalau pak Ustadz tidak keberatan tolong dijelaskan, dari pada saya salah menilai pengertian-pengertian tersebut kan lebih baik tanya sama yang lebih tahu. Terima kasih Wassalam – Hendriyatno

Jawaban :

Assalamu ‘alaikum Wr.Wb.

Bismillah, Washshaltu Wassalamu ‘ala Rasulillah, Waba’du.

Yang anda sampaikan itu hanya sebuah versi cerita. Tidak ada bukti kongkret yang bisa dipertanggung-jawabkan tentang kebenaran cerita demikian. Sebab kalau kita jujur dengan sejarah, sosok para wali tentulah tidak demikian. Anda bisa bayangkan kalau sosok para wali itu adalah para penyebar agama, tidak mungkin kalau mereka adalah pelaku tapa. Sebab bertapa itu perbuatan syirik yang dikutuk Allah SWT. Bagaimana mungkin para penyebar agama Islam justru mempraktekkan syirik ? Tentu ini adalah sebuah pendekatan yang ingin merusak sejarah Islam di negeri ini. Bila memang benar para wali tukang bertapa, maka di negeri kita saat ini mungkin tidak ada agama Islam, melainkan sebuah negeri dukun yang dipenuhi tukang sihir.

Buya HAMKA dalam salah satu makalahnya tentang sejarah masuknya Islam ke negeri ini menyebutkan bahwa seorang shahabat Rasulullah SAW pernah singgah di negeri ini, yaitu Yazid bin Muawiyah. Kalau para penyebar dakwah Islam di negeri ini sampai sekelas seorang shahabat Nabi, tentu bisa kita bayangkan bahwa penyebaran Islam di negeri ini memang betul-betul sejalan dengan ajaran Islam yang asli. Tidak mungkin para penyebar Islam justru mengajarkan nilai-nilai dan praktek kemusyrikan. Apalagi setelah Islam tersebar di negeri ini, lalu berdirilah pusat-pusat kerajaan Islam yang menerapkan hukum Islam. Maka apa yang dilakukan para penyebar Islam tentu bukan sesuatu yang main-main, sehingga bisa sampai mendirikan kesultanan Islam yang berbentuk sebuah negara berdaulat. Kalau sosok mereka digambarkan lebih mendekati tokoh dunia persilatan atau sosok dengan beragam ilmu kedigdayaan, ini hanyalah fantasi para pendongeng yang kehabisan cerita. Sama sekali tidak ada bukti yang menguatkan hal demikian.

Bahkan para ahli sejarah menyatakan bahwa makna kata WALI bukanlah diambil dari istilah Waliyullah atau orang-orang yang ‘dekat’ kepada Allah. Tetapi wali disini bermakna pemimpin. Seperti yang kita kenal di masa sekarang ini dengan istilah wali kota. Wali Songo adalah para pemimpin wilayah teritorial. Bisa dianalogikan sebagai pemimpin daerah atau gubernur. Pusat kekuasaannya adalah negara Islam Demak. Makna ’songo’ secara harfiyah adalah sembilan. Kemungkinan pada masa itu ada sembilan wilayah/propinsi. Ada juga yang mengatakan sembilan itu sebagai ungkapan banyaknya wilayah dan tidak harus hanya sembilan wilayah. Yang jelas mereka adalah para penyebar aqidah Islam, lalu setelah berdiri negara Islam, mereka menjadi pemimpin negeri itu. Tentunya tujuan pendirian negara Islam di tanah Jawa tidak lain adalah untuk menerapkan syariat Islam.

Sungguh sangat disayangkan, latar belakang sejarah peng-Islaman negeri kita yang sebenarnya yang sedemikian indah harus dikorbankan menjadi cerita khayal yang penuh dengan nuansa mistis, prahara atau rimba persilatan yang menjadi komoditas jualannya pembuat cerita film yang tidak bertanggung jawab. Menjadi tugas kita untuk membersihkan sejarah penyebaran Islam di negeri ini. Kita butuh peran para ahli sejarah yang berfikrah Islam untuk membersihkan gambaran suram tentang Islam di negeri ini. Wallahu a’lam bishshawab. Wassalamu ‘alaikum Wr. Wb.

(Diasuh oleh Ust. Ahmad Sarwat, Lc.)

 

http://www.eramoslem.com/ks/us/48/12626,1,v.html

note : artikel di atas telah dimuat dalam Labbaik, edisi : 023/th.02/Jumada Al Awwal-Jumada Al Tsani 1427H/2006M


Meluruskan Persepsi Tentang Wali

Mei 1, 2007

Masyarakat secara umum biasanya menggambarkan bahwa seorang yang dikatakan sebagai wali adalah mereka yang memiliki kesaktian, dan keajaiban yang tidak dipunyai oleh kebanyakan orang. Anggapan seperti itu terus melekat sehingga menjadikan seseorang yang dianggap ‘wali’ tadi sebagai barometer kebenaran. Apapun yang dikatakan mesti benar, segala tindakannya benar dan tak mungkin salah. Bahkan ketika sang ‘Wali’ melakukan tindakan yang haram pun, pengikutnya tetap menganggap halal dan tetap berkata sami’na wa ato’na (kami dengar dan kami taat). Ketika sang wali telah jelas-jelas salah, pengikutnya pun segera mentafsirkan tindakan wali tadi agar tampak selalu benar. Subhanallah.

Fenomena wali ini sebenarnya telah secara panjang lebar diungkapkan oleh para ulama. Para ulama telah membedah dan membongkar siapa sebenarnya wali. Manakah yang wali beneran dan manakah yang wali gadungan. Karena memang wali itu ada dua kelompok, yaitu wali Allah dan wali syaitan. Yang perlu diketahui di sini siapakah sebenarnya wali Allah itu ? Dan siapa pula wali syaitan sehingga tak salah pasang, menempatkan wali syaitan bukan pada kedudukannya, atau sebaliknya.

Tentang wali Allah, Al Quran menegaskan :”Ingatlah, sesungguhnya wali-wali Allah itu, tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak pula bersedih hati. Yaitu orang-orang yang beriman dan selalu bertaqwa”. (QS Yunus : 62-63)

Ayat di atas mengandung pengertian , bahwa wali Allah adalah orang-orang yang beriman, bertaqwa dan menjauhi maksiat. Ketakwaan seorang dengan sendirinya akan terlihat dari perilaku kesehariannya, yang selalu menjaga batas-batas yang Allah tentukan. Menjaga tangan dari menganiaya orang, menjaga mulut dari menfitnah, mencela, menuduh dan menjaga seluruh anggota tubuh yang lain dari kemaksiatan. Wali Allah tak mau menghalalkan yang diharamkan oleh Allah, dan tidak mau mengharamkan apa yang dihalalkan Allah. Ia adalah seorang yang bertauhid bersih yang tidak mau berdoa dan beribadah kepada selain Allah.

Kewalian itu memang benar adanya, namun tidak terjadi kecuali pada hamba Allah yang taat, taqwa. Wali tak bisa diraih oleh mereka yang selalu berbuat maksiat, apalagi mensekutukan Allah. Ia tak bisa diraih dengan warisan (turun temurun), namun ia diperoleh dengan prestasi dalam hal iman dan amal shalih. Persepsi sebagian manusia Wali adalah orang yang mengetahui hal-hal yang ghaib. Padahal ilmu ghaib adalah sesuatu yang hanya diketahui oleh Allah semata, dan kadang Dia tampakkan sebagiannya kepada para rasul-Nya, bukan kepada yang lain. “Dia yang mengetahui yang ghaib, maka Dia tidak memperlihatkan kepada seorang pun tentang yang ghaib itu kecuali kepada Rasul yang Dia kehendaki ” (QS Al Jin : 26-27)

Orang yang tak beriman, atau fasik , tidak bertaqwa mereka bukanlah wali Allah, bahkan itulah wali syaitan. Apakah kita selama ini telah salah menilai ….?

http://al-madina.s5.com/Serbaserbi/Meluruskan_Persepsi_Tentang_Wali.htm

Abangan :
Kebanyakan orang Jawa sekarang beragama Islam dan minoritas beragama lain. Walau pun ma yoritas orang beragama Islam, agama Islam yang dilakukan di Jawa punya perbedaan dari agama Islam yang dilakukan di Timur Tengah. Agama Islam di Jawa di campurkan dengan kepercayaan lain yang asli Jawa, yaitu kepercayaan animisme dan kepercayaan dari kerajaan Hindu-Budha. Menurut penelitian yang dilakukan oleh Cliford Geertz, masyarakat Islam Jawa bisa dipisahkan ke dalam tiga kelompok, yaitu Santri, Priyayi dan Abangan. Orang San tri digambarkan sebagai orang yg melakukan agama Islam secara ortodoks dan adalah orang rajin dengan ritual-ritual agamanya. Orang Priyayi digambarkan sebagai orang yang masih punya kepercayaan dari kerajaan Hindu-Budha dan kepercayaan ini dicampurkan sama agama Islam. Orang Abangan digambarkan sebagai orang yang masih beragama Islam, namun agamanya dicampurkan sama kepercayaan animisme. Sejak Clifford Geertz menerbitkan buku ‘The Religion of Java’ dia menerima banyak kecaman dari ahli anthropologi yang lain, kalau teori Geertz benar atau tidak bahwa dari pengalaman saya kebanyakan orang di Jawa kalau beragama baik Islam, Kristen atau yang lain, mereka masih punya kepercayaan asli Jawa. Istilahnya ‘kejawen’. Adapun kebanyakan kepercayaan masyarakat Jawa terhadap gunung asli dari kepercayaan animisme dan agama Hindu-Budha.

[Oleh : Dylan Walsh, peneliti berbagai aliran kepercayaan di Jawa]

http://www.acicis.murdoch.edu.au/hi/field_topics/dylan.html
note : artikel di atas telah dimuat dalam Labbaik, edisi : 023/th.02/Jumada Al Awwal-Jumada Al Tsani 1427H/2006M