Hijab Wanita

Di Dunia Islam, seksualitas dan percintaan tidak dipamerkan dijalan jalan. Pornografi tidak bisa diterima. Gadis-gadis yang ingin menikah lazimnya tidak mau melakukan hubungan seks sebelum menikah. Anak haram merupakan sesuatu yang amat langka. Kebanyakan mempelai wanita masih perawan saat mereka menikah. Iklan-iklan yang menawarkan pertukaran istri, pesta nudis di pantai, bar homoseks, komune mahasiswa jarang ditemui di negara-negara Muslim pada umumnya. Pakaian pria dan wanita, termasuk apa yang dinamakan hijab, mencerminkan ini; sebab dari sudut pandang Islam, logis saja bahwa kita (wanita) tidak berusaha memancing sesuatu hal yang tidak kita inginkan untuk terjadi.

Sepanjang menyangkut tubuh manusia, ada satu consensus dasar antara Timur dan Barat, kedua peradaban ini tidak mengizinkan orang, kecuali bayi, untuk berjalan telanjang kesana kemari dalam kehidupan sehari-hari. Tetapi, ada banyak perbedaan menyangkut sejauh mana pakaian dibutuhkan di muka umum. Di dunia Islam sendiri, tidak ada pandangan yang seragam mengenai masalah ini, seperti yang dapat kita lihat dari pakaian wanita di Maroko, Aljazair, Tunisia, Anatolia, Mesir, Yordania. Negara-negara Teluk, Saudi Arabia, Pakistan, Malaysia, dan Indonesia.

 

Di dalam al Quran, ini hanya protokoler yang diterapkan bagi istri-istri Nabi. Sedangkan untuk Perempuan Muslim di Mesir diartikan “pakaian dengan tangan dan muka saja yang terbuka”, sedangkan di Iran diinterprestasikan dengan Chador (cadar). Sedangkan laki-laki diwajibkan untuk berpakaian pantas, namun perempuan tidak disuruh mencadari diri dari pandangan, atau memencilkan diri dari laki-laki dalam bagian terpisah di rumah. Ini merupakan perkembangan kemudian, dan tidak menyebar di kerajaan Islam sampai tiga atau empat generasi setelah wafatnya Rasulullah SAW. Terlihat bahwa adat pencadaran dan pemisahan perempuan memasuki dunia Muslim dari Persia dan Byzantium, dimana perempuan sudah lama diperlakukan demikian. Kenyataannya, cadar atau hijab tidak dirancang untuk merendahkan istri-istri Rasulullah SAW melainkan sebagai symbol status tertinggi. Setelah kematian Rasulullah SAW, istri-istrinya menjadi orang-orang yang amat berpengaruh. Mereka memiliki otoritas dalam hal agama dan kerap dimintai konsultasi tentang praktik (sunnah) dan pendapat-pendapat Rasulullah SAW, Aisyah menjadi amat penting di dunia politik. Tampak bahwa kelak perempuan-perempuan lain iri akan status istri-istri Rasulullah SAW dan menuntut agar mereka diizinkan memakai cadar juga. Kebudayaan Islam sangat egaliter dan tampak tidak pantas bahwa istri-istri Nabi harus dibedakan dan dihormati dengan cara ini. Maka banyak perempuan Muslim yang mula-mula memakai cadar memandangnya sebagai simbol kekuatan dan pengaruh, bukan sebagai tanda tekanan laki-laki.

 

Jelas, ketika para istri prajurit Perang Salib (kafir) melihat penghormatan yang didapat oleh perempuan Muslim, mereka juga mengenakan cadar dengan harapan mengajari laki-laki mereka untuk memperlakukan mereka dengan lebih baik. Selalu sulit untuk mengerti simbol-simbol dan praktik-praktik kebudayaan lain.

Maka sulit dimengerti bila Dr.Robert Morey menguraikan bahwa hijab dianggap sebagai memaksakan busana gurun kepada para wanita di manapun mereka berada, dan hal itu merupakan suatu bentuk imperialisme budaya. Hal ini menunjukkan kurangnya pengetahuan dia terhadap sejarah. Di Eropa, orang barat mulai menyadari bahwa mereka kerap salah interprestasi dan memandang rendah kebudayaan tradisi lain di koloni-koloni dan protektoriat mereka.

 

Banyak perempuan Muslim hari ini, bahkan mereka yang dibesarkan di Barat, merasa tersinggung ketika kaum feminis Barat mengutuk kebudayaan mereka sebagai kebencian terhadap perempuan. Kebanyakan agama berisikan hal-hal (bersifat) laki-laki & memiliki bias patriarki. Namun salah bila memandang Islam sebagai yg lebih buruk dalam hal ini dibanding dengan tradisi lainnya. Di Abad Pertengahan, posisinya adalah kebalikannya, pd masa itu kaum Muslim terperangah melihat cara-cara orang Kristen Barat memperlakukan perempuan-perempuan mereka di negara-negara Perang Salib. Kaum terpelajar Kristen mencela Islam karena memberikan terlalu banyak kekuatan kpd makhluk yg mereka pandang rendah seperti para budak & perempuan. Kini ketika sebagian perempuan Muslim kembali pada busana tradisional mereka, ini tdk selalu berarti bahwa otak mereka telah dicuci oleh agama, melainkan krn mereka menemukan bahwa kembali ke akar budaya sangat memberikan kepuasan.

Jika kita simak Bibel, ternyata ada kewajiban bagi umat Kristiani yang perempuan untuk berkerudung. “Sebab jika perempuan tidak mau menudungi kepalanya, maka haruslah ia juga menggunting rambutnya. Tetapi jika bagi perempuan adalah penghinaan, bahwa rambutnya digunting atau dicukur, maka haruslah ia menudungi kepalanya.” (Keluaran 2 : 11-12, Majalah Modus edisi 2 hal 26)

Ini merupakan bantahan pada sikap imperialis Barat yang mengaku lebih memahami tradisi-tradisi dari pada mereka sendiri.

(Sumber : Islam Dihujat [menjawab buku Islamic invation-Robert Morey], Hj.Irine Handono. et al, pen.Bima Rhodeta-Kudus, cet.IV, April 2004, hal : 133-135)

Wanita Sholehah -

(Oleh : KH.Abdullah Gymnastiar)

Wanita yang di dunianya sholehah akan menjadi cahaya bagi keluarganya, melahirkan keturunan yang baik dan jika wafat di akhirat akan menjadi bidadari.

Hikam : Katakanlah kepada orang laki-laki yang beriman, hendaklah mereka menahan pandangannya dan memelihara faraj-nya. Yang demikian itu lebih suci bagi mereka. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang mereka perbuat. Katakanlah kepada wanita yang beriman, hendaklah mereka menahan pandangannya dan memelihara farajnya dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya kecuali yang biasa nampak daripadanya. Rosulullah saw bersabda :”Dunia ini adalah perhiasan dan sebaik-baik perhiasan adalah wanita yang sholehah.” (HR.Muslim)

Wanita sholehah merupakan penentram batin, menjadi penguat semangat berjuang suami, semangat ibadah suami. Suami yakin tidak akan dikhianati, kalau ditatap benar-benar menyejukkan qolbu, kalau berbicara tutur katanya menentramkan batin, tidak ada keraguan terhadap sikapnya. Pada prinsipnya wanita sholehah adalah wanita yang taat pada Allah, taat pada Rasul. Kecantikannya tidak menjadikan fitnah pada orang lain. Kalau wanita muda dari awal menjaga dirinya, selain dirinya akan terjaga, juga kehormatan dan kemuliaan akan terjaga pula, dan dirinya akan lebih dicintai Allah karena orang yang muda yang taat lebih dicintai Allah dari pada orang tua yang taat. Dan, Insya Allah nanti oleh Allah akan diberi pendamping yang baik. Agar wanita sholehah selalu konsisten yaitu dengan istiqomah menimba ilmu dari alam dan lingkungan di sekitarnya dan mengamalkan ilmu yang ada. Wanita yang sholehah juga dapat berbakti terhadap suami dan bangsanya dan wanita yang sholehah selalu belajar. Tiada hari tanpa belajar. ————————-

(Rubrik ini merupakan hasil kerjasama detikcom dengan RCTI. Acara “Telaga Rasul” ditayangkan setiap hari selama Ramadhan oleh RCTI pd pukul 04.00 WIB-04.30 WIB)

Surga Berada di Bawah Telapak Kaki Ibu

“Surga berada dibawah telapak kaum ibu. Barangsiapa dikehendakinya maka dimasuk annya, dan barangsiapa dikehendaki maka dikeluarkan darinya.” Ini Hadits maudhu’ (palsu). Telah diriwayatkan oleh Ibnu Adi (I/325) dan juga oleh al-Uqaili dalam adh-Dhu’afa dengan sanad dari Musa bin Muhammad bin Atha’, dari Abul Malih, dari Maimun, dari Abdullah Ibnu Abbas r.a. Kemudian al-Uqaili mengatakan bahwa hadits ini mungkar. Bagian pertama dari riwayat tersebut mempunyai sanad lain, namun mayoritas rijal sanadnya majhul. Untuk mengetahui makna yang shahih dari kandungan makna hadits tersebut, saya kira cukuplah dengan riwayat shahih yang dikeluarkan oleh Imam Nasa’i dan Thabrani dengan sanad hasan. Yaitu kisah seorang yang datang menghadap Rasulullah saw. Seraya minta izin untuk ikut andil berjihad bersama beliau saw., maka beliau bertanya, “Adakah engkau masih mempunyai ibu ?” Orang itu menjawab, “Ya, masih.” Maka beliaupun kemudian bersabda, “Baik-baiklah dalam bergaul dengannya, karena sesungguhnya surga itu berada dibawah kedua kakinya.”

(sumber : Silsilah Hadits Dha’if dan Maudhu’ Jilid 2, Penulis: Muhammad Nashrud din al-Albani Cetakan 1, Jakarta, Gema Insani Press, 1994)

catatan : artikel di atas telah dimuat dalam Labbaik, edisi : 020/th.02/Dzulhijjah-Muharram/1426H/2006M

About these ads

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: